Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Fakultas Psikologi


__ADS_3

Selama beberapa tahu Azkia turus di rumah, belajar di rumah, bahkan praktik kerja di rumah. Sampai jenjang SMP Azkia merasa terkekang dengan semua pembatasannya dan di saat remajanya dia hanya di perbolehkan keluar sebulan sekali. Dan selama di rumah Azkia di ajarkan untuk tidak bergantung pada orang lain dan bersikap dewasa.


Sampai saat usianya 18 tahun Azkia memohon pada ayahnya untuk kuliah di luar negeri. Tentu saja di beri penolakan namun Azkia tetap berusaha membujuk ayahnya.


“ayah please.... Kia mau melihat dunia luar dan Kia butuh sertifikat jika ingin mudah dapat kerja” mohon Azkia dengan wajah memelasnya.


“Kan ada ayah, kamu bisa langsung mengambil alih tugas manajer di rumah sakit atau kepala klinik warisan dari ibumu” ucap ayah Azkia santai.


“Kan ayah yang bilang kalau mau di akui bukan hanya gelar dan jabatannya juga harus berusaha dengan kemampuan sendiri.


Kalau Kia langsung ambil alih tugas manajer atau kepala klinik nanti yang ada karyawan dan pasien lain bakal beranggapan Azkia Cuma tahu bergantung sama keluarga, dan tidak kompeten. Ayah mau nanti Azkia di anggap seperti itu oleh orang lain” jelas Azkia memberi alasan yang masuk akal kepada keluarganya.


“Huft baiklah tapi ayah yang pilih sekolahnya” Ucap Ayah Azkia dengan berat hati.


“yay... ayah yang terbaik” sorak ria Azkia karena diizinkan kuliah.


......................


Sampai pada saat Azkia sampai di Universitas I-IQ fakultas psikologi. Sebelum menentukan fakultas ada sedikit perdebatan. Tapi Azkia kukuh ingin di Fakultas Psikologi alasannya ingin bisa mempelajari kepribadian seseorang, alasan utamanya adalah tidak ingin di khianati lagi.


Ini hari pertama Azkia keluar rumah dan bersosialisasi dengan banyak orang tentunya ia akan sedikit kesulitan. Tapi sesulit apa pun yang namanya Azkia pasti gak Akan ada kata tidak bisa.


Contohnya pada saat Azkia masuk gerbang banyak pasang mata melihat ke arahnya dan terpesona akan kecantikannya yang bak seorang dewi. Kulit putih mulus, hidup mancung, mata coklat, rambut panjang sepunggung, dan bibir semerah ceri dan hanya diberi riasan ringan.


...



...

__ADS_1


......................


Di kelas Azkia memilih membaca buku sambil mendengarkan musik. Sampai saat Kelas selesai Azkia memilih ke perpustakaan. Saat di perjalanan ke perpustakaan ia di tabrak oleh seorang gadis berambut pendek sebahu, dan pakaian yang di kenakannya seperti seorang mahasiswa.



Saat ingin bangun ia melihat bolpoin yang terjatuh dari gadis yang tadi menabraknya dan berinisiatif mengembalikannya, tapi sebelum sempat menoleh ia melihat gadis itu sudah menghilang padahal baru saja menabrak Azkia.


Tentunya Azkia tau tehnik apa yang gadis itu gunakan untuk bisa pergi dengan cepat.


Ia mengurungkan niatnya mengembalikan bolpoin itu dan memilih mengembalikannya saat kelas berikutnya.


Azkia terkejut dengan apa yang baru saja ia temukan, ada kamera dalam bolpoin itu. Ia memeriksa apa hasil rekaman di dalamnya dan mengetahui kalau isinya adalah bukti penyeludupan uang dalam jumlah besar.


Tanpa pikir panjang ia mengcopy rekaman dan menyimpan kembali bolpoin itu di tasnya. Bisa ia pastikan kalau gadis yang menabraknya tadi adalah agen rahasia yang ketahuan mengintip transaksi tersebut.


“Aih sepertinya hal yang aku inginkan akan lebih mudah tercapai” batin Azkia di ikuti dengan senyuman yang belum pernah ia tunjukan.


......................


“sini!” Ajak Azkia dan menarik lengan gadis itu ke tempat duduk di sebelahnya.


“siapa namamu agen?” Tanya Azkia dengan menekan kata agen dengan suara berbisik.


Gadis itu pun tersentak kaget karena Azkia tau identitas aslinya.


“Shuuut diam, bagaimana kamu tau” bukannya menjawab gadis itu malah balik bertanya.


“Tidak penting aku tau dari mana, namaku Azka Liana Winata. Siapa namamu?” Jawab Azkia acuh tak acuh kemudian menyodorkan tangannya tanda ingin berkenalan.

__ADS_1


“namaku Hanna Wijaya, anak termuda presdir Wijaya” jawab Hana memperkenalkan diri sembari membalas uluran tangan Azkia.


“Ouh... dan kalau kamu anak presdir Wijaya kenapa kamu memilih fakultas psikologi?” tanya Azkia heran.


“lah kamu sendiri kenapa di fakultas psikologi padahal keluargamu kan berkutat di bidang kedokteran?” bukannya menjawab malah balik bertanya walaupun pertanyaannya masuk akal.


“iya juga ya hehehe” jawab Azkia cengengesan padahal ia tidak pernah tersenyum apa lagi tertawa seperti sekarang ini sungguh luar biasa. Mungkin ia merasa nyaman dengan keberadaan gadis ini atau dia ingin memberi kesan yang bagus padanya.


“aku belum selesai apa kamu benar agen rahasia?” tanya Azkia yang penasaran akan kepastian.


“Ouh kalau soal itu aku memang agen rahasia, memangnya kenapa?” jawab Hanna dengan santai.


“aku akan jujur padamu. Aku ingin menjadi agen rahasia, apa kamu bisa memasukkan ku ke organisasi mu” Jelas Azkia dengan mimik serius.


“yah itu tergantung kamu sendiri bisa lolos seleksi atau tidak” ucap Hanna dengan malas.


“Kalau soal itu tenang saja aku pastikan setelah aku lulus seleksi aku akan menjadi agen rahasia terbaik” ucap Azkia dengan yakinnya bahkan mendekati sombong.


Sejak saat itu Azkia dan Hanna menjadi Sahabat di kampus dan rekan agen rahasia. Mereka sering meluangkan waktu untuk latihan bersama sampai asramanya pun sama, dan karena mereka takut ketahuan kamar mereka juga di lengkapi ruangan rahasia pribadi dan apartemen pribadi di dekat universitas.


Azkia juga menepati janjinya menjadi agen rahasia terbaik yang di segani dan di takuti julukannya adalah LIONES yang artinya Singa betina. Ia hanya mengambil misi pribadi dengan beberapa anggota sebagai timnya dan tidak mengambil anggota terlalu banyak karena itu akan sangat merepotkan untuk mengurus anggota sekaligus waktu yang di bagi antara misi dan kegiatan kampusnya.


......................


Sekarang Azkia sudah duduk di bangku mahasiswa tahun ke tiga umurnya sekarang 20 tahun, Usia yang sangat muda untuk bekerja. Sudah jadi hal umum untuk fakultas psikologi tahun ke tiga akan diadakan program magang di beberapa rumah sakit atau klinik yang siap menerima mahasiswa magang.


Azkia dan Hanna sendiri memilih magang di klinik yang cukup sepi agar waktu magang tidak berpapasan dengan saat mereka menjalankan misi. Tentunya itu hanya alasan agar tidak di curigai orang lain, bisa saja Azkia tidak magang dan langsung mengambil alih klinik warisan ibunya.


Azkia mengabari keluarganya kalau besok dia akan mulai magang di klinik. Ayah dan kakaknya yang mendengarkan berita itu sangat senang dan mengucapkan selamat kepada Azkia.

__ADS_1


Berbeda halnya dengan gadis itu yang tengah entah mengapa hatinya terasa kosong dan merasa akan ada hal buruk yang terjadi oleh karena itu ia duduk menenangkan diri dan mulai menulis sesuatu di secarik kertas. Setelah menulisnya dia taruh di atas meja kerjanya.


- TBC


__ADS_2