Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 3


__ADS_3

Menjadi Ibu Pengganti.


Gila, dirinya pasti sudah benar-benar gila, pikir Jenny. Dia benar-benar menawarkan hal itu pada Elma? Gadis 19 tahun yang masih polos dan harusnya hidup bahagia menikmati masa remajanya? Sembilan belas tahun, Jenny! Sekali lagi, sembilan belas tahun!


Rasanya tidak cukup bagi Jenny untuk memaki dirinya hanya sekali, puluhan atau bahkan ratusan kali pun rasanya tidak cukup. Dia sendiri yang menyebut dan memposisikan diri sebagai seorang Kakak, lantas dengan pikiran sempit malah menjerumuskan adiknya untuk melakukan tindakan ilegal macam itu?


“Mengandung bayi orang lain?” tanya Elma dengan suara tercekat.


Jenny masih ingat jelas bagaimana Elma bertanya mengenai maksud ucapannya saat itu. Bodohnya mulut Jenny tetap saja lebih dulu bekerja dan menjelaskan dengan lancar perihal ibu pengganti yang dia maksud.


“Trauma?”


Jenny mengangguk. “Laki-laki ini tidak bisa menyentuh wanita, lebih tepatnya memang tidak mau. Satu-satunya wanita yang bisa dia sentuh hanya ibunya, tidak lebih dari itu.”


Tangis Elma memang sudah sepenuhnya berhenti, dan itu malah membuat Jenny lebih gugup karena ini berarti penjelasannya benar-benar dinantikan gadis itu.


“Itu artinya orang ini tidak bisa berhubungan dengan wanita mana pun, Elma. Bukan hanya tidak bisa, melainkan dia terlalu congkak hingga merasa tidak perlu dan tidak mau. Tapi di sisi lain, laki-laki ini dituntut untuk segera memiliki keturunan, agar garis keturunan keluarganya tidak putus dan memiliki ahli waris atau pemimpin pengganti di masa depan. Benar-benar ahli waris yang berdasarkan hubungan darah, bukan adopsi atau semacamnya. Itu kenapa—”


“Itu kenapa laki-laki ini menginginkan ibu pengganti?”


Tepat, seperti yang Jenny tahu. Elma memang gadis yang pintar.


“Tapi apa nantinya tidak akan ada masalah? Dari apa yang Kakak ceritakan, orang ini jelas orang berada. Publik tentu akan tahu dan bertanya-tanya dari mana anak itu berasal, atau juga keluarganya yang mempertanyakan bagaimana anak itu bisa hadir tanpa hubungan yang sewajarnya.”


“Mereka sudah tahu. Satu keluarga itu sudah tahu bahkan kakeknya sendiri yang menyarankan cara ini. Mereka tidak peduli bagaimana caranya, karena yang mereka inginkan adalah anak biologis untuk mewarisi kerajaan bisnis mereka. Soal bagaimana mereka memperkenalkannya pada publik—percayalah, Elma, orang-orang kaya raya ini selalu punya cara untuk berkelit dari sorotan dan memiliki banyak alasan yang bisa menguatkan alibi mereka.”


“Termasuk menyembunyikan identitas si ibu bayi?”


Lagi-lagi Jenny bersyukur karena Elma pintar dan bisa dengan mudah menyerap informasi. Tapi kadang kepintaran Elma yang di atas rata-rata itu membuatnya kewalahan karena itu berarti dirinya akan menerima banyak pertanyaan macam ini atau bahkan lebih sulit lagi. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur, Elma sudah tahu salah satu rahasia terbesarnya dan Jenny tidak mungkin hanya berhenti sampai di sini.


“Sebenarnya ada alasan khusus kenapa baik ibu pengganti atau pemohon tidak diperkenankan tahu identitas masing-masing. Mereka ingin menghindari konflik yang mungkin terjadi di masa depan, itu kenapa ketika ibu pengganti bersedia menerima perjanjiannya pun hanya pengacara mereka yang akan tahu, juga orang-orang di bidang medis yang turut serta dalam hal ini. Selebihnya, tidak ada. Semuanya harus ditutup rapat-rapat.”


Elma mengerjap, lalu mengangguk kaku dan meninggalkan tatapannya dari Jenny. Kembali menunduk dengan tangan yang saling bertaut di pangkuan. Gadis itu mungkin berpikir bahwa cerita yang Jenny sampaikan barusan adalah cara wanita itu untuk menghiburnya agar berhenti menangis, berhasil memang, tapi sepertinya Elma belum menyadari maksud sebenarnya di balik cerita yang Jenny sampaikan.

__ADS_1


Jenny menelan ludah, meneruskan ceritanya. “Dan biaya yang keluarga ini keluarkan untuk menemukan ibu pengganti demi mengandung anaknya, bisa—bahkan melebihi angka yang kamu butuhkan untuk operasi transplantasi ginjal Tante Arini.”


Detik itu juga Elma dibuat terdiam. Melempar tatapannya kembali pada Jenny yang sama sekali tidak terlihat seperti sedang bercanda atau berbohong.


“Gila, gila, gila! Aku pasti benar-benar gila! Bagaimana kalau Tante Arini tahu kalau aku baru saja menjerumuskan anaknya?” Maki Jenny sambil mengamit helaian rambutnya dengan emosi, melempar kepalanya ke sandaran kursi dengan desah yang tidak habis. Dia merasa bersalah, tapi juga tidak di saat bersamaan. Pikirannya benar-benar kacau, terombang-ambing tidak karuan.


Apalagi setelah Elma benar-benar datang ke flatnya malam itu, dengan keputusasaannya menerima tawaran itu tanpa banyak pertimbangan. Meski sudah lewat beberapa hari sejak kejadian itu, Jenny tetap dibuat gelisah, apalagi saat dirinya tengah sendiri seperti ini. Jenny takut, takut Elma menyesali keputusannya ini di masa depan.


Masih dalam kekalutannya, pintu ruang dokter diketuk pelan, mengalihkan fokus Jenny yang masih berkubang dengan rasa bersalah namun juga tidak memiliki solusi lain untuk mengatasi masalah yang menimpa Elma dan ibunya itu.


Wajah Rudi—sekretaris Liam yang pertama kali Jenny lihat. Diam-diam, gadis itu menduga bahwa saat ini Liam pasti juga berada di sekitarnya. Dan benar saja, begitu Rudi menggeser tubuhnya sedikit, Jenny bisa melihat sosok pria itu berdiri tak jauh.


Liam masuk ke ruangan Jenny setelah Rudi pamit undur diri dari sana dan kembali ke mobil. Kadang Jenny tidak mengerti sebenarnya, kenapa Rudi harus repot-repot mengekori Liam kalau akhirnya tetap menunggu di mobil?


“Kenapa wajahmu kusut begitu? Sama sekali tidak enak dilihat, tahu?”


“Kamu pikir ini gara-gara siapa, berengsek?” dengus Jenny kesal, menatap pria itu dari kursinya sebelum berdiri.


“Apa? Memangnya aku melakukan sesuatu yang salah?” Dengan ekspresi polosnya Liam menyahut, seolah benar-benar tidak tahu karena siapa Jenny menderita saat ini.


Kening Liam berkerut, bingung dengan pertanyaan yang diterimanya. “Mau apa kamu bilang? Aku kan sudah bilang, kamu lupa? Kamu pikir aku ke sini untuk apa kalau bukan karena ada janji melakukan pemeriksaan denganmu?”


Ah, karena terlalu memikirkan Elma, Jenny jadi lupa dengan hal satu ini. “Mau langsung sekarang juga?”


“Yakin ruangan yang akan aku gunakan sudah disterilkan seperti permintaanku?” tanya Liam balik.


Jenny mendengus malas, “Aye-aye, Sir. Kami sudah melakukan dan mempersiapkan apa pun yang diminta Tuan muda.”


Liam terlihat mengangguk puas, terpancar sekali aura kekuasaan yang menguar dari sosoknya, dan itu jelas mengintimidasi. Bukan sesuatu yang dapat dihindari jika mendapati aura macam itu dari sosok Liam, karena pria itu memang sudah memilikinya bahkan sebelum dia lahir. Tidak heran kalau aura bangsawan melekat padanya dan tidak bisa lepas.


“Kalau begitu lakukan saja secepatnya. Ke mana kita harus pergi?”


Jenny sudah melangkah untuk berjalan lebih dulu, namun wanita itu tiba-tiba teringat sesuatu yang membuat kakinya berhenti dan berbalik kembali untuk berhadapan dengan Liam. “Sebelum itu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”

__ADS_1


***


“Kamu yakin dia orang yang tepat?” Suara Liam setelah hening mengisi mereka untuk beberapa waktu.


Jenny mendengus, melirik pria itu sinis dengan matanya yang menyipit. “Kamu pikir aku akan menyebutkan seseorang yang akan kamu tolak mentah-mentah. Tentu saja aku sudah lebih dulu mempertimbangkannya!”


Liam mengangguk setuju, mengubah posisi berdiri yang semula dengan kedua tangan berada di saku menjadi melipatnya di depan dada. “Kamu benar, tapi kamu bilang tidak akan mudah menemukan calon ibu dengan semua kriteria yang aku inginkan, butuh berbulan-bulan bahkan bisa jadi bertahun-tahun, tapi tiba-tiba kamu mengatakan ini. Tentu saja aku jadi meragukannya, kan?”


“Aku sendiri bahkan tidak sadar kalau orang itu ada di dekatku...” gumam Jenny, jelas untuk dirinya sendiri.


“Maaf? Barusan kamu bilang apa?”


Dengan cepat Jenny menggeleng, benar-benar berharap Liam tidak mendengarnya alih-alih hanya memastikan bahwa dia tidak salah dengar. “Intinya wanita ini sangat membutuhkan uang, dan aku menemukannya. Sesuai kriteriamu, pintar, cantik, dan memiliki kepribadian yang baik.”


“Kamu bisa menilai orang secepat itu? Bagaimana kalau dia seorang penipu? Memalsukan dokumen untuk mengelabuimu. Lagi pula, untuk apa gadis sembilan belas tahun membutuhkan uang sebanyak itu? Apa menurutmu itu tidak mencurigakan?”


Memejamkan mata sejenak, Jenny berusaha menyabarkan diri sebelum membuka kelopaknya lagi dan menatap Liam tajam tepat di manik pria itu. “Tuan Liam Tanubrata, ingat dengan ketentuan privasi? Kamu sendiri yang menginginkan bahwa tidak ada yang boleh kalian ketahui selain usia, hasil cek kesehatan, angka tes IQ, dan tes kepribadian agar di masa depan tidak ada masalah yang timbul. Dan kamu mempercayakan padaku untuk apa pun ketentuan yang berada di luar hal itu. Sekali lagi, aku tidak akan mengajukan orang yang tidak memenuhi standarmu, tapi kalau kamu tidak percaya—”


Liam mengangkat tangan, menyerah. Pria itu sedikit bergidik dengan tatapan serius yang dia terima dari Jenny. Wanita itu benar-benar menyeramkan kalau dalam mode seperti ini, memang tidak seharusnya dia meragukan apa pun yang sudah dia percayakan pada wanita itu.


“Intinya bukan urusanmu untuk apa gadis seusianya membutuhkan uang sebesar itu. Tidak semua manusia yang hidup di bumi ini terlahir dengan sendok emas di mulutnya seperti keluargamu, Liam. Ada banyak di antara mereka yang harus mengorbankan apa yang mereka miliki untuk sekitarnya, dan kamu tidak akan pernah mengerti tentang hal semacam itu,” sambung Jenny dengan suara dinginnya.


“Dan kamu berdoa saja agar hasil pemeriksaan kesehatannya sesuai dengan ketentuan bahwa dirinya siap untuk dibuahi, karena kalau hasilnya menandakan sebaliknya, mungkin kamu akan benar-benar menunggu selama bertahun-tahun untuk menemukan wanita sepertinya lagi.”


Kalimat itu jelas membuat kerutan di dahi Liam muncul. “Jadi dia belum melakukan pemeriksaan? Lalu kenapa kamu sudah mengatakan ini padaku? Seharusnya—”


“Sudah kubilang, Liam. Aku memberikanmu kesempatan untuk berdoa. Berdoalah agar gadis itu benar-benar bisa menjadi ibu dari anakmu. Karena kalau itu benar-benar terjadi, tandanya ibu dari anakmu adalah orang yang luar biasa,”—sebab dia sudah mengorbankan dirinya untuk orang yang dia cintai, lanjut Jenny dalam hati.


Setelah mengatakannya Jenny melangkah melewati pria itu, membuka pintu ruangannya dan menunggu Liam keluar dari sana sebelum menutupnya kembali.


Liam masih dengan benaknya yang mencerna semua kalimat Jenny, mencoba memahami meski pada akhirnya dia menyerah untuk itu.


Benar kata Jenny, orang-orang yang selalu berada di atas seperti Liam dan keluarganya, tidak akan pernah bisa tahu apa yang dilakukan dan terjadi pada orang-orang yang berada di bawah mereka.

__ADS_1


📽To be continue🎞


__ADS_2