
Tawa Zian masih belum reda meski kini dirinya dan Liam sudah kembali ke hotel dan berada di ruang kerjanya. Hampir setengah jam dia berada di kantor polisi, berusaha meluruskan kesalahpahaman yang harus menimpa sepupunya, tentu saja penjelasan yang masih bisa diterima di mata umum bukan berdasarkan fakta sebenarnya.
Tidak mudah memang, apalagi polisi meminta dan membutuhkan validasi identitas Liam yang sebenarnya untuk membebaskan pria itu dari tuduhan, beruntung salah satu pengacara yang dibawa Zian bisa menyelesaikannya dengan cepat. Yah, kurang dari setengah jam itu menurut Zian sudah waktu yang lumayan singkat dibanding harus berada berjam-jam di sana.
“Apa yang sebenarnya kamu tertawakan sejak tadi. Kamu merasa ini lucu karena pasti ada sangkut pautnya denganmu, kan? Pasti kedatangan wanita itu ada kaitannya dengan otak kotormu!”
Zian melempar tubuhnya ke kursi kebanggaannya. Menatap Liam yang berdiri menjulang di depan meja kerjanya dengan wajah dingin dan tatapan yang menusuk. Berbanding terbalik dengan dirinya yang tetap terlihat santai, memamerkan senyumnya yang tak juga pergi dari bibir.
“Tentu saja. Kamu pikir alasanku yang bilang pada mereka kalau wanita itu adalah perawat keponakanku yang sedang sakit dan hendak mengajaknya bermain dengan tema pahlawan itu benar?” tanpa rasa bersalah Zian terkekeh, “Hanya orang gila yang pasti percaya cerita itu.”
“Dan kamu pikir para polisi itu gila karena percaya padamu?” sindir Liam sarkas.
“Mereka tidak gila, hanya enggan meladeni permainan orang-orang seperti kita.” Bahu Zian terangkat tak acuh, sementara Liam masih berdiri dengan tatapan tak mengerti mengapa sepupunya itu melakukan hal konyol yang menyebalkan macam ini.
“Dan bukannya harusnya kamu menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Apa tujuanmu mengirimkan wanita itu ke kamarku?”
Bibir Zian membentuk seringai tipis, menatap saudaranya dengan tatapan menggoda. “Jangan menatapku seperti itu, aku kan hanya sedang mencoba agar kamu mendapatkan kembali gairahmu. Kamu harus merasakan kembali kebahagiaan yang sebenarnya itu apa, Liam.”
__ADS_1
“Persetan,” dengus Liam. “Untuk apa kamu peduli dengan masalahku yang satu itu. Kamu tahu? Berada di dekat mereka saja sudah membuatku malas, lalu kamu memintaku sembarangan menjalin hubungan? Jangan bercanda!”
Tubuh Zian yang semula bersandar santai di kursinya mendadak tegak, begitu pula raut wajahnya yang berubah serius. Terlihat miris bercampur cemas. “Liam, kamu yakin dirimu baik-baik saja? Aku khawatir kamu—” tatapan Zian yang turun ke bagian bawah tubuh Liam membuat pria itu dibuat tak nyaman, apalagi Liam tahu benar apa yang kini ada di otak kotor sepupunya itu.
“Jangan ikut campur urusanku, aku bilang! Aku bisa dan tahu apa yang harus kulakukan untuk diriku sendiri,” bentak Liam memperingatkan. “Sekali lagi kamu melakukan hal konyol dan menjijikan macam ini, kupastikan Kakek memberikan hukuman yang setimpal. Bukan hanya dikirim ke negeri antah berantah, tapi semua fasilitas yang ada padamu juga akan kutarik.”
“Hei, itu terlalu kejam!” protes Zian tidak terima.
Zian memang bagian dari salah satu pewaris kerajaan bisnis Tanubrata, tapi pemegang utama semuanya jelas akan jatuh ke tangan Liam yang paling dipercaya oleh Kakek mereka. Sekali Liam memberi titah, bukan tidak mungkin apa yang dikatakannya itu benar-benar terjadi.
“Aku hanya ingin membantumu, kamu tahu? Siapa tahu jika kamu memaksakan diri melakukannya, nantinya kamu akan terbiasa.”
“Liam, yang harus kamu pikirkan itu bukan hanya dirimu sendiri. Kamu tidak ingat ada Kei di rumah? Anak itu membutuhkan sosok seorang ibu, kamu tidak bisa hanya membiarkannya tumbuh seperti ini, terlebih saat sebagian besar waktumu kamu habiskan untuk mengurus perusahaan.”
Tiba-tiba arah pembicaraan keduanya berubah 180 derajat menjadi konten yang sensitif, karena Liam paling tidak suka caranya mendidik anak dikomentari, meski apa yang Zian katakan benar sekali pun.
“Kamu tidak tahu kan apa yang sering Kei katakan saat kamu tidak menemuinya untuk beberapa hari?” tanya Zian ingin melihat reaksi Liam. “Om, apa Ayah sudah tidak sayang lagi pada Kei? Kenapa Ayah tidak pulang dan menemui Kei? Apa Kei berbuat salah hingga Ayah tidak mau bertemu Kei lagi?”
__ADS_1
Liam memang tidak suka dikomentari, tapi dirinya tidak serta merta akan meninggalkan pembicaraan atau memotongnya. Yang Liam lakukan hanya diam, hingga orang itu menyelesaikan semua hal yang ada di pikirannya.
“Awalnya, aku memang hanya berniat untuk mengerjaimu, menyuruh orang membawa wanita itu ke kamarmu dan membiarkan dia menggunakan caranya untuk berusaha menggodamu. Rencana itu langsung dijalankan saat aku tahu kamu ada meeting di hotel hari ini. Seperti kebiasaanmu yang selalu langsung membersihkan diri setelah bertemu dengan banyak orang, aku hafal kamu akan menempati kamar yang biasa kamu tempati di sini.”
Zian tidak merasa perlu repot-repot atau berbasa-basi menyuruh sepupunya duduk, biarkan saja orang itu tetap berdiri di sana, mendengarkan ocehannya yang akan sangat panjang lebar demi kebaikan sepupunya sendiri. Zian hanya ingin membuktikan, seberapa berengsek pun dirinya, kalau menyangkut keponakannya Zian juga peduli.
“Tapi saat menunggu kabar dari kejutanku itu dan pulang ke rumah, aku justru bertemu Kei yang sedang sedih. Bisa ditebak siapa penyebab kesedihannya di sini, kan? Karena jelas-jelas dia menyinggungmu yang sudah tidak menemuinya seminggu terakhir.”
“Dia hanya sedang mencari perhatian,” kilah Liam, teringat telepon Kei yang mengatakan hal-hal tidak masuk akal untuk menarik perhatiannya.
“Itu karena kamu memang tidak menaruh perhatian padanya! Kalau kamu memperhatikannya selayaknya ayah yang mengambil dua peran, Kei pasti tidak akan seperti itu. Akuilah kalau kamu tidak bisa merawat Kei sendiri, itu mengapa kamu memang sebaiknya mulai mencari pasangan!” seru Zian gemas.
Liam mengembuskan napas pelan, mengeluarkan posisi kedua tangan yang semula ada di saku celana. Tanpa mengatakan apa pun, pria itu memutuskan berbalik, meninggalkan ruangan yang dirasa hanya akan menambah beban pikirannya dengan hal-hal tidak perlu. Seperti yang sudah Zian utarakan sejak dirinya masuk tempat itu.
“Melarikan diri lagi, huh? Mau sampai kapan kamu melakukannya? Sampai Kei tahu dengan sendirinya dari mana asal-usul dan alasan dia lahir?”
“Zian!” Liam membentak dengan tubuhnya yang kembali menghadap pria itu, tidak senang dengan kalimat yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
“Apa?” tantang Zian tak takut, pria itu malah membalas tatapan tajam Liam dengan sama dinginnya. “Kalau kamu memang ingin Kei menjadi anak yang hanya bertugas mewarisi warisanmu, katakan padanya dari sekarang, jangan membuat dirinya mengharapkan kasih sayangmu sama seperti anak-anak lain pada umumnya. Bilang langsung padanya kalau kelahirannya memang hanya untuk meneruskan garis keturunan, maka dia akan tumbuh seperti robot—sama sepertimu,” ucap Zian mengakhiri pembicaraan mereka siang itu.
📽To be continue🎞