Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Pasar


__ADS_3

Setelah mengobati luka dan mengganti dengan pakaian yang baru, kedua gadis itu melanjutkan perjalanannya menuju pasar di desa terdekat nama desa yang mereka kunjungi disebut desa Zui, merupakan desa terdekat dari perbatasan hutan kematian.


Penduduk di desa mayoritas adalah seorang kultivator lever pemula sampai level bumi, karena penduduk di desa menjadikan sumber daya di perbatasan hutan kematian sebagai sumber penghasilan.


Ketika keduanya sampai di desa Zui, karena keduanya memakai cadar mereka menjadi pusat perhatian sesaat.


Mengabaikan pandangan dari kerumunan, mereka berjalan seperti biasa menuju salah satu bangunan yang cukup besar dan paling mewah untuk ukuran bangunan di sebuah desa.


Di depan bangunan sudah ada seseorang yang menunggu mereka dan menyambut kedatangan mereka, jelas terlihat mereka berdua adalah pelanggan Tetap yang sudah sering datang.


“selamat datang nona Yan!” ucap seorang pria paruh baya yang sudah menunggu mereka, pria paruh baya itu berusia sekitar 40 tahun dengan perawakan tegas dan ada senyum sopan di wajahnya.


Para pejalan kaki yang lewat juga melihat ke arah kedua gadis itu dengan penasaran, karena pria paruh baya yang menyambutnya merupakan pemilik bangunan mewah tersebut. Ia menyambut kedua gadis itu dengan sangat sopan yang membuat mereka penasaran, siapa kedua gadis itu?.


“Salam paman Lu!” jawab Jingmi dengan senyum sopan, dan hanya di beri anggukan ringan oleh Azkia. Pria paruh baya yang dipanggil paman Lu itu tidak mempermasalahkan sikap Azkia yang dingin karena sudah terbiasa.


Ia membawa kedua gadis itu masuk menuju ruangan pribadi yang biasanya digunakan untuk pertemuan pribadi.


Setelah masuk dan duduk Azkia menaruh beberapa kotak kayu yang ukurannya cukup besar.


“Apa kah ini semua bisa di jual?” tanya Azkia datar.


Paman Lu meraih salah satu kotak dan membuka kotak itu, ternyata kotak tersebut berisi beberapa kulit onster level menengah yang bisanya berada di lapisan ke 3 hutan kematian.


“Tentu saja, semua yang di bawa oleh nona Yan selalu berharga” ucap paman Lu dengan tergesa-gesa, matanya yang berbinar tertuju pada kotak-kotak kayu itu seolah melihat harta karun.


“bagus lah kalau paman Lu puas” kata Azkia dengan senyum simpul.

__ADS_1


Mereka melanjutkan transaksi dengan 300 kain emas yang ditukar dengan 3 kulit monster level Menengah, 5 pil penambah darah level 2, tanaman obat rumput jingga yang hanya ada di lapisan ke 3 hutan kematian, dan 10 kristal energi level jingga.


kristal energi adalah inti kekuatan dari binatang spiritual, kristal energi mengandung sumber Qi yang sangat padat karena merupakan kekuatan dari binatang spiritual. berbeda dengan manusia yang kalau mati, kultivasinya juga akan ikut lenyap, bedanya jika binatang spiritual mati mata kultivasinya masih akan ada dan berada di kristal energi tersebut.


level kristal energi menyesuaikan level binatang spiritual tersebut, misal


- Biasa - merah


- Rendah - jingga


- Menengah - hijau


- Langka - biru


- Epic - ungu


- Legenda - emas


- Ilahi - putih


warna kristal energi juga mengikuti level kristal energi. jadi tidak sulit untuk menentukan level dari kristal energi.


......................


suasana di pasar desa ini tidak jauh berbeda dengan di kota, banyak barang yang dijual di sini umunya adalah keperluan sehari-hari.


kini Azkia dan Jingmi sedang berjalan di pasar, saat mereka sedang asyik berbelanja beberapa barang, terdengar kebisingan di salah satu kedai. karena penasaran Azkia

__ADS_1


menyuruh Jingmi untuk menunggu dan ia akan melihat ke arah kerumunan.


kedai itu ramai di kerumuni oleh beberapa orang yang sibuk menonton seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 9 tahun yang sedang menangis, ditangan gadis kecil itu ada kantuk penyimpanan barang yang biasanya ditaruh di saku oleh para gadis. di depannya terdapat seorang pria yang berbicara dengan gadis itu dengan mimik marah.


"omong kosong, untuk apa aku mencuri sebaliknya sepertinya kamu gadis yang sedang mencuri" tuduh pria itu dengan nada tinggi.


kerumunan mendiskusikan apa yang pria itu kata kan dengan masuk akal. ada juga seorang wanita paruh baya yang ikut berbicara dengan gadis kecil itu dengan marah.


"gadis kecil, sebaiknya akui kesalahanmu. dan kembalikan uang yang kau curi" bentak wanita itu dengan mimik kesal.


gadis kecil itu hanya menggeleng dan terus menangis sambil bergumam.


"bukan aku, paman itu yang mengambilnya" gumam gadis itu dengan isak tangisnya.


"masih tidak mau mengaku, cambuk dia agar mengakui kesalahannya!" ucap wanita paruh baya itu dengan marah.


"baik nyonya" saut beberapa orang yang mengikuti wanita paruh baya itu.


saat Azkia melihat pemandangan di depannya ia memahami kebenarannya.


"ternyata seorang pencuri yang mengalihkan tanggung jawabnya ke orang lain, bukankah sudah jelas itu hanya tidak ingin mengambil tanggung jawab, kenapa orang-orang ini masih menuduh gadis kecil itu" gumamnya dengan sedikit ketertarikan melintas dimatanya.


saat orang-orang itu ingin mengayunkan cambuknya kearah gadis itu, suara cempreng seorang gadis terdengar dari arah kerumunan.


"tunggu!"


- TBC

__ADS_1


__ADS_2