
Waktu yang Berlalu, 5 Tahun kemudian..
Dahi Liam berkerut tajam, menatap kondisi kamar Presidential Suite yang dimasukinya terlihat amat berantakan. Beberapa lembar pakaian tergeletak sembarang, mulai dari jas, kemeja, gaun wanita, celana hingga—argh, Liam tidak sudi melanjutkan mengabsen apa yang dilihatnya itu di dalam kepalanya. Pria itu semakin meringis, mengernyit jijik hingga matanya menangkap gundukan yang terbaring dan tertutup selimut tebal ranjang super besar dan super mewah yang ada di ruangan itu.
“Tarik dia dari tempat tidur, Rudi.” Perintah Liam pada sekretarisnya.
Kalau saja Rudi pegawai baru, sudah pasti pria itu akan sungkan, bagaimanapun yang dihadapinya adalah salah satu pewaris penting keluarga Tanubrata juga. Tapi percayalah, kejadian ini bukan satu dua kali terjadi, sudah teramat sering hingga tugas tambahan ini bukan sesuatu yang asing di sela tugas utamanya sebagai sekretaris Liam.
Rudi yang sudah berdiri di sisi tempat tidur dalam sekali hentakan menarik satu kaki pria yang masih tertidur dengan nyenyaknya hingga tersungkur ke lantai. Gerungan mengaduh menyusul ketika suara gedebuk terdengar cukup keras, namun tidak lebih dari itu, karena pria yang sudah terbaring di lantai itu hanya menggeliat sedikit sebelum meringkuk dan kembali menuju alam bawah sadarnya.
Suara gedebuk itu memancing wanita yang tidur di sampingnya terjaga. Melebarkan mata saat mendapati Liam dan Rudi di sana. Cepat-cepat wanita itu menyambar selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, terlihat panik menoleh kesana-kemari mencari sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya dari situasi itu.
Dengan baik hati, Rudi inisiatif menyerahkan satu jubah mandi yang diambilnya dari almari. Wanita itu menunduk malu, meski dirinya segera tersadar dan bergerak cepat mengenakan jubah itu di balik selimut. Setelah memastikan dirinya bisa beranjak tanpa perlu menjadi sorotan karena tubuh telanjangnya, wanita itu bergegas memunguti pakaiannya, berlari ke kamar mandi untuk segera musnah dari tempat itu sebelum dengan kasar diusir.
Sepeninggal wanita itu, Liam yang semula bungkam kembali memusatkan perhatian pada sosok yang teronggok di lantai. “Dalam sepuluh detik kamu tidak bangun, aku bujuk Kakek untuk kembali mengirimmu ke Alaska.”
Tak ada pergerakan, dan Liam dibuat memejamkan mata sejenak menahan sabar. “Zian,” geramnya penuh peringatan.
Akhirnya pria yang diajak bicara menggerakan sedikit tubuhnya, mengusak wajah di bagian atas lengan yang menjadi penumpu wajahnya dalam posisi tidur menyamping. “Biarkan aku tidur setengah jam lagi,” gerungnya dengan suara serak.
__ADS_1
“Sepuluh, sembilan—” Liam menghitung mundur.
“Tiga puluh menit...”
“Enam, lima—”
“Baiklah, baiklah... Lima belas menit bagaimana?”
“ZIAN!” bentak Liam kehilangan kesabaran, sepupunya yang satu ini selain biang onar juga benar-benar tukang menguji kesabaran orang. “Berapa kali aku harus bilang kalau kamu memang mau main dengan wanita-wanita itu, jangan di sini. Pergi ke motel atau apartemenmu sana! Kamu membuat tempat ini terlihat kotor dan murah tahu?!”
Setelah sekitar sepuluh menit berada di sana, pria tanpa balutan pakaian yang benar itu membuka mata sepenuhnya
“Tidak baik pagi-pagi sudah marah-marah seperti ini, Liam. Kamu akan cepat tua.” Zian mengusap wajahnya, mendongak saat Rudi sudah berdiri di depannya dengan satu jubah tidur yang diambilnya dari almari.
“Suruh mereka membereskan tempat ini dan buang semua benda yang ada di tempat ini begitu dia pergi, Rudi. Aku tidak mau ada satu benda pun yang sudah tersentuh wanita jalang yang si berengsek itu bawa tetap ada di sini, membawa sial saja,” gumam Liam seraya membalikkan tubuhnya, hendak pergi.
“Hei, sudah kubilang itu berlebihan, kan? Setiap aku tidur di sini kamu selalu melakukan hal yang sama. Kamu tidak tahu seberapa repotnya pegawaimu untuk melakukan semua yang kamu minta itu?”
Liam membalikkan tubuhnya dengan beberapa urat yang mencuat di dahi, terlihat kesal bukan main. “Kamu pikir ini karena siapa bodoh?! Makanya berhenti datang ke hotel untuk berbuat onar! Yang harusnya kamu lakukan di sini itu bekerja! Bukan malah memanjakan hasratmu pada wanita-wanita sembarangan itu!”
__ADS_1
Zian sudah akan membalas ucapan kakak sepupunya itu setelah memasang dengan benar jubah tidurnya, sebelum niatannya itu dihentikan oleh Liam yang kembali lebih dulu bersuara. “Sudahlah, percuma aku bicara denganmu. Bikin emosi saja.” Tatapan Liam beralih pada Rudi yang juga sadar akan tatapannya. “Lakukan seperti apa yang saya perintahkan, Rud. Jangan sampai ada yang tertinggal.”
Rudi membungkuk hormat, mengiakan sekaligus mengantar kepergian atasannya itu yang memilih menyingkir lebih dulu dari sana.
“Om-Om tua satu itu makin menjadi saja. Kamu tidak risih bekerja dengannya, Rud? Tidak mau bekerja untukku saja?” bujuk Zian begitu sepupunya pergi, membalikan tubuhnya untuk menghadap Rudi yang sudah sibuk menggulung selimut dan seprai yang berantakan. Anyway, meski Liam hanya berbeda 2 tahun dengan Zian, entah kenapa laki-laki itu senang sekali memanggil Liam sebagai ‘Om-Om’, mungkin karena Liam sudah memiliki anak berusia 5 tahun sementara dirinya masih lajang hingga itu yang menjadi bahan penilaiannya selain umur.
“Kebetulan sekretarisku baru aku pecat tiga hari lalu karena sudah menggodaku dan berakhir dengan aku tiduri. Mungkin kalau sekretarisku laki-laki sepertimu, akan lebih mudah untukku mengatur hasrat, jadi aku tidak perlu memecat mereka tiga bulan sekali.”
Kalau Liam ada di sana, Zian pasti sudah dilemparnya dengan bantal-guling sambil sibuk menggerutu, “Yang perlu dibenahi itu otak dan libidomu yang selalu dalam mode musim kawin. Bukan malah menyalahkan orang lain.”—kira-kira seperti itulah yang akan Liam katakan.
Di samping tempat tidur, Rudi yang sudah selesai melipat kain lebar itu dengan rapi, membalikan tubuhnya agar berhadapan dengan Zian. “Saya akan sampaikan pada HRD kalau Tuan Zian menginginkan sekretaris laki-laki.”
“Eh, bukan begitu—”
“Saya permisi Tuan, sebaiknya Tuan segera meninggalkan kamar ini, karena saya sudah mengabari petugas untuk membenahi tempat ini seperti yang diinginkan Tuan Liam.” Setelah mengatakannya, Rudi benar-benar pergi tanpa merasa perlu mendengar kalimat utuh yang hendak disampaikan Zian.
Pria itu mendengus, menggeleng takjub dengan kelakuan atasan dan sekretarisnya itu yang hampir sama. “Mungkin sudah saatnya kamu merasakan gairahmu lagi, Liam. Jadi kamu bisa memosisikan bagaimana tersiksanya aku tanpa wanita lebih dari seminggu,” gumam Zian masih mengarahkan pandangannya ke arah di mana Rudi dan Liam pergi.
Pria itu menggerakkan tubuhnya melakukan peregangan, saat melihat wanita yang diajaknya menghabiskan malam muncul di lorong dari kamar mandi. Zian memamerkan senyum menawannya. “Hai Tiara, maafkan sepupuku yang menyebalkan itu, ya? Dan terima kasih untuk semalam.”
__ADS_1
“Namaku Bela! Dan jangan harap bisa bertemu denganku lagi, kita berakhir hari ini!” ucap wanita itu berjalan cepat meninggalkan Zian yang tidak banyak bereaksi karena kalimat itu. “Sayang, padahal kukira masih bisa menghabiskan semalam atau dua malam lagi dengannya...” gumam Zian dengan kedua bahu terangkat, menyiratkan bahwa tidak ada yang bisa dilakukannya lagi mengenai wanita itu.
📽To be continue🎞