
Saat adzan ashar berkumandang. Keluarga Rendra dan Ryan melaksanakan shalat ashar berjamaah di masjid kecuali Azara dan Bunda Zira, Nenek Rania dan Yunia mereka melaksanakan shalat ashar dirumah.
Setelah selesai melaksanakan shalat ashar berjamaah di masjid mereka langsung pulang kerumah. Ditengah tengah jalan mereka saling bertanya tentang hal hal yang membuat mereka tertawa.
Tidak membutuhkan waktu lama kini mereka sudah sampai di rumah Rendra.
"Assalamualaikum." Ucap mereka bersamaan kecuali Reyvano, Ia hanya mengucapkannya dalam hati saja walau pun tidak ada yang akan mendengar ucapan hatinya. Tapi Ia tak peduli yang penting Ia sudah mengucapkannya.
Ada ada aja kelakuan Reyvno Albiyano mohon di maklum kawan.
"Wa'alaikumsalam wr.wb." Balas Nenek Rania dan Yunia, sedangkan Bunda Zira dan Azara mereka sedang berada kamarnya masing masing.
"Pada kemana ini Nek?" Tanya Rendra setelah duduk dikursi ruang tamu.
"Istri mu sedang dikamar." Jawab Nenek Rania.
"Kalo Azara Nek?" Tanya Rafael disamping Nenek Rania.
"Azara lagi dikamar El." Jawab Nenek Rania.
"Ouhhh." Balas Rafael.
Tidak lama kemudian Bunda Zira datang menghampiri mereka yang sedang mengobrol diruang tamu. begitu pun dengan Azara yang sedang berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tamu.
"Sini sayang duduk disebelah Bunda." Titah Yunia dengan senyuman dan menepuk nepuk kursi disebelahnya.
Azara hanya menuruti perintah Mertuanya itu walaupun Ia merasa gugup karena Ia mungkin belum terbiasa.
"Ra, pinjem Anak mu bentar ya." Ucap Yunia menatap Bunda Zira.
Lantas Bunda Zira menganggu kan kepalanya dengan senyuman dan itu artinya boleh.
"Sini sayang duduk." Ucapnya lagi saat Azara sudah mendekat.
Azara pun duduk disebelah Yunia dengan Perasaan gugup namun Ia berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Beruntung sekali kamu Rey, mampunyai istri secantik Azara." Ucap Yunia mengambil satu tangan Azara untuk digenggamnya.
Reyvano yang mendengar ucapan Bundanya pun hanya melirik sekilas bunda dan Azara yang sudah menjadi istri sahnya.
"Boleh Bunda peluk?" Tanya Yunia Ia ingin memeluk menantunya yang begitu cantik nan ramah.
"Boleh Bunda." Balas Azara dengan anggukan kecil dan hal itu membuat Yunia tersenyum lebar. Ia pun membawa Azara ke dalam pelukannya, Azara pun membalas pelukan Bunda Yunia.
"Nenek sangat bersyukur sekali cucu Nenek mempunyai mertua yang baik ." Ucap Nenek Rania ketika Ia melihat menantu dan cucunya saling berpelukan.
"Kamu kecolongan Rey." Ucap Ryan melirik anak tunggalnya lalu melirik istri dan menantunya yang sedang berpelukan.
__ADS_1
"Gak papa kan, dicolongnya sama Bunda ya kan Rey?" Tanya Yunia yang semakin mengeratkan pelukannya.
Sedang Reyvano Ia hanya diam saat mendengar ucapan kedua orangtuanya.
"Makasih ya Aza, udah mau menikah sama anaknya Bunda." Ucap Yunia dan melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Azara.
Azara hanya mengangguknya dengan senyuman.
"Kakek berasa mempunyai keluarga besar dadakan." Ucap Kakek Rio bercanda dengan senyuman.
"Kakek bisa saja." Balas Ryan dengan senyuman.
Mereka pun saling melempar candaannya satu sama lain membuat mereka tertawa bersama sama.
Ryan melihat jam tangan yang berada dipergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 16 : 35 karena waktu sudah mulai mau malam mereka pun berpamitan untuk pulang.
Setelah berpamitan mereka diantarkan sampai pintu depan oleh keluarga Rendra.
"Nek, kek kami pamit." Ucap Yunia dan Ryan setelah bersalaman dengannya.
"Hati hati dijalan." Balas Nenek Rania dengan senyuman.
"Hati hati." Balas Kakek Rio.
"Iya Nek, Kek." Balas Ryan dan Yunia.
Reyvano hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kepada Bundanya. Setelah berpamitan dengan anak tunggalnya Ia beralih kepada menantunya.
"Aza, Bunda pamit ya. Kalo Rey nakal bilang sama Bunda nanti Bunda jewer telinganya." Ucap Yunia sambil menggenggam kedua tangan Azara yang berada dihadapannya.
"Iya Bunda." Balas Azara dengan kekehan kecil.
"Boleh Bunda peluk lagi?" Tanya Yunia.
"Boleh Bunda." Jawab Azara dengan senang hati Ia pun menerima pelukan Bunda Yunia.
"Seneng banget rasanya kalo peluk kamu." Ucap Yunia dengan senyuman dan melepaskan pelukannya untuk menatap menantunya.
"Bunda pamit sayang." Balas Yunia dengan senyuman dan menghampiri suami yang sudah berada didalam mobil.
"Semua Assalamualaikum." Ucap Yunia sebelum masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangan kepada mereka.
"Ayo yah, jalan." Ucap Yunia kepada suami.
"Iya Bun." Balas Ryan dan mulai menyalakan gas mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya dari halaman rumah Rendra.
Setelah tidak terlihat lagi mobil Ryan dari pandangan mereka. Mereka pun kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Kakek Rio dan Nenek Rania langsung masuk kedalam kamar untuk beristirahat dikarenakan incok di pinggang Kakek Rio kumat, begitu pun dengan Rendra dan Yunia mereka ingin beristirahat dan membersihkan tubuhnya.
"Narkoba dimana mana, gak capek apa jadi buronan polisi." Ucap Rafael yang sedang menonton Tv diruang tamu bersama Reyvano dan Azara.
"Saya Keatas." Ucap Reyvano beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju kamar Azara yang berada atas lantai 2.
"Iya." Balas Azara singkat padat jelas, maklum Azara masih gugup jadi Ia singkat saja menjawabnya.
"Kak. Aza boleh tanya." Ucap Azara menatap Kakaknya.
"Boleh, tanya aja." Balas Rafael yang masih fokus pasa layar tv.
"Kakak tau Aza udah dijodohin?" Tanya Azara.
"Tau." Jawab Rafael menatap Adeknya.
"Kenapa Kakak gak ngasih tau Aza." Ucap Azara dengan ekspresi sedikit serius.
"Biar suprise." Balas Rafael sambil mencubit kedua pipi Adeknya yang terlihat mengemaskan ketika sedang berserius.
"Sakit Kak." Ucap Azara memukul kedua tangan Kakaknya agar Kakaknya melepaskan cubitan dipipinya.
"cengeng banget adek gue." Ledek Rafael menatap Adeknya yang sedang mengusap usap kedua pipinya.
"Dih siapa juga yang cengeng." Ucap Azara sambil bersandar disofa.
"Masa." Balas Rafael menatap adeknya.
"Tau ahk, Kak El susah kalo mau di aja ngomong serius." Ucap Azara sambil memeluk bantal sofa.
"Apa iya de." Balas Rafael sambil menatap Adeknya yang sedang memeluk bantal sofa.
"Jangan mulai Kak." Ucap Azara karena Kakaknya selalu memancingnya emosi.
"Iya deh maafin kakak." Ucap Rafael sambil mengangkat jari kelingkingnya kehadapan adeknya yang masih setia memeluk bantal sofa.
"Karena aku anak yang baik hati jadi aku maafin." Balas Azara dan menarik kelingking Rafael dengan kelingkingnya dan itu artinya permintaan maafan Rafael dimaafkan oleh Azara secara resmi.Mereka menjadikan tanda seperti itu sebagai resmi dimaafkan bukan janji beda bagi mereka.
Emang aneh tapi gak papa lah ya ga.
"Narkoba sekarang meraja lela Kak." Ucap Azara.
"Iya Kakak juga tau, maka dari itu Kakak mau jadi polisi biar Kakak penjarain buronan kaya gitu."Balas Rafael dengan pandangan lurus menatap layar tv.
"Makanya doain supaya Kakak bisa jadi polisi nanti." Ucap Rafael menatap adeknya.
"Pasti dong. Aza pasti doain Kakak terus biar nanti Kakak jadi polisi hebat." Balas Azara dengan senyuman lebar.
__ADS_1