Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Tragedi yang tak terduga


__ADS_3

*** keesokan harinya


Di pagi hari yang cerah seorang gadis tengah bersiap menuju klinik tempat ia magang, ya gadis itu adalah Azkia. Pakaiannya yang serba putih mulai dari kemeja tipis putih polos dan rok putih yang hanya menutupi lutut, di balut dengan jas putih menampilkan sosoknya yang tenang dan menawan.


Yang kini sedang berjalan di tengah lorong lobi dengan nuansa putih dan ruangan yang berjejer di balik kaca transparan ada juga beberapa ruangan yang khusus di ujung lorong dengan desain tenang nan elegan.


Derap langkah menyusuri lorong yang sepi pengunjung. Sampailah Azkia di ruangan khusus yang bernuansa putih yang menenangkan, tanaman serta meja dan kursi yang menghiasi ruangan polos tersebut.


Azkia melangkah ke arah kursi kerja dan mempersiapkan bahan praktik pertamanya.


Duduklah dia sembari mengecek nama dan keluhan pada daftar dan memanggil mereka sesuai nomer urut.


“Danil Rajaman silakan!” Sambut Azkia dengan senyuman yang terkesan tulus padahal hatinya dingin tidak berekspresi.


Masuklah sosok pria dingin dengan sedikit senyuman yang tercetak di bibirnya saat melihat Azkia. Melihat senyum tersebut Azkia meningkatkan kewaspadaan tapi wajahnya masih tetap datar.


Pria itu duduk di bangku yang telah di sediakan dan dilanjutkan dengan Azkia yang mengambil kertas pemeriksaan. Kini Azkia duduk di hadapan pria itu dan mempersilahkannya menceritakan keluhannya.


“silahkan ceritakan keluhan Anda!” Ucap Azkia mempersilahkan.


“Saya biasanya sangat irit bicara apalagi kalau di hadapan bawahan saya. Ketika saya marah saya akan tertawa dengan sendirinya untuk menunjukkan emosi saya.


Dan ketika saya senang saya akan berwajah datar padahal hati saya bersorak. Dan ketika menghadapi orang yang telah menyakiti keluarga saya, saya tenang padahal hati saya ingin menghancurkannya. Apakah dokter tau apa yang terjadi terhadap saya?” ucapnya dengan wajah datar.


Azkia yang mengerti maksud dari pria itu langsung berdiri dan menjawab dengan tenang.

__ADS_1


“Anda adalah pribadi yang dingin namun licik. Anda bisa menyembunyikan wajah Anda di balik topeng dan menetralisir emosi Anda yang satunya dengan mengeluarkan emosi yang bertentangan.


Anda sekarang sedang marah bisa terlihat jelas dengan detak jantung anda yang kian meningkat. Dan sepertinya Anda ingin menghancurkan saya seperti yang Anda katakan, huft tidak saya sangka anda akan sangat berterus terang” jelas Azkia dengan wajah dingin dan nada yang tegas seolah memberi peringatan.


Pria itu hanya tersenyum dengan sinis. Azkia yang melihat senyuman itu hanya tersenyum balik membalas senyuman pria itu yang ia kira bermaksud memujinya.


“tidak heran nona Azkia menjadi agen rahasia terbaik dengan sekali lirik saja sudah mengerti maksud dari perkataan saya. Memang pantas mendapat julukan LIONES, bukan begitu dokter!” ucapnya dengan dana sinis.


Azkia yang mendengarnya hanya tersenyum ia sudah tahu dari awal kalau pria ini adalah pembunuh yang menyamar menjadi pasien.


“ada apa gerangan tuan Daniel kesini apa benar hanya untuk konsultasi, atau berencana menghabisiku di tempat?” Azkia berbicara dengan acuh tak acuh matanya menatap manik sang pria dengan sinis.


“kalau sudah tahu ini akhir hidupmu, bicaralah berikan kata terakhirmu” ucap pria itu dengan arogan sambil menodong pistol yang ada di tangannya. Matanya menatap lapar, bibirnya terangkat menampilkan senyuman.


“Aku kira yang datang seorang profesional nyatanya hanya pembunuh gadungan. Kau belum pastas untuk menyodorkan pistolmu” Ucap Azkia dengan nada meremehkan yang langsung membuat sang pembunuh naik pitam.


Azkia yang melihat itu langsung memasang sikap waspada karena dia tahu kalau orang itu tidak sendirian.


“Keluarlah jangan jadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi” bentak Azkia yang kini tengah gelisah namun berusaha tetap tenang.


Keluarlah 2 pria berbadan kekar dan di tangan mereka sudah terdapat pistol yang Azkia tahu kehebatannya. Salah satu dari pria itu terasa familiar bagi Azkia. Dia adalah David rekan satu tim Azkia.


Azkia yang melihatnya geram dan emosi yang tadi dipendam pun langsung keluar begitu saja.


“Tidak aku sangka ternyata orang yang mau mencelakaiku adalah rekanku sendiri” Ucapnya yang kini di penuhi dengan kekecewaan.

__ADS_1


Bagi Azkia cukup sekali saja ia di khianati dan tujuannya belajar mengenali kepribadian untuk memastikan dia tak akan di khianati lagi tapi nyatanya sekarang ia di khianati untuk yang kedua kali.


Ia marah dan juga sedih, marah karena merasa di bodohi dan sedih karena semua yang ia lakukan selama ini di balas dengan penghianatan yang tak terpikir olehnya akan terjadi.


“heh Azkia kau terlalu naif, bukan berarti kamu bisa mengenali kepribadian bukan berarti apa yang akan kamu liat adalah kebenaran” ucap Davis sinis dengan nada mengejek.


Azkia yang mendengar itu sadar kalau dia memang naif. Dia yang emosi hanya bisa tersenyum evil. David tahu arti senyuman itu pun langsung waspada.


“Baik lah ini pilihan kalian sendiri” ucap Azkia lantang. Kini dia menerjang semua pistol yang mengarah padanya dan menendang perut mereka hingga terjungkal di lantai. Ia dengan lincahnya merebut pistol dari salah satu pria berbaju hitam dan menembakan peluru ke arah uluh hati salah satu rekan David.


Pertarungan terus berlanjut menyisakan Daniel dan David. Azkia kini fokus pada Daniel yang ingin menembakan peluru padanya.


Membutuhkan sedikit waktu untuk Azkia menghindar dan menyerang. David kini tengah mencari titik kelemahan Azkia. Dia menyadari mata Azkia yang rabun terbukti tidak dapat melihat dengan akurat benda yang mengarah padanya.


(efek dari begadang terlalu lama di bawah layar monitor)


Tanpa membuang kesempatan ia melemparkan jarum beracun dari samping dan berhasil melukai kakinya. Azkia yang sadar di lempar jarum beracun segera mencabut jarum dan menekan titik pendarahannya. Akibat racun yang dengan cepat menjalar kakinya tidak bisa di gerakan. Sekarang Azkia fokus ke depan dan melihat peluru yang mengarah ke uluh hatinya. Belum bisa menghindar peluru itu sudah mengenainya.


“Akhh sial, dasar penghianat” Azkia merintih menahan sakit di daerah perutnya.


“Penghianat? Ha ha ha dia hanya membantuku menghabisimu dasar j****g” ucap Daniel yang kini sedang berusaha berdiri.


“Kau membunuh keluargaku dan mengambil semua keuntungan, apa setelah itu kau pantas menyebut orang lain penghianat” lanjutnya dengan nada sinis di penuhi dendam.


“Itu salah keluargamu sendiri yang berbisnis dengan kotor, apa kau kira mereka pantas hidup setelah berbuat hal yang tidak senoho” saut Azkia dingin.

__ADS_1


Kemudian mengarahkan pistol ke arah dada kiri Daniel, peluru melesat mengenai jantung Daniel Saat itu juga hembusan terakhir nya.


Azkia yang sudah tidak bisa menahan sakit di bagian perutnya sudah lemas tak berdaya. Saat itu juga David mengarahkan pistolnya ke arah dada kiri Azkia. Dan


__ADS_2