Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 8


__ADS_3

Fakta Menyakitkan.


Ibu merasa ada yang aneh dengan putrinya beberapa hari belakangan ini, terutama setelah operasi transplantasinya selesai dilakukan—ah, tidak, mungkin tepatnya keanehan itu memang sudah terjadi jauh sebelumnya. Tepatnya saat Elma mengatakan bahwa dirinya sudah membayar lunas biaya transplantasi yang dibutuhkan.


Sudah tiga kali pagi ini Elma berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Sejak pulang dari rumah sakit kemarin sore, anak itu juga tidak bisa mencium bau yang katanya tercium sangat menyengat di hidungnya, padahal menurut Ibu tidak ada bau menyengat yang Elma bicarakan. Yang pasti semua gelagat yang Ibu temui itulah yang kemudian membuatnya menyadari keanehan yang terjadi pada putrinya belakangan ini.


“Kamu yakin baik-baik saja, El?” tanya Arini begitu melihat putrinya keluar dari kamar mandi sambil mengelap bibir yang basah. Wajahnya terlihat pucat, lelah dan tak bertenaga.


Iya, Bu. Aku baik, mungkin cuma masuk angin.


Dahi Ibu berkerut, selalu jawaban yang sama yang diterimanya setiap kali bertanya. Dan kali ini, setelah sekian kali hanya mengangguk mengerti dan mempercayai gadis itu, Ibu ingin mendapat jawaban lebih pasti dan detail dari putrinya.


“Kamu sudah bilang begitu sejak empat hari lalu saat Ibu masih dirawat di rumah sakit. Dan Ibu rasa, ini bukan lagi masalah masuk angin. Bilang pada Ibu kamu kenapa, El? Kamu sadar nggak kalau belakangan ini kamu kelihatan aneh sekali?”


Elma yang memilih duduk di sofa kecil dalam unit rumah susun yang mereka tempati bersandar lemah dengan mata terpejam. Kepalanya sudah pusing dengan mual yang dialami, Elma tidak ingin paginya juga diisi oleh omelan Ibu yang tetap membahas hal itu-itu saja. Dirinya sedang amat sensitif saat ini, dan Ibu yang mengomel jelas bukan pilihan bagus untuk dihadapi.


“Elma baik-baik saja, Bu ... Mungkin terlalu lelah karena mengambil banyak lemburan pekerjaan belakangan ini.”


Raut wajah sang ibu dari yang semula keras karena penasaran berubah menjadi sendu dengan penuh rasa bersalah yang tersirat jelas. Ibu melangkah mendekati putrinya, duduk di samping Elma yang masih memejamkan mata entah karena masih mengantuk atau karena hal lain yang membuatnya memilih terpejam.


“Maaf...” ucap ibu sambil mengelus kepala Elma lembut, merasa bersalah karena sudah membuat putrinya bekerja sekeras ini.


Dahi Elma berkerut, membuka matanya perlahan dan membalas tatapan Ibu yang mengarah padanya. Bukan tak nyaman karena sentuhan Ibu, tentu saja jelas bukan karena hal itu, karena sentuhan sayang ibunya jelas adalah hal terbaik di dunia, Elma hanya merasa terganggu dengan permintaan maaf yang didengarnya.

__ADS_1


“Maaf untuk apa? Kalau ini masih soal biaya rumah sakit, bisa aku tidak mendengarnya dulu, Bu?”


“Tapi kamu kerja keras sampai lembur setiap hari karena itu, kan? Karena kamu harus membayar utang yang sedemikian besar itu...”


Rasanya ingin sekali Elma mengatakan bahwa ucapannya tadi soal lembur jelas hanya alasan belaka. Selama ini, ketika Ibu tahu dirinya lembur, sebenarnya Elma sedang mengistirahatkan diri dari apa pun yang bisa membuat hormon kehamilannya menyeruak ke permukaan, terutama untuk menghindar dari bau-bauan rumah sakit.


Elma juga tak ingin mendengar ibunya membahas mengenai biaya rumah sakit terus menerus, gadis itu rasanya ingin mengatakan bahwa dirinya tidak berutang pada siapa pun, bahwa uang yang dikeluarkan untuk biaya rumah sakit adalah jelas karena anak yang dikandungnya saat ini. Tapi kalau sampai Elma mengatakannya tiba-tiba, jelas bukan hanya ginjal ibunya yang mungkin kembali sakit, tapi seluruh organ tubuh wanita yang dicintainya itu—yang tentu saja langsung Elma sangkal dengan berdoa pada Tuhan semoga itu jangan pernah terjadi sekali pun sang ibu mengetahuinya nanti.


“Bu—” Belum sempat Elma menanggapi apa yang Ibu katakan, pintu rumahnya tiba-tiba diketuk, sepagi ini dengan entah siapa yang berada di luar sana.


Elma sudah akan bangkit berdiri untuk melihat siapa tamu yang mengganggunya pagi-pagi ketika sang ibu justru menghentikannya dan berisyarat bahwa Ibu yang akan membukakan pintu. Elma menurut, karena perutnya juga masih bertarung dan bergejolak dengan rasa mual, apalagi dengan entah tetangga sebelah mana yang sedang memasak sesuatu, aromanya menyebalkan, membuat dia makin pusing dan mual bukan main.


Mata Elma baru akan kembali tertutup ketika suara yang dikenalnya justru membuat dirinya terjaga sepenuhnya. Pun menyingkirkan seluruh pusing dan mual yang seketika hilang karena justru kini adrenalinnya yang dibuat terpacu.


“Pengacara?”


Elma segera berlari menuju pintu rumahnya, dengan mata melebar melihat Brian berdiri di sana tersenyum ramah setelah menyapa ibunya santai. Elma langsung mengambil tempat di antara kedua orang itu, menghalangi Ibu agar tidak bisa menatap Brian langsung—meski sebenarnya itu hal yang percuma, karena postur Brian yang tinggi sementara Elma yang mungil tentu tidak bisa meng-cover pria itu.


“Ah... Ada apa ya, Kak? Ngapain Kakak ke sini? Kita kan bisa ketemu nanti di tempat kerja aja.” Wajah Elma sudah berusaha sedemikian rupa untuk menunjukkan isyarat bahwa sebaiknya Brian segera pergi dari rumahnya dan membicarakan apa yang ingin Brian sampaikan itu nanti saat mereka sedang berdua saja. Tapi seakan tidak mengerti, atau lebih tepatnya tidak menghiraukan isyarat itu, Brian tetap mengarahkan pandangannya pada Arini, masih tersenyum ramah seperti pertama kali mereka bertemu beberapa menit lalu.


“Saya ke sini untuk memberitahukan kalian untuk segera pindah ke apartemen yang telah kami sewakan untuk sembilan bulan ke depan. Bos besar bilang ini untuk kebaikan bayi yang dikandung Elma, karena jika terus menaiki tangga menuju lantai lima di rusun ini hanya untuk pulang ke rumah, Elma bisa terlalu lelah dan membahayakan kandungannya.”


Dunianya terasa berhenti, Brian tidak membiarkannya menjelaskan dengan kalimat yang lebih baik pada sang ibu, dan seenaknya saja menyampaikan itu seolah semuanya adalah hal yang wajar dan bisa diterima dengan akal sehat.

__ADS_1


Elma berbalik menghadap sang ibu dengan raut wajah sedemikian rupa. Cemas, khawatir, merasa bersalah, putus asa, semuanya bercampur menjadi satu. “Ibu, aku bisa—”


“Bayi?” seru Ibu mengulang.


Saat melihat hal itu barulah Brian menyadari, bahwa langkahnya kali ini baru saja melewati batas. Dia benar-benar tidak tahu kalau Elma belum memberitahu ibunya tentang hal ini, dan agaknya Brian juga menyadari bahwa dirinya kurang peka dengan isyarat yang sudah berusaha Elma berikan tadi, karena pria itu justru baru bisa menyadari setelah semuanya sudah terlanjur terucap dari bibirnya.


“Apa maksudnya Elma? Apa maksudnya itu? Kamu hamil?” sang ibu menekan nada bicaranya, tidak lantas berteriak-teriak seperti apa yang biasa Elma lihat di drama, tapi tetap saja reaksi macam itu pun menakutkan untuk Elma sendiri.


“Bu, Elma bisa jelaskan...”


Mendengar jawaban Elma tanpa sanggahan di dalamnya saja sudah menghancurkan sedemikian rupa hati Ibu yang sejak tadi berusaha dia pertahankan demi sebuah sangkalan. Tapi lihatlah putrinya, Elma bahkan terlihat sesulit itu untuk mengatakan “tidak” hanya untuk pertanyaannya yang sederhana.


“Jadi benar kamu hamil?” tanya sang ibu dengan sepasang mata yang sudah berkaca-kaca.


“Bu—”


“Bagaimana bisa? Kenapa? Siapa yang menghamili kamu? Apa pria ini orangnya? Atau Bos besar yang pria ini sebut tadi? Itu kenapa kamu membutuhkan pengacara?” Pertanyaan itu Elma terima beruntun, membuat kepalanya yang pusing dan perut serta mulutnya yang mual mulai kembali pada fungsinya seperti tadi. Tapi dalam kondisi seperti ini tentu saja Elma diharuskan menahannya.


“Ini tidak seperti yang ibu pikirkan, Elma tidak berhubungan dengan siapa pun hingga mengandung bayi—”


“Lalu bagaimana kamu bisa hamil kalau tidak berhubungan Elma! Jangan membodohi Ibu dengan hal semacam ini. Kamu yang Ibu percaya, kamu yang Ibu harapkan menjadi sosok yang bisa membanggakan suatu saat nanti nyatanya sudah melakukan perbuatan yang membuat Ibu malu seperti ini? Jawab ibu! Siapa ayah dari bayi itu?!” Pada akhirnya air mata Ibu jatuh, terluka dan tanpa sadar juga telah melukai Elma karena ucapannya.


📽To be continue🎞

__ADS_1


__ADS_2