Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 21


__ADS_3

Kepala Elma masih tertunduk. Sikap siaganya ketika menyambut tamu hotel dengan kedua tangan di depan perut tetap dia pertahankan, meski kedua tangannya kini terlihat gelisah dengan memainkan jari-jari di sela tautannya.


Kening Zian berkerut, menyadari kegugupan wanita itu. Melirik name tag yang tertera di seragam wanita itu Zian langsung merasa terhubung dengan kejadian yang baru kemarin menimpa Liam di hotelnya. “Ah, kamu karyawan yang kemarin membawa Liam ke kantor polisi?” Zian berusaha mengendalikan suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang hendak tertawa.


Elma semakin meringis meski wajahnya dalam mode sembunyi. Karirnya mungkin benar-benar tamat sekarang. Direktur itu bahkan mengingat wajahnya yang mana berarti dia benar-benar akan di-blacklist dari perusahaan ini.


“Sa-saya ingin me—”


“Ah, masuk dulu. Saya tidak suka bicara serius di ruang terbuka seperti ini,” potong Zian mengambil langkah maju untuk membuka pintu ruangannya, otomatis gerakan itu membuat Elma menyingkir, mempersilakan Zian mengambil langkah dengan leluasa.


Elma memang tidak tidak tahu bahwa direkturnya belum datang saat berdiri di depan pintu tadi. Dia pikir Zian sudah di tempat makanya tidak memperhitungkan bahwa Zian akan muncul dari arah lain.


“Masuk. Jangan lebih mempermalukan dirimu dengan berdiri di sana lama-lama,” tegur Zian yang masih menahan pintu itu dari dalam.


Elma kembali menurunkan pandangan, buru-buru melangkah memasuki ruangan itu sebelum Zian lebih muak berhadapan dengannya. Pintu ditutup, Zian berjalan melewati Elma dan menempati kursi kerjanya di ruangan itu.


“Jadi, ada apa?”


Menelan ludah cemas, Elma menautkan kedua tangan dan mencengkeramnya erat, masih tidak berani menaikan pandangan. “Saya ingin minta maaf atas kejadian kemarin, Pak. Saya benar-benar tidak bermaksud untuk menjelekkan nama siapa pun. Sungguh. Tolong maafkan saya.”


“Kami sudah memaafkanmu kok,” timpal Zian santai.


Kepala Elma yang sejak tadi tertunduk kini terangkat, memberanikan diri menatap lurus pada mata atasannya. Dan Zian sempat berjengit terkejut—meski pria itu meminimalisir reaksinya agar tidak terbaca Elma. Tapi apa yang ada di kepala Zian saat Elma menatapnya dengan tatapan tajam seperti itu membuat wanita di hadapannya kini terlihat lebih menarik dibanding dengan beberapa saat lalu yang hanya sibuk menyembunyikan wajah.

__ADS_1


“Tapi kalian memecat saya—tidak, maksud saya jangan pecat saya, Pak. Saya sungguh menyesal, saya janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Saya akan bekerja lebih baik, jadi saya mohon maafkan saya dan jangan pecat saya.”


Sebelah alis Zian naik, “Lho, jadi Management Hotel memutuskan untuk memecatmu? Padahal sudah saya bilang jangan membesar-besarkan masalahnya.”


Elma tahu perkataan direkturnya itu belum selesai, itu kenapa dirinya tidak ingin menyela yang mana nanti justru akan membuat semuanya kembali berantakan. Sepercaya itu Elma pada kepalanya yang terus memberikan sugesti baik.


“Tapi mau bagaimana lagi, saya rasa Liam yang sudah memerintahkannya. Kita tiba bisa berbuat banyak, Nona.” Bahu Zian naik, berusaha untuk tidak bersikap acuh.


“Eh? Tapi—”


“Kami sudah memaafkanmu, sungguh. Terlebih saya yang menganggap masalah ini bukan sesuatu yang besar. Tapi sepertinya kamu memang sudah berhadapan dengan orang yang salah, Nona—Elma?” Zian kembali melirik name tag di seragam Elma, memastikan dirinya tidak keliru menyebut nama. Bibir Zian mengerucut ke bawah sebelum melanjutkan perkataannya, “Liam bukan orang yang mudah dihadapi, dan si keras kepala itu sepertinya sudah menjatuhkan hukuman yang menurutnya layak untuk kamu terima. Dan itu berarti tidak bisa diganggu-gugat.”


“Tapi, Pak. Saya bersedia meminta maaf pada beliau. Tolong izinkan saya, izinkan saya menyampaikan maaf secara langsung pada Pak Liam. Saya benar-benar menyesal atas kelalaian saya, tolong jangan pecat saya, Pak. Saya membutuhkan pekerjaan ini,” pinta Elma berusaha meyakinkan dengan ketulusannya.


“Sudah saya katakan kalau dia itu sangat keras kepala lho, Elma.” Zian coba memperingatkan lagi. “Dan tidak toleran.”


“Saya akan mencobanya, Pak Zian. Apa pun akan saya lakukan untuk mendapatkan maaf Pak Liam, asal saya tidak dipecat dari sini. Tolong berikan saya kesempatan untuk menjelaskan pada beliau...”


Embusan napas Zian terdengar berat, menyesal karena dirinya tidak bisa membantu apa pun untuk wanita itu, karena kalau dirinya yang berani bicara, Liam justru akan semakin keras dan tak mau mendengar alasan apa pun. Tapi kalau Elma sendiri yang menyampaikannya? Entahlah, tidak ada salahnya membiarkan wanita ini mencoba, bukan?


“Baiklah. Siang nanti dia akan kembali ke sini untuk melihat laporan perkembangan hotel. Setelah itu kamu boleh bertemu dengannya. Saya akan kabari Pak Alex jika waktu Liam kosong, biar Pak Alex yang menyampaikannya padamu.”


Raut semringah menghiasi wajah wanita itu saat mendengar pernyataan Zian. Elma tersenyum lebar, membungkuk berkali-kali dengan ucapan terima kasihnya karena sudah diberi kesempatan. Zian terkekeh kecil, tidak menyangka mendapat reaksi yang sebesar itu padahal dirinya tidak menjanjikan Elma bahwa dirinya tidak akan dipecat, Zian hanya menjanjikan Elma bisa bertemu dengan Liam, karena keputusan Elma bisa bertahan di hotel itu atau tidak jelas ada di tangan sepupunya.

__ADS_1


Tapi kenapa Elma bisa bahagia hanya karena kesempatan bertemu Liam yang diberikannya? Padahal menurut sudut pandangnya saat ini, sebenarnya kesempatan Elma bertahan sangat kecil. Menurutnya, Liam hanya akan berubah pikiran jika mukjizat turun dan mengubah pikirannya.


***


Seperti yang sudah dijanjikan Zian, Elma benar-benar dipanggil kembali ke ruangannya setelah selesai jam makan siang. Itu berarti waktu Liam sudah kosong. Dan karena Pak Alex sendiri yang memanggilnya, itu membuat dia bisa lebih leluasa meninggalkan meja resepsionis lobi karena sudah ada resepsionis lantai lain yang siaga menggantikannya.


“Kamu dengar Elma, ini benar-benar kesempatan terakhirmu. Aku sudah benar-benar tidak bisa melakukan apa pun lagi jika Pak Liam memang sudah mengambil keputusan final. Maka dari itu gunakan kesempatanmu baik-baik dan bicaralah dengan sangat sopan padanya. Jangan seperti saat di kantor polisi kemarin.” Alex meracau sepanjang langkahnya mengantarkan Elma ke ruangan direktur mereka. Padahal Elma bisa pergi sendiri, tapi agaknya Alex mencemaskannya juga.


Seperti yang sudah pernah dibahas, segalak apa pun Alex dan terlihat acuh, sebenarnya pria itu orang yang peduli pada karyawan-karyawannya. Kalau tidak, dirinya tidak akan berada di sana sebagai manager yang sudah menjabat kurang-lebih lima tahun, karena menjadi karyawan di wilayah kekuasaan Tanu Grup adalah termasuk yang terberat, mereka dituntut untuk bisa memperhatikan semuanya, entah itu kepentingan perusahaan atau karyawannya masing-masing, kalau ada keluhan sedikit saja, bisa di-cut alias dipecat tanpa pandang bulu. Dan agaknya itu yang kini Elma alami.


Elma tidak menimpali selain mengangguk mengerti ketika Alex mengarahkan pandangan padanya. Mereka sudah tiba di lantai yang dituju, lantas menghampiri pintu ruangan direktur yang sebenarnya tadi pagi sudah dia kunjungi.


“Berjuanglah. Ini kesempatan terakhirmu. Semoga berhasil,” ucap Alex lalu mengetuk pintu ruangan itu.


Suara Zian dari dalam menyahut, menyuruh mereka membuka pintunya sendiri dan masuk. Alex membuka pintu, melangkah lebih dulu untuk melaporkan kedatangannya. “Saya membawanya, Pak Zian,” ucap Alex menghadap Zian, lalu beralih pada Elma. “Masuk Elma.”


Elma mengekor, membungkuk untuk menyapa Zian dan—Liam yang juga tengah duduk di sofa tamu yang ada di ruangan itu.


“Terima kasih, Pak Alex. Kamu boleh kembali bekerja.”


Alex mengangguk, undur diri dari ruangan itu dan menutup pintunya rapat. Dari sofa, Liam yang tentu saja ingat dengan wajah wanita yang sudah melecehkan dan menuduhnya hingga dibawa ke kantor polisi mengernyit tidak suka mendapati keberadaan Elma. “Mau apa kamu ke sini?” suara Liam dingin.


Zian yang semula berdiri, mendekati meja kerjanya dan duduk di sana. Kedua tangannya terangkat untuk kemudian dia lipat di depan dada, memperhatikan interaksi yang diciptakan kedua orang itu sekecil apa pun. “Nona ini meminta izinku untuk minta maaf padamu secara langsung, Liam.” Senyum misterius itu terukir di bibir tipis Zian.

__ADS_1


📽To be continue🎞


__ADS_2