PERJODOHAN BERUJUNG KEBAHAGIAAN

PERJODOHAN BERUJUNG KEBAHAGIAAN
Bab 19 punya suami


__ADS_3

"Udah jam 10 : 32 nih, Aza mau pulang." Ucap Azara ditengah tengah gelak tawa mereka, mereka pun langsung diam membisu saat mendengar ucapan Azara dan menatapnya secara bersamaan.


"Yah, kok pulang padahal kita baru aja kumpul." Balas Rara dengan wajah ditekuk.


"Iya, Za baru aja kita kumpul masa kamu mau pulang sekarang." Ucap Gesi.


"Maafin Aza, tapi Aza harus pulang sekarang." Balas Azara merasa tidak enak kepada teman temannya karena Ia harus pulang lebih awal.


"Jam 11 ajalah pulangnya yah." Ucap Viona memohon.


"Iya Za, gak rame tau kalo ga ada kamu." Balas Alviya dengan wajah cemberut.


"Jangan kaya gitu dong, sebenarnya Aza juga masih pengen main sama kalian tapi ayah Aza kasih waktunya sampai jam 11." Ucap Azara, sebenarnya Ia juga masih ingin bermain bersama teman temannya.


"Tau lho semua, maksa terus udah tau Aza itu dikasih batas mainnya sampai jam 11 lho semua malah maksa kan kita juga bisa main lagi." Ucap Winda sambil memakan keripik singkong yang berada didalam toples.


"Iya bener tuh kata Winda, kita juga bisa main lagi." Balas Azara menatap mereka satu persatu.


"Iya juga sih." Ucap Gesi mengambil toples yang berada dipangkuan Winda.


"Ngomong mah ngomong aja gak usah ambil toples." Ucap Winda mengambil kembali toples yang diambil Gesi tadi.


"Enak Win." Balas Gesi sambil mengunyah.


"Kunyah dulu tuh makanannya baru ngomong engga baik." Ucap Viona.


"Lah emang enak." Ucap Winda.


"Emang yah kalo lagi kumpul kaya gini waktu tuh kaya cepet banget gak kerasa udah jam segini aja." Ucap Alviya menidurkan kepalanya dipundak Azara.


"Padahal gue belum puas main sama kalian." Ucap Rara merangkul Azara dari samping.


"Belum puas mainnya katanya sama kalian tapi kok meluknya kesatu orang." Ucap Gesi yang masih anteng dengan toplesnya bersama Winda.


"Dih mau aja dipeluk sama Rara, kalo gue sih ogah." Ucap Winda acuh.


"Yaudah sini gue peluk." Balas Rara sambil merangkul Gesi dari samping dan menariknya supaya lebih dekat dengannya.


"Ikutannn." Ucap Alviya menghampiri mereka bertiga yang sedang berpelukan.


"Ikut." Ucap Viona menghampiri mereka untuk ikut berpelukan bersama mereka.


"Sini Win, ikutan berpelukan." Ajak Azara.


"Lagi males berpelukan gue." Balas Winda yang masih anteng memakan keripik singkong.


"Teletabis berwujud manusia." Ucap Winda tertawa sambil menatap mereka yang sedang berpelukan.


"Tapi teletabisnya kurang." Ucap Rara melepaskan pelukannya.


"Sini Win kita pelukan" Ajak Rara tersenyum dan menaik turunkan alisnya kepada Winda.


"Mau banget kayanya pelukan sama gue." Ucap Winda.


"Iya ayolah Win kita berpelukan." Ucap Gesi.


Winda pun langsung menghampiri mereka dan memeluknya dengan erat.


"Teletabis berpelukan." Ucap mereka bersamaan dengan meriah dan di iringin tawaan.


Setelah beberapa menit mereka berpelukan, mereka pun melepaskan pelukannya.


"Za, aku anterin kamu pulang, gak ada bantahan oke." Ucap Rara menatap Azara.


"Yaudah iya." Balas Azara dengan senyuman jika Rara sudah berkata seperti itu Ia tak bisa menolaknya.


"Kalian mau pulang sekarang apa nanti?" Tanya Rara menatap mereka satu persatu.


"Kalo gue sekarang bareng Aza dianterin lho." Ucap Alviya.


"Soalnya tadi gue dianterin supir." Ucap Alviya.


"Yaudah ayo, kalo kalian bawa mobil masing masing kan?" Tanya Rara kepada teman temannya yang masih anteng dengan keripik singkong.


"Iya Ra, tenang aja kita bawa mobil masing masing kok." Jawab Gesi yang masih anteng mengunyah keripik singkong bersama Winda.


"Iya Ra." Jawab Viona.


"Kalian mau pulang apa mau terus makan keripik?" Tanya Alviya, karena mereka masih diam ditempat sambil memakan keripik singkong dengan santai.


"Enak keripiknya makannya gue suka." Jawab Gesi yang masih mengunyah keripik singkong.


"Kayanya sih bukan suka tapi lebih tepatnya doyan." Ucap Rara dengan senyuman.


"Makanan favorit gue nih." Balas Winda.


"Buat gue aja ya Ra, mau gue bawa pulang buat cemilan dirumah gue.". Ucap Gesi menatap Rara.


"Gak ini buat gue semuanya." Balas Winda merebut toples yang berada dipangkuan Gesi.


"Gue juga mau kali." Ucap Gesi.


"Gak ini makanan favorit gue." Balas Winda memeluk toples yang berisi keripik singkong.

__ADS_1


"Gak usah pada ribut gue masih punya banyak nih." Ucap Rara memberikan kepada mereka keripik singkong.


"Wih lho beli dimana Ra, banyak banget keripik ke gini?" Tanya Gesi saat Rara memberikan beberapa kantong plastik yang berukuran besar yang berisi keripik singkong yang berbagai macam rasa.


"Oleh oleh dari Nenek dari kampung." Jawab Rara.


"Terus sekarang Nenek lho dimana?" Tanya Viona.


"Udah pulang kemaren." Jawab Rara.


"Ouh, ehk ngomong ngomong makasih lho Ra, keripik singkongnya." Ucap Gesi.


"Iya Ra, makasih lho." Ucap Alviya.


"Makasih." Ucap Viona.


"Makasih Ra." Ucap Azara.


"Ra, kalo Nenek lho bawa oleh oleh keginian lagi jangan lupa bagi bagi gue." bisik Winda ditelinga Rara, padahal Ia sudah mendapatkan 2 kantong plastik keripik singkong dari Rara.


"Tenang aja." Balas Rara tersenyum.


"Yaudah yuk pulang." Ajak Alviya.


"Let' s gooo." Ucap Rara mengambil kunci mobil yang berada dimeja.


"Nyokap lho dimana Ra, kita mau pamitan?" Tanya Viona, karena Ia tak melihat Tante Runi yaitu Mama Rara.


"Iya Ra, mamah kamu dimana kok gak ada?" Tanya Azara, karena Ia juga tidak melihat Tante Runi.


"Mamah gue pergi arisan tadi, makanya gak ada." Jawab Rara.


"Ouh yaudah kita titip salam buat Tante Runi." Ucap mereka bersamaan.


"Siap nanti gue bilangin ke nyokap." Balas Rara dengan senyuman.


"Markipul." Ucap Rara yang sudah berjalan didepan dan teman temannya dibelakangnya.


"Mari kita pulang." Balas mereka bersamaan dan diakhiri dengan gelak tawa.


~~~~~


Setelah makan bersama Keluarga Ryan dan Keluarga Rendra mengobrol di taman Belakang dengan Kakek Rio, sedangkan Nenek Rania dan Yunia mereka berada diruang tamu.


"Apakah bene, anak mu ini seorang CEO dikantor mu?" Tanya Kakek Rio kepada Ryan yang berada disampingnya.


"Betul Kek, dia sudah menjadi CEO muda sejak masuk SMA." Jawab Ryan.


"Kakek sangat kagum kepada anak mu umur masih belasan tahun tapi sudah menjadi CEO, hebat sekali." Ucap Kakek Rio tersenyum, Kakek Rio kangum dengan menantunya yang sudah pandai dalam bidang perusahaannya.


"Pada ngobrol apa ini seru banget?. Sebelum dilanjutin ceritanya silahkan diminum dulu kopinya." Ucap Zira memberikan kopi hitam kepada mereka.


"Menantu Bunda kemana kok gak ada?" Tanya Zira, Ia tak melihat menantunya.


"Tadi katanya mau angkat telpon dulu." Jawab Rendra setelah menyeruput kopi yang sudah dibuatkan oleh istrinya.


"Oh. yaudah silahkan dinikmati kopinya saya tinggal dulu." Ucap Zira pergi kedalam untuk menyimpan tampan, setelah menyimpan tampan Zira kembali keruang tamu.


~~~~


"Telpon dari siapa Rey?" Tanya Ryan menatap Reyvano.


"Kantor yah." Jawab Reyvano setelah duduk disebelah Ayahnya.


"Urusan kantor semua kamu kensel aja Rey biar sekertaris kamu aja yang hendel semuanya." Ucap Ryan.


"Iya yah, semuanya udah Rey kensel kok tadi cuman ada masalah sedikit." Balas Reyvano karena ada sedikit masalah namun sekarang sudah selesai karena Reyvano telah memecahkan masalahnya.


"Om boleh izin ke toilet." Ucap Reyvano Ia ingin membuang air kecil.


"Panggil aja Ayah." Balas Rendra.


"Iya Ayah." Ucap Reyvano sedikit gugup karena Ia belum terbiasa memanggilnya dengan panggilan Ayah.


"El, anterin kakak ipar mu ini kekamar adik mu dia ingin Ke toilet." Ucap Rendra kepada Rafael.


"Siap Yah." Balas Rafael beranjak dari duduknya.


"Yo ikutin gue." Ucap Rafael yang sudah berjalan lebih dulu dan diikuti Reyvano dibelakangnya.


"Gue titip adik gue ya karena sekarang adik gue udah jadi tanggung jawab lho, jadi gue harap lho bisa bahagiain adik gue dengan cara lho sendiri." Ucap Rafael lalu berbalik ke belakang dan menepuk pundak Kakak iparnya.


"Doain aja." Balas Reyvano dingin.


"Kalo itu pasti, intinya gue titip adik gue jaga dia baik baik." Ucap Rafael lalu kembali berjalan menuju kamar adiknya.


setelah sampai didepan tangga kamar Azara Rafael berhenti dan berbalik kearah Reyvano"Lho tinggal naik keatas aja itu kamar adik gue, gue mau kadapur dulu ambil air minum haus gue." Ucap Rafael karena Ia merasa haus Ia pun pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Reyvano hanya membalasnya dengan anggukan lalu melanjutkan jalannya menuju kamar adik Rafael yang sekarang sudah berstatus menjadi istri sahnya.


Ceklek


Reyvano pun membuka pintu kamar istrinya, Ia pun melangkahkan kakinya ke dalam kamar istrinya.

__ADS_1


~~~~~


"Bye bye bye Azara assalamualaikum." Ucap Rara sambil melambaikan tangannya di kaca mobil yang terbuka.


"Waalaikumsalam bye, makasih Ya Ra." Balas Azara dan melambaikan tangannya kepada Rara.


Setelah tidak terlihat lagi mobil Rara, Azara masuk kedalam gerbang rumahnya yang sudah terbuka.


"Pak, ada tamu ya, didalam?" Tanya Azara kepada pak satpam yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Ya allah Non ngagetin aja, iya Non ada tamu." Jawab Pak satpam sedikit terkejut.


"Maafin saya pak." Ucap Azara dengan senyuman.


"Yaudah Non tidak apa apa." Balas Pak satpam.


"Yasudah pak saya masuk dulu." Ucap Azara lalu berjalan masuk kedalam.


"Assalamualaikum." Ucap Azara.


"Wa'alaikum salam." Balas Nenek Rania, Bunda Zira dan Yunia diruang tamu, Azara pun mencium punggung tangan mereka satu persatu lalu duduk disebelah Neneknya.


"Cantik sekali putri mu, Ra."Puji Yunia saat melihat wajah Azara yang sangat cantik ditambah hijab dan baju muslim yang berwarna cream membuat wajahnya tampak lebih sangat cantik.


"Makasih Tante." Balas Azara dengan senyuman.


"Panggilnya jangan tante sayang, ini mertua kamu jadi, panggilnya Bunda aja sama kaya kamu manggil bunda." Ucap Zira sambil mengusap kerudung putrinya.


"Mertua." Ucap Azara, bingung dan menatap Nenek Rania dan Bundanya bergantian.


"Ikut Bunda bentar yuk." Ajak Bunda Zira kepada putrinya.


"Iya Bun." Balas Azara lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah kaki Bundanya dari belakang menuju kamarnya.


"Sini sayang duduk disini." Ucap Bunda Zira menepuk ranjang miliknya.


"Sebenar ini ada apa Bunda?" Tanya Azara bingung, Ia tak mengerti dengan ucapan bundanya tadi.


"Kamu sudah menikah sayang izab qobulnya tadi pagi jam 9 pas dilaksanakan." Ucap Bunda Zira sambil mengelus elus kerudung putrinya.


"Dan tadi Tante Yunia mertua kamu." Ucap Bunda Zira menatap putri.


"Tapi Bun..." Balas Azara menatap Bundanya tak percaya.


"Kalo kamu gak percaya Bunda punya buktinya." Ucap Bunda Zira dan mengambil ponselnya yang berada dimeja rias.


Bunda Zira pun memperlihatkan video ucapan izab qobul yang dilaksanakan jam 9 pagi tadi, saat Azara melihat video ucapan Izab qobul itu Ia masih tak percaya jika Ia sudah menikah dan memiliki seorang suami.


Tapi divideo itu terdengar jelas jika namanya diucapkan ketika izab qobul tadi.


"Tapi Bunda Azara belum bisa menjadi seorang istri." Ucap Azara menatap Bundanya perlahan demi perlahan air mata Azara pun terjatuh membasahi kedua pipinya.


"Azara masih sekolah Bunda." Ucap Azara didalam pelukan Bundanya.


"Maafin bunda ya sayang, Bunda ingin yang terbaik buat kamu." Ucap Bunda Zira memeluk putrinya.


"Sayang gak boleh ngomong kaya gitu, dengerin Bunda ya sayang. Bunda percaya sama kamu sayang Bunda yakin kamu pasti menjadi istri yang baik dan sholeh asalkan nurut sama suami dan engga ngebantah suami." Balas Bunda zira melepaskan pelukannya dan menatap putrinya sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Tapi Bunda..." Ucap Azara menatap Bundanya.


"Shittt!, Bunda gak mau kamu ngomong kaya gitu lagi oke Bunda yakin putri Bunda pasti bisa." Balas Bunda Zira dan memeluk kembali putri dengan penuh ke sayngan.


"salam gih sama suami kamu, mau Bunda anterin?" Tanya Bunda Zira dan melepaskan pelukannya.


"Gak usah Bunda." Jawab Azara.


"Yaudah sana samperin suami kamu." Ucap Bunda Zira sambil merapihkan kerudung Azara yang sedikit berantakan.


"Iya Bunda." Balas Azara sambil menghapus air mata yang sedikit masih berlinang di kelopak matanya.


"Yaudah Bunda keluar dulu ya sayang." Ucap Bunda Zira di iringi dengan senyuman, Bunda Zira pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar untuk kembali ke ruang tamu.


"Iya Bunda." Balas Azara.


Azara pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang sedikit sembab, setelah mencuci wajahnya Azara merapihkan kerudungnya, setelah selesai merapihkan kerudungnya Ia pun keluar dari kamarnya.


"Ya allah kenapa aku jadi gugup seperti." Batin Azara, karena detak jantung berdetak lebih cepat dan membuatnya gugup.


"Ya allah tenggorokan aku kering banget pantesan haus." Ucapan Azara merasakan tenggorokan kering dan haus ingin minum, Ia pun pergi ke dapur mengambil air minum.


"Kakak." Ucap Azara saat sudah sampai didapur dan melihat Kakaknya sedang duduk di kursi meja.


"Udah pulang dek?" Tanya Rafael setelah meneguk air minumnya.


"Udah dong." Jawab Azara menghampiri kakaknya lalu duduk disebelah Kakaknya.


"Salim gih sama suami." Ucap Rafael menatap adiknya yang sedang meneguk air minum.


"Iya bawel." Balas Azara setelah meminum.


"Gih samperin suami kamu lagi dikamar kamu tuh sana samperin." Ucap Rafael di iringi dengan senyuman.


"Iya bawel." Balas Azara lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ya allah kenapa aku semakin gugup." Batin Azara, sudah beberapa kali Azara menghembuskan nafasnya untuk mengurangi rasa gugupnya.


Ceklek


__ADS_2