Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 19


__ADS_3

Sanksi yang Harus Diterima.


“Kamu tahu kesalahan fatal macam apa yang sudah kamu lakukan?” bentak manager hotel—Pak Alex yang memanggil Elma datang ke ruangannya setelah mereka kembali dari kantor polisi.


Mata Elma terpejam sejenak kala bentakan demi bentakan di arahkan padanya, menunduk dalam-dalam setiap kali kata kasar keluar dari bibir atasannya.


“Saya hanya ingin menjaga nama baik hotel, sungguh tidak lebih dari itu.”


“Tapi yang baru saja kamu lakukan justru lebih buruk dibanding rumor tentang hotel ini kalau penculikan itu memang benar-benar terjadi, Elma! Yang baru saja kamu tuduh itu Presdir! Mr. Liam Tanubrata pemilik saham terbesar dari bisnis Tanu Grup yang mana hotel ini hanya sebagian kecilnya! Kamu masih belum sadar juga kesalahanmu, hah?” Pak Alex benar-benar terlihat murka, terlihat dari gesture-nya yang sejak tadi mondar-mandir di ruangan, tak bisa diam meski dirinya sedang mengomeli Elma yang sejak tadi berdiri di tempat yang sama.


“Kalau pun kamu benar-benar memang ingin menjaga nama baik atau reputasi hotel ini, bukankah sebaiknya kamu mendiskusikannya dengan saya lebih dulu? Bukankah seharusnya kamu berkoordinasi dengan atasanmu? Bukan malah bergerak sendiri hingga terjadi hal fatal seperti ini. Karyawan mana yang tidak tahu pemilik hotelnya sendiri? Bukankah seharusnya kamu mengingat jelas wajah Presdir kita?! Bukankah—” kepala Alex rasanya berdenyut nyeri hingga tak mampu melanjutkan ucapannya sendiri.


Ini bukan hanya lagi tentang Elma, tapi dirinya dan jabatannya juga dipertaruhkan di sini. Dia adalah manager lobi, dan tempat spesifik posisi Elma adalah resepsionis lobi. Hal itu sudah berarti otomatis posisinya juga dipertaruhkan di sini, karena kesalahan Elma juga jelas menjadi kesalahannya, apalagi ini menyangkut privasi pemilik hotel mereka.


“Lagi pula, harusnya kamu menutup mata untuk hal-hal seperti itu Elma, kehidupan kita terlalu jauh untuk mengerti hidup yang mereka jalani. Kalau di sudut pandangmu itu terlihat tidak wajar, belum tentu di mata mereka itu menjadi hal yang sama. Terlebih jika sudah menyangkut masalah privasi, masalah ranjang, kita jelas tidak boleh mencampurinya!” tambah Alex dengan emosi yang meluap-luap.


Elma semakin menunduk di tempatnya. Sebesar apa pun keinginannya untuk membela diri, dalam hal ini dia seolah sudah kehilangan hak untuk melakukan hal itu karena apa yang telah dia tuduhkan pada Liam jelas jatuh pada orang yang salah.


Setelah sekian kali meluapkan amarahnya dengan suara tinggi, Alex akhirnya dibuat lelah dan duduk di kursinya. Sebelah tangan menopang kepala, seolah semua beban beratnya kini berada di sana. “Saya tidak tahu hukuman macam apa yang akan mereka berikan padamu.” Diam-diam Alex tersenyum miris. “Jangankan nasibmu, saya sendiri bahkan tidak tahu nasib macam apa yang akan menghampiri saya setelah kejadian ini.”


Embusan napas Alex kembali keluar bersamaan dengan kepalanya yang terangkat, mengarah lurus pada Elma yang berada beberapa meter di hadapannya. “Berdoalah agar kita berdua—atau salah satu di antara kita tidak didepak dari sini. Karena kalau sampai itu terjadi, habislah kita,” gumam Alex namun masih cukup bisa Elma dengar.

__ADS_1


Elma ingin sekali mengucapkan maafnya lagi dan lagi, tapi dirinya tahu bahwa kata itu tidak akan membuat Alex puas dan memaafkannya. Alih-alih memaafkan, Alex justru bisa lebih murka dari ini kalau Elma sampai berani menginterupsinya.


“Keluarlah, kembali ke posisimu. Ini masih jam kerja.” Perintah Alex dingin.


Kalimat itu dipatuhi Elma yang langsung memutar balik tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu. Berjalan masih dengan kepala menunduk dan pikiran yang berkecamuk di kepala. Hatinya tak kalah gundah, khawatir kalau kemungkinan terburuk yang atasannya sampaikan akan benar-benar terjadi pada hidupnya. Kalau sampai itu terjadi, bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan Kiara? Ibu? Dan kehidupan mereka yang Elma pikir sudah mulai stabil?


***


Elma pulang ke rumah dalam keadaan lesu. Meski begitu dirinya tidak melupakan janjinya pada sang putri untuk membelikan susu coklat kesukaannya. Dan respons Kiara yang menyambutnya dengan wajah semringah serta teriakan sayang memanggil sang ibu melenyapkan semua kerisauan yang semula tengah dia bawa.


Mungkin, saat berada di rumah memang lebih baik untuknya menyingkirkan masalah di tempat kerja terlebih dulu, karena ekspresinya seperti apa pun bisa membuat baik ibunya mau pun Kiara khawatir jika melihatnya.


“Hai, Putri Ibu. Hari ini setelah pulang sekolah ngapain aja?” Elma menyambut Kiara dalam pelukan, mengecup pipi gadis itu dan berjongkok di depannya, meletakkan tas belanja yang ia bawa. Tak peduli jika mereka memang masih di luar rumah, baginya memberikan perhatian sepenuhnya pada sang anak jelas lebih penting.


“It’s okay... Kiara tidak marah, malah Kiara yang harusnya minta maaf pada Ibu. Maaf karena sudah mengganggu jam kerja, dan maaf karena terlalu banyak meminta.”


Elma menyentuh pipi putrinya, mengusap lembut pipi tembam itu. “Hei, tidak apa-apa, Sayang. Ibu yang minta maaf karena belum bisa menepati janji.”


Bocah perempuan itu melangkah mendekat, meraih leher ibunya dan memeluk wanita itu erat. Tidak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya, tapi gesture yang ditunjukkan Kiara jelas adalah sebuah permintaan maaf yang tulus. Agaknya, dirinya benar-benar menyesal karena sempat kesal pada ibunya tadi, hingga Om Aidan menyadarkan dengan kata-katanya.


Senyum Elma terukir mendapat perlakuan manis dari putrinya. Ibu muda itu pada akhirnya mengangkat tubuh Kiara, karena gadis kecil itu terlihat enggan melepas pelukannya. Meski tubuh Kiara sudah mulai berat, apalagi dia masih harus mengangkat kantong belanja yang tadi dibawanya, Elma tidak bisa merasa keberatan, bagaimana bisa kalau putrinya itu sudah manja dan mengandalkannya begini.

__ADS_1


“Pertanyaan Ibu tadi belum Kia jawab, lho. Hari ini Kiara ngapain aja? Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?”


Keduanya masuk ke dalam rumah dengan gerungan panjang Kiara yang sepertinya sedang berpikir, kejadian macam apa yang sebaiknya dia ceritakan? Harinya memang sempat kelabu karena penolakan ibunya dari permintaannya untuk pergi ke taman hiburan, tapi setelah diajak Om Aidan pergi bermain, Kiara pikir harinya tidak seburuk itu.


“Eung... Tadi Kia diajak Om main!”


“Oh ya? Main apa?” tanya Elma yang kini sudah berada di ruang makan yang menyatu dengan dapur, berusaha meletakkan kantong belanjaannya di atas meja.


“Itu, Bu. Om—”


“Ahhhh... Kia!” teriakan seorang pria yang tidak lain adalah Aidan menghentikan kalimat yang hendak Kiara ucapkan, pria itu entah dari mana munculnya kini berada di hadapan kedua ibu dan anak itu.


Elma dan Kiara menatap dengan raut bingung, yang dibalas oleh Aidan dengan senyum canggung. “Eum... tadi Kia mau buat PR, kan? Ayo kita selesaikan PR-nya sebelum waktu makan malam. Sama Om dulu ya? Biar Ibu bisa istirahat sebentar dan memasak dengan tenang.”


Tahu-tahu Kiara sudah diambil alih dari gendongan Elma. Meski bingung kenapa tetangganya itu tiba-tiba muncul, toh Elma bersyukur juga. Dia takut kalau berinteraksi terlalu lama dengan Kiara pikirannya justru akan kemana-mana, mengingat kembali kejadian di hotel dan kantor polisi yang kini bisa saja berdampak pada keluarganya, terutama Kiara—Elma takut ekspresi sedihnya lama-lama terbaca, dan itu semakin membuatnya gundah.


“Lho, kamu sudah pulang?” Arini muncul dari pintu belakang, sepertinya wanita separuh baya itu baru saja menghabiskan waktunya dengan sayuran yang ditanamnya di halaman kecil belakang rumah.


“Iya, Bu. Apa hari ini semuanya baik-baik saja?” pertanyaan rutin yang selalu Elma tanyakan setiap kali pulang kerja.


“Semuanya baik-baik saja, Sayang. Kiara juga terlihat senang karena bisa bermain dengan omnya. Jadi bersihkan dirimu, setelahnya bantu Ibu menyiapkan makan malam.”

__ADS_1


Elma mengangguk, menuruti perintah sang ibu dengan bergerak langsung beranjak dari sana.


📽To be continue🎞


__ADS_2