
Alesha menuju kamarnya berniat untuk membangunkan Refan, sehabis subuh tadi Refan tidur kembali karena semalam banyak kerjaan di kantor yang mengharuskannya lembur.
"Mas?" Alesha sedikit menggoyangkan badan Refan, tetapi tidak ada pergerakan dari Refan.
"Mas, bangun yuk udah siang." Alesha yang sedang mengusap rambut Refan merasa suhu tubuh suaminya terasa sangat panas.
Alesha memegang tubuh Refan."Mas? Kamu sakit, ayo kita kerumah sakit." Ajak Alesha
"Aku gak mau yang." ujar Refan dengan suara rendah.
Alesha melotot "Ih kamu gimana sih? Ini kamu demam lho." Alesha meletakan tangannya ke kening Refan.
"Tuh kan panas banget." ucap Alesha lagi.
Refan menggeleng "Aku cuma kecapean. Tidur sebentar juga sembuh."
"Ya udah aku ambil obat sebentar ya Mas."
Tidak butuh waktu lama Alesha kembali membawa obat dan kompresan tidak lupa membawa bubur yang pagi tadi ia buat "Mas, ayo bangun sebentar."
Alesha membantu Refan untuk bangun dengan posisi setengah duduk di kasur "Sini aku suapi." Refan pun hanya menurut tanpa mau membantah.
Tidak lama bubur itu habis juga ditelan oleh Refan dan dengan segera Alesha memberi Refan obat. Setelah diminum,Alesha menyuruh Refan untuk istirahat kembali.
Abil dan teman-temannya pun sedang berkumpul di rumah karena memang hari ini mereka sedang menyiapkan perlengkapan kuliahnya.
"Assalamualaikum Kak." ujar Gerry dan yang lainnya.
"Wa'alaikumussalam, sini kalian duduk dulu aja, habis itu sarapan bareng sama kita."ajak Alesha kepada teman-teman Abil.
"Nggak usah kak, kita semua udah sarapan kok." jawab Wenki.
"Ya udah, Mommy ke atas dulu ya bang, soalnya Daddy kamu lagi sakit."
"Daddy sakit? Bukannya semalam dia baik-baik aja Mom."
"Iya Daddy kayanya kecapean deh, oh iya nanti kamu anterin Riza ya, habis itu jemput Risa di rumah Om Rey."
"Iya Mom."
Setelah itu Alesha kembali ke kamar menemani Refan yang masih bergulung dengan selimutnya. Alesha pun memeluk tubuh suaminya. Tetapi Refan langsung menjauhkan tubuhnya.
"Sayang jangan deket-deket, nanti kamu ketularan sakit. Mas gak mau kamu sampai ikutan sakit."
"Kamu kira aku anak kecil, lagian aku kan kangen sama suami tuaku ini, emang kamu gak kangen apa, udah satu minggu kamu sibuk sama kerjaan terus." keluh Alesha.
"Bukan gitu sayang, Mas kan harus cepet-cepet nyelesain urusan kantor, kan Mas mau cuti saat usia kandungan kamu masuk delapan bulan." ucap Refan mengusap perut Alesha dan menciumnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan segera memiliki buah hati dengan orang tersayangnya. Apalagi dia butuh waktu tiga tahun untuk bisa meminang Alesha menjadi istrinya.
"Kok nangis?" tanya Alesha mengusap air mata Refan.
"Mas nggak nyangka bisa menjadi suami kamu sayang, Mas merasa jadi pria yang paling beruntung memiliki istri sholeha seperti Alesha Ganendra ini."
"Kamu lagi sakit makin ngawur deh Mas."
__ADS_1
"Oh iya hari ini jadwalnya Risa kesini kan? Mas kangen banget sama putri kecil kita, dia itu gemesin banget, semoga aja anak kita yang ini nggak kalah gemesin." Refan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang sambil menarik Alesha kedalam dekapannya.
"Iya tadi aku udah nyuruh Abil buat jemput Risa, gak mungkin juga kan kalau aku yang jemput saat kamu sakit kaya gini."
Saat tengah asik menikmati momen berduaan tanpa diganggu Ramon dan Riza, Alesha mendapatkan panggilan masuk dari Abil.
"Assalamualaikum mom, Mommy bisa ke rumah on Rey nggak?" ujar Abil dengan nada panik.
"Emang kenapa bang? Daddy lagi sakit Mommy nggak mungkin ke sana."
"Mommy, Tante Safira meninggal "
"Kamu jangan becanda bang, tadi malam Mommy baru aja telponan sama Mas Rey dan Mbak Safira." ujar Alesha tidak percaya akan ucapan Abil.
"Aku serius Mom, makannya Mommy cepet kesini. Di rumah Om Rey udah banyak yang dateng, bahkan Opa juga ada di sini."
Ponsel Alesha terjatuh, ia tidak menyangka jika Safira akan pergi secepat ini, bahkan semalam dirinya masih mendengar suara wanita cantik itu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Refan dengan raut wajah panik melihat wajah Alesha yang terlihat pucat.
"Sayang." pekik Refan memegang lengan istrinya.
"Mas, Mbak Safira, Mbak Safira udah nggak ada." lirih Alesha dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya.
"Maksud kamu?" tanya Refan tidak mengerti.
"Mbak Safira meninggal Mas, aku harus ke sana sekarang, tadi Abil mau jemput Risa tapi dia malah kasih kabar kalau Mbak Safira meninggal."
"Ya udah ayok." ajak Refan menarik tangan Alesha.
"Aku udah nggak apa-apa, lebih baik kamu siap-siap sekarang, Mas mau kasih tau Kaira buat jaga Riza sama Ramon di rumah."
*****
Satu jam perjalanan yang Refan dan Alesha tempuh, kini mereka sudah sampai di rumah Rey.
Di sana Alesha bisa melihat tangis mantan suaminya, dia duduk dengan tatapan kosong menatap ke arah jenazah istrinya.
Alesha ikut duduk di samping Ira yang terlihat lemas melihat tubuh kaku menantunya.
"Kasihan banget nak Rey, udah ditinggal cerai istrinya, sekarang yang dipilih malah meninggal, mana semasa hidupnya nyusahin terus lagi." bisik-bisik dari pelayat yang datang ke rumah, seolah tidak ada pembicaraan lain selain itu. Deru mobil terdengar berhenti di depan rumah, semua orang menatap ke arah pintu masuk.
"Ya Allah Fira." seru Mega berjalan cepat ke arah jenazah putri semata wayangnya. Bahu Mega bergetar, bagaimana rasa kehilangan itu sangat terasa.
Di belakang Bimo mengelus punggung Mega, sambil menahan tangis apa lagi sesekali matanya melihat ke arah Rey yang sekarang diam namun tatapan matanya kosong.
Setelah mendapatkan kabar kematian Safira, Bimo langsung mencari keberadaaan Mega yang sempat keluar dari rumah Rey karena tekanan Ira.
Refan memeluk tubuh Rey, ia merasa kasihan dengan garis takdir Rey yang tidak pernah merasakan kebahagiaan.
"Kamu harus banyak bersabar Rey, ikhlasin Safira. Kamu masih punya kekuatan dengan adanya Risa, Risa membutuhkanmu." ucap Refan menepuk bahu Rey.
"Papa" teriak Risa menghampiri Rey dan Refan.
__ADS_1
"Papa kenapa bunda diam aja, bunda lagi tidur ya? tapi kok banyak orang di rumah kita." tanya Risa dengan wajah polosnya.
"Risa sayang, kangen nggak sama Didi? hari ini Didi sama Mama mau jemput kamu, tapi sekarang kamu pulang sama bang Abil dulu ya, Didi punya banyak mainan buat kamu." ujar Refan mengacak gemas rambut Risa.
"Gak mau, Papa kenapa nangis?" tanya Risa menghapus air mata Rey. Pria itu pun memeluk putrinya dan menyembunyikan rasa sakit kehilangan wanita yang selama ini mendampingi hidupnya.
"Papa nggak apa-apa sayang, mata papa cuma kelilipan, kamu ikut bang Abil dulu ya ke rumah Didi, nanti Papa jemput kamu di sana." Risa pun mengangguk mengiyakan ucapan papanya dan ikut pulang bersama Abil.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Mbak Safira, Mas?" tanya Alesha.
Rey pun dengan menahan tangis menceritakan apa yang terjadi tadi pagi hingga semuanya terasa seperti mimpi.
Flashback
Suara adzan subuh sayup-sayup terdengar saat bangun pagi itu , dengan senyum saat melihat orang pertama yang Rey lihat , adalah wajah Safira yang ada dalam dekapannya sejak semalam .
Sejenak Rey memandang wajah Safira yang tidur sangat lelap, sampai suara adzan subuh pun tidak bisa membangunkan Safira padahal biasanya Safira bangun sebelum adzan subuh berkumandang .
Mungkin saat itu Safira memang sedang kelelahan hingga tidak mendengar suara adzan pikir Rey.
"Sayang, bangun sudah subuh." Rey mencoba membangunkan Safira dengan pelan, namun tidak ada respon. Perlahan Rey menyentuh tangan Safira yang terasa dingin.
"Fira" Panggil Rey lagi sambil mencoba menggoyangkan tangan Safira perlahan.
Namun tidak ada tanggapan juga membuat Rey merasa ada yang tidak beres, perlahan Rey bangun dari tidurnya dan melepaskan pelukannya pada Safira.
"Sayang, Bangun sudah subuh." ujar Rey sambil menggoyangkan badannya tapi tetap saja tidak ada gerakan.
Dengan tangan bergetar Rey memberanikan diri memeriksa pernafasan Safira. Dengan menahan tangis tangan Rey mengulur mendekati hidung istrinya. Perasaan takut itu semakin terasa, saat tangannya tidak merasakan hembusan nafas Safira.
"Humaira." panggil Rey lirih, kini dadanya terasa sesak. Air mata sudah mengalir keluar dari matanya.
"Bangun sayang, Humaira bangun, ayo salat subuh dulu." seru Rey dengan suara yang serak.
"Ayo sayang, nanti kesiangan loh, pagi ini Mas juga ada meeting, kamu harus siapin sarapan buat Mas, hari ini Risa juga bakal di jemput sama Mamanya, jadi sepulang meeting aku bisa ajak kamu jalan-jalan." lanjut Rey dengan suara yang bergetar.
"Safira!!" teriak Rey kencang hingga mampu membangunkan Ira yang sedang tertidur di kamar Risa.
Flashback end
"Ikhlasin Mbak Safira, Mas. Mbak Safira pasti sedih kalau ngeliat kamu kaya gini, apalagi dia juga tidur untuk selamanya dalam dekapan kamu."
"Kamu nggak tau rasanya kehilangan Sha." lirih Rey menelungkup wajahnya dilipatan lengan.
"Aku pernah Mas, aku kehilangan Alvin, kehilangan Risa juga, dia anak aku tapi nggak sepenuhnya menjadi milik aku, semua orang pernah merasakan kehilangan, entah itu istri, suami, saudara, anak, atau orang tua, yang bisa kita lakukan cuma ikhlas."
Refan lagi-lagi menepuk bahu Rey untuk menguatkan mantan suami istrinya itu." Saya juga pernah merasakan kehilangan seorang istri Rey, bahkan saya harus hidup menyendiri selama delapan tahun membesarkan anak-anak saya yang masih kecil-kecil. Saya harus bertahan demi mereka berempat, dan kamu juga harus bisa bertahan menjalani kehidupan kedepannya demi Risa."
"Saya kehilangan Clara di saat saya baru saja mulai mencintainya, selama bertahun-tahun kita bersama, tidak ada rasa cinta di dalamnya karena kita menikah hanya untuk urusan bisnis semata, saya juga sempat merasa terpukul, di saat seharusnya saya merasa bahagia atas kelahiran putra ketiga kita, itu justru menjadi hari terakhir untuk saya bisa melihat Clara."
"Kamu punya kenangan cinta dari Clara dengan adanya anak, sedangkan saya? Saya tidak memiliki apapun kenangan dari Safira."
"Maka dari itu kenang dia selamanya di hati kamu, dia akan selalu ada di hati kamu, saya yakin kamu pria yang hebat. Kamu adalah cinta terakhir Safira, dan seharusnya kamu bangga dengan itu, cukup kenang dan ikhlaskan kepergiannya." setelah mengucapkan itu Refan menggandeng Alesha keluar rumah, dia tidak bisa berlama-lama berada di sini mengingat Alesha yang sedang mengandung dan takut kelelahan.
__ADS_1
Apalagi saat ini tubuh Refan sedang tidak baik-baik saja, selama Rey masih dalam keadaan terpuruk, maka Risa akan tetap berada di rumahnya mulai saat ini.