Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Pencuri tak tahu malu


__ADS_3

pria yang langkah kakinya terhenti ditempat mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. di antara kerumunan, seorang gadis berusia awal 12an mengenakan penutup wajah yang hanya memperlihatkan mata coklatnya, mata itu dingin, tidak sesuai dengan usianya yang baru beranjak remaja. perpaduan mata coklat dingin itu dengan figurnya yang lumayan mungil membuat orang lain merasa mata itu tidak pada tempatnya.


pria itu tertegun sejenak, memandangi gadis itu yang juga memandang nya. entah kenapa pria itu melihat gadis itu tersenyum dibalik penutup wajahnya, senyumnya tidak sampai kebawah matanya yang malah membawa rasa dingin yang tidak diketahui.


setelah sadar dari kejutan, pria itu memandangi kerumunan yang menatapnya. gelisah, pria itu hanya bisa berusaha untuk melarikan diri dari kerumunan.


"ingin melarikan diri?" tanyanya dengan suara keras.


tertangkap basah, pria itu hanya bisa diam ditempat. namun raut wajahnya gelisah.


"ini milikku. aku yang mencurinya, jadi aku yang mendapatkannya" sangkal pria itu.


"oh! jadi kamu pencurinya, lalu kenapa kamu tadi bilang gadis itu yang mencuri" tanyanya lagi, matanya menatap sekilas pada gadis kecil yang berdiri berdampingan dengan gadis yang membelanya tadi.


kewalahan oleh pertanyaan gadis itu, pria itu hanya diam dengan raut wajah pucat pasi.


kerumunan mulai mendiskusikan kelakuan pria itu.


'tak tahu malu'


'pencuri teriak pencuri'


'tak disangka pria itu memfitnah gadis kecil itu'

__ADS_1


kerumunan mencibir kelakuan pria itu yang mencuri namun mengalihkan tanggung jawabnya ke orang lain, apalagi orang itu hanya seorang gadis kecil.


merasa tersudut pria itu hanya bisa mengakuinya.


"benar, aku yang mencuri, apa ada masalah, lagi pula uang ini sekarang milikku" teriak pria itu dengan arogan.


kerumunan hanya bisa mengkritik perilaku pria itu yang tidak tahu malu.


'sudah tertangkap basah masih ingin mengambil keuntungan dari orang lain' batin Azkia mencibir.


"sudah mengaku rupanya, kenapa? tidak mengembalikan uang curian mu kepada pemiliknya?" kata Azkia dengan dingin.


pria itu bingun, ia sepertinya belum mengerti situasinya.


"ini miliku, kenapa harus memberikannya kepada orang lain?" bantah pria itu dengan panik.


mengerti maksud pandangan seorang gadis yang muncul entah dari mana itu, ia hanya mengangguk. walaupun bingung kenapa seorang gadis yang mungkin seusianya itu ikut membantu, ia berfikir kalau gadis itu sangat baik, tidak peduli untuk motif apapun itu gadis itu sudah membantunya. gadis yang dimaksud tidak lain adalah Azkia sendiri.


"awalnya aku ingin membantu gadis kecil itu, tapi sekarang melihat perilaku paman yang tidak tahu malu, apa pantas dengan bantuan aku berikan" celetuk gadis itu dengan mencibir.


"apa maksudmu?" tanya pria itu dengan nada tinggi seolah tak terima, ia sudah sangat gelisah.


'aku sudah ketahuan, kalau aku tidak bisa membawa uang ini, untuk apa aku masih disini' pikir pria itu.

__ADS_1


"kembalikan!" seru gadis itu dengan nada memerintah.


"tidak!..." reflek pria itu mengucapkan kata penolakan dengan suara keras.


terdengar suara cibiran dari kerumunan.


'sudah ketahuan masih ingin mengambil keuntungan'


'dasar tak tahu malu'


'kembalikan uang itu!"


pria itu panik mendengar seruan dan cibiran dari kerumunan. ia sudah tak peduli lagi dengan harga dirinya didepan kerumunan dan ingin segera pergi membawa uang itu sesegera mungkin.


'orang seperti ini yang bahkan tidak peduli dengan wajahnya, tidak akan mudah untuk membuatnya menaruh barang dengan sukarela, bahkan akan memegang barangnya erat-erat saat keadaan mendesak' batin Azkia menganalisis sambil menghela nafas berat.


"tidak ingin mengembalikan?" tanya gadis itu dengan nada muram.


"tidak!" seru pria itu dengan panik.


"kalau begitu aku hanya bisa menggunakan kekerasan" kata gadis itu perlahan.


setelah berbicara, gadis itu mengumpulkan kekuatannya dan menyerang langsung ke arah pria itu.

__ADS_1


bang...


-TBC


__ADS_2