Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 6


__ADS_3

Embusan napas kasar keluar dari Jenny tanpa merasa perlu dia tahan, wanita itu menarik napas sebelum mengkonfirmasi pertanyaan itu sekali lagi. “Iya, Liam. Dan selamat untukmu.”


Setelahnya, Jenny mendengar Liam mengucapkan beberapa kali ungkapan terima kasih padanya. Mereka sepakat untuk mengakhiri panggilan. Begitu sambungan itu terputus, Liam yang berada di ruangannya terlihat seperti orang ling-lung, membuka lagi kotak makan siangnya sambil bergumam berkali-kali.


Aku akan segera menjadi ayah. Aku bisa menjadi seorang ayah tanpa berhubungan dengan perempuan mana pun.


Entah atas dasar apa Liam terus mengulang perkataannya dengan wajah tanpa ekspresi. Membuat lelaki itu sukar dimengerti, kalimat yang keluar dari bibirnya itu apakah rasa bahagia atau justru sebaliknya.


Begitu pun yang terjadi di ruangan kerja Jenny, tidak banyak ekspresi yang terlihat dari wajah wanita itu. Dengan kertas laporan hasil pemeriksaan Elma di tangan, wanita itu terdiam lama, mengembuskan napas sebelum bergumam pelan. “Semoga ini memang yang terbaik untuk kita semua.”


Sementara itu, Elma hanya memiliki satu permintaan ketika dirinya diberi tahu bahwa ia sudah positif mengandung, “Jangan biarkan Ibu tahu masalah ini,” pinta gadis itu dengan tatapan memohon. Elma tahu, cepat atau lambat kehamilannya pasti akan diketahui sang Ibu, tapi gadis itu bersikeras ingin menyembunyikannya selama dia mampu. Elma ingin ibunya hanya fokus pada kesembuhannya.


Dan mau tidak mau Jenny tentu merasa perlu menyetujuinya, karena selain sebagai seorang dokter yang harus menjaga privasi sesuai keinginan pasien, Jenny juga menempatkan dirinya sebagai sosok yang juga mencintai Tante Arini. Jenny jelas ingin Tante Arini menjalani masa-masa penyembuhannya tanpa banyak beban pikiran, meski tentu beban itu tidak akan sepenuhnya sirna apalagi ketika tahu bahwa dirinya sudah bisa menjalani proses transplantasi.


“U-uang dari mana, Nak? Sebanyak itu kamu dapatkan uang dari mana?” tanya Arini dengan wajah pucat ketika dirinya akhirnya tahu bahwa jadwal transplantasinya sudah ditetapkan.


“Ibu tidak perlu khawatir masalah itu, Elma sudah mengurus semuanya dan bukan dengan cara yang jahat. Ada orang yang bersedia membantu Elma dan Elma janji akan mengganti uangnya dengan cara lain.”


Arini menggeleng, tetap tidak puas dengan jawaban putrinya. “Tidak, Sayang, beri tahu Ibu siapa orang itu? Apa yang harus kamu lakukan padanya? Jangan buat Ibu cemas—”


“Elma akan beritahu nanti, nanti setelah Ibu menjalani transplantasi itu. Ibu hanya perlu percaya padaku. Sungguh, aku tidak melakukan apa pun yang merugikan orang lain, atau membahayakan diriku sendiri. Semua hanya karena orang ini memang berbaik hati pada kita, Bu ... karena itu.”


Argumen yang tidak bisa diterima, menurut Arini. Uang sebesar itu di zaman seperti ini jelas bukan sesuatu yang bisa diberikan tanpa balasan apa-apa. Arini yakin Elma pasti sudah melakukan sesuatu, meski gadis itu bilang bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.


“Bu, Elma mohon. Elma hanya ingin Ibu fokus dengan proses transplantasi dan penyembuhannya. Untuk saat ini, Elma minta tolong lakukan itu saja dan jangan pikirkan yang lain.”

__ADS_1


Kepala Arini masih menggeleng, kalimat itu jelas bukan sesuatu yang bisa membuat hatinya tenang. Tapi genggaman Elma di tangannya dan tatapan gadis itu yang menunjukkan permohonan, bahkan hingga matanya berkaca-kaca, membuat Arini dengan berat hati menghentikan segala pertanyaan mendesak yang ingin dia tujukan pada putrinya.


Arini menarik Elma ke dalam pelukan, menangis sambil terus meminta maaf karena dirinya sudah membuat gadis itu melakukan dan mengusahakan hal yang tidak biasa dilakukan gadis seusianya.


Di tempat yang berbeda, Liam terlihat mondar-mandir tak tentu di dalam ruangannya sendiri. Sejak Jenny mengabari bahwa ibu pengganti yang mengandung anaknya itu hamil, pria itu sudah mencari banyak informasi tentang apa yang terjadi pada masa kehamilan dan apa yang harus dilakukan ibu hamil untuk mengatasi masalah-masalah yang menghampiri mereka.


Saat membacanya Liam dibuat khawatir, ada beberapa artikel yang mengatakan bahwa salah satu hal penting yang ibu hamil butuhkan adalah dukungan moral yang kuat dari pasangan agar mereka bisa melewati masa sulit selama mengadung. Dan Liam paham benar kalau dirinya tidak bisa memberikan hal itu pada ibu dari anaknya. Mereka bukan pasangan, pun tidak menyandang gelar suami-istri, yang bisa dia lakukan adalah memantau dari jauh dengan terus memberikan apa yang wanita itu butuhkan. Semua hal terbaik yang bisa Liam berikan selain berada di sisi wanita itu.


“Kira-kira apa saja kegiatannya saat ini?”


“Hah?” Brian yang berada di ruangan itu dibuat mengernyit tidak mengerti. Pasalnya, Liam tidak mengatakan apa pun sejak kedatangannya lima menit lalu, pria itu hanya menerima perintah Liam yang memintanya datang ke kantor. Tanpa menjelaskan lebih rinci untuk apa dirinya dibutuhkan.


“Setidaknya kamu harus jelaskan sedikit untuk apa kamu memanggilku kali ini. Jangan tiba-tiba bertanya sesuatu yang hanya ada di kepalamu, kamu kira aku bisa membaca pikiran orang?” protes Brian tidak ingin terlihat lebih bodoh lagi. Tidak setelah lima menit berselang dan dirinya hanya diam ketika Liam hilir –mudik seperti setrikaan.


“Itu, ibu dari anakku... Apa kegiatannya saat ini?”


Liam mendengus kesal karena reaksi yang Brian berikan, “Kamu ini bodoh atau apa sih? Aku tanya Ibu dari anakku itu kegiataanya apa saja? Aku ingin memastikan dia tidak kelelahan dan membahayakan kandungannya, tahu?!”


Bola mata Brian berputar malas. “Kamu pikir aku bodyguard-nya? Aku ini pengacara keluargamu, bukan tukang untit yang ditugaskan mengikuti gadis itu untuk tahu apa saja kegiatannya. Otakmu terbentur di mana sih sampai hal seperti ini saja perlu aku jelaskan?”


“Kamu yang bodoh, berengsek! Kamu satu-satunya orang luar yang tahu hal ini. Jadi aku memintamu mencari tahu apa saja yang dilakukan gadis itu dan memastikan dia baik-baik saja. Semakin sedikit orang yang tahu semakin bagus, itu kenapa aku memintamu mencari tahu dan mengawasinya mulai sekarang. Masa begitu saja tidak mengerti? Otakmu sudah dijual di pasar loak?”


Si berengsek satu ini memang menyebalkan.


“Kalau memang itu alasanmu, setidaknya beritahu aku. Jangan tiba-tiba bertanya hal yang tidak aku mengerti, memang ada orang yang kerja tanpa briefing terlebih dulu? Apalagi itu bukan tugasku.” Kali ini Brian yang mendengus tepat saat Liam memandang tajam padanya.

__ADS_1


Pria di hadapannya terlihat tidak mengelak kalimat Brian barusan. Sepertinya dia juga baru sadar kalau belum menginstruksikan apa pun pada Brian, jangankan instruksi, menyampaikan maksudnya pun baru beberapa detik lalu.


“Tapi sekarang kamu kan sudah tahu, jadi cepat lakukan,” ujar pria itu dengan suara yang tidak selantang sebelumnya.


“Kamu tahu ini tidak gratis, kan?”


Liam yang sudah berjalan kembali ke meja kerjanya berbalik dan menatap wajah Brian “Dasar mata duitan! Kubayar lima kali lipat dari gajimu untuk hal ini, puas?”


Brian tersenyum ramah, formalitas yang biasa ia lakukan di depan rekan-rekan kerja atau rekan bisnisnya. “Itu baru sahabatku.”


“Omong kosong,” cibir Liam.


“Jadi apa saja yang harus aku lakukan Mr. Tanubrata?” Brian dan sok fomalitasnya yang menjijikan, tapi masa bodoh, toh Liam mendapatkan apa yang dia butuhkan.


“Seperti yang aku bilang tadi, cari tahu kegiatannya dan laporkan padaku. Dan awasi dia baik dari jauh atau dekat, beri apa yang dia butuhkan dan penuhi apa pun keinginannya. Aku tidak mau anakku jadi berliur karena keinginan ibunya tidak dipenuhi semasa kehamilan.”


“Berliur?” kening Brian dibuat berkerut.


Liam mengangguk. “Dari artikel yang aku baca, keinginan ibu hamil itu harus dituruti, kalau tidak nanti anaknya yang lahir akan terus-terusan berliur.”


Mendengar penjelasan Liam tentu saja membuat Brian otomatis terbahak. “Seorang Liam? Yang pintarnya di atas rata-rata dengan semua prestasi gemilangnya, baik di akademik maupun bisnis, justru percaya dengan mitos macam itu? Hahaha!”


“Berisik! Penuhi saja apa kataku bisa tidak sih?”


Dalam sekejap tawa Brian reda, mencibir samar Liam yang masih menatapnya tajam. “Aye-aye, Mr. Liam.” Setelahnya Brian memutuskan pergi, tanpa menunggu persetujuan bos besarnya itu. Cepat atau lambat toh dia juga akan diusir dari sana, lantas apa salahnya berinisiatif pergi sendiri?

__ADS_1


Ah, pekerjaannya akan sangat merepotkan mulai saat ini, pikir Brian.


📽To be continue🎞


__ADS_2