Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 13


__ADS_3

“Ibu aku ingin susu cokelat, bukan susu putih.” Keluh gadis kecil bermata hitam jelaga dengan rambut kecokelatan alami yang dimilikinya.


Wanita yang dipanggil—Elma, sosok ibu muda yang baru menjejakkan usianya di angka 25 tahun itu menoleh setelah memastikan telur yang sedang di gorengnya aman dengan tingkat kematangan sempurna. “Susu cokelatnya habis Kiara, minum saja yang sudah Ibu buatkan, ya? Pulang kerja nanti akan Ibu belikan lagi susu cokelat kesukaanmu.”


Sang putri berusia lima tahun itu cemberut, tidak senang dengan apa yang didengarnya. Sementara ibunya masih sibuk berkutat dengan kesibukan di dapur untuk menyiapkan sarapan mereka, Kiara terdiam di kursinya, enggan menyentuh gelas susu berwarna putih yang sudah berada di hadapannya itu.


Satu wanita lain—Arini, yang sudah duduk di hadapan gadis mungil itu melirik dari kegiatannya menyendok nasi, tersenyum tipis menyadari tuan putri kesayangannya terlihat kehilangan selera karena susu cokelat yang diinginkannya tidak ada.


“Sejak kapan cucu nenek ini jadi suka pilih-pilih?” tanya sang nenek membuat pandangan Kiara yang semula tertunduk kini terarah padanya. Tidak, nada suara yang nenek gunakan bukan nada memarahi, melainkan murni pertanyaan agar pesan yang berusaha disampaikannya pada Kiara bisa diterima dengan baik.


“Bukannya Ibu dan Nenek selalu bilang, kalau Kiara harus bersyukur dengan apa pun yang Kiara punya, termasuk apa yang Kiara makan dan apa yang Kiara minum. Kiara sendiri kan yang bilang, kemarin teman sekelas Kia ada yang cerita kalau dia nggak pernah minum susu sebelum berangkat sekolah, makanya Kia kasih susu kotak yang dibekali Ibu untuk teman Kia itu. Bukannya begitu?” Sebelah alis Nenek terangkat, meminta konfirmasi pada gadis yang perlahan kembali menundukkan pandangannya. Senyum menyejukkan tak lepas dari raut wajah lembut itu.


Tak memerlukan waktu lama, gadis mungil itu perlahan menganggukkan kepalanya dengan raut sesal. “Maaf ... Kiara akan minum susunya sampai habis,” ucap gadis mungil itu meraih gelas susunya, menenggelamkan hampir sebagian wajahnya di mug besar itu.


Sang ibu yang akhirnya selesai berkutat di dapur menghampiri meja makan dengan kotak bekal dan tempat minum di tangan, tak lupa dengan senyum bangga yang menghiasi wajahnya karena dirinya tentu mendengar percakapan itu.


“Ibu janji, pulang kerja nanti Ibu akan belikan yang banyakkk ... untuk Kiara. Dan terima kasih untuk bersabar pagi ini,” ujarnya mengusap sayang kepala gadis kecil itu.


Kiara yang akhirnya meletakkan mug besarnya kembali ke atas meja mengangguk, mengucapkan terima kasihnya dengan cara yang manis.


“Nah sekarang ayo habiskan sarapannya, supaya Kia dan Ibu sama-sama tidak terlambat hari ini.” Tanpa banyak bantahan, putrinya segera mengambil sendok di samping, menyantap sarapan yang disediakan sang nenek dengan lahap.


***

__ADS_1


Sudah hampir pukul 11, Elma sedang menjalankan tugasnya sebagai receptionist di salah satu hotel ternama di kota asalnya. Sejak memutuskan pulang kembali ke kotanya lima tahun lalu, Elma memang memulai kembali hidupnya dari awal. Entah itu dalam mengurus Kiara, maupun pendidikannya yang dia tata untuk menyesuaikan hidupnya yang baru.


Elma tidak meneruskan pendidikan ke jenjang yang memakan waktu banyak, bagaimanapun dirinya telah menjadi seorang ibu, tentu saja status itu berpengaruh banyak pada waktunya yang harus dia bagi antara mengurus si putri kecil, bekerja, dan mengejar pendidikan.


Elma tahu dirinya tidak bisa terus menerus memakai ijazah SMA-nya untuk mencari pekerjaan, itu kenapa dia mengambil jurusan yang tidak memakan waktu lama serta paling mudah dia lewati. Tidak lupa dengan peluang besar yang memungkinkannya cepat mendapat pekerjaan di kotanya yang merupakan kota wisata, dan pilihannya jatuh pada perhotelan. Sempat memulai dengan bekerja di hotel sederhana, setelah memiliki pengalaman yang mumpuni Elma akhirnya bisa bekerja di hotel mewah bintang lima sekelas anak perusahaan Tanu Grup. Sudah setahun Elma bekerja di sana, gaji yang Elma terima menurutnya lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga kecilnya.


Ponsel di saku rok Elma bergetar tepat setelah dirinya menyambut tamu dan mengantarnya berlalu dengan senyum. Wanita itu melirik rekan di sampingnya yang tengah berkutat dengan layar PC di depannya, beralih pada lobi hotel yang terlihat lumayan lengang, hanya ada beberapa tamu yang hilir-mudik tapi bukan untuk reservasi atau menuju meja receptionist.


“Sa, aku boleh izin ke belakang dulu nggak? Anakku telepon nih.” Elma meminta izin pada rekannya. Sashi yang menoleh dan melihat layar ponsel Elma berkedip-kedip dengan nama sang putri di layar lantas mengangguk dengan senyum.


“Ya udah sana, tapi jangan lama-lama ya.”


Begitu memperoleh izinnya, Elma segera berlalu dari meja receptionist. Menyusuri lobi besar hotel hingga dirinya mulai memasuki lorong yang menuju ke bagian belakang bangunan. Beberapa kali getar ponselnya mati karena Elma terlalu lama dan belum juga menjawab panggilan, tapi tak lama ponsel itu kembali bergetar dengan id pemanggil yang sama.


Elma baru berani menjawab panggilan itu ketika dirinya memang telah berada di kawasan yang hanya boleh dilalui oleh staff-staff hotel termasuk dirinya. Beberapa pekerja yang berpapasan dengannya menyapa dengan senyum, dan dibalas oleh Elma dengan gesture yang sama.


“Ibu, aku boleh pergi ke taman hiburan dengan Om? Om mengajakku pergi begitu pulang sekolah, dan aku benar-benar ingin pergi dengannya, Bu ... Boleh ya?” rengek putri kecilnya dari sambungan telepon.


“Taman hiburan? Maksud Kiara Om Aidan, kan?”


“Iya, Bu ... Om Aidan, memang siapa lagi? Ya, Bu? Boleh ya?” bujuk putrinya lagi.


Aidan yang Kiara maksud sebenarnya adalah tetangga di samping rumahnya, yang mana juga adalah adik dari Jenny yang membantu persalinan Kiara dulu. Mereka benar-benar sudah seperti keluarga mengingat silsilah keluarga mereka yang memang dekat sejak dulu.

__ADS_1


Saat Elma memutuskan untuk pergi dari ibukota dan memulai hidupnya yang baru, satu-satunya yang terpikirkan olehnya memang hanya kembali ke kampung halaman mereka, dan beruntung Aidan masih tinggal di kota itu dan mencarikan tempat tinggal yang sesuai untuknya, Ibu, dan Kiara. Jenny sendiri yang mewanti-wanti agar Aidan berada di dekat keluarga kecil itu, agar Jenny bisa memantau dan memastikan keluarga kecil itu tetap hidup dengan layak dan aman katanya—meski sebenarnya Aidan tidak terlalu bisa diandalkan seperti ekspektasi kakaknya.


“Sayang ... Dengarkan ibu. Taman hiburan itu ramai, dan Ibu takut terjadi sesuatu pada Kiara kalau Kiara pergi tanpa Ibu. Jadi ke taman hiburannya nanti saja ya? Begitu Ibu libur, Ibu pasti ajak Kiara ke sana.”


“Ibu sudah mengatakannya berkali-kali soal taman hiburan, tapi buktinya sampai sekarang Kiara belum juga pergi.”


Elma tertohok, dirinya tidak mengelak tentang hal itu karena apa yang Kiara katakan memang benar. Tapi tentu dia juga memiliki alasan mengapa belum bisa menepati janjinya sampai saat ini. Wanita itu sudah berniat kembali bicara meski apa yang akan dia katakan hanya akan terdengar seperti sebuah alasan, tapi niat itu justru urung ketika matanya menangkap pergerakan mencurigakan di dekat lift kargo.


Seorang wanita berpakaian perawat dimasukkan paksa oleh seorang pria berjas hitam ke dalam lift kargo dengan kedua tangan terikat dan mulut dibungkam. Melihat itu, cepat-cepat Elma berbisik di teleponnya untuk menghentikan tindakan mencurigakan itu.


“Sayang, Ibu telepon lagi nanti. Pokoknya kamu jangan pergi ke taman hiburan dengan Om Aidan tanpa seizin Ibu, ya? Ibu mencintaimu.” Selesai dengan panggilannya, Elma berlari menuju pos petugas keamanan. Ia tahu dirinya tidak bisa menghentikan tindakan kriminal itu sendiri, maka dibanding mengambil risiko dengan mempertaruhkan dirinya tanpa hasil, Elma memilih untuk meminta bantuan pihak yang lebih berwenang.


Wanita itu tiba di pos keamanan dengan napas terengah. Dilihatnya beberapa petugas yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing atau hanya sekadar mengobrol dengan rekan di dekatnya. Elma menghampiri sosok yang lebih dikenalnya dibanding yang lain, menghadap pria itu yang langsung menatap tanya.


“Pak Amar, bisa tolong lihat CCTV yang mengarah ke lift kargo? Atau CCTV di dalam lift kargo-nya sekarang.”


“Waduh, memangnya ada apa, Neng Elma? Kok kelihatannya panik begitu?”


“Ayo, Pak ... Lihat aja dulu, ya?” mohon Elma dengan wajah memelasnya, melihat itu Pak Amar yang semula memunggungi layar komputernya, segera mencari data CCTV yang Elma maksud, memasangnya di layar besar monitor pengawas utama di depan mereka dan menyaksikan peristiwa yang membuat beberapa petugas keamanan di sana menajamkan mata masing-masing.


Pria berjas hitam dan wanita berpakaian perawat yang tadi Elma lihat, tampak di layar besar, terlihat turun dari lift yang membuat Pak Amar tanpa diminta segera menggantinya ke sambungan CCTV yang tersebar di lorong agar bisa mengikuti pergerakan keduanya.


Kening Elma dibuat mengernyit, menatap tak percaya saat pria berjas hitam itu bisa dengan mudah masuk ke sebuah kamar yang hanya bisa diakses khusus oleh orang-orang tertentu di hotel tersebut.

__ADS_1


Presiden Suit 2012. Di sanalah sosok keduanya lantas menghilang dari layar.


📽To be continue🎞


__ADS_2