
Hari ini adalah tepat tujuh hari meninggalnya Safira. Dan hari ini juga Rey akan menjemput putrinya yang sedang berada di rumah Refan. Dia akan berusaha bangkit dan fokus membahagiakan putrinya.
Biarlah Rey hidup sendiri, yang terpenting dia akan menjalani hari-harinya dengan Risa buah cintanya dengan Alesha.
"Assalamualaikum." salam Rey mengetuk pintu rumah Refan.
"Wa'alaikumussalam." jawab seseorang membukakan pintu untuk Rey. "Eh ada Om Rey, mari masuk." ajak Kaira menyuruh Rey memasuki rumahnya.
Rey memalingkan wajahnya saat melihat Kaira hanya mengenakan celana pendek dan juga baju yang terlampau tipis. Ia pun mengikuti langkah Kaira memasuki rumah.
"Om tunggu aja di sini, Risa masih tidur aku ke belakang sebentar mau manggil Mommy." ujar Kaira yang diangguki Rey.
Dia tersenyum tipis saat Kaira memanggil Alesha dengan sebutan Mommy padahal umurnya dan Alesha tidak jauh beda. Rey bersyukur karena Alesha mendapatkan keluarga yang bisa menerima dan menyayanginya, bukan seperti dirinya yang telah menyakiti Alesha dengan menjadikannya yang kedua.
"Rey, kamu udah datang mau jemput Risa?" tanya Refan yang masih menggunakan kaos oblong serta sarung.
"Iya, saya mau membawa Risa pulang." jawab Rey.
"Risa lagi mandi sama Alesha, kalau gitu kamu ikut sarapan bareng kita aja, jarang-jarang kan kita bisa sarapan bareng." ajak Refan, namun Rey menggeleng tidak enak.
"Saya bisa sarapan nanti."
"Kita bareng aja Rey, lagian Alesha udah masak banyak."
"Papa" pekik Risa kegirangan, ia yang tadi sedang berada di gendongan Alesha pun langsung turun dan melompat kepangkuan papanya.
"Hai princess, kangen nggak sama Papa?" tanya Rey menciumi wajah putrinya.
"Kangen, Risa di sini nggak nakal lagi, Risa sering bantu-bantu Mama, sama Kak Kaira." ujar Risa menceritakan kegiatannya selama berada disini.
"Bohong Om, Risa mah tukang rusuh." sahut Abil yang baru saja menuruni tangga.
Risa mengerucutkan bibirnya mendengar celetukan abangnya itu. "Bang Abil bohong Papa, Risa suka bantu-bantu Mama kok, Risa juga kemarin bantu Didi cuci mobil."
"Bukan bantu sayang, kamu malah bikin Mama kamu kesel gara-gara main air terus bikin rumah kotor." ujar Refan terkekeh saat mengingat Alesha marah akibat Risa yang memasuki rumah dengan baju yang basah dan membuat lantai rumah jadi kotor.
"Iya bener, yang rajin bantu-bantu itu Riza bukan Risa." ucap Riza memeluk Alesha dari samping.
"Kalian mainnya keroyokan." pekik Risa membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
"Tenang princess bang Ramon ada di pihak kamu." ujar Ramon. "Kakak juga ada di pihak kamu." sahut Kaira.
Sudah tidak bisa dipungkiri lagi kalau setiap manusia yang hidup hingga saat ini pasti memiliki masa lalu. Sebuah masa-masa yang selalu penuh dengan cerita-cerita kehidupan yang terkadang bisa menentukan arah yang akan dituju untuk masa depan. Maka dari itu, setiap masa depan yang dimiliki oleh setiap orang tidak selalu sama karena masa lalu setiap orang juga berbeda-beda.
Meskipun masa depan setiap orang tidak selalu sama, tetapi setiap manusia menginginkan masa depan yang lebih damai dan lebih bahagia. Pada umumnya, seseorang yang bisa hidup lebih damai dan bahagia, seseorang tersebut sudah berdamai dengan masa lalunya terutama masa lalu yang kelam.
__ADS_1
"Ayo kita sarapan. Ayo Mas Rey kita sarapan sama-sama." ajak Alesha.
Rey pun mengangguk canggung, dia mengikuti langkah keluarga itu menuju ruang makan.
"Mommy aku mau makan udang." ujar Riza menunjukan udang goreng tepung yang dibuat Alesha.
"Boleh, Mas Rey mau makan sama apa?" tanya Alesha yang melihat Rey terlihat canggung berada di tengah-tengah mereka.
"Apa aja." akhirnya Alesha pun mengambil makanan untuk Refan dan juga Rey.
"Bismillahirrahmanirrahim" guman Rey memasuki makanan kedalam mulutnya.
Rey tersenyum masam, bukan karena masakan Alesha yang tidak enak, tetapi karena makanan ini terasa sangat nikmat hingga bayang-bayang Alesha yang dulu tidak bisa memasak pun berputar di kepala Rey.
"Kamu sekarang pinter masak ya Sha."
"Alhamdulillah Mas." jawab Alesha.
"Berbahagialah selalu Alesha, kamu berhak mendapatkan pria yang mampu mencintai kamu, dan hanya kamu satu-satunya nama yang terukir, aku turut bahagia atas kebahagiaanmu. Semoga tidak ada lagi air mata yang menetes dari mata indahmu itu, aku memang gagal menjadi seorang suami untuk kedua istriku, tapi aku berjanji kalau aku nggak akan pernah gagal untuk menjadi seorang ayah." lirih Rey dalam hati.
"Kamu udah mulai masuk kantor atau masih libur Rey?" tanya Refan.
"Kayanya saya mau nyerahin urusan kantor sama Mas Danu, saya nggak mau terlalu fokus pada pekerjaan sampai melupakan Risa, jadi saya akan mulai bekerja di rumah." jawab Rey.
"Itu memang keputusan yang bagus, tapi kamu juga harus sering-sering main kesini biar rumah saya makin rame." timpal Refan.
Ponsel Alesha tiba-tiba berdering menampilkan nama Alan di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, kenapa bang?" tanya Alesha sesudah mengangkat panggilan Alan.
"Wa'alaikumussalam dek, ini abang cuma mau ngabarin kalau Resa mau lahiran." ujar Alan di seberang sana.
"Alhamdulillah, sekarang Abang di rumah sakit mana?"
"Nanti Abang Kirim lokasinya ya, kalau kamu nggak bisa dateng nggak papa, kamu juga lagi hamil gak boleh kecapean."
"Nggak bang, ini aku bakal kesana."
"Yaudah Abang tutup dulu telponnya, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Kenapa Sha?" tanya Refan ketika Alesha sudah mematikan sambungan telponnya.
"Ini Mas, Resa mau lahiran, kita ke rumah sakit sekarang ya Mas." ajak Alesha yang diangguki Refan.
__ADS_1
"Boleh sayang, kalian berempat diam di rumah ya, biar Daddy sama Mommy aja yang jenguk." titah Refan yang mendapatkan penolakan dari Riza.
"Enak aja, aku juga mau liat baby-nya Dad."
"Ya udah kamu ikut, sana siap-siap."
"Saya boleh ikut?" tanya Rey.
"Tentu aja boleh Rey, kita masih keluarga." jawab Refan.
"Ya udah, aku ambil tas dulu sebentar Mas."
Alesha, Refan, Rey, Riza dan Risa pun pergi ke rumah sakit untuk menjenguk resa yang sedang melahirkan.
"Assalamualaikum, Ma. Gimana keadaan Resa?" tanya Alesha yang melihat Mama Maura berada di depan ruang bersalin.
"Wa'alaikumussalam, Resa masih di tangani, Alan juga ada didalam menemani istrinya." Alesha pun mengangguk mengerti, mereka semua sedang menunggu kabar bahagia dari Alan dan Resa.
Alesha menatap Bimo dan mengulurkan tangannya di depan Bimo." Ayah apa kabar?"
"Alhamdulillah ayah baik, gimana sama kandungan kamu?" tanya Bimo.
"Kandungan aku baik-baik aja." jawab Alesha dengan sendu. Dulu saat melahirkan untuk pertama kalinya Alesha di temani Rey, Bimo dan Mega. Dan untuk anak keduanya ia akan ditemani dengan orang yang berbeda yaitu Refan dan Maura mamanya.
"Alesha, boleh bicara sebentar? Refan juga, saya mau ngomong sama kalian." ujar Rey yang diberi anggukan Refan dan Alesha. Mereka bertiga berjalan menuju taman. Riza dan Risa mereka tinggalkan bersama Maura dan Bimo.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi setelah dipikir-pikir lagi, apa boleh saya membawa Risa pergi? bukan memisahkan Risa dari ibu kandungnya, tapi saya ingin menghilangkan kenangan yang ada dengan berada jauh dari sini."
"Maksud Mas Rey mau bawa pergi Risa dan memisahkannya dari aku?" potong Alesha cepat.
"Aku hanya punya Risa,Sha. Sedangkan kamu punya banyak keluarga yang selalu ada, bahkan kamu sedang mengandung dan akan segera memiliki anak lagi."
Alesha hendak membuka mulutnya tetapi Refan langsung mencegahnya. "Saya mengerti keadaan kamu, tapi bisakah kamu berdamai dengan masa lalu? dengan cara kita saling mendukung satu sama lain. Kita keluarga Rey, saya menganggap kamu seperti adik saya sendiri, bukan mantan suami Alesha, semua bisa diperbaiki, kita bisa membesarkan Risa bersama-sama."
"Jujur saya sudah sangat menyayangi Risa, bukan saya ikut campur dengan urusan kamu dan Alesha, tapi memang seharusnya Risa bisa bahagia di samping Mama dan Papanya. dia butuh kasih sayang kalian, jangan sampai Risa menjadi seperti anak-anak saya yang kekurangan kasih sayang seorang ibu, memang kadang saya cemburu sama kamu, tapi balik lagi saya gak boleh egois dengan cara melarang Alesha bertemu dengan kamu, itu sama saja saya melarang Alesha bertemu dengan putrinya."
"Kenapa kamu sampai mau berpikir meninggalkan kota ini dan bisa hidup lebih tenang? Apakah keputusan kamu mampu membuat anak kamu bahagia?"
Rey mencerna semua kata-kata Refan tentang putrinya.
"Kamu bisa pindah dari rumah itu jika memang bisa membuat kamu tenang dan mengikhlaskan Safira."
"Aku mohon pikirkan lagi baik-baik Mas. Aku nggak mau jauh dari anak aku." lirih Alesha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan nangis Alesha, aku nggak bisa melihat air mata kamu, aku janji nggak bakal pindah dan menjauhkan kamu sama anak kamu." ujar Rey tersenyum kepada Refan dan Alesha .
__ADS_1
Refan pun tersenyum, memang Alesha dan Rey pernah menjadi satu, tetapi itu dulu. Kenapa Refan harus cemburu hanya karena masa lalu? Yang Refan pikirkan saat ini adalah kebahagiaan anak-anaknya dan juga orang-orang disekitarnya.