
Setelah seminggu penuh Azkia berlatih beberapa seni bela diri, teknik tempurnya sudah sangat stabil bahkan lebih tajam.
Agar ilmu medis dan ilmu racunnya seimbang seminggu setelah melatih teknik bela diri Azkia berkutat di laboratorium untuk uji coba racun yang biasanya di lakukan pemilik tubuh asli.
Karena ingatan itu hanya sebatas pengetahuan samar, jadi lebih baik menambahkan pengalaman diri sendiri dari pada mengambil cuplikan ingatan orang lain.
Sudah 2 minggu sejak ia tidak keluar dari kalung dimensi. Walaupun kurang puas dengan peningkatan diri sendiri tapi karena sudah kurung waktu 14 jam di dunia luar jadi terpaksa menunda untuk sementara waktu. Toh ia masih punya banyak waktu untuk membuat peningkatan.
“foxi aku balik ke gubuk dulu ya, jaga kalung dimensi dengan baik!” Ucap Azkia.
“baik tuan” jawab foxi patuh.
Wusshh..
“ternyata di sini masih malam” gumamnya, karena mengantuk Azkia memilih untuk tidur.
......................
*** Pagi harinya
Seorang gadis kecil tengah berlari mengelilingi hutan yang di kelilingi pepohonan lebat.
Nafasnya yang terengah-engah memenuhi hutan yang sunyi. Ia sesekali berhenti untuk mengatur nafasnya dan minum air.
“Huh... Tubuh ini terlalu lemah, bahkan baru 20 putaran sudah kelelahan” gumam seorang yang duduk bersandar pada sebuah batang pohon.
“Kalau begini kapan aku bisa memulihkan kekuatan ku sepenuhnya , bahkan tidak ada 10% dari kekuatan ku di jaman modern” gerutunya dalam hati.
“Sudahlah aku masih memiliki waktu 2 tahun, sampai saatnya nanti aku akan membuat tubuh ini bahkan lebih kuat dari tubuhku di jaman modern” lanjutnya tegas.
‘Lanjut 40 putaran' batinnya semangat. Dan mulai berlari lagi.
Gadis kecil yang sedang berlari itu adalah Azkia, karena pagi tadi merasa bosan, gadis itu memilih untuk perlahan melatih fisik tubuh yang ditempatinya saat ini.
__ADS_1
“Nona, nonaa...” Tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya dari dalam sebuah gubuk.
“jiejie ada apa kenapa panik sekali” teriak Azkia menghentikan larinya dan berjalan menuju asal suara tersebut.
“Nona kemana saja, nubi mencari nona, kenapa nona tidak ada di kamar?” tanya jingmi pada junjungannya itu dengan khawatir.
“Aku sedang berolahraga” Jawab Azkia singkat.
“huft... baguslah kalau nona baik-baik saja” ucapnya sambil menghembuskan nafas lega.
“Ada apa jiejie?” tanya Azkia heran.
“Tidak apa-apa nona, nubi hanya khawatir nona tidak ada di kamar, biasanya nona selalu berdiam diri di kamar jadi nubi sedikit panik” jawab Jingmi sedikit malu.
“Sudahlah, jiejie siapkan aku air, aku ingin mandi!” kata Azkia memerintah.
“baik nona” jawab jingmi patuh.
......................
“Jiejie apa kita tidak punya garam?” tanya Azkia spontan.
“ nona itu...” jawab jingmi ragu.
“Ada apa jiejie katakan saja” kata Azkia dengan tak sabar.
“kita diasingkan tanpa membawa apapun, jadi hanya mengandalkan sumber daya dari hutan” jawab jingmi menunduk.
“Oh ini juga perintah dari jenderal Yan” kata Azkia datar.
“ benar nona, tapi nona tidak perlu sedih nubi yakin kita bisa terus hidup walau harus tinggal di hutan, jendral Yan juga pasti tidak ingin nona mati jadi menyiapkan beberapa baju untuk kita berdua” kata jingmi panjang lebar sedikit menghibur agar junjungannya tidak sedih.
Azkia hanya tersenyum menanggapinya, jingmi yang melihat senyum itu bisa merasakan kekejaman di mata junjungannya.
__ADS_1
“jiejie, tidak perlu menghiburku, lagian jika dia masih ingin kita hidup pasti tidak akan mengasingkanku ke hutan kematian, seberat apapun kesalahan yang aku lakukan pasti hanya akan di cambuk lalu di suruh berdiam diri di paviliun. Karena mereka mengirimkan keseni berarti hanya memiliki satu tujuan” kata Azkia dengan dingin lalu melirik singkat ke arah jingmi.
“Maksud nona jendral Yan ingin nona mati” ucap Jingmi syok.
“kalau tidak untuk apalagi” kata Azkia santai.
‘sepertinya orang tua itu sudah tidak tahan lagi dan ingin segera menyingkirkan mu Li Wei, tenang saja aku tidak akan membuat keinginannya terpenuhi” batin Azkia dengan sorot mata tajam.
“bagaimana ini nona, kita tidak akan bisa hidup di hutan ini lagi, kalau ada orang yang menyelidiki kita belum mati pasti jendral Yan akan mengirim kita pembunuh bayaran” ucap Jingmi panik, ia sangan mengerti bagaimana tabiat jendral Yan.
“heh, kalau dia tau kita belum mati memangnya kenapa, bukankah aku adalah sampah yang terabaikan, mana mungkin orang tua itu peduli dengan hal yang tidak penting sepertiku” jawab Azkia tersenyum miris, namun kata-katanya terdengar sangat dingin. Membuat Jingmi yang melihatnya sedih.
‘pasti nona sangat sedih, walaupun nona bersikap dingin dan tidak peduli, tapi nubi tau hati nona terlalu lembut' batin jingmi tertunduk lesu.
“tidak usah memandangku seperti itu jiejie, aku tidak sedih sama sekali” kata Azkia tau apa yang dipikirkan oleh jongmi, terlihat dari raut wajahnya yang menatapnya sendu.
“huh, syukulah nona” kata Jingmi lega.
“Huft.. Sudahlah jiejie tidak usah dibahas lagi, besok kita pergi ke pasar terdekat untuk membeli beberapa keperluan” ucap Azkia.
“memangnya boleh nona?” tanya jingmi.
“Terus kamu mau mati di sini, kalau aku sih ogah” kata Azkia jengah.
“tidak nona, nubi masih ingin melayani nona” kata jingmi dengan terburu-buru.
Azkia yang mendengarnya hanya terkekeh sudah lama ia tidak tersenyum apa lagi sampai terkekeh, saat melihat tingkah jingmi Azkia teringat dengan sahabat Satu-satunya Hana.
‘Entah bagaimana kabarnya disana' batin Azkia sendu.
“Ya sudah bereskan sisanya, aku akan istirahat di kamar” perintah Azkia lalu berjalan ke arah kamarnya.
“baik nona” jawab jingmi patuh.
__ADS_1
- TBC