
Ruang interogasi itu ribut karena terlalu banyak yang bicara. Mereka saling menuduh, membantah, melemparkan makian, juga hampir baku hantam padahal tepat di depan mereka para polisi justru terlihat duduk manis untuk mendengarkan keterangan masing-masing.
Tapi bukan, gambaran itu bukan yang kini tengah dihadapi Elma dan Liam, karena dari beberapa orang petugas hotel yang datang untuk menjadi saksi, mereka justru belum mengatakan satu kata pun. Liam yang menginginkan dan meminta sesi interogasinya dimulai saat pengacaranya sudah datang,
“Hei, Tuan. Kita tidak bisa terus menunggu, Anda tahu kami juga banyak pekerjaan kan? Tentu saja Tuan memiliki hak untuk memakai pengacara, tapi mari ceritakan lebih dulu kronologinya sambil menunggu,” bujuk petugas polisi yang duduk di depan Liam, keduanya dipisahkan oleh meja dan monitor komputer yang mengisi meja itu.
Namun Liam tetap diam, duduk tenang seolah dirinya tidak mendengar kalimat apa pun. Polisi di depannya terlihat sebal, melirik para saksi dan juga korban yang sama bungkamnya. Mengembuskan napas kasar, polisi itu mengetuk-ngetuk mejanya menggunakan pulpen yang semula dia pakai untuk menggaruk kepalanya. “Hei, setidaknya beritahu kami kenapa Anda menculik perawat itu?!” tanya petugas itu gemas.
“Saya tidak menculiknya!” balas Liam tak kalah sengit, agaknya dituduh melakukan tindakan yang sesungguhnya tidak dia lakukan, bahkan tidak ia ketahui dari mana asal-usulnya membuat pria itu kehilangan sabar. Sebab bukan hanya sekali pertanyaan itu keluar dari mulut sang petugas, melainkan sudah berkali-kali karena sejak tadi Liam memilih diam. “Saya bahkan tidak mengenal siapa wanita ini,” dengus Liam melirik wanita berpakaian perawat itu malas. Terlihat sekali bahwa dirinya tidak tertarik dengan sosok yang duduk di sampingnya itu.
“Be-benar, Pak. Bukan Tuan ini kok yang menculik saya—maksud saya, saya tidak pernah diculik, ini hanya salah paham.” Perawat itu angkat bicara, membenarkan ucapan Liam.
Elma yang mendengarnya mengernyit, keterangan yang perawat itu katakan jelas tidak seperti apa yang dia lihat. Itu bukan fakta yang dijumpainya di lapangan. Akal sehat Elma terus menolak menerima pernyataan itu, dilihat dari sisi mana pun wanita itu jelas diculik.
“Mbak, Mbak nggak usah takut sama orang ini. Bilang saja kalau memang Mbak diculik!”
Bukannya berterimakasih karena dibela, wanita itu justru mendelik menatap Elma, seolah menyiratkan bahwa Elma sebaiknya diam dibanding banyak mulut. “Kamu itu nggak tahu apa-apa, lebih baik diam saja dan biarkan kami pergi dari tempat ini. Saya tidak diculik! Dan Tuan ini sama sekali bukan penculik seperti yang kamu tuduhkan!”
__ADS_1
“Mbak, Mbak percaya sama saya. Mbak akan baik-baik aja, jadi nggak usah sungkan dan bilang yang sebenarnya, Mbak! Kita jangan buat dia bebas dari tuduhan! Nanti kejahatan serupa malah semakin merajalela, kita sebagai wanita harus berani melawan, Mbak!” seru Elma dari belakang wanita itu, menunjuk Liam tanpa tedeng aling-aling.
Jari yang mengarah padanya tentu membuat Liam naik pitam. Selama ini tidak ada yang berani bersikap kasar macam itu padanya, dan jelas menunjukkan jari pada seseorang bukan suatu jenis sopan-santun yang bisa diterima.
“Apa kamu bilang? Jangan bicara seolah-olah saya penjahat yang sudah berkali-kali melakukan hal memalukan macam ini!”
“Tentu saja Anda bisa kapan saja mengulangi hal seperti ini, kan? Hanya karena Anda banyak uang dan bisa menyewa President Suit untuk tempat penculikan, lantas Anda berharap lepas dari kasus ini? Saya tidak akan membiarkannya, itu kenapa saya akan mempertaruhkan diri saya agar Mbak ini mau bicara yang sebenarnya!”
Liam berdiri dari duduknya, berkacak pinggang menjulang di hadapan Elma. Kali ini pria itu sudah tidak bisa lagi menahan diri, sebab semakin dibiarkan tuduhan yang melayang padanya semakin menjadi. “Kamu kebanyakan nonton drama atau apa sih? Sampai imajinasinya bisa sejauh itu, hah?”
“Apa?” Elma ikut mendelik tidak terima.
Kedua ujung alis Elma bertemu, raut wajahnya semakin mengeras dibuatnya, “Anda pikir saya takut? Ini cara Anda untuk mengancam dan menutupi bahwa Anda memang sudah melakukan kejahatan, kan?!”
“KAMU—”
“BERHENTI!” Perdebatan kedua orang itu terpaksa dihentikan oleh petugas yang menggebrak meja kerjanya. Bukannya mendapat keterangan yang jelas, kini dua belah pihak malah sibuk berselisih. Dan sedikit membingungkan sebenarnya, di saat seharusnya korban yang ngotot membela diri, kali ini saksilah yang justru melakukan hal itu. “Yang saya butuhkan itu keterangan kalian, bukan malah melempar tuduhan dan ancaman macam ini!”
__ADS_1
Hening kembali menyelimuti begitu pihak dari kepolisian kembali bicara, dan Liam lebih memilih kembali dalam mode bungkamnya dibanding harus adu mulut tidak bermutu seperti yang dirinya lakukan barusan. Baiklah, Liam hilang sabar karena orang yang dinantinya tidak juga datang, itu kenapa dia jadi hilang kendali.
Derap langkah kaki beberapa orang yang terdengar tergesa memasuki ruangan itu, menarik perhatian mereka yang berkumpul di sana. Dan benar saja, sepertinya gerombolan pembela yang Liam hubungi sudah tiba untuk segera membebaskannya dari masalah konyol ini.
Dari sisi Elma, wanita itu tersenyum saat manager hotel tempatnya bekerja datang bersamaan dengan gerombolan itu. Pak Alex pasti datang untuk mendukungnya, begitu pikir Elma—sebelum tujuan Pak Alex yang sesungguhnya malah terarah dan jatuh pada pelaku penculikan yang Elma yakini.
“Bapak tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Atau ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman?” tanya Alex terlihat panik. Wajahnya benar-benar terlihat menyedihkan, seolah tengah memikul beban berat di sana.
“Kamu—seharusnya kamu memastikan karyawanmu fokus bekerja di posisinya! Bukan malah mengurusi masalah orang lain dan menuduh yang bukan-bukan!”
Manager hotel itu menunduk berkali-kali seraya meminta maaf, membuat kening Elma semakin berkerut. Kini perasaannya tidak selepas tadi, apa yang dia saksikan dengan matanya seolah mengabarkan sesuatu yang buruk akan segera datang menghampirinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa dibawa ke sini sih?” Kali ini bukan hanya manager hotel tempatnya bekerja yang berbicara akrab dengan pelaku kejahatan itu—bahkan direktur hotelnya, Pak Zian, terlihat heran bahwa pria penculik itu bisa ada di tempat seperti ini.
“Tanya karyawanmu! Dan wanita ini—” Liam melirik wanita berpakaian perawat di sampingnya malas, “Kenapa dia bisa ada di kamarku dengan pakaian tidak senonoh dan tangan diikat seperti itu sampai aku dituduh melakukan penculikan konyol yang tidak masuk akal.”
Zian menatap siapa-siapa saja yang dimaksud sepupunya itu. Pria itu lantas merenung, mencerna situasi dan berhasil menangkap satu kesimpulan yang pada akhirnya meledakkan tawanya. Memancing wajah bingung di mata orang-orang yang tengah menatapnya kini, dan itu malah membuatnya tertawa semakin keras, terbahak puas memukul-mukul pundak manager hotel yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
📽To be continue🎞