PERJODOHAN BERUJUNG KEBAHAGIAAN

PERJODOHAN BERUJUNG KEBAHAGIAAN
Bab 20 Password?


__ADS_3

Setelah sampai didepan pintu kamarnya, Azara tidak langsung membuka pintu kamarnya, Ia malah berbalik badan untuk menetralkan rasa gugupnya.


"Ya allah kenapa aku menjadi gugup seperti, padahal aku hanya ingin menemui suamiku." Batinnya, sambil menghembuskan nafasnya


Pintu kamar Azara pun terbuka, namun Azara belum membuka pintu kamar miliknya melainkan seseorang dari dalam yang Lebih dulu menariknya.


Saat Azara berbalik badan bersamaan dengan Reyvano yang keluar dari kamar Azara hingga akhirnya Azara menabrak dada bidang Reyvano membuat keduanya sedikit terkejut.


"Astaghfirullah." Ucap Azara terkejut dan menatapnya.


Kini detak jantung Azara berdetak dua kali lebih cepat dari yang sebelumnya saat menatap suaminya, begitu Reyvano Ia menatap wajah Azara.


"Cantik." Batin Reyvano.


"Hmmmmm." tiba tiba ada seseorang yang berdehem dari belakang mereka dan membuat mereka saling mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Baru ketemu langsung tatap tatapan." Ucap Rafael tersenyum sambil membawa gelas yang berisi air putih.


"Kakak ngapain kesini?" Tanya Azara mengalihkan ucapan kakaknya.


"Mau patau adek gue, kalo dia udah salim apa belum sama suaminya, karena adek gue orangnya pemalu sama orang baru Ia kenal." Jawab Rafael sambil bersandar dipinggiran besi.


"Udah salim belum adek gue?" Tanya Rafael menatap Reyvano yang berada dibelakang Azara.


Reyvano hanya membalasnya dengan mengelengkan kepalanya, dan itu tandanya jika Azara belum salim kepadanya.


"Kenapa belum salim?" Tanya Rafael dengan suara sedikit berbeda dari yang sebelumnya sambil menatap Azara.


Azara yang mendengar suara kakaknya sedikit berbeda pun sedikit takut karena tidak biasanya suara Kakak seperti itu.


"Ini juga mau salim, Kak." Jawab Azara dengan suara pelan, Azara pun mengambil tangan kanan suaminya dengan perlahan dan diikuti perasaan bercampur aduk.


Azara mencium tangan suaminya dengan lembut, saat Azara melepaskan tangan suaminya namun Reyvano malah menggenggamnya dan membawanya masuk kedalam kamar.


Sontak membuat Azara sedikit terkejut dan mengikuti langkahnya, sedangkan Rafael Ia sudah pergi kembali ke taman belakang.


"Ulangi salimnya." Ucap Reyvano saat mereka berada didalam kamar.


Membuat Azara sedikit bingung dan menatap suaminya yang berada dihadapannya, kenapa Ia harus mengulangi salimnya padahal Ia sudah benar mencium tangan suaminya.


"Hah." Balas Azara menatap suaminya.


"Ulangi." Ucap Reyvano dingin.


Lantas Azara pun mengambil tangan kanan suaminya dan menciumnya kembali dengan lembut, setelah Azara mencium tangan suaminya, tiba tiba Azara terkejut karena suaminya mencium keningnya dengan lembut.


Membuat wajah Azara seperti kepiting rebus.


"Gue kebawah dulu." Ucap Reyvano setelah mencium keningnya istrinya dan pergi keluar ke taman belakang.


"Iya." Balas Azara yang masih berdiri sedangkan Reyvano Ia sudah keluar kamar.


"Ya allah baru kali ini aku dicium tapi bukan sama Ayah dan Kakak El." Ucap Azara berjalan kearah tempat tidur dan duduk dipinggir ranjangnya.




"Gue pamit pulang barusan nyokap gue telpon gue di suruh pulang dulu." Ucap Nano setelah mengangkat telpon dari mamahnya.



"Lah tumben Nan, nyokap lho nyuruh lho pulang." Balas Renal merasa aneh karena tidak biasanya nyokap Nano menyuruhnya untuk pulang dijam segini.



"Nganterin nyokap ketempat arisan nya." Ucap Nano yang sedang mengelap air keringatnya dengan handuk kecil.



"emang supir lho kemana?" Tanya Ergio yang sedang mengangkat besi dengan kedua tangannya.


__ADS_1


"Pulkam." Jawab Nano dan mengambil kunci motor dan jaket hitam yang berada dimeja.



"Ouh." Balas Ergio dengan kedua tangan mengangkat besi.



"Gue pernah nih dulu nganterin nyokap ketempat arisannya, pas udah sampe nih ditempat arisan nya itu ibu ibu menor semuanya nyamperin gue, nyubit nyubit pipi gue sama mau foto foto sama gue. Dari situ gue gak mau lagi nganterin nyokap gue ketempat arisan." Ucap Fenki menceritakan pengalamannya saat Ia mengantarkan nyokap nya ketempat arisan.



"Trauma gak tuh." Ucap Dirta di iringi dengan tawaan.



"Trauma tuh gue disitu, sampe sekarang gue gak mau lagi nganterin nyokap ketempat arisannya." Balas Fenki bergedik ngeri ketika mengingat kembali kejadian waktu itu.



"Resiko jadi orang ganteng emang gitu Fen." Ucap Nano sambil mengelus elus punggung Fenki.



"Diem lho." Balas Fenki menyingkirkan tangan Nano yang mengelus elus punggungnya.



"Kasian amat lho Fen." Ucap Nano menepuk pundak Fenki dari samping.



"Tapi gue ada untungnya juga ketemu sama ibu ibu menor followers Ig gue jadi banyak yang ngikutin." Ucap Fenki.



"Anjir pengikut lho ema ema ganjen semua." Balas Renal dengan tawaannya.




"Kalo pengikut gue si gadis gadis semua ya." Balas Dirta dengan sombong.



"kenzi dong pengikutnya orang kolomerat semua ya ga." Ucap Fenki sambil memperlihatkan pengikut Ig Kenzi di ponsel nya kepada mereka.



"Slebewww takewer kewer." Balas Renal setelah melihat pengikut Ig kenzi di ponsel Fenki.



"Mana coba gue liat." Ucap Ergio yang sudah selesai mengangkat besinya, dan Menghampiri mereka yang tidak jauh darinya hanya lima langkah saja lah.



"Gimana slebewww takewer kewer gak lho." Balas Fenki dan memperlihatkan pengikut Ig Kenzi di ponsel nya.



"Slebeww." Ucap Ergio setelah melihat pengikut Ig Kenzi.



"Takewer kewer." Balas Renal dengan gelak tawa.



"Renal passwordnya apa." Ucap Nano dengan tawaannya.


__ADS_1


"Slebew takewer kewer." Balas Renal sekencang kencangnya.



"Sekarang yang punya password gak cuman hp juga ya, manusia juga punya." Ucap Dirta dengan senyuman lebar dan menatap Renal yang sedang tertawa.



"Yoi, contohnya orang yang disebelah gue nih." Balas Fenki menatap Renal yang berada disampingnya.



"Uhhh. emang ada aja ya, kelakuan manusia." Ucap Ergio mengeleng kan kepalanya diiringi dengan senyuman.



"Coba lho Nan, password apa?" Tanya Fenki kepada Nano.



"Gak punya ayang." Jawab Nano dengan santai.



"Kurang seru lho bukannya milih password hobah lah ini malah sadboy gak seru lho." Ucap Ergio dan di iringi surakan dari Ergio dan teman temannya yang lain.



"Lagi mode sadboy nih gue." Balas Nano yang sedang memainkan ponselnya.



"Gak seru lho." Ucap Renal kepada Nano.



"Dah lah gue mau pulang dulu." Ucap Nano beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Kenzi yang sedang berkutik dengan laptopnya.



"Ken, gue pamit." Ucap Nano dan bertos ala laki dengan wakil ketua, sedangkan Kenzi hanya membalasnya dengan anggukan.



"hati hati lho." Ucap Kenzi setelah bertos ala laki dengan Nano.



"Pasti bro, lho tenang aja." Balas Nano lalu menghampiri teman teman yang lain untuk berpamitan.



"Semuanya gue pamit, assalamualaikum." Ucap Nano setelah bertos ala laki dengan teman temannya yang lainnya. Ia pun pergi kearah parkiran untuk mengambil motor



"Wa'alaikumsalam warohmatullah hiwabarokatuh." Balas Mereka bersamaan..



"Hati hati Nan." Teriak Renal setelah Nano sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.



"Orangnya udah kaga ada bego." Balas Ergio memukul tangan Renal dengan botol air minum miliknya.



"Gue yakin, si Nano pasti denger teriakkan gue tadi Karena dia punya telinga yang tajam masih berfungsi pendengarannya." Ucap Renal sambil menatap Ergio yang sedang menatapnya juga.



"Serah lah serah lhu." Balas Ergio pasrah.

__ADS_1


__ADS_2