Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Bandit


__ADS_3

Matahari mulai menampakan sinarnya,


seperti biasa terdengar suara nafas yang terengah-engah memenuhi pinggiran hutan yang sunyi, Azkia seperti biasa berlari mengelilingi pinggiran hutan kali ini ditemani oleh jingmi pelayan setianya itu.


"nona nubi sudah tidak kuat lagi, apa nona tidak lelah?" keluh kesah jingmi memenuhi pendengaran Azkia.


"aku tidak lelah, bukanlah aku sudah bilang, bisa karena terbiasa" jawab Azkia.


"bukankah kemarin aku sudah bilang pada jiejie, untuk berlatih bersama mulai hari ini" lanjutnya kepada jingmi.


"nubi tidak merasa nona pernah berkata seperti itu" sangkalnya dengan polos.


"huft.. apa jiejie lupa, saat perjalanan menuju pasar, jiejie bilang ingin menjadi kuat, maka nona ini akan membuat kita menjadi kuat bersama" ucapnya dengan sabar, yang hanya diberi anggukan ringan oleh jingmi.


- Flasback on


seperti biasa Azkia dan jingmi akan pergi ke pasar terdekat untuk menjual hasil buruan ataupun tanaman herbal dari hutan dan membeli keperluan sehari-hari.


Azkia sengaja tidak ingin mengekspos kalung dimensi kepada siapapun termasuk Jingmi, untungnya kalung dimensinya terlihat seperti kalung Ruby biasa di mata orang lain.


saat perjalanan menuju pasar, mereka berdua dihadang oleh beberapa bandit yang biasanya menjarah harta pejalan kaki ataupun pedagang yang lewat.


"serakan harta kalian jika kalian masih ingin hidup" ucap salah satu bandit dengan pedang yang mengarah kedepan.


'dari mana datangnya para bandit ini, benar-benar merepotkan' batin Azkia kesal, niatnya ingin membawa jingmi makan enak di salah satu kedai makan yang baru buka, melihat para bandit ini suasana hatinya menjadi buruk.


"kalian siapa?, kenapa menghadang kami?" tanya jingmi sedikit takut.


"tidak usah banyak tanya, serahkan saja harta kalian kalau masih ingin pergi hidup-hidup" ucap bandit tadi dengan arogan.


"nona bagaimana ini?, bagaimana kalau kita kembali saja" ucap jingmi memberi saran. Azkia yang mendengarnya hanya meliriknya sekilas, pandangannya tidak pernah lepas dari para bandit yang berani berniat merampoknya.


"bagaimana kalau aku tidak mau" ucap Azkia dengan penuh provokasi. para bandit yang melihat itu hanya tersenyum sinis.

__ADS_1


"itu bukan keputusanmu untuk menolak" ucap salah satu bandit dengan sinis.


"ingin aku menyerahkan hartaku bukannya tidak mungkin, hanya saja" ucap Azkia dengan sengaja menggantung kalimatnya. sepertinya gadis itu sedang merencanakan sesuatu yang entah apa itu.


"cepat katakan, kalau tidak kami tidak akan segan dengan kalian berdua" ucap bandit itu dengan tidak sabar di setujui semua bandit yang ada.


'aku tak menyangka para bandit ini hanya tahu berbicara omong kosong, apa begini para bandit di dunia ini bekerja" batinnya jengah.


"itu tergantung dengan kemampuan kalian" lanjut Azkia disertai senyum mengejek yang tercetak di sudut bibirnya. pandangannya tetap datar seakan melihat orang idiot, yang bahkan tidak bisa masuk ke matanya.


"kamu, huh tidak tau bagaimana menghargai kebaikan orang lain" saut bandit itu dengan marah. ia merasa sudah berbaik hati melepaskan kedua gadis yang menjadi target perampokan mereka namun kedua gadis itu malah memprovokasinya. pedangnya yang panjang ia arahkan menuju gadis kecil yang berani mengejeknya itu.


Azkia yang melihat itu hanya memandangnya dengan datar. karena tidak ingin bertele-tele ia berniat langsung menyambut pedang itu dengan pedangnya yang ia dapatkan dari kalung dimensi.


Sesi pertempuran tidak bisa dihindari, jingmi yang melihat para bandit mulai menyerang itu pun tidak diam saja. ia mengambil pedangnya dan menghalau pedang bandit yang tadi ingin menyerang nonanya.


Azkia yang melihat jingmi menghalau pedang yang mengarah padanya hanya tersenyum simpul, ia tak menyangka akan di dahului oleh orang lain apa lagi itu jingmi yang sudah dianggap sebagai teman barunya itu.


Pandangannya kembali melihat para bandit yang mengelilingi mereka berdua dengan pedang yang diarahkan ke depan tanda siap menyerang kapan pun.


Para bandit yang awalnya sudah memasang posisi bersiap langsung menyerang saat mendengar aba-aba dari sang ketua. beberapa bandit itu terlihat menyerang dengan ganas namun Azkia melihat mereka hanya asal menggerakan pedang, kekuatannya juga hanya biasa-biasa saja yang terendah memiliki kultivasi di level pemula tahap akhir dan yang tertinggi hanya di level bumi tahap akhir, ketua dari para bandit sendiri hanya di level Jendral tahap menengah. walaupun tidak bisa berkultivasi hanya dengan kemampuan fisiknya saat ini bisa mengalahkan seorang kultivator level Jendral tahap akhir.


Semakin lemah lawan yang di hadapi semakin besar pula kemungkinan untuk menang. kali ini Azkia ingin menggunakan tehnik bela diri yang ia pelajari di kalung dimensi. walaupun ia yakin bisa mengalahkan para bandit ini sendirian ia tidak boleh meremehkan lawan, meski seburuk apapun kemampuan mereka tidak ada yang tahu taktik licik macam apa yang bisa dilakukan oleh musuh.


Sosoknya yang kurus memegang sebuah pedang di tangan kanannya, ekspresinya yang datar disertai seringai kecil di sudut bibirnya menambahkan kesan yang tak tertahankan. satu pedang mengarah pada beberapa orang yang mengambil inisiatif untuk menyerang.


ia mencondongkan tubuhnya ke depan menghalau seluruh pedang yang mengarah padanya. tubuhnya yang kurus meliuk-liuk menghindari setiap serangan yang mengarah padanya, setiap tebasan dari pedang di tangannya membuat gerakan yang sangat anggun namun cakap.


Jingmi di sisi lain melawan ketua para bandit. tidak seperti nonanya yang tidak bisa berkultivasi dan menggunakan kekuatan fisik, kultivasinya sudah ada di level Jendral tahap menengah, saat menghadapi lawan yang memiliki kekuatan yang sama dengannya ia memilih menghindari setiap serangan dan menunggu lawan kehabisan tenaganya.


Karena perkelahian sudah tidak bisa di hindari lagi, maka ia hanya bisa bertarung dengan kemampuan terkuatnya. walaupun tidak yakin bisa menang setidaknya ia. telah berusaha sekuat tenaga.


Kedua orang itu satu menyerang dengan membabi-buta sementara yang satu lagi menghindar dan menangkis serangan yang mengarah padanya, walaupun sudah kelelahan ia masih berusaha mempertahankan dirinya agar berdiri tegak. sosok kurus itu memiliki beberapa luka di lengannya akibat tebasan yang membabi-buta, berusaha berdiri dengan tegak mempertahankan kesadaran dirinya yang kabur.

__ADS_1


Ketua bandit yang sudah kelelahan awalnya ingin menghentikan serangannya saat ia melihat gadis kecil yang ia serang mulai tidak bisa berdiri dengan tegak, langsung mengambil kesempatan menebas bagian perut gadis itu.


Azkia melihat Jingmi yang sudah mulai kelelahan di serang di bagian perutnya itupun berhenti mengayunkan pedangnya untuk sementar, matanya yang kurang fokus pada lawan menjadi peluang untuk orang-orang itu melancarkan berbagai serangan dengan lebih brutal dan kejam.


Azkia kembali tersadar dan mempercepat gerakannya, matanya yang awalnya tenang sekarang menjadi dingin. tubuhnya yang awalnya mulus tanpa goresan kini memiliki berbagai goresan di sekujur tumbuhnya, walaupun tidak dalam tapi itu sangat berdampak pada kondisi fisiknya.


Para bandit yang awalnya berjumlah 8 orang kini tersisa 3 orang termasuk ketua bandit. melihat kondisi jingmi yang sudah tidak bisa bertahan ia tidak mau bertele-tele, jari-jarinya yang kecil menyelinap kedalam kantong di sakunya mengirim 3 jarum beracun ke masing-masing bandit.


awalnya ia berencana untuk bertarung sambil berlatih tapi tidak menyangka jingmi akan mengambil alih Sang Ketua bandit, apalagi dirinya dan Jingmi sudah terluka cukup parah, jadi tidak mungkin untuk melanjutkannya.


"jiejie baik-baik saja, kan?" tanya Azkia dengan khawatir. ia memapah tubuh jingmi


menuju ke salah satu batang pohon dan membaringkannya di tanah.


"nubi baik-baik saja nona" jawab Jingmi lirih.


ia sedang mempertahankan kesadarannya.


melihat kondisi Jingmi yang memperihatinkan ia mengambil 2 botol porselen dari ruang dimensinya yang berisi pil penambah QI dan penambah darah.


Azkia meminumkan pil penambah darah terlebih dahulu agar memiliki tenaga untuk duduk. kemudian meminumkan pil penambah Qi untuk memulihkan Qi yang habis saat bertarung tadi.


"duduk! kemudian meditasi untuk memulihkan luka" perintah Azkia dengan dingin. jingmi yang melihat nonanya berkata dengan dingin langsung terperanjat duduk dengan posisi lotus dan mulai bermeditasi menyerap Qi yang ada.


kemudian Azkia mengeluarkan botol porselen dari ruang dimensi berisi pil penyembuhan luka tingkat 3,memberikannya kepada jingmi. setelah makan pil obat pendarahan pada luka berhenti dan luka pada perut menutup secara sempurna.


melihat luka yang sudah sembuh dengan sangat cepat, jingmi tersentak kaget dan kagum. kemudian kembali murung.


"nona pil ini sangat berharga, kenapa nona memberikannya pada nubi?, nubi merasa tidak pantas menerima" ucap jingmi dengan ekspresi murung. Azkia yang mendengarnya hanya menatap dengan datar.


"tidak pantas? kalau begitu di dunia ini tidak ada yang lebih pantas dari pada jiejie" jawab Azkia datar.


- TBC

__ADS_1


Hai semua, maaf baru menyapa.


Terima kasih udah mau mampir dan jadi pembaca setia. jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote & komen di bawah 👇ya


__ADS_2