Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Memberikan kalung Ruby


__ADS_3

"simpanlah kalung Ruby ini bawalah selalu di mana pun kamu berada, jadilah kuat agar mampu melindungi orang-orang yang kamu sayangi.


dan ingat pesan ibunda di setiap keadaan apa pun dan kapan pun kamu harus jadi anak yang baik dan tegar tidak boleh menangis dan rapuh, setiap ada masalah jangan hanya mengandalkan emosi kendalikan lah dan tenang agar bisa berpikir jernih.


Suatu saat kamu akan mengerti dengan sendirinya. Ibunda sudah tidak kuat lagi” lirihnya sambil menatap manik mata Azkia yang tak terbendung air matanya. Azkia hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya sambil memeluk ibundanya.


"ibunda percayalah Kia pasti akan menyimpan karung Rubi ini, Kia juga akan jadi kuat. jadi kia mohon ibunda harus kuat jangan tinggalkan Azkia" ucap Azkia dengan berlinang iar mata menatap sosok wanita yang sangat rapuh yang kini memeluknya.


“Aditya kamu sudah dewasa jagalah adikmu dan orang-orang yang kamu sayangi. Belajarlah yang rajin. Ibunda menyayangi kalian” lanjutnya sabil memandangi manik mata putranya yang juga tak terbendung air matanya.


“Dan sayang jagalah kedua anak kita, berikan semua yang mampu membuat mereka bahagia, aku sudah tak sanggup lagi sayang. Aku mencintaimu” lanjutnya sambil memeluk seluruh anggota keluarganya dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir nya, di ikuti isak tangis keluarganya yang belum bisa merelakan orang mereka cintai itu pergi dari mereka begitu saja.


"hiks hiks hiks... tidak, ibundaaa hiks hiks.. bangun. Aditya gak mau tanpa ibunda, hiks hiks hiks.. " isak Aditya histeris dan di ikuti isak tangis histeris lainnya.


......................

__ADS_1


Setelah acara Keramasi Tara Winata. Azkia yang kini sedang termenung bersama sahabatnya Serena, Azkia sangat terpukul dengan kematian ibundanya yang kini linglung dengan perasaan yang tak biasa ia rasakan ‘sedih’ itu yang kini Azkia rasakan.


“sakit, kenapa begitu sakit. Bahkan aku belum pernah merasakan sakit di area dadaku sebelumnya, aku sakit apa. Kenapa begitu sakit” batinnya yang kini termenung sambil memegangi kalung Ruby pemberian ibunya di depan dadanya. Dengan polosnya ia mengecek detak jantungnya tapi tidak menemukan ada yang salah.


Sera yang dari tadi memperhatikan Azkia hanya tersenyum dalam hati dan membuat ekspresi sesedih mungkin di luar. Ya dia senang atas kesedihan yang di alami sahabatnya itu karena selama ini dia iri dengan semua kasih sayang yang di dapat Azkia dan juga prestasi yang ia dapat.


Pasti kalian ingin bilang pasti kematian ibunya Azkia berhubungan dengannya, ya itu tidak sepenuhnya salah karena dia memang merencanakan untuk membunuh Ibunya Azkia. Tapi ibunya Azkia meninggal karena kecelakaan mobil yang di akibatkan remnya blong. Karena iri hati dan keserakahan dia ingin melihat Azkia menderita.


“Sudahlah Azkia kita ke taman yuk untuk menenangkan diri” saran Serena yang mencoba membawa ia ke taman seolah ikut berasa sedih dengan sahabatnya padahal mah dia senang dengan Azkia yang menderita.


Azkia hanya mengikuti saran dari orang yang ia anggap sahabatnya itu. Dengan perlahan Azkia di tuntun Serena sampai di bangku taman di samping bangku itu terdapat danau buatan yang sangan cantik, dengan bunga-bunga yang menghiasi taman tersebut.


“kau pikir aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan” bentak Azkia yang tersadar dari renungannya.


“ha ha ha ha kau tidak bodoh juga rupanya tapi sayangnya kau terlalu naif” setelah dia mengucapkan itu dia mendorong Azkia ke danau buatan itu dengan kasar.

__ADS_1


“aakhh kenapa kamu melakukan ini?” pekik Azkia yang jatuh ke danau buatan dan melotot ke arah Serena.


“Kenapa? Heh itu salahmu sendiri kenapa lebih baik dariku, sejak kecil hanya kamu yang di kagumi hanya kamu yang di sukai, dan sampai meninggalnya ibumu saja kau masih berada di atasku, huh sekarang kamu sudah tidak akan bisa lebih baik dariku” jawab Serena dengan arogannya menatap Azkia meremehkan.


Azkia yang mendengar alasan tak masuk akal menurutnya hanya memasang wajah datar sambil mencoba untuk naik ke tepian. Serena yang melihat tidak ada respon dari Azkia pun geram dan mencoba memanasi Azkia.


“heh tapi aku cukup terhibur dengan kamu yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat ibunda kesayanganmu itu sekarat, ha ha ha ha senang sekali rasanya di tinggal orang yang tersayang.


Oh ya aku lupa kematian ibumu itu tidak sepenuhnya kecelakaan cari tahulah sepuasnya kamu tidak akan bisa menemukan dalangnya ha ha ha ha” lanjut Serena dengan lantangnya sambil tertawa yang membuat Azkia risih dan marah. Dan


PLAK


Satu tamparan keras mendarat ke pipi Serena. Serena yang merasa sakit di pipinya refleks menutupi pipinya yang terkena tamparan dengan tangannya dan melihat Azkia dengan tatapan tajam. Namun Azkia tidak bergeming dia pun menendang Serena sampai tersungkur di tanah karena sikap arogannya terhadap orang yang berani mengusiknya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Serena yang masih menahan sakit akibat tendangan yang di berikan Azkia.


“Huft bahkan orang yang aku anggap sahabat pun menghianatiku dan aku pastikan dia akan menanggung akibat telah menghianatiku” batin Azkia kecewa dengan Serena yang berani menghianatinya.

__ADS_1


“tapi apa benar yang dia bilang meninggalnya ibunda tidak sepenuhnya kecelakaan, kalau memang begitu aku pastikan orang yang berani mencelakai ibunda mendapat hukuman yang setimpal” lanjut Azkia dengan tangan yang sudah di kepalkan sampai tangannya memutih dan sorot matanya yang menunjukkan kemarahan.


-TBC


__ADS_2