Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 15


__ADS_3

Kening Liam benar-benar dibuat berkerut tidak paham. Ekspresinya sudah terpasang dingin bukan main saat mendapati kamar yang dihuninya sudah berisi orang-orang yang entah berasal dari mana. “Apa-apaan kalian? Kenapa kalian bisa masuk ke kamar ini seenaknya?”


“D-dia! Pasti orang ini yang menculik perawat itu dan membawanya ke sini Pak!” bukannya menjawab pertanyaan Liam, Elma yang masih berusaha menjaga agar pandangannya tidak jatuh pada Liam menunjuk pria itu.


“Culik? Apa dan siapa yang kalian maksud menculik siapa?”


Tangan Elma kembali menjulang untuk menunjuk sosok wanita yang masih berada di ranjang besar itu, menciptakan kerut dan urat mencuat yang muncul di dahi Liam karena teritorinya sudah diusik entah oleh siapa.


“Mohon maaf, Tuan. Kami akan menjelaskan kronologinya, tapi apa tidak sebaiknya Tuan memakai pakaian terlebih dulu?” ucap salah seorang petugas kepolisian menengahi, merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang dilihatnya. Terlalu vulgar untuk ukuran orang yang akan diintrogasi, pikirnya.


Bagaimanapun sebagai sesama pria dirinya menyadari, pria tampan yang saat ini terduga melakukan penculikan itu tidak mengenakan apa pun di balik selembar handuk yang dikenakannya saat ini, dan itu amat sangat mengganggu ketika ada dua wanita di ruangan ini.


Liam mendengus, mencoba meredakan emosinya yang sudah ada di ubun-ubun. Dia berbalik, menyambar jas yang sudah diantarkan room service mungkin saat dirinya masih berada di kamar mandi tadi. Bersamaan dengan langkahnya, pria itu menggeleng, tidak habis pikir tentang siapa yang sudah membuatnya terlibat dalam situasi konyol macam ini.


***


Aidan menghampiri Kiara yang terduduk dengan wajah merengut diundakan tangga masuk ke rumahnya. Gadis mungil itu benar-benar terlihat tidak puas setelah sambungan teleponnya diputus sepihak oleh sang ibu. Kini masalahnya bukan hanya lagi mengenai pergi ke taman hiburan, melainkan karena sang ibu memutuskan panggilan telepon mereka bahkan sebelum Kiara menyelesaikan bujukannya.

__ADS_1


“Keponakan Om masih sedih karena tidak diizinkan pergi ke taman hiburan, hm?” Aidan duduk di samping gadis kecil itu, menggunakan gesture yang sama dengan Kiara saat ini—menopang dagu dengan sebelah tangan. Menurut Aidan, menyamakan persepsi dengan anak kecil bisa membuat koneksi mereka terjalin lebih dalam, dan itu yang dilakukan pria yang posisinya lebih tua tiga tahun dari Elma—ibu gadis kecil itu.


Kiara melirik omnya yang menatap dengan ekspresi jenaka, tidak ingin terlihat terlalu gembira atau sedih karena takut Kiara berpikir bahwa dirinya justru tidak berempati pada gadis kecil itu. Hanya sedikit senyum, agar Kiara bisa dengan leluasa bercerita.


“Apa Kia terlalu menuntut banyak sama Ibu, Om? Apa Kiara jadi anak yang terlalu banyak maunya? Ibu pasti nggak suka punya anak seperti Kiara, makanya—”


“Hei, hei, hei ... Kenapa keponakan cantik Om malah bilang seperti itu? Apa yang Kia bilang sama sekali nggak benar. Ibu tentu saja sayang sekali pada Kia. Buktinya Ibu kerja keras untuk kalian, beli semua makanan yang Kia suka, pakaian bagus dan cantik untuk Kia, dan sesekali ajak Kia jalan-jalan juga.” Aidan tahu anak itu akan membantah dengan kata ‘tapi’-nya, itu mengapa sebelum Kiara sempat membuka mulut Aidan buru-buru menambahkan.


“Jangan hanya karena satu hal seperti ini Kia lalu berpikir yang macam-macam soal sayangnya Ibu sama Kia. Itu namanya Kia nggak adil, kalau Kia bisa melihat satu penolakan Ibu dan menganggap Ibu nggak sayang Kia, bagaimana dengan seribu—sejuta hal yang pernah Ibu beri dan turuti untuk Kia? Apa itu nggak bisa dijadikan bukti kalau sayangnya Ibu sama Kiara itu besar sekali sampai nggak terhingga?”


Bibir bawah Kiara semakin maju karena perkataan omnya tak bisa lagi dia bantah. Sementara Aidan cukup puas, dia tahu Kiara anak yang cerdas—lebih dari itu bahkan, kondisi keluarganya yang terlihat berbeda dari keluarga lain pun hanya membuatnya bertanya sekali. Setelahnya meski ada beberapa temannya yang bertanya atau mengejek, Kiara bisa dengan cepat dan tegas menjelaskan bahwa kondisi keluarganya spesial.


Aidan tertawa, mengusak rambut gadis kecil itu yang terlihat amat menggemaskan saat ini. “Kenapa Kiara minta maaf sama Om? Yang harusnya menerima ucapan itu tentu saja Ibu, kan? Tapi menurut Om sih, lebih bagus kalau Kiara bilang ‘sayang sekali sama Ibu’ dibanding harus minta maaf. Bagaimana?”


Setelah hilang untuk beberapa saat, akhirnya senyum Kiara kembali di bibir mungilnya. Aidan ikut tersenyum lebar, lalu berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya ke hadapan Kiara. “Kalau Ibu nggak izinin Kiara sama Om ke taman hiburan, gimana kalau Kiara ikut Om ke tempat yang asyik? Tempat ini juga bisa mengasah kemampuan mengingat Kiara yang super jenius itu lho. Mau nggak?”


Mata gadis kecilnya mengerjap pelan, terlihat bingung namun tak tersampaikan lewat kata. Kiara lebih memilih menyambut uluran tangan itu.

__ADS_1


***


Sepuluh menit kemudian Liam keluar dengan setelannya yang perlente, dilihat dari sisi mana pun pria itu tidak memiliki aura sebagai terduga dari kasus yang dituduhkan. Semua pria yang ada di sana pun mengakui kalau sosoknya terlalu disayangkan untuk menjadi tersangka kasus penculikan—kalau memang kejadiannya seperti yang mereka sangka.


Tapi tentu, petugas keamanan maupun polisi jelas tidak boleh terkecoh hanya karena penampilan seseorang, karena banyak penjahat di luar sana yang benar-benar berbanding terbalik antara apa yang terlihat dan apa yang telah mereka lakukan.


“Baiklah, sebaiknya kita bicarakan ini di kantor polisi. Agar semuanya jelas dan terselesaikan dengan bijaksana,” ucap kepala petugas kepolisian yang hadir di sana, dan ucapannya itu tentu kembali menyulut Liam yang semula sudah sedikit tenang.


“Tadi Bapak tidak bilang seperti itu. Kalian harusnya menjelaskan dulu pada saya apa yang terjadi. Sudah asal masuk ke ruang privasi orang lain, sekarang mau membawa saya ke kantor polisi seenaknya?”


Beberapa petugas yang ada di sana berpandangan, bagaimana pun seharusnya mereka memang melakukan hal itu alih-alih langsung membawa orang yang terlihat tidak merasa bersalah sama sekali ini ke kantor polisi, tapi melihat bahwa bukti yang dilakukan pelapor cukup kuat juga dengan rekaman CCTV yang sudah dikonfirmasi beberapa rekan mereka yang memeriksa di bawah sana, membuat para petugas berseragam itu melempar isyarat satu sama lain. Dengan aba-aba yang mereka terima, dua orang petugas kemudian menghampiri Liam, tanpa basa-basi menangkap lengan pria itu dan menyeretnya untuk bergerak dari tempatnya berdiri.


“Lepas! Jangan sentuh saya! Lepas saya bilang! Cepat lepas atau saya akan tuntut kalian semua!” murka Liam menggertak dua petugas yang menggiringnya sambil berusaha membebaskan diri.


Para petugas itu bergeming, melaksanakan tugas mereka tanpa bisa diintervensi. Perlahan para petugas polisi itu meninggalkan ruangan itu yang seketika menjadi hening, ada beberapa yang bertahan di sana, dan kepala petugas kepolisian yang memantau situasi meminta beberapa di antaranya untuk membawa wanita berseragam perawat itu untuk ikut dengan mereka ke kantor polisi.


Selesai dengan sosok yang disinyalir adalah korban dalam peristiwa ini, kepala petugas kepolisian itu menatap Elma dan Pak Amar yang masih bersamanya di sana. “Anda berdua juga ikut kami sebagai saksi, berikan keterangannya di kantor agar kami bisa menulis laporannya dengan jelas,” pinta pria di usia berkisar pertengahan empat puluhan itu.

__ADS_1


📽To be continue🎞


__ADS_2