
Lembar Perjanjian.
Tepat setelah Elma mengungkapkan keputusannya pada Jenny, wanita itu langsung meminta Elma untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh, tetap dalam pengawasan Jenny tentu saja. Sebab Jenny tahu mereka tengah diburu waktu, terutama Elma yang membutuhkan dana itu segera agar ibunya bisa menjalani operasi secepatnya.
“Kak Jen.” Suara Elma dan sosoknya yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Jenny, seketika membuyarkan lamunan dokter muda itu yang tadi berkelana terlalu jauh. Jenny tersenyum membalas kerjap tanya Elma saat melihatnya yang sempat termenung.
“Sudah selesai?” tanya Jenny memecah kecanggungan, dan Elma menjawabnya dengan sebuah anggukan cepat. “Ganti bajumu, kita harus pergi ke suatu tempat setelah ini,” perintah Jenny menunjuk pada seragam pasien rumah sakit yang dikenakan Elma sepanjang pemeriksaan.
Mengikuti Jenny beberapa langkah di belakang, keduanya memasuki sebuah restoran mewah yang tidak pernah sekali pun Elma kunjungi sebagai pelanggan. Kalau pun selama ini memiliki kesempatan untuk masuk ke restoran-restoran macam ini, Elma pasti akan masuk sebagai pekerja sambilan, entah itu pelayan atau sebagai tukang cuci piring tambahan di dapur mereka.
Hari itu adalah pertama kalinya Elma datang ke sebuah restoran mewah dan disambut hormat oleh penjaga pintu masuk, juga disapa senyum ramah beberapa pelayan yang melihat kedatangannya. Biasanya dia yang akan berada di posisi itu, pikirnya.
“El, ayo. Sebelah sini.”
Gadis muda itu terbangun dari renungannya, mengangguk ketika menoleh pada Jenny yang mengarahkan langkah mereka menuju tempat lebih private di restoran itu. Terdapat sekat-sekat tertutup rapat, dengan satu pintu masuk hingga menjaga privasi tamu yang menempati ruangan itu. Dan Jenny memasuki salah satu ruangan, dipandu pelayan yang mendampingi mereka sejak memasuki restoran itu.
Jenny berterima kasih sebelum pelayan itu berlalu meninggalkan mereka, yang ditiru Elma dengan hal serupa. Begitu mereka sudah mendapatkan privasi yang mereka inginkan, keduanya disambut oleh seseorang yang rupanya sudah menunggu di ruangan itu.
“Hai, Jenny,” sapa pria itu ramah, dengan senyum dan kacamata yang bertengger di wajahnya.
Tak terdengar sapaan balasan dari Jenny. Dan dari yang Elma lihat melalui sudut pandangnya, wanita itu hanya tersenyum tipis sebelum menarik tubuhnya mendekat.
“Nona Elma, benar?” tambah pria itu sebelum Jenny sempat memperkenalkan gadis itu, membuat Jenny mendengus dan menarik salah satu kursi yang ada di dekatnya.
“Duduk, El. Biar aku kenalkan dia padamu.”
“Aku bisa melakukannya sendiri kok,” sambung pria itu seolah tidak memberikan Jenny kesempatan untuk banyak bicara. “Halo, Nona Elma. Perkenalkan aku Brian, salah satu pengacara andalan keluarga ayah dari bayi Nona kelak.” Brian—sebagaimana pria itu memperkenalkan dirinya, mengulurkan tangan, masih dihiasi senyum yang Elma pikir akan membuat pria itu keram pipi kalau dilakukan terus menerus.
“Elma,” sambut Elma singkat.
“Berhenti mengenalkan dirimu dengan cara aneh seperti itu, apa tidak bisa memperkenalkan diri dengan cara yang biasa saja?” cibir Jenny melirik malas, menarik Elma untuk duduk dan melepaskan diri dari Brian.
__ADS_1
“Kamu itu, masih saja galak seperti biasanya. Pantas bos besar sering mengeluh setelah bertemu denganmu, katanya kamu yang akan menjadi bosnya kalau kalian terlalu sering bicara.”
Jenny melengos acuh, enggan menanggapi guyonan yang menurutnya tidak bermutu itu. Menyadari bahwa mood Jenny memang terlihat tidak baik sejak memasuki ruangan, Brian pun menghentikan candaannya. Pria itu mengubah mimik wajahnya menjadi lebih tegas, serius, dan memancarkan aura yang berbeda dengan yang pertama dia tunjukkan.
“Baiklah, mau makan atau—”
“Langsung saja,” potong Jenny, dan Brian segera memberikan anggukkannya sambil meraih dokumen-dokumen yang sudah dia bawa dan simpan di dalam tas. “Kita makan setelah urusan ini selesai.”
Brian menaikkan tangkai kacamatanya yang melorot, menyerahkan beberapa bundle kertas yang berisi beberapa lembar di dalamnya. Melihatnya saja sudah membuat Jenny meringis, keluarga Tanubrata selalu mempersiapkan segalanya dengan sempurna hingga mereka dapat menghindari skenario terburuk sekecil apa pun di masa depan.
“Kamu bisa membacanya dulu, Elma. Baca baik-baik dan pahami, karena semuanya jelas untuk kebaikanmu. Kami tidak ingin kamu merasa dirugikan, untuk itu pastikan semua hakmu terpenuhi tanpa sedikit pun celah yang kurang.”
Elma menelan salivanya. Semua dokumen itu? Harus dia pelajari?
“Pelan-pelan saja, kami tidak akan meninggalkanmu di sini. Dan kalau ada hal yang ingin kamu tanyakan, saya akan dengan senang hati menjelaskannya.”
Setelahnya, Jenny banyak bersinggungan dengan Brian—wanita itu mengangguk setuju dengan yakin, menaruh tangannya di atas punggung tangan Elma dan menggenggamnya erat, berusaha menyalurkan dukungan atas apa pun yang pada akhirnya Elma putuskan. Entah itu menyetujui dan menandatangani semua perjanjian itu, atau justru sebaliknya.
Pintu ruangan Liam diketuk saat pria itu tengah menerima telepon dari salah satu rekan kerjanya. Liam yang saat itu sedang duduk di singgasananya sengaja berdiri untuk membuka pintu ruangannya sendiri karena tidak bisa mempersilakan orang itu masuk dengan menggunakan suara.
Kepala Liam bergerak sedikit begitu melihat Brian, memberi ruang untuk pria itu agar melangkah masuk dan meninggalkannya sejenak untuk kembali fokus dengan sambungan teleponnya. Hanya beberapa menit, hingga Liam menutup pembicaraan dan beralih pada Brian.
“Kamu datang?” sambut Liam setelah menjauhkan ponselnya dari telinga. Mengambil duduk di seberang sofa yang diduduki pengacara itu.
Pria itu membalasnya dengan senyum formal, mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Liam. “Nona itu sudah menandatanganinya, mau lihat?”
“Tidak—tidak perlu. Aku percaya dengan apa yang kamu dan Jenny lakukan. Jadi itu sudah cukup.”
Brian mengangguk, memutuskan memasukkan berkas itu kembali ke dalam tasnya. “Lalu kenapa memanggilku kemari? Aku kira kalau hanya ingin tahu mengenai hasil akhirnya kamu bisa bertanya lewat telepon.”
Liam berdeham, dia tahu Brian akan bertanya mengenai ini. “Bagaimana dia?”
__ADS_1
Kernyitan di dahi Brian semakin menjadi. “Bagaimana apanya?”
“Gadis itu ... Jenny bilang dia cukup cantik dan pintar untuk mewariskan gen yang baik pada anakku, jadi aku hanya ingin memastikannya.”
Pengacara itu hampir terbahak, meski hasil akhirnya yang keluar dari mulutnya hanya sebuah dengusan geli. “Kalau kamu sepenasaran itu, kenapa tidak coba bertemu dengannya? Kenapa harus menyulitkan diri dengan semua privasi yang kamu jadikan sebagai syarat itu, sih? Barangkali kamu bisa jatuh cinta betulan dengan gadis itu, jadi tidak perlu perjanjian konyol macam ini. Kalian bisa membuat anak dengan cara yang normal!”
Mata Liam menyipit, memasang wajah dingin sebagaimana pria itu biasa tunjukkan pada orang-orang di luar sana, tidak ada lagi kesan santai, dan itu berlaku ketika orang dekat yang diajaknya bicara sudah melebihi batas yang seharusnya “Pergi. Aku sudah tidak butuh jawabanmu.”
Cepat-cepat Brian mengangkat tangan, tanda dirinya menyerah dan mengaku kalah. Dia ke sini tentu bukan untuk bertengkar dengan sumber penghasilannya itu. “Oke, oke. Aku minta maaf, tidak seharusnya aku mengatakan itu.”
Liam tak merespons, entah karena benar-benar sudah memutuskan untuk abai atau jual mahal karena Brian sudah menyinggung teritorialnya.
“Biar aku ceritakan menurut sudut pandangku mengenai Nona ini.” Brian mengoceh, tak peduli dirinya didengarkan atau tidak, tapi sebenarnya dia yakin Liam diam-diam mendengarkannya dengan hati-hati, karena ini menyangkut calon anaknya.
“Jadi seperti yang kamu tahu, Jenny tidak pernah salah menilai orang. Gadis ini cantik, masih sangat muda, tentu karena usianya baru 19 tahun. Dan dari yang aku lihat sepertinya dia sehat, meski kita masih tetap harus menunggu hasil rekam medisnya. Yang pasti seperti yang Jenny katakan, dia pintar, sangat—gadis ini bisa mendapatkan beasiswa dengan kemampuannya di universitas mana pun, tapi karena situasi dia terpaksa menolak dan berencana kembali mendaftar di universitas tahun ini.”
“Kenapa dia menolak?”
Got you! Brian benar-benar kembali berhasil mendapat atensi Liam lagi, kan?
“Maaf, Tuan. Tapi itu bagian dari privasinya yang tidak boleh Anda tahu,” ucap Brian dengan raut menyesal namun bertujuan untuk meledek.
Liam hanya bisa mengembuskan napasnya. Dirinya sendiri tidak tahu kenapa sangat ingin mengetahui perihal gadis itu, padahal dirinya sendiri yang menyiapkan batas-batas mana yang harus dirinya ketahui dan mana yang tidak.
Jawaban Brian tadi memang sedikit membuatnya kecewa, meski tidak sampai menjadikan Liam berniat melanggar apa yang sudah dia tentukan sendiri.
“Baiklah. Memang seharusnya tidak bertanya banyak mengenai orang ini. Urusan kami hanya menyangkut bayi, dan cukup sampai di sana,” ucap pria itu, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
“Kamu boleh pergi, Brian.” Kali ini Liam mempersilakannya dengan cukup ramah, sebelum berdiri dan kembali ke mejanya, berkutat dengan kesibukannya kembali.
📽To be continue🎞
__ADS_1