PERJODOHAN BERUJUNG KEBAHAGIAAN

PERJODOHAN BERUJUNG KEBAHAGIAAN
Bab 6 pakai dasi


__ADS_3

Bel pulang pun berbunyi, semua murid SMA GARUDA keluar menuju parkiran.


Saat Azara berada didepan pintu gerbang ternyata ia sudah ditunggu oleh kakaknya.


"Kakak nungguin aku?" Tanya Azara yang berada disamping kakaknya.


"Iya Cepet masuk Aza." Ucap Rafael karena Azara masih saja berdiri padahal kakaknya sudah membukakannya pintu mobil.


"Iya kak." Balas Azara tersenyum lalu masuk kedalam mobil, Rafael pun langsung masuk mobilnya dan menyalakan mobilnya.


~~~~~


"Rey lho mau mampir kebascam dulu kaga?" Tanya Renal yang berada disamping Reyvano yang sedang memakai helm.


"Gak gue ada urusan dikantor." Jawab Reyvano sambil memakai jaket ELLAZERS.


"Oh yaudah semoga urusan lho cepet selesai." Ucap Renal menepuk pundak Reyvano.


"Thanks." Balas Reyvano.


"Gue duluan Rey bareng anak anak." Ucap Renal bertos ala laki.


Mereka pun bertos ala laki, mereka pergi kebascam sedangkan Reyvano ia langsung kekantor karena ada yang harus ia urus.


~~~~~


"Susah banget ini ngerjain pr nya aku gak ngerti." Ucap Azara berbicara sendiri, karena ia bingung bagaimana cara mengerjakan soal matematika.


Saat Azara kebingungan, ada seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok


"Masuk." Ucap Azara yang masih berada dimeja belajar yang masih berusaha untuk mencari jawabannya.


Saat mendengar suara pintu terbuka Azara berbalik dan ternyata orang yang mengetuk pintu kamarnya ialah kakaknya sendiri.


"Kebetulan kakak disini bantuin aku kak." Ucap Azara dengan gembira dan menghampiri kakaknya yang sudah duduk disofa kamar Azara.


"Kecil ini mah." Balas Rafael saat membaca soal yang diberikan Azara.


"Yaudah bantuin." Ucap Azara duduk disebelah kakaknya.

__ADS_1


"Rumus udah bener cuman cara ngitung nya aja kamu salah pertama kamu kali terus bagi nanti ada hasilnya." Balas Rafael sambil menunjukan cara menghitung yang benar.


"Oke oke biar Azara coba dulu kak." Ucap Azara kembali kemeja belajar untuk mengerjakan kembali soal yang tadi.


Azara pun mengerjakan soal matematika dengan fokus, waktu yang semakin larut dan Azara yang belum selesai mengerjakan soalnya saking ngantuknya ia pun tertidur saat mengerjakan prnya.


Rafael yang merasa tidak ada pergerakan dari Azara ia pun menghampiri adiknya yang berada dimeja belajar.


Rafael tersenyum melihat adiknya ketiduran, Rafael pun mengendong Azara ala bridy stiel menuju tempat tidurnya.


"Selamat tidur Adeknya Rafael." Ucap Rafael dan mencium kening adiknya, Rafael pun menyelimuti adiknya supaya tidak kedinginan.


Rafael pun beralih menuju meja belajar meriksa pr yang adiknya yang belum selesai kerjakan, ia pun mengerjakan pr adiknya yang tinggal beberapa soal lagi.


Setelah selesai mengerjakan pr adiknya ia pun turun kebawah menuju kamar miliknya, karena tujuan Rafael kekamar adiknya ia hanya memastikan adiknya sudah tidur atau belum, dan ternyata adiknya belum tidur yang sedang mengerjakan prnya.


~~~~~


"Rey akad nikah kamu minggu depan." Ucap Ryan yang sedang mengunyah sarapannya.


"Cepet banget yah." Balas Reyvano menatap ayahnya.


"Lebih cepat lebih baik Rey." Ucap Yunia yang sudah selesai sarapan.


"Aku aja yah, sama bunda." Jawab Reyvano, Karena ia ingin membeli cincin pernikahannya sendiri dan dibantu bundanya untuk memilih cincin pernikahannya.


"Bagus kalo gitu, gak mau kamu ajak sekalian calon istri kamu?" Tanya Ryan.


"Jangan dong Yah nanti aja habis izab qobul baru boleh ajak kemana mana." Jawab Yunia melarangnya untuk mengajak calon istri Reyvano.


"Lah kenapa bun?" Tanya Ryan, aneh karena istrinya melarang untuk mengajak calon menantunya.


"Nanti takut Azara gak mau Yah, sama anak kita ini." Jawab Yunia mengangkat sebelah alisnya dan melirik anaknya yang sedang mengunyah sarapannya


Saat Reyvano mendengar jawaban Bundanya ia langsung menatap bundanya, bisa bisa nya bundanya sendiri meremehkan anaknya, ya walaupun Reyvano anak geng motor tapi ia tidak pernah mencari keributan atau masalah dengan orang lain.


"Senakal itu kah gue di mata bunda." Batin Reyvano.


~~~~~


"Za panggilin kakak kamu gih." Ucap Zira yang baru saja datang sambil membawakan masakan yang baru ia masak.

__ADS_1


"Siap bunda." Balas Azara beranjak dari duduknya menuju kamar Rafael.


"Kak kak kakak." Ucap Azara mengetuk pintu kamar Rafael.


"Masuk." Balas Rafael dari dalam kamar yang sedang merapihkan rambutnya.


Azara pun masuk kedalam kamar Rafael dan menghampiri kakaknya yang sedang merapihkan rambutnya didepan cermin.


"Kak dipanggil bunda cepet kebawah sarapan." Ucap Azara yang sudah duduk dipinggir kasur Rafael sambil memperhatikan kakaknya yang sedang merapihkan gaya rambutnya.


"Iya bentar lagi." Balas Rafael yang sudah selesai merapihkan rambutnya lalu beralih mengambil dasinya dan mengikatnya di leher baju.


"Kalo pake dasi itu yang rapih Kak biar makin keren tambah kece." Ucap Azara sambil memperlihatkan dasi miliknya yang sudah rapih sempurna.


"Kalo wajah udah tampan mau ke gimana pake dasi nya pun tetep keren dan kece." Balas Rafael dengan pede, saat ia kembali bercermin sambil membolak balikan wajahnya didepan cermin.


"Gak gitu konsepnya, kalo memang tampan tapi kalo pake dasi nya kurang rapih ya tetep aja kurang keren dan kece." Ucap Azara dan menghampiri kakaknya yang terus merapihkan rambutnya.


"Rambut aja dirapihin terus yang lain engga?" Tanya Azara kembali menatap wajah Rafael yang sibuk merapihkan rambutnya didepan cermin.


"Tangan kakak gak diem kalo liat rambut sedikit berantakan." Balas Rafael yang masih sibuk merapihkan rambutnya, padahal rambutnya sudah rapih sempurna, entah apa yang ia rapihkan lagi.


"Bagian baju, dasi, aja gak dirapihin." Ucap Azara sambil menarik baju dan dasi kakaknya yang masih berantakan apalagi bajunya yang dikeluarkan dan ikat dasi dilonggarkan.


"Gampang rapihin baju sama dasi mah yang susah tuh rambut." Balas Rafael dan beralih merapihkan dasinya tapi Ia bukan merapihkannya malah melonggarkan ikatan dasinya.


"Lah kos dilonggarin lagi." Ucap Azara bigung karena kakaknya malah melonggarkan lagi ikatan dasinya, Azara merasa gereget dengan kakaknya pun langsung menghampiri kakaknya.


"Cara pake dasi tuh ke gini." Ucap Azara dan mengambil dasi Rafael lalu mengikat nya dengan pas dan rapih.


"Pake dasi tuh ke gini baru keren tambah kece banget." Ucap nya lagi sambil memberikan dua jempol dan senyuman kepada Rafael Setelah mengikat dasi kakaknya yang sudah rapih sempurna.


"Ternyata adik gue pinter juga." Balas Rafael tersenyum dan mengusap kerudung adiknya yang mengemaskan.


"Pinter lah adiknya siapa dulu." Ucap Azara bangga, dengan tangan yang berada didadanya.


Rafael hanya tersenyum dengan ucapan adiknya yang selalu membuat dirinya tersenyum ditambah lagi wajah adiknya yang mengemaskan yang selalu ingin mencubit pipinya.


Rafael pun mencubit kedua pipi Azara, sedangkan Azara ia mengusap usap bekas cubitan kakaknya yang tak main main soal cubit mencubit.


"Sakit kak." Ucap Azara yang masih mengusap bekas cubitan kakaknya.

__ADS_1


"Resikonya." Balas Rafael tersenyum dan menangkup wajah adiknya dengan kedua tangannya.


"Rafael Azara ayo sarapan." Teriak Zira dari meja makan.


__ADS_2