Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Kembali ke gubuk


__ADS_3

Akhh...


Pekik 19 pria berbaju hitam dengan kondisi masing-masing yang memprihatinkan. Ada yang kejang-kejang, kaki lumpuh dan ada juga yang mati.


Azkia kembali menghampiri pria bertopeng yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Azkia hanya acuh dan merobek bagian bawah hanfunya dan melilitkannya pada bagian kaki sang pria bertopeng.


“apa sakit?” tanya Azkia polos.


Pri bertopeng itu hanya menggeleng. Azkia menyuruh Foxi mengambil air surgawi dari sungai surgawi dan menaruhnya botol porselen. Foxi hanya menurut dan memberikannya kepada Azkia.


“ambilah, minum ini ketika merasa sakit kembali” ucap Azkia datar sembari menyudutkan sebotol air surgawi.


“kenapa para pembunuh bayaran itu menyerang mu?” tanya Azkia sambil menatap wajah pria bertopeng itu mencari ekspresi yang di timbulkan dari pertanyaannya.


“Bagaimana kamu tahu mereka itu pembunuh bayaran?” tanya balik pria bertopeng itu menatap Azkia heran.


“Itu sangat mudah kultivasi mereka tidak tinggi maupun rendah hanya berada di bumi tinggal akhir, dan pakaian mereka menunjukkan mereka bukan bangsawan atau pun rakyat jelata. Jadi jelas bukan bandit yang lewat, sekali lihat saja sudah tahu kalau mereka datang untuk membunuhmu” jawab Azkia acuh.


Pria bertopeng itu melihat Azkia dengan datar namun Azkia bisa melihat pria itu sangat kagum dengan pengamatannya, entah Azkia yang narsis atau memang benar.

__ADS_1


“kakak Kia pamit dulu, sampai jumpa” ucap Azkia yang tidak menyadari bahwa dia menyebutkan nama sebagai panggilan dirinya pada pria itu, pasalnya Azkia hanya menyebutkan namanya pada orang yang dekat dengannya. Entah mengapa kata tersebut keluar langsung dari mulutnya. Ia bangkit dan berjalan menjauh.


‘Kia? Nama yang bagus' batinnya tersenyum.


......................


Azkia melanjutkan perjalanannya keluar dari hutan kematian. Dari kejauhan ia bisa melihat seorang gadis yang lebih tua darinya mengenakan pakaian pelayan berjalan menghampirinya.


‘bukannya itu jingmi pelayan pemilik tubuh asli ini' batin Azkia mengingat ingat.


Gadis itu menghampiri Azkia yang masih terdiam di tempat. Kemudian meraih tangan Azkia melihat apa ada luka di tubuh nya.


“Nona anda baik-baik saja? Nubi sangat khawatir dengan nona” ucapnya dengan nada khawatir.


“huft.. Syukurlah kalau nona baik-baik saja” ucap jingmi menghela nafas lega.


“tapi kenapa pakaian nona berganti, dan nubi merasa nona jadi semakin cantik” ucap nya heran dan senang.


“ouh.. Ini, aku membawa baju ganti di dalam cincin ruang, dan aku sudah membersihkan racun dalam tubuhku makanya terlihat lebih segar” ucap Azkia mencoba memberi alasan yang masuk akal dan di beri anggukan oleh jingmi.

__ADS_1


“sudahlah kita kembali ke gubuk saja” ucap Azkia menyudahi pembicarannya dengan jingmi.


“Baik nona” ucap jingmi sopan.


‘Kenapa nona jadi banyak bicara, biasanya nona hanya mau berbicara 2-3 kata. Itu pun hanya ketika moodnya baik. Tapi bagus juga kalau nona jadi sedikit ramah' batin jingmi yang heran dengan perubahan junjungannya.


Azkia yang melihat raut wajah jingmi hanya berharap bahwa jingmi tidak menyadari bahwa nonanya yang asli sudah meninggal dan digantikan dengan Azkia dari zaman modern.


Mereka berjalan menuju gubuk di pimpin oleh jingmi karena Azkia yang menyuruh. Sesampainya di sana Azkia masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang kecil, kumuh di dekat jendela.


“Tempat ini sangat mengerikan, bahkan kasurnya pun sekeras batu. Entah bagaimana hari-hari yang akan aku lalui kelak, sungguh tragis nasib mu Li Wei” gumamnya sembari merutuki nasibnya selanjutnya.


Azkia memilih bangun dan mengajak jingmi membersihkan gubuk itu. Sesekali Azkia bersin karena debu yang sangat tebal. Walaupun Azkia tahu ia tak akan lama di sini tapi kehidupan miskinnya terasa begitu asing oleh Azkia, mungkin karena dulu ia hidup dengan segalanya kecuali kebebasan.


Sekarang gubuk itu terlihat lebih baik dari yang sebelumnya. Yang awalnya hanya gubuk reot di sulap menjadi rumah kecil. Kasurnya pun juga di ganti dengan kasur queen size dari kalung dimensinya. Semua perabotan juga di ganti dengan yang layak pakai.


Hari ini Azkia ingin menikmati hari-harinya di dunia barunya itu.


‘Aih di sini sungguh merepotkan. Walaupun aku sudah terbiasa hidup mandiri, tapi aku belum pernah melakukan segala hal sendiri. Bahkan harus berburu sendiri. Kalau minta foxi yang berburu nanti jingmi pasti nanya terus' batin Azkia menghela nafas berat.

__ADS_1


“Sudahlah lagian di sini juga tidak buruk. setidaknya aku bebas tanpa kekhawatiran. Nanti juga mulai terbiasa” gumamnya sembari membaringkan tubuhnya di kasur empuknya. Matanya mulai terpejam dan mulai masuk ke dalam alam mimpinya.


- TBC


__ADS_2