
Beberapa bulan berlalu, kini kandungan Alesha sudah memasuki usia enam bulan. Refan sedang sibuk berkeliling kota untuk mencari apa yang Alesha inginkan.
"Duh,di mana lagi nih harus nyarinya.Si bapak langganan pakai acara tutup segala pula." gumam Refan.
Saat ini matahari sedang terik sehingga ia merasa kelelahan di jalan. Meski sudah memiliki mobil, Namun Refan lebih senang menggunakan motor jika hanya bepergian seorang diri. Sepanjang jalan ia terus berdoa agar apa yang sedang ia cari dapat ditemukan.
"Ternyata begini ya rasanya mau punya anak. Semoga kedepannya gak ada yang lebih aneh dari ini." gumam Refan sambil mengusap peluhnya karena kepanasan .
la sudah berkeliling, tetapi masih belum juga menemukannya. Akhirnya Refan memutuskan untuk mencari di internet.
"Semoga dapat." gumam Refan.
"Nah, ini dia." ucapnya saat menemukan resto yang menjual makanan yang sesuai dengan keinginan istrinya.
Refan pun segera meluncur ke restoran tersebut. la begitu bersemangat, Seolah itu adalah penyelamat baginya. Sebab, ia sudah hampir dua jam berkeliling dan belum menemukannya juga. Beberapa saat kemudian, Refan sudah tiba di restoran yang di tuju.
"Astaghfirullah, kenapa aku lupa ya , ini kan banyak di mana-mana." gumam Refan. Ia ingat resto tersebut tersebar hampir di seluruh lingkungan tempatnya tinggal. Akhirnya ia memesan beberapa porsi makanan, Sebab, Refan tidak mungkin hanya membeli satu karena ia tinggal di rumah yang berpenghuni banyak.
Udah kaya setan berpenghuni.
Setelah pesanannya beres, Refan pun bergegas pulang. la khawatir istrinya kesal karena terlalu lama menunggu.
Lima belas menit kemudian, ia tiba di rumah. Refan pun bergegas menuju dapur untuk menaruh makanan tersebut dan membawa satu untuk Alesha. Refan mengerenyitkan alisnya saat melihat ada bungkusan yang sama seperti yang ia pegang.
"Kai, ini punya siapa?" tanya Refan kepada putrinya.
"Punya aku Mas." sahut Alesha yang baru saja turun dengan membawa mangkuk kosong .
"Kan aku baru beli, kenapa udah ada aja?" heran Refan.
"Emang kamu belinya dimana sih Mas, aku udah ngiler dari tadi kamu gak dateng-dateng, ya udah aku suruh Abil buat beli." keluh Alesha.
Sejak tadi Alesha kesal menunggu suaminya. la yang sangat mengidamkan dan tidak sabar ingin menikmatinya. Sehingga Alesha minta tolong pada Abil untuk menuruti keinginannya.
"Iya maaf sayang, tadi Mas gak tau harus cari dimana, jadi Mas muter-muter dulu, terus ini gimana?" tanya Refan sambil menunjukkan bungkusan yang ada di tangannya.
"Ya udah kamu makan aja sendiri, kayanya kamu juga cape, jangan lupa mandi, aku gak mau deket-deket sama kamu kalau belum mandi." ujar Alesha tanpa rasa bersalah sedikitpun.
*****
"Mas kamu udah tidur?" tanya Alesha.
__ADS_1
"Hm" gumam Refan mengeratkan pelukannya.
"Kamu gak berat gitu tidur gini." ujar Alesha, pasalnya kini tubuh Alesha berada di atas tubuh Refan.
Refan tersenyum dan memindahkan Alesha di sampingnya, Alesha berbaring di lengannya dan memeluknya dari samping.
"Capek ya?" tanya Alesha memandang wajah Refan yang masih terpejam.
"Gak capek sayang, cuman Alhamdulillah kerjaan Mas banyak banget." ucapnya masih memejamkan mata, Alesha benar-benar terpaku dengan ketampanan suaminya.
"Ganteng banget sih, suaminya siapa, pasti istrinya beruntung banget dapat suami kaya kamu ini, utututu." guman Alesha menyatukan hidungnya dengan hidung Refan. Gemas dengan hidungnya yang mancung, semoga aja calon anaknya mirip dengan Refan.
Dan pada akhirnya Refan terpaksa membuka mata, lalu ada senyum kecil mengembang.
"Akhirnya aku bisa berada di titik terbahagia bersama kamu, jangan pernah tinggalin aku yang, Mas sayang banget sama kamu, selama ini Mas selalu berusaha memperbaiki diri agar bisa bersanding dengan kamu, Mas yang dulu urakan sekarang menjadi lebih baik berkat kamu, rasanya dulu Mas minder karena Rey lebih bisa membimbing kamu ketimbang Mas yang pada Tuhan saja terasa jauh."
"Kamu terbaik versi diri kamu sendiri Mas, aku menerima kekurangan dan kelebihan kamu, sama seperti kamu yang menerima kekurangan dan kelebihan aku,"
"Mas boleh nanya sesuatu sama kamu? Ini agak nggak sopan sih, tapi Mas pengen tau jawaban dari kamu."
"Tentu boleh Mas,"
Alesha mengembangkan senyumnya, dia tau kalau suaminya itu pasti sedang cemburu dengan masa lalunya itu.
"Mas coba ingat, aku menikah sama Mas Rey karena kemauan kedua orang ayah dan bunda, sedangkan aku menikah sama kamu atas keinginan aku sendiri, jadi kalau ditanya kenapa aku nggak bisa lupain Alvin saat jadi istri Mas Rey, jawabannya karena aku nggak ada rasa sama dia waktu itu, beda dengan kamu, kamu pilihan aku sendiri, tanpa ada paksaan dan tekanan."
"Jadi, nggak ada lagi nama Alvin di hati aku, sekarang hanya ada aku, kamu dan anak-anak."
Refan menarik Alesha kedalam pelukannya,mencium wajahnya bertubi-tubi membuat Alesha terkekeh di buatnya.
"Sayang, badan Mas sakit semua nih, kamu mau nggak mijitin Mas." Alesha menghela nafas, memang dasar suaminya itu sudah tua kebanyakan gaya. Tadi bilangnya nggak capek, sekarang minta dipijit.
"Ya udah, aku ambil lotion dulu."
Alesha membelalakkan matanya saat Refan sudah membuka kaosnya, dan celana panjangnya.
"Kok dibuka semua sih Mas." ujar Alesha, Refan masih membuka pakaiannya dan langsung menggunakan sarung dan berbaring tengkurap di atas ranjang.
"Biar enak sayang, lagian Mas juga pakai sarung kok."
Alesha mengabaikan ucapan Refan dan mulai memijatnya, dari punggung ke pinggang dan berulang-ulang seperti itu.
__ADS_1
"Agak kebawah yang, kayanya gara-gara capek seharian duduk nih pinggang Mas jadi capek."
Alesha hanya menurut dan melanjutkan acara pijat memijatnya.
"Jangan curi-curi kesempatan yang." kekeh Refan.
"Kamu apaan sih Mas,"
"Kenapa? Kamu mau."
"Jangan bikin aku kesel ya Mas." ketus Alesha melanjutkan pijatannya dari ujung kaki ke betis.
******
"Pokoknya ibu nggak mau tau Rey, kalau sampai Mega tinggal di rumah kamu, ibu nggak bakal anggap kamu anak lagi, mending kamu nikah lagi aja, Safira itu beban di keluarga ini, dia seorang istri tapi kamu yang harus repot-repot mengurusnya, ibu jadi nyesel dulu pernah memihak dia, andai tau jadi kaya gini, ibu bakal pertahankan Alesha jadi menantu ibu." bentak Ira kepada putranya.
Rey menghela nafas kasar, setiap hari masalahnya hanya tentang Mega dan Safira, ibunya itu selalu mempermasalahkan hal itu-itu saja.
"Bu, Safira istri aku, dan bunda Mega mertua aku, jadi wajar kalau aku menolong mertua aku."
"Tapi mertua kamu itu iblis Rey, dia dalang dari semua kerumitan ini, kita ikut terseret masalah gara-gara dia, pokoknya kamu harus suruh Mega keluar dari rumah kamu, kalau nggak, ibu bakal bawa Reysha jauh dari kamu, ingat itu."
"Bila perlu kamu menikah lagi Rey, kamu masih muda dan membutuhkan seorang istri yang mampu melayani kamu dan mengurus kamu." lanjut Ira, tanpa sepengetahuan mereka berdua, Safira dan Mega mendengar pertengkaran antara ibu dan anak itu.
"Kenapa ibu malah menyalahkan Rey, bukannya ibu yang sekongkol sama Safira dan membuat seolah-olah Safira gadis kecil yang Rey suka? Kalau ibu jujur gadis kecil Rey adalah Alesha, Rey gak bakal hidup dalam kerumitan ini, Bu. Ibu selalu menekan Rey." keluh Rey memijat pangkal hidungnya.
"Maka dari itu ibu menyesal, kamu tau kita udah keluar uang banyak untuk pengobatan Safira, pengobatan dia keluar negeri saat dia terkena kanker, dan sekarang pengobatan untuk matanya, apalagi di tambah Mega, kita bisa-bisa bangkrut Rey, kalau kamu masih membantah ibu untuk mengusir Mega, jangan salahkan ibu kalau ibu akan menurunkan jabatan kamu di kantor, dan semuanya akan menjadi milik Kinan." ancam Ira membuat Mega dan Safira membeku, jika bukan Rey, lalu siapa yang akan mengobati operasi mata Safira?.
Di sisi lain, seorang pria paruh baya tengah berdiri di depan pintu rumah Maura sejak satu jam yang lalu, pria itu ragu untuk mengetuk pintu dan ragu untuk kembali pulang.
Cklek!
Maura terkejut saat mendapati Bimo yang sedang berdiri di depannya saat ini.
" Kamu ngapain di sini?" ketus Maura.
"Maura, aku mohon maafkan semua kesalahanku kepadamu, aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin mengulang kembali semuanya, aku ingin membahagiakanmu, ijinkan aku untuk menjadi suami kamu lagi Ra, aku ingin di masa tuaku nanti hanya kamu yang menemaniku, aku ingin menebus semuanya."
Maura menatap datar lelaki yang ada di hadapannya, sampai saat ini tidak ada yang bisa menggantikan Bimo di hati Maura, selama duapuluh tahun lebih, Maura harus menahan gejolak yang ada di hatinya, selalu berharap Bimo akan kembali lagi, tapi sekarang Maura ragu untuk hidup kembali dengan pria yang sudah menyakitinya begitu hebat.
Salahkah jika Maura ragu terhadap pria itu?
__ADS_1