
Mengurai Permasalahan. Keesokan harinya, Pak Alex sudah menunggu Elma sejak wanita itu menginjakkan kaki di lobi. Dengan wajah dinginnya, pria di pertengahan empat puluhan itu mengisyaratkan Elma untuk ikut dengannya sebelum jam kerja dimulai. Sejak itu perasaan Elma sudah dibuat tak enak bukan main.
“Departemen Personalia menyuruhmu pergi ke Departemen Keuangan sekarang. Selesaikan semuanya hari ini, dan kamu tidak perlu datang lagi mulai besok.” Kalimat itu bahkan sudah diucapkan Alex sebelum Elma menutup pintu ruangannya rapat, dan meski Elma sudah mempersiapkan kemungkinan terburuknya, tapi ternyata kenyataan memang selalu bisa terasa lebih mengerikan.
“Tapi, Pak. Saya melakukannya benar-benar untuk menjaga nama baik hotel. Saya tidak bermaksud memfitnah atau menuduh Pak Liam yang bukan-bukan. Saya—”
“Kamu masih tidak memahami kesalahanmu yang sebenarnya Elma?” tanya Alex dengan mata mendelik tajam.
Elma meringis, dirinya tahu apa pun yang dia katakan sekarang akan terdengar salah dan seperti sebuah alasan. Tapi Elma melakukannya tak lain untuk mempertahankan pekerjaannya, dan itu semua jelas karena Elma memiliki tanggungan hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan ada Ibu dan Kiara yang juga hanya mengandalkannya.
“Pertama, kesalahanmu adalah tidak mengenal wajah Pak Liam. Saya tahu beliau memang jarang terlihat di sini, tapi setiap karyawan di sini sudah melalui training dan diingatkan untuk selalu mengenal petinggi hotel dan para direksinya. Dan kamu malah melupakannya? Yang benar saja!” geram Alex mengeram tak habis pikir.
“Kedua, kamu secara sepihak bergerak seenaknya tanpa koordinasi dengan saya atau atasan yang lain untuk menindak tamu yang mana berada di kelas paling atas pengunjung hotel ini. Kalau pun dalam kasus ini bukan Pak Liam yang terlibat, kamu tidak seharusnya menerobos President Suit Room seenak kepalamu. Kamu seharusnya berkoordinasi dulu dengan kami!”
Alex menarik napasnya yang sudah terdengar lelah, padahal ini masih pagi. Apalagi penyebabnya kalau bukan emosinya yang sudah dipancing naik? Melihat Elma saat di lobi tadi saja entah mengapa sudah menyebabkan kepalanya pening karena mengingat kejadian kemarin, apalagi ini dia harus menjelaskan lagi letak salah wanita itu agar bawahannya itu mengerti.
“Ketiga yang paling fatal, kamu membawa-bawa polisi dalam hal ini. Bukan hanya satu aturan yang kamu langgar, tapi lebih dari itu!” bentak Alex frustrasi, terlihat sekali dari perangainya kalau Alex juga mendapat tekanan dari atasannya yang lain dan itu karena perbuatan Elma.
__ADS_1
“Saya tidak ingin dengar apa pun lagi, cepat pergi dan urus pengunduran dirimu.”
“Tapi, Pak. Saya akan melakukan apa pun! Apa pun asal jangan dipecat. Izinkan saya meminta maaf pada Pak Zian, juga Pak Liam secara pribadi. Saya mohon ... berikan saya kesempatan.”
Tidak, Elma tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Apa pun akan dia lakukan, apa pun asal kesalahannya kali ini termaafkan dan dirinya bisa bekerja seperti biasa lagi. Ini memang salahnya dan Elma tidak keberatan kalau harus memohon maaf pada pemilik hotel ini.
“Minta maaf katamu? Kamu pikir mereka akan memaafkanmu begitu saja?”
“Biarkan saya mencobanya terlebih dulu, Pak. Biarkan saya menyampaikan maaf saya secara langsung. Saya mohon...” Entah sudah berapa kali Elma mengulang kalimatnya, tapi dirinya tidak peduli, apa yang Elma inginkan dan butuhkan adalah pekerjaannya kembali.
“Saya mohon, Pak Alex. Beri saya kesempatan... Saya janji akan mempergunakan kesempatan yang Bapak berikan sebaik mungkin. Saya janji tidak akan mengecewakan Bapak lagi. Saya mohon, Pak.” Hanya seorang ibu yang bisa melakukan apa pun untuk kebaikan anaknya, apa pun agar anaknya terjamin dan baik-baik saja, dan itu yang kini Elma mengerti setelah menjadi seorang ibu. Meski harus memohon, meski harus menekan egonya serendah mungkin, Elma merasa bisa melakukannya kalau itu untuk keluarga.
Pak Alex terlihat mengetuk-ngetuk permukaan mejanya, mempertimbangkan. Kendati Alex terlihat galak dan keras, sebenarnya pria itu atasan yang baik dan peduli. Kalau tidak, mana mungkin dirinya akan sibuk-sibuk menjelaskan di mana letak salah Elma, yang ada Elma akan dipecat begitu kembali dari kantor polisi kemarin. Nyatanya? Alex mempertimbangkannya lebih dulu, menunggu keputusan dari sang pemilik mengenai nasib Elma—yang akhirnya seperti perkiraannya, akan menjadi seperti ini.
“Terserah, saya tidak mau tahu. Kalau masalah ini tidak selesai hari ini juga, seperti yang saya bilang tadi. Mulai besok kamu tidak perlu datang lagi,” putus Alex akhirnya.
Pria itu memang tidak mengiakan atau melarang Elma untuk meminta maaf pada keluarga Tanubrata secarang langsung, tapi kalimatnya jelas membebaskan Elma untuk berusaha mempertahankan posisinya, terserah dengan cara apa, termasuk meminta maaf pada dua tuan muda yang terlibat itu.
__ADS_1
Elma membungkuk berkali-kali sebagai ucapan terima kasih. Setidaknya dirinya diberikan kesempatan. Sisanya? Biar Tuhan yang menilai usaha Elma layak untuk dipertahankan atau tidak.
Menarik napas dalam-dalam, Elma berusaha menenangkan dirinya yang kini gugup. Semua ketegangannya itu dikarenakan dirinya sudah berada di depan pintu ruangan direktur utama hotel tempatnya bekerja—Pak Zian. Meski dirinya harus menyampaikan permintaan maaf utamanya pada Liam, tapi yang tahu di mana dirinya bisa bertemu dengan pria itu hanya Zian seorang.
Elma tidak tahu Presdir itu berada di mana karena selama bekerja di hotel, Elma jelas jarang—bahkan hampir tidak pernah bertemu dengan Liam, itu juga yang membuatnya tidak mengenali pemilik perusahaan hingga kejadian seperti ini bisa terjadi.
Baiklah, Elma akui itu salahnya, tapi dalam keadaan panik mengenai keselamatan seseorang yang berjenis kelamin sama dengan dirinya tentu kejadian itu membuatnya merasa harus bertindak cepat—ah, tidak, tidak... kalau terus mengatakan tindakannya itu benar, meski dalam hati, rasanya benar-benar terdengar seperti sebuah alasan yang orang amatir lontarkan. Jadi biarkan pikiran itu berhenti sampai di sana, ini adalah waktunya Elma meminta maaf, bukan malah membenarkan tindakannya atas dasar alasan apa pun.
“Sedang apa di sini?”
Gerakan Elma yang baru saja akan mengetuk pintu di hadapannya terhenti. Tangannya bertahan di udara saat kepalanya menoleh ke arah suara, dan wanita itu dibuat terkejut karena keberadaan Zian di sana. Elma buru-buru menurunkan tangannya, berbalik menghadap Zian sepenuhnya dan membungkuk hormat.
“Se-selamat pagi, Pak Zian.”
“Pagi. Sedang apa di depan ruangan saya?” tanya Zian lagi. Meski bagi Liam pria ini adalah biang masalah dan sering tidak menunjukkan keprofesionalitasannya dalam bekerja, toh Zian tetap mempertahankan wibawanya di depan para karyawan hotel, itu jelas karena dirinya tidak ingin diremehkan oleh siapa pun—kecuali Liam atau keluarga yang tahu watak aslinya.
📽To be continue🎞
__ADS_1