Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Menolong pria bertopeng


__ADS_3

***di dalam kalung dimensi Azkia


Seorang gadis kecil tengah mengerjapkan matanya menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada di ruangan itu. Kini mata coklatnya telah terbuka dengan sempurna melihat sekelilingnya.


‘Ughh.. Jam berapa sekarang?’ batin Azkia yang masih belum sepenuhnya sadar.


“Ternyata sudah sore, dimana foxi?” gumamnya sambil mencari keberadaan foxi.


“Tuan sudah bangun, saya sudah menyiapkan makanan untuk tuan” ucap foxi yang muncul di hadapan Azkia.


“hmm ayo kita makan!” ucap Azkia lalu bangkit dari duduknya.


“Kamu bisa masak foxi?” tanya Azkia tidak yakin.


“bisa tuan” jawab singkat Foxi.


Mereka berjalan menuruni tangga menuju gazebo di belakang istana. Disana tersaji banyak makanan zaman modern, dan ada beberapa makanan yang asing menurut Azkia.


“Silakan tuan!” ucap Foxi mempersilahkan.


“terima kasih” balas Azkia di sertai senyuman.


Foxi yang melihat itu tercengang dengan tuan nya yang baru pertama kali tersenyum padanya ‘cantik' itu yang ada di benaknya.


Azkia menikmati makanan dari zaman modern nya, dan sedikit tidak terbiasa dengan makanan asing dari dunianya yang sekarang. Azkia hanya menghabiskan makanan dari dunianya dulu dan menyisakan makanan dari dunianya sekarang. Ia bangun dari duduknya dan berjalan menuju pohon rindang di dekat sungai surgawi.


“Foxi aku akan kembali ke hutan kamu ikutlah denganku!” perintah Azkia dan menggandeng tangan Foxi.


“Baik tuan”balasnya.

__ADS_1


Wuss... mereka berdua kembali ke hutan di sana waktu masih menunjukkan siang hari. Azkia berjalan di pandu oleh foxi menuju lapisan ke 3 hutan kematian dan begitupun seterusnya sampai di lapisan ke 1 hutan kematian sepanjang perjalanan Azkia bisa melihat beberapa hewan dan juga tanaman lumayan langka tertanam di tanah. Sesekali Azkia mengambil tanaman yang menarik perhatiannya.


Kini mereka berada di ujung lapisan pertama, Azkia celingukan melihat ke sekitarnya. Foxi yang heran dengan tingkah tuannya pun bertanya.


“tuan kenapa?” tanya foxi heran.


“apa kamu tidak mendengarnya?” tanya Azkia masih mencari sumber suara.


“saya mendengar dentingan pedang dan juga teriak orang kesakitan” jawab Foxi mulai mengerti.


“asal suaranya dari utara” lanjutnya lagi.


Azkia segera berjalan dengan cepat ke arah utara asal suara tersebut.


Azkia tersentak kaget saat melihat 20 pria berbaju hitam sedang melawan seorang pria berambut perak dan memakai topeng setengah wajah.


Azkia dapat melihat bahwa pria itu terkena panah beracun di kakinya sehingga ia tidak bisa bergerak dengan leluasa. 20 pria berbaju hitam terus menyerangnya dengan brutal mengakibatkan luka di sekujur tubuh pria bertopeng itu.


“Foxi aku akan menolong pria....itu kamu bisa masuk kembali ke dalam kalung dimensi” titah Azkia pada foxi dan dibalas anggukan olehnya.


Azkia segera mengeluarkan belati dari dalam kalung dimensinya dan mendekat ke arah pria bertopeng itu. Tanpa basa basi Azkia segera menyerang pria yang ingin menyerangnya.


Pertarungan antara Azkia dengan salah satu pria berbaju hitam itu semakin dahsyat. Azkia yang tidak bisa berkultivasi hanya bisa menghindar saat pria itu menyerang dengan tenaga dalamnya, dan menyerang dengan brutalnya.


Karena tubuhnya yang ia tempati adalah tubuh gadis berumur 12 tahun ia kesulitan karena tenaganya kalah dengan pria tersebut. Tapi Azkia tidak mengalah dengan cepat ia mengiris leher lawannya darah segar keluar dari sana dan membuat baju Azkia terciprat darah.


“hais baru ganti baju udah di kotor in lagi” ucapnya sambil mendengus kesal.


19 pria berbaju hitam mulai merasa terancam dengan kehadiran gadis kecil yang tingkat kultivasi nya tidak mereka ketahui, antara lebih kuat dari mereka atau tidak punya kultivasi sama sekali. Mereka berpikir mungkin gadis di hadapan mereka hanya beruntung dan menatapnya dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


“Hei anak kecil lebih baik kamu cepat pergi di sini bukan permainan” ucap salah satu pria berbaju hitam.


Azkia tidak menggubris ucapan pria itu lebih memilih menghampiri pria bertopeng.


“kakak bertopeng apa baik-baik saja?” tanyanya dengan suara khas gadis kecil yang polos.


“tidak apa-apa” jawab pria itu acuh. Azkia yang mendengar itu mengendus kesal.


“telanlah” ucap azkia bukan dengan suara khasnya melainkan suara dingin sembari menyodorkan pil pemulihan tingkat tinggi yang berasal dari kalung dimensi.


Pria bertopeng itu menelannya dan semua luka di tubuhnya membaik, tapi luka di kakinya tidak membaik.


“kenapa kakinya masih belum sembuh?” gerutu Azkia dan membungkuk melihat luka panah di kakinya.


‘kadar racunnya sangat mematikan, tapi prosesnya sangat lamban, mungkin hanya bisa pulih setelah di bersihkan' batin Azkia sembari memandangi pria dan kakinya secara bergantian.


19 pria berbaju hitam menyeringai saat tahu gadis kecil di depannya tidak bisa menyembuhkan luka panah tersebut.


“sudahlah racun itu tidak bisa di sembuhkan, lebih baik kamu pergi dari sini, ini bukan permainan” ucap salah satu pria berbaju hitam dengan tatapan menghina.


“tapi aku menganggap kalian hanya mainan bagiku” ucap Azkia santai di sertai dengan seringainya membuat setiap orang yang melihatnya akan gemetar ketakutan begitu pun dengan 19 pria berbaju hitam itu.


Tanpa ba bi bu Azkia melesat kan 20 jarum beracun yang kebetulan ada di kantongnya ke arah 19 pria berbaju hitam itu.


Akhh...


tolong....


ughh...

__ADS_1


- TBC


__ADS_2