Perjalanan Sang Mantan Psikolog

Perjalanan Sang Mantan Psikolog
Jiejie?


__ADS_3

Kini matahari tengah memancarkan sinarnya, orang lain sudah terbangun dari tidurnya dan memulai aktivitasnya. Berbeda halnya dengan seorang gadis kecil yang kasih setia terbaring di kasurnya. Matanya masih terpejam belum ada tanda-tanda terbuka.


Azkia masih terlelap dengan tidurnya, menikmati mimpinya yang entah apa yang ia mimpikan sampai enggan membuka matanya.


Sedangkan pelayannya heran dengan junjungannya yang masih belum bangun dari tidurnya.


Ia ingin membangunkan tapi tahu bagaimana sifat junjungannya yang tidak suka diganggu. Akhirnya ia memilih untuk menunggu nona nya itu bangun.


Jingmi seperti biasa nengiapkan sarapan dan juga air untuk nonanya itu mandi.


Karena merasa hari sudah semakin siang dan nonanya belum juga terbangun. Jingmi mendekat ke arah Azika dan menepuk bahunya pelan mencoba membangunkan gadis kecil itu.


“nona bangun hari sudah semakin siang” ucap jingmi pelan sambil menepuk-nepuk bahu junjungannya.


“ughh iya ini bangun kok” lenguh Azkia masih dalam mode memejamkan matanya.


“Nona tidak biasanya nona bangun siang, kenapa nona jadi malas sekali” ucap jingmi heran.


Azkia yang mendengar itu langsung membuka matanya lebar-lebar tidak ingin pelayannya yang satu ini curiga.


‘hais ini pasti karena kebiasaan dibangunin sama alarm atau sama Hanna' batin Azkia merutuki kebodohannya.


“jingmi untuk ke depannya kalau aku masih belum bangun langsung bangunkan saja oke!” ucap Azkia memerintahkan.


“Oke? Itu apa nona?” tanya jingmi dengan polosnya.


“Oke itu sama dengan iya” jawab Azkia singkat.


“Oke nona” ucap jingmi.


“Jingmi apa airnya sudah siap?” tanya Azkia kemudian bangun dari kasurnya berdiri menghadap jingmi yang masih diam di tempat.


“Eh sudah nona” jawab jingmi.


Azkia pun berjalan ke tempat pemandian. Melepas dua lapis hanfu luarnya menyisakan hanfu tipisnya. Tersadar ada sesuatu yang ganjal Azkia menoleh kebelakang.


“Kenapa kamu ikut masuk?” tanya Azkia sembari menatap jingmi horor.


“nubi ingin membantu nona mandi, bukannya biasanya memang begitu” jawab jingmi masih bingung dengan sikap baru nonanya.


“tidak usah, aku bisa mandi sendiri” ucap Azkia acuh.


“Ya kali dimandi in, kalau Hanna tau aku pasti di ketawain” gumam Azkia.


Ia Kemudian melangkah menuju bak air panah itu. Karena merasa kurang Azkia mulai berpikir.


“kayaknya ada yang kurang deh tapi apa?” gumamnya sembari berfikir.


“oh iya di sini gak ada sabun” gumamnya lagi.


“Foxi apa di dalam kalung dimensi ada sabun?” tanya Azkia pada foxi yang ada di kalung dimensi.


“ada tuan” jawab foxi singkat.


“bagaimana cara mengeluarkannya ke sini?” tanya Azkia lagi.

__ADS_1


“Itu mudah tuan, tuan hanya perlu memfokuskan pikiran tuan pada kalung dimensi, dan bayangkan apa yang ingin tuan ambil, begitupun jika tuan ingin memasukkan benda ke dalam kalung dimensi” jelas foxi Azkia hanya mengangguk mengerti.


Azkia pun memfokuskan pikirannya dan muncul sabun di tangannya. Azkia memulai acara mandinya. Setelah 15 menit Azkia keluar menggunakan hanfu sederhana berwarna biru muda dengan corak bunga di bagian bawahnya.


Ia berjalan keluar menuju meja yang ada di sebelah kasurnya. Ingin sekali Azkia melihat wajahnya sedari ia berada di dunia barunya.


“hmm wajahku memang lumayan cantik, tapi ini masih kurang, aku harus rutin skincare an biar wajahku selalu terawat” gumamnya sembari melihat wajahnya di cermin.


“nanti aku bikin maskernya di ruang dimensi aja deh” gumamnya lagi.


Setelah puas melihat wajahnya di cermin, Azkia bangkit dan berjalan menuju luar kamarnya. Mencari keberadaan jingmi pelayan setianya itu.


“jingmi!” teriak Azkia memanggil nama jingmi.


“Iya nona” ucap jingmi yang sudah berada di depan azkia.


“Jingmi kita di asingkan berapa lama?” tanya azkia.


“kurang lebih 2 tahun nona” jawab jingmi singkat.


“Memangnya kenapa nona bertanya?” tanya jingmi penasaran.


“tidak apa-apa, hanya ingin memastikan” jawab Azkia.


“nona nubi sudah membuatkan makan siang” ucap jingmi sambil berjalan di ikuti azkia di belakangnya.


“Ya sudah kita makan saja dulu” ucap Azkia kemudian duduk di bangku yang ada di dekat meja yang sudah terhidang beberapa makanan.


“duduklah jingmi” titah Azkia, jingmi hanya memandanginya dengan bingung.


“Itu, nubi tidak pastas makan bersama nona” ucap jingmi gugup karena di tatap oleh nonanya.


“huft siapa yang bilang tidak pantas?, kamu sangat pantas makan bersamaku, lagian kan jiejie lebih tua dari ku” ucap Azkia lembut.


Jingmi yang mendengar panggilan baru yang di berikan oleh azkia terharu, baru kali ini ada yang begitu baik padanya, sampai memanggilnya jiejie.


“jiejie?” gumam jingmi pelan dengan linglung tapi masih bisa di dengar oleh azkia.


“iya Jiejie, apa Jiejie tidak suka aku panggil jiejie?” tanya azkia pura-pura sedih.


“ah bukan begitu nona hanya saja saya sangat terharu di panggil jiejie oleh nona” jelas jingmi dengan mata yang berkaca-kaca.


“sudah lah jiejie, selamat ya jiejie naik satu tingkat di hati Li wei” ucap azkia menatap jiejienya tulus, tanpa sadar ia menyebut dirinya Li wei di depan orang lain.


“iya nona” ucap jingmi kemudian duduk di bangku menghadap azkia.


“cepat di makan nanti makanannya dingin” ucap jingmi kemudian mulai makan bersama Azkia.


Mereka melanjutkan makan dengan keheningan, tidak ada yang memulai pembicaraan.


‘Makanan di sini hambar semua, kayaknya orang-orang di sini belum mengenal bumbu dapur' batin Azkia mencoba memakan apa adanya.


Setelah selesai makan jingmi membereskan piring. Sementara Azkia hanya merebahkan tubuhnya di kasur, rasanya malas untuk beraktivitas.


“mending aku ke kalung dimensi, kan aku belum selesai turnya ” gumam Azkia semangat.

__ADS_1


“jiejie aku mau bikin penangkal racun dulu ya, jangan di ganggu sampai besok, makan malam tidak usah menungguku, aku makan sendiri saja” ucap Azkia berbohong.


“baik nona” jawab jingmi mengerti.


Wusshh...


“foxi! Dimana kamu?” teriak Azkia menggelegar di sekitarnya.


“saya di sini tuan” ucapnya.


Azkia segera mengikuti ke arah asal suara tersebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat foxi kini tengah terkapar di lumpur. Baju yang di kenakannya berbalur lumpur, posisinya juga sangat tidak elit. Yang tangan terulur kedepan kakinya tertekuk keatas dengan posisi tengkurap, terlihat bekas jejak lumpur di mukanya.


Azkia yang melihatnya hanya bisa menahan tawanya yang sudah ingin keluar dari mulut kecilnya itu.


“Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Azkia menaikkan sebelas alisnya heran.


“Aku tahu kamu masih kecil, tapi tidak usah bermain di lumpur juga kali” sebelum foxi sempat menjawab Azkia sudah melontarkan kata-kata yang membuat foxi kesal.


“tuan saya terpeleset” jawab foxi kesal.


“dan saya ingatkan saya ini bukan anak kecil, umurku sudah ratusan tahun” Lanjutnya dengan mendengus kesal.


“Iya, iya” ucap Azkia santai.


“gimana?, bisa bangun sendiri gak?” tanyanya kemudian menghampiri Foxi.


“Tolong saya tuan” pinta Foxi dengan memasang wajah memelas. Azkia terkekeh melihatnya.


Azkia pun menarik tangan Foxi agar bangun. Foxi kini berdiri di depan Azkia dengan pakaian yang masih bercampur lumpur.


“Ganti pakaianmu!, aku akan menunggu di sana” ucap Azkia sembari menunjuk sebuah gazebo di dekat sungai surgawi.


“Baik tuan” jawab foxi kemudian melesat pergi.


Azkia berjalan menuju gazebo yang ia tunjuk tadi. Duduk di salah satu bangku yang ada di gazebo tersebut sambil menyesap teh yang tersedia. Dari kejauhan tampak foxi yang berlari menuju tempat Azkia berada.


“Tuan saya sudah selesai berganti pakaian” ucapnya sambil mengatur nafasnya yang tidak teratur.


“hmm” jawabnya dengan deheman.


“kita lanjutkan berkelilingnya” ucap Azkia beranjak dari duduknya dan melangkah di ikuti foxi di belakangnya.


Mereka kembali mengelilingi kalung dimensi. Dengan foxi yang memimpin perjalanannya.


“tuan di sini adalah perpustakaan, tuan bisa membaca buku yang ada di sini” ucap foxi menunjukkan sebuah ruangan luas yang elegan, di dalamnya berjejer buku-buku yang tersusun rapi di tempatnya.


“di sini banyak sekali buku, walaupun bukunya agak kuno tapi kualitasnya sangat bagus, bahkan ada beberapa jurus bela diri langka dan ada juga yang sudah punah. Di lengkapi penjelasan dan juga gambar yang sangat jelas” Gumam Azkia menatap rak buku dan buku yang ada di tangannya secara bergantian.


Kemudian menaruhnya kembali, karena ingin melanjutkan berkeliling. Azkia menuju lantai 4 di sana adalah ruang latihan. Terlihat seperti arena, di sekelilingnya terdapat bangku-bangku kosong entah apa fungsinya. Di dinding terpajang bermacan senjata-senjata kualitas terbaik mulai dari kualitas rendah sampai kualitas tinggi sekalipun.


Azkia mendekat ke arah satu senjata yang menarik perhatiannya, matanya berbinar. Senjata itu berupa pedang dengan gagang kuat, bercorak unik berwarna biru terang. Ia mengambil pedang itu dan menaruhnya di saku pinggangnya.


“benar-benar cantik” gumam Azkia mengakui keindahan pedang tersebut.


- TBC

__ADS_1


__ADS_2