
HARI JADI.
(terimaksih karena telah hadir dihidupku dan menyempurnakan kekuranganku dengan kelebihan)
Lima menit lagi Angga akan datang menjemput Anna, tetapi Anna malas beranjak meninggalkan sofa yang kini menjadi spot ternyamannya. Anna masih mengenakan kaos dan celana pendek, seperti pakaian rumahan pada umumnya.
Jujur saja, hari ini anna sedang tidak mood untuk pergi dengan Angga. Namun, mengingat hari ini adalah perayaan ketiga hari jadi mereka, mau tidak mau Anna harus melawan rasa malas itu. Anna hanya ingin menghargai Angga yang telah mengingatnya.
Ponsel Anna berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Anna melihat siapa yang menelponnya. Tertera “ Orang ganteng” dilayar ponselnya. Sumpah, bukan Anna yanga menamai kontak angga seperti itu. Angga sendiri yang mengganti nama kontaknya diponsel Anna.
Anna menekan tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke kuping.
“Halo, dengan Anna cantik disini. Ada yang bisa
dibantu?” Terdengar kekehan Angga dari teleponnya.
“Gue udah di luar rumah lo nih, Na. Tapi ko sepi amat sih rumahnya. Lagi pada ke mana?”
“Langsung masuk aja, Ga. Mama tadi lagi beli kouta ke konter depan, terus Vina belom pulang les vokal,” jawab Anna
__ADS_1
“Duh kesempatan nih Na, mumpung lagi nggak ada siapa-siapa dirumah lo.”
“Kesempatan apa Ga? Mati muda?”
“Nggak, Na. cepet bukain Na, Gaga mau masuk, pegel nih berdiri terus. Nggak sopan Na, kalo langsung masuk,” rajuk Angga
Anna langsung tertawa karena rajukan Angga terdengar seperti anak kecil yang tidak diberi jajan. “Jijik amat si Ga, yaudah sebentar tunggu disitu. Jangan ngompol.”
Anna menutup sambungan telepon itu, lalu dia turun dari sofa untuk membuka pintu rumahnya. Pemandangan yang Anna lihat kali pertama dia membuka pintu adalah raut wajah Angga yang kusut karena baru bangun tidur. Hal itu mengundang banyak pertanyaan dibenak Anna. Bukannya hari ini Angga yang akan mengajak pergi? Namun, mengapa dia masih berpenampilan seperti ini? Angga hanya mengenakan kaos dan bokser. Atau mungkin, Angga lupa bahwa hari ini dia mengajak Anna pergi.Belom juga Anna menyuruh Angga masuk, Angga sudah masuk terlebih dahulu kerumah Anna, lalu duduk disofa ruang tamu.
“Nggak dikasih minum gitu, Na? Gue kan tamu disini,” sindir Angga
Angga tertawa menanggapi cibiran Anna barusan, dengan keadaaan mulutnya penuh kue-kue yang dia makan. Kue-kue itu berasal dari stoples yang ada dimeja ruang tamu rumah Anna.
“Lo sendiri aja masih pake celana pendek ama kaos gitu. Mau pergi pake baju itu? Alay banget lo, Na.”
Anna menoyor kepala Angga.
Pintu rumah Anna tiba-tiba terbuka dan muncullah seorang cewek yang mirip dengan Anna. Perbedaan mereka hanya pada tinggi badan. Anna bertubuh lebih besar dibandingkan dengan cewek itu. Dia adalah adik Anna yang masih kelas IX SMP.
__ADS_1
“Bang angga, tadi kata abang tukang balon didepan, bang Angga disuruh bayar sisanya. Soalnya yang kemarin DP doang.” Kata vina.
“Yallah kenapa mulut lo ember banget si, Dek.”
Vina menautkan kedua alisnya, lalu menatap Angga dengan tatapan bingung.
“
“Ember gimana maksud lo bang Angga? Vina kan cuma sampein pesan dari abang balon didepan buat bang Angga. Mending bang Angga samperin dulu deh, kasian abang balonnya nungguin. Mana diluar pana banget lagi.”
Vina mengedikkan bahu, lalu berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Sekarang tinggal Anna dan Angga yang ada diruang tamu, mereka saling menatap satu sama lain. Suasana berubah menjadi canggung saat ini.
“Lo punya utang Ga, keabang balon?.” Tanya Anna dengan polosnya.
Rencana yang telah Angga susun sedemikian rupa terancam gagal total karena vina barusan
“Sekarang lo mandi dan ganti baju ya Na. Nanti
lo temuin gue di rumah , bye Nana imut.” Angga cepat cepat keluar dari rumah Anna.
__ADS_1
Anna semakin bingung dibuatnya. Sikap Angga berbeda dari biasanya, aneh Akan tetapi meski bingung, Anna tetap melakukan apa yang diminta Angga. Anna langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia harus segera mandi dan menemui Angga. Mungkin nanti Angga akan menjelaskan kepada Anna, kenapa ada tukang balon yang menemui Angga.