
Pertemuan dan Perpisahan.
“Kembar?” ulang Brian lagi, memastikan suaranya benar-benar didengar Jenny kali ini.
Jenny mengangguk, meski dia tahu itu tidak cukup untuk memuaskan Brian dan banyak pertanyaan di benaknya kini. Sekeluarnya Jenny dari ruang bersalin, hal pertama yang wanita itu lakukan adalah menyeret Brian ke ruangannya sebelum bertemu dengan Elma dan bayi-bayinya. Ruangan itu satu-satunya tempat aman untuk membicarakan hal ini di rumah sakit.
“Ta-tapi Tanubrata hanya mengharapkan satu anak, tidak maksudku, yang kami tunggu hanya satu. Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahukan pada Liam kalau ternyata anaknya kembar.”
Kedua bahu Jenny terangkat, “Karena memang itu yang kami harapkan.”
Dahi Brian berlipat bingung, “Maksud kamu ?”
“Iya, Brian. Itu yang harus kamu sampaikan—tidak kamu tidak perlu menyampaikan apa pun tentang ini. Biar Liam menganggap anaknya memang hanya satu, anak laki-laki yang akan meneruskan garis keturunan sebagai keluarga Tanubrata.”
Laki-laki di hadapannya itu mengusak wajah gusar. Situasi seperti ini sama sekali tidak masuk dalam perhitungan, lantas bagaimana dirinya harus melindungi Elma dan keluarganya untuk hal yang tidak masuk dalam perjanjian ini?
“Kamu tidak perlu melakukan hal apa pun, Brian. Kamu cukup bungkam, karena itu yang diinginkan Tante Arini dan Elma.”
“Mereka tahu?”
Jenny memutar bola matanya malas, tidak habis pikir Brian yang sering menyombongkan kepintarannya itu bisa mengeluarkan pertanyaan bodoh macam itu. “Tentu saja, kamu pikir ibu hamil bisa tidak mengetahui kondisi kehamilannya sendiri?”
“Tapi bukankah kita sepakat untuk tidak—”
“Mereka tahu janinnya ada 2 setelah beberapa kali USG, tapi bukan berarti mereka tahu jenis kelaminnya. Kalau soal itu memang benar-benar hanya aku yang tahu.” Jenny memotong, tahu jelas pertanyaan macam apa yang akan bergulir dari mulut Brian.
Brian menggigiti kuku ibu jarinya sendiri untuk beberapa waktu, terlihat serius dengan pikirannya sendiri sebelum kembali menaikkan pandangan menatap Jenny. “Kamu bilang tadi bayi laki-laki yang akan bersama Liam, apa itu berarti bayi satunya adalah perempuan?”
Jenny kembali mengangguk sebagai jawaban.
“Elma dan Tante Arini yang akan merawatnya?”
Satu anggukan Brian terima lagi.
__ADS_1
“Dan memisahkan kedua anak itu dari saudaranya sendiri?”
Jenny mendelik kesal, “Brian, dari awal bayi ini memang akan dipisahkan dari ibunya. Lantas apa bedanya dipisahkan dari saudara juga? Kita sama-sama kejam, tahu? Kamu hanya perlu diam, sebagaimana perjanjian itu dibuat sejak awal.”
Brian menghembuskan napas berat, mengusak wajahnya sekali lagi hingga menarik rambutnya sendiri seraya menunduk. Entah mengapa rasanya ini semakin tidak benar, hatinya benar-benar dibuat berat untuk menerima kenyataan yang harus dihadapi Elma dan anak-anaknya.
***
Rasanya Elma ingin sekali menangis, melihat dua malaikat kecilnya kini menggeliat di sisinya yang mendekap mereka erat. Tidak pernah terbayangkan dirinya memiliki perasaan sebahagia ini, melihat dua makhluk kecil yang selama sembilan bulan tumbuh di perutnya kini bisa dilihatnya secara nyata.
“Kamu tahu kita harus menyerahkan salah satunya, El. Segera,” ucap sang ibu lirih. Arini bisa mengerti perasaan Elma karena dirinya juga seorang ibu. Dan tatapan Elma saat ini jelas adalah tatapan bahwa dia tidak bersedia putra-putrinya dibawa kemana-mana.
Mereka sudah dipindah ke ruang perawatan, tentu saja ruang perawatan kelas satu yang tidak mengharuskan ibu dan anak itu terpisahkan ruang seperti yang biasa dilakukan.
“Sebentar saja, Bu. Aku ingin berada di dekat kedua anakku sebentar saja, sedikit lebih lama.” Mata Elma berkaca-kaca dan suaranya tercekat. Dirinya sadar betul bahwa hari pertemuan mereka juga akan menjadi hari perpisahan, dan itu yang membuat tangisnya tak bisa lagi terbendung.
Kecupan bertubi-tubi Elma berikan kepada putra-putrinya, terutama putranya yang sebentar lagi tidak akan pernah dia lihat lagi. Rasanya sakit, menyakitkan menerima kenyataan yang harus dia hadapi. Tapi dirinya jelas sadar, kehadiran keduanya adalah berkat perjanjian ini, perjanjian yang harus dia penuhi, terlebih ketika dirinya sudah menerima apa yang dia butuhkan lebih dari sembilan bulan lalu.
“Apa harus dibawa sekarang?” tanya Arini menyuarakan isi hati putrinya yang masih sibuk mengatur tangis, meski dirinya tidak terlihat lebih baik dari keadaan Elma, Arini hanya berpura-pura tegar. Karena tidak ada yang bisa melakukan peran itu selain dirinya.
Dan rasanya Jenny ingin sekali mengelak, mengatakan bahwa semuanya tak perlu buru-buru. Tapi jika semakin ditunda, perpisahan itu jelas akan terasa semakin berat. Entah itu Elma dan ibunya, atau untuk dirinya sendiri. Wanita itu tak mampu mengeluarkan suaranya untuk menjawab, hingga hanya sebuah anggukkan dan senyum tipis yang bisa dia berikan.
“Tolong beri aku waktu sebentar lagi, Kak. Tolong berikan Elma waktu sedikit lagi...” ucap Elma di sela tangisnya, semakin mendekap putra dalam pelukannya erat. “Izinkan aku menyusuinya sekali, tolong... Aku mohon...”
Jenny menarik napasnya dalam-dalam, mengalihkan pandangannya dari Elma agar air matanya tidak turut jatuh. Brian di sampingnya mencengkram pergelangan wanita itu kuat, hingga pandangan mereka bertemu. Perlahan Brian mengangguk, mengisyaratkan pada Jenny untuk membuat keputusannya.
“Kami tunggu di luar,” ucap Jenny cepat tanpa bisa menatap mereka terlalu lama. Setelahnya, wanita itu keluar. Brian tersenyum sedih, membalas tatapan Elma yang mengarah padanya, pria itu perlahan mengangguk sebelum menyusul Jenny keluar dari sana.
Hal yang pertama Brian lihat begitu menutup pintu ruangan itu adalah Jenny yang menangis tak jauh dari sana. Pada akhirnya sikap tegar yang diperlihatkan Jenny selama ini runtuh juga. Brian menghampiri wanita itu, menyentuh pundaknya hendak menenangkan, namun gerakan Jenny yang lebih dulu masuk dalam pelukannya membuat Brian terdiam, hingga suara wanita itu masuk ke telinganya.
“Aku merasa jadi orang paling jahat sekarang ... Aku yang sudah merusak kehidupan mereka. Aku, Bri... aku.”
Brian menggigit pipi bagian dalamnya, membalas rengkuhan Jenny dalam dekapannya. Pria itu tahu bahwa kata-kata tidak akan membuat Jenny merasa tenang dengan rasa bersalahnya, karena jika memang harus sibuk mencari siapa yang lebih jahat di sini, jelas keadaanlah yang mungkin patut disalahkan.
__ADS_1
Selama hampir satu jam, dua wanita itu menangis karena posisi mereka masing-masing. Jenny dengan rasa bersalahnya dan Elma yang dengan berat hati harus memenuhi kewajibannya menyerahkan bayi tampan itu pada keluarga yang lebih berhak merawatnya.
Air mata masih mengalir meski tanpa isakan seperti sebelumnya. Elma tersenyum miris ketika menyaksikan wajah jagoannya terlelap nyenyak setelah disusui. Arini menghampiri Elma yang melempar tatapan sendunya pada sang ibu, perlahan merelakan sosok mungil itu dari dekapannya sambil terus berbisik sebanyak mungkin, “Ibu mencintaimu, Sayang. Kamu tahu, kan? Ibu sangat mencintaimu... Maafkan Ibu, Ibu mencintaimu...”
Ketika si mungil itu benar-benar berpindah dari tangannya, Elma kembali tidak bisa membendung isak tangisnya. Gadis itu mendekap sosok lain di sisinya, menangis di sana meluapkan semua perasaan sakit dan pilu yang dia terima.
Sementara Arini membawa si kecil dalam gendongannya menjauhi sang ibu. Menepis air matanya terlebih dulu sebelum membuka pintu ruangan itu, dengan langkah berat dirinya menghampiri Jenny dan Brian, menyerahkan bayi dalam gendongannya itu perlahan pada sang dokter.
Arini tak mengatakan apa pun, tak mampu mengatakan apa pun selain sorot mata yang terlihat sama terlukanya, sama sakit dan sama pilunya. Meski begitu Arini memberikan senyum dan tepukan lembut di lengan atas wanita itu, seolah tanda bahwa bayi itu sepenuhnya kini telah diserahkan sesuai perjanjian yang mereka buat.
Jenny tidak mampu membendung kesedihannya yang seolah didobrak lagi, terutama saat Arini menyentuhnya dan berbalik dengan senyum pilu seperti itu. Brian menarik napas panjang, menaruh satu lengannya di pundak wanita itu, merangkulnya untuk memberikan kekuatan. Kejadian ini tidak akan pernah menjadi mudah, baik bagi Jenny atau pun dirinya. Pria itu menggerakan tubuhnya agar Jenny ikut beranjak. Lebih cepat semua ini berakhir, lebih baik untuk semuanya, pikir Brian.
Maka dari itu mereka melangkah dengan berat hati, menunduk berusaha menyembunyikan ekspresi dari orang-orang yang berpapasan dengan keduanya. Semakin jauh langkah mereka meninggalkan kamar rawat Elma, makin berat beban yang terasa mereka pikul, tapi mereka jelas tidak bisa mundur, mereka tidak punya kewenangan apa-apa.
Begitu melangkahkan kaki meninggalkan gedung utama rumah sakit melewati pintu samping, langkah Brian yang merangkul Jenny terhenti, membuat wanita itu juga melakukan hal yang sama. Jenny menoleh pada Brian, melihat pria itu mengarahkan pandangannya lurus ke depan. Refleks Jenny mengikuti arah pandang itu. Bibir Jenny semakin dibuat menutup rapat kala mendapati Nyonya Tanubrata berdiri di sana, tak jauh dari mobil mewahnya berhenti.
Bukan mereka yang lantas menghampiri, melainkan Larissa dengan sosok anggunnya yang tersenyum lembut ke arah Brian dan Jenny. Berhenti tepat beberapa langkah di depan Jenny, wanita itu menatapnya dengan sorot teduh, memberikan isyarat tanya pada sosok yang ada dalam dekapan Jenny saat itu.
Jenny tak lekas menjawab, meski mengerti arti tanya yang dilempar wanita itu padanya. Tahu bahwa dirinya tak boleh membuat orang menunggu, Jenny mengangguk pelan menciptakan senyum bahagia yang terukir dari wanita anggun yang berada di hadapannya.
“Liam mungkin akan marah jika tahu saya di sini. Tapi saya tidak akan melanggar perjanjiannya dengan mencari tahu identitas ibu dari cucu saya ini.” Larissa menunduk, menatap beberapa bingkisan yang dia bawa dengan tangannya sendiri. “Saya hanya ingin berterima kasih, sungguh.” Tatap Larissa baik pada Jenny atau Brian bergantian, lantas perlahan mengulurkan bingkisan dengan label-label mahal itu ke tangan Brian.
“Tolong sampaikan rasa terima kasih saya padanya, Bri... Tolong.” Jika wanita dengan kedudukan tinggi itu sudah menyampaikan kalimat tolong padanya, meski tidak ingin sekali pun Brian mau tidak mau menerima uluran benda-benda itu.
“Maaf Tante, saya tidak tahu dia akan bersedia menerima ini atau tidak. Tapi saya rasa dia akan menolaknya...”
Larissa sekali lagi tersenyum lembut, sama sekali tidak merasa tersinggung dengan ucapan Brian, “Tak apa, kamu bebas untuk mengurus barang-barang itu kalau dia menolaknya. Hanya saya minta, tolong tetap sampaikan terima kasih dan maaf saya. Dia wanita yang hebat, dia ibu yang hebat.”
Brian menunduk, mengangguk kaku. Senyum puas Larissa terukir jelas, hingga kini dia bisa mengalihkan pandangannya pada Jenny dan sosok mungil dalam dekapan wanita itu lagi.
“Kalian bisa menyerahkannya pada saya, tidak perlu mengantarkannya ke rumah kami.” Tangan Larissa terulur, dan untuk sesaat Jenny dibuat membeku dan ingin mempertahankan apa yang ada dalam pelukannya kini, hingga sekali lagi Brian di sampingnya menyadarkan wanita itu. Remasan Brian di pundak Jenny menjadi pertanda bahwa Jenny harus merelakan hal yang dari awal memang bukan kuasa mereka, bukan sesuatu yang bisa mereka pertahankan.
📽To be continue🎞
__ADS_1