
Kabar bahagia, Brian berlari di lorong rumah sakit dengan kecepatan penuh, berusaha menghindari orang-orang di sekitarnya, dia tidak ingin terluka lantas malah berbalik dirawat di rumah sakit ini karena hal itu. Tidak, tujuan Brian ada di sana jelas bukan untuk itu.
“Brian, sebelah sini!” panggil suara yang dikenalnya.
Menghampiri dengan napas tersengal, pria itu berusaha untuk bicara meski tak yakin kata yang keluar dari mulutnya bisa dimengerti lawan bicaranya. “Ba-gai-mana? El-ma? Bayi-nya?” Dalam hati Brian bersyukur, kalimat yang disusunnya tidak terdengar begitu buruk.
“Kamu tunggu saja di sini, aku baru akan masuk. Tadi pembukaannya belum begitu sempurna, dan aku baru mendapat kabar kalau ini sudah waktunya.”
“Tante Arini? Di mana Tante Arini?”
“Di dalam, bersama Elma. Bagaimanapun anak itu harus ada yang mendampingi dan menguatkan.” Jenny tersenyum tulus, tanpa keangkuhan atau perlawanan seperti biasanya. “Bantu doa ya, agar semuanya lancar.”
“Itu sudah pasti, kalau tidak untuk apa aku di sini.”
Baru berusaha untuk bersikap baik pada teman berdebatnya itu, Jenny sudah dibuat sebal lagi hingga memutarkan kedua bola matanya malas. “Tingkahmu seperti ayah dari anak itu saja, menggelikan!” olok Jenny lalu melengos berlalu, masuk ke dalam ruang persalinan.
“Karena itu yang memang aku lakukan selama sembilan bulan ini, kan? Bertingkah seolah aku ayah dari anak itu yang harus bertanggungjawab, sementara ayah aslinya entah sedang melakukan apa begitu aku mengabari bahwa anaknya akan lahir,” dengus Brian menarik dasinya agar tak lagi terikat begitu mencekik, sedikit kesal pada Liam yang hanya diam saja tanpa memberinya tanggapan saat diteleponnya tadi.
Tidak—bukannya Liam tidak peduli dengan kabar yang diterimanya dari Brian beberapa puluh menit lalu, pria itu justru sedang kalut dengan pikirannya saat ini. Risau, cemas, khawatir, tidak menyangka, dan segala perasaan lain yang tiba-tiba menyergapnya dalam satu waktu.
Rasanya benar-benar baru kemarin Kakek menyuruhnya untuk melakukan hal ini, meminta seorang cucu bagaimanapun caranya untuk meneruskan garis keturunan Tanubrata. Rasanya baru kemarin Liam membicarakannya dengan Jenny, meminta Brian menggantikannya untuk menjaga calon bayi itu dan ibunya.
Dan sekarang—dirinya akan benar-benar menjadi ayah? Benar-benar akan mempunyai darah daging sendiri? Hal yang diungkapkan keluarga besarnya sebagai hal yang tidak mungkin terjadi di abad ini?
Pria itu sudah mondar-mandir di ruangannya, bergerak gelisah sambil sesekali bergumam untuk menenangkan diri, lalu beberapa kali melirik ponselnya untuk menunggu kabar terbaru dari Brian atau Jenny. Liam bahkan memerintahkan Rudi untuk tidak mengganggunya dengan urusan apa pun hingga waktu yang tidak ditentukan, yang intinya Liam sendiri yang akan menghubungi Rudi jika waktunya sudah bisa diganggu dengan berbagai macam pekerjaan lagi.
“Lama sekali sih? Kenapa tidak ada kabar lanjutan? Ini sudah hampir satu jam!” Liam menggerutu di ruangannya yang sunyi. Pria itu tidak berhasil menenangkan dirinya, kenyataan bahwa beberapa waktu terakhir Liam mencari tahu banyak mengenai hal yang berhubungan dengan persalinan membuatnya makin cemas, apalagi kebanyakan yang dia tonton atau baca bukan artikel yang dalam artian positif, melainkan lebih pada ‘masalah apa saja yang mungkin terjadi saat proses melahirkan’. Liam dan kebodohannya sendiri memang.
Ponsel berdering di mejanya, posisi Liam yang semula membelakangi objek itu langsung berbalik tergesa dan mengambil benda persegi itu cepat. Sayang, antusiasnya mengendur begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Bukannya kecewa karena ternyata sang ibu yang menghubungi, bukan, tapi lebih karena ini bukan panggilan yang dia tunggu-tunggu sejak tadi.
__ADS_1
“Halo, Bu,” sapa Liam berusaha terdengar senormal mungkin.
“Hai, jagoan. Bagaimana? Apa sudah ada kabar terbaru?” Larissa—wanita yang telah melahirkan putra tampan dengan segala kelebihannya itu menyapa dengan suara antusias.
Liam tersenyum meski sosok di seberang sambungan tidak bisa melihatnya. “Belum, baik Brian atau Jenny, mereka sama sekali belum menghubungiku.”
“Kapan terakhir kamu menerima kabar kalau ibu dari anakmu itu masuk ruang bersalin?”
Mata Liam menerawang, melirik jam dinding yang terpajang di salah satu sudut ruang kerjanya. “Hmm, sekitar satu jam lalu?”
Liam menunggu ibunya menanggapi dari seberang, tapi sepertinya wanita itu kini tengah terlibat pembicaraan lain di sana, hingga Liam hanya bisa diam selagi menunggu urusan ibunya itu selesai.
“Ah, maaf putraku. Sampai mana tadi pembicaraan kita? Oh ya, satu jam ... Ya, mereka masuk ruang bersalin satu jam yang lalu? Tidak usah khawatir, mereka akan baik-baik saja, begitu juga dengan anakmu, percaya pada Ibu.”
Keduanya terdiam, meski bukan karena alasan ada yang menyela pembicaraan mereka seperti sebelumnya. Liam yang mengangguk setelah ucapan sang ibu sedang berdoa dalam hati, semoga apa yang ibunya katakan memang benar, bahwa tidak ada yang perlu dirisaukan.
“Kamu yakin tidak ingin menemui sosok ibu dari anakmu itu, Liam?”—Larissa lebih dulu bersuara, sebelum putranya mengeluarkan apa yang bersarang di kepalanya tadi. Nada suaranya terdengar lebih sendu, tidak seceria sebelumnya.
Liam yang sejak tadi berdiri tegak di dekat meja kerjanya mengambil langkah untuk menyandarkan diri pada meja, menopang sedikit beban tubuhnya pada benda mati di belakangnya itu dalam diam dan mengulur waktu untuk berpikir. “Bu ... Ibu tahu ini yang terbaik untuk kita, bukan? Kita tidak bisa mengambil risiko yang akan terjadi di masa depan kalau ceroboh hanya karena masalah ini.”
“Tapi bukankah sudah seharusnya kita berterima kasih padanya? Dia yang sudah melahirkan anakmu, Liam. Wanita itu yang memberikanmu keturunan tanpa perlu menjalin hubungan yang kamu benci selama ini.”
“Ibu ... Kita sudah berterima kasih dengan benar. Semua fasilitas dan kebutuhan wanita itu dan keluarganya sudah selesai kita tanggung, begitu pun imbalan—”
“Melahirkan anak itu berbeda dengan saat kita memakai jasa seseorang Liam! Tidak cukup hanya dengan materi, bahkan ucapan terima kasih pun rasanya tidak cukup untuk membayar apa yang telah dia lakukan untuk kita. Anak itu darah dagingnya juga, bukan hanya darahmu yang mengalir di sana. Apalagi setelah ini kita akan memisahkan mereka. Setidaknya, setidaknya biarkan kita mengucapkan terima kasih dengan cara yang layak.”
Liam terdiam, cukup lama hingga dirinya bisa mendengar deru napasnya sendiri di telinga. Bukannya Liam tidak memikirkan hal yang sama, justru karena pikiran itulah Liam tetap mengurung dirinya di ruangannya seperti ini alih-alih berlari macam Brian untuk mendampingi proses persalinan. Karena baginya dengan cara ini dia bisa mengurangi rasa bersalahnya, karena dengan cara seperti ini dia bisa menghindar dari rasa bersalah seumur hidup karena telah memisahkan ibu dan anak secara langsung di depan mata. Karena dengan cara ini, dia tidak harus melihat bayang-bayang itu dan merekamnya di bagian terbaik otak untuk lantas diingatnya terus menerus. Karena inilah cara satu-satunya untuk menghindari semua itu.
“Baiklah kalau memang kamu tidak mau, tapi kenapa kamu juga melarang Ibu untuk mengunjungi wanita itu?”
__ADS_1
“Bu ... Aku mohon,” bisik Liam dengan penuh penyesalan.
Tak ada yang boleh, tak ada satu pun dari keluarga Tanubrata yang boleh mengenali sosok wanita itu. Tidak satu pun. Selain itu, yang tertulis di kontrak mereka, itu juga permintaan yang Liam dengar dari Brian mengenai syarat tambahan yang diajukan pihak ibu dari anaknya. Memastikan bahwa benar-benar tidak ada satu pun dari keluarganya yang mengetahui sosok sang ibu pengganti.
“Baiklah, Sayang, Ibu mengerti. Maafkan Ibu. Kabari kalau anakmu benar-benar sudah lahir ya? Ibu menunggu kabar baiknya, ingin cepat-cepat tahu cucu Ibu perempuan atau laki-laki.”
Lagi-lagi Liam mengangguk, mungkin lupa kalau ibunya tidak bisa melihat hal itu.
“Ibu mencintaimu.”
“Aku juga.”
Dan panggilan ditutup, Liam meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Dirinya sama penasarannya dengan ibunya, mengenai jenis kelamin anak itu yang entah perempuan atau laki-laki. Lagi-lagi, ini memang menjadi bagian dari persyaratan yang diajukan oleh pihak ibu pengganti, kalau tidak ada yang boleh tahu mengenai jenis kelamin anak itu sampai dia lahir, hal ini diajukan karena pihak ibu tidak ingin mengambil risiko Liam melepas tanggungjawab karena jenis kelamin dari bayi yang dikandungnya tidak sesuai dengan keinginan keluarga Tanubrata.
Sebenarnya Liam—melalui Brian, sudah menjelaskan bahwa mereka memang tidak mempersalahkan hal itu. Keluarga Liam cukup terbuka, tidak mendiskriminasi jenis kelamin yang nantinya berpengaruh dengan ke tangan siapa warisan itu akan turun, tidak, kakek Liam tidak memberi syarat itu. Pria tua itu hanya ingin Liam memiliki keturunan dengan darahnya sendiri, selebihnya dia tidak menuntut apa pun lagi.
Tapi Liam bisa mengerti jika ibu dari anaknya mengajukan hal demikian, bagaimanapun tidak ada salahnya berjaga-jaga, kan? Dan Liam tidak masalah dengan itu. Selama hasil USG bayinya sehat dan normal, tidak masalah baginya untuk tidak mengetahui jenis kelamin bayi itu hingga lahir.
Lama Liam terjebak dalam lamunannya sendiri, ponsel Liam kembali berdering dengan nada yang cukup singkat. Menandakan bahwa pesan barulah yang masuk ke sana.
“Congrats, Liam! Anakmu laki-laki tampan yang sehat.” Itu isi kalimat yang ditulis Brian melalui pesan singkatnya, tidak menggunakan sambungan telepon yang semula Liam kira. Tapi perasaan ganjal itu Liam tepis cepat-cepat, saat melihat lampiran photo yang Brian kirim dengan sesosok bayi mungil yang terlelap di sana. Saat itulah senyum Liam terbit, senyum yang tidak pernah terbit selebar itu di bibirnya setelah sekian lama.
“Welcome, Jagoan...” bisik Liam pada layar di ponselnya.
Sementara itu di rumah sakit setelah Brian mengirimkan potret bayi laki-laki itu pada Liam—tenggorokannya dibuat tercekat. Pasalnya, Brian memang belum masuk dan melihat langsung bayi yang dilahirkan Elma dengan matanya, gambar yang dia terima juga adalah gambar dari Jenny yang memotret menggunakan ponselnya hingga Jenny mengatakan kabar itu saat mereka hanya sedang berdua.
“Kem—” Brian menelan salivanya untuk menahan sesuatu yang terasa bergejolak baik di hati maupun kepalanya, pria itu sulit menerima apa yang baru saja Jenny katakan. “Kembar katamu?” ulang Brian, duduk gelisah di sofa yang ada di ruang kerja wanita itu.
📽To be continue🎞
__ADS_1