
Kabar Tak Terduga, kepulangan Zian di jam kerja bukan lagi menjadi hal baru untuk keluarga Tanubrata, salah satu pewaris sekaligus sepupu Liam itu memang sudah terkenal dengan sikapnya yang santai dalam menjalankan perusahaan.
Menurut Zian, selama tidak ada masalah yang mendesak sebaiknya pekerjaan itu memang jangan dibawa pusing, apalagi masih banyak yang bisa menangani alih-alih harus bergantung terus padanya. Superhero itu hanya keluar di saat-saat genting kan? Dan itu yang Zian terapkan pada etos kerjanya, meski banyak yang mencibir, toh tidak ada yang bisa mengganggu-gugat pewaris satu itu.
Tangan Zian terbuka lebar begitu melewati pintu utama rumah keluarga besarnya, menyambut sesosok bocah mungil yang berlari ke arahnya dengan wajah ceria. Dan sambutan itu tentu saja selalu menjadi favorit Zian kala berkunjung.
“Hei, jagoan! Bagaimana kabarnya hari ini?” tanya Zian pada keponakan kesayangannya itu—Keita, anaknya Liam. Siapa lagi?
Keita saat ini sudah berada di gendongan sang Om, mendekap leher pria itu erat dan menyembunyikan wajahnya di sana. Sedewasa apa pun sikapnya dibanding anak-anak seusianya, Kei tetapnya bocah berusia 5 tahun yang tidak bisa menyembunyikan sifat alaminya.
Tidak mendapat jawaban dari sang keponakan, Zian menatap salah satu pengasuh Kei yang mengikuti bocah itu ketika berlari ke arahnya. “Kenapa, Bi?” tanya Zian tanpa suara, mengusap kepala Kei sayang dan menimangnya perlahan.
“Sudah sejak pulang sekolah seperti itu, Tuan,” jawab sang pengasuh. Zian mengangguk mengerti, membawa bocah itu masuk dan berakhir di ruang utama keluarga yang selalu terlihat lengang.
“Nenek ke mana? Kok Kei cuma main sendiri?” tanya Zian lagi, masih berusaha membujuk bocah itu agar mau bersuara, tapi tetap nihil, anak laki-laki berusia lima tahun itu tetap setia dengan mode bungkamnya.
Lagi-lagi, Zian harus meminta jawaban pada pengasuh bocah itu yang mengekori, bukan karena tidak percaya sang Om akan menjaga anak itu dengan baik atau tidak—tentu saja bukan karena itu, tapi karena dirinya takut entah itu sang Om atau anak tuan rumahnya membutuhkan sesuatu tiba-tiba.
“Ah, Nyonya Besar mengantar Kakek ke rumah sakit untuk check up mingguan sebelum Den Keita pulang, Tuan. Makanya Aden hanya sendiri.”
__ADS_1
Merespons ucapan itu, Zian yang sudah duduk di sofa empuk untuk mengistirahatkan tubuhnya mencoba menarik tubuh Kei menjauh agar bisa menatap wajahnya. Senyum yang Keita ukir saat menyambutnya tadi jelas sudah hilang di wajah tampan bocah itu, yang tersisa hanya gurat kesedihan dan kecewa.
“Apa ini berhubungan dengan ayah Kei lagi?” pancing Zian, sedikit banyak sudah mengerti permasalahan apa saja yang dialami bocah itu.
Awalnya, Keita terlihat enggan menjawab, tapi ditatap seintens itu oleh Om favorite-nya tentu membuat dirinya yang jarang memiliki wadah untuk bercerita perlahan luluh. Bibirnya mencebik meski tetap mencoba untuk menjawab, “Apa Ayah tidak sayang Kei lagi?”
Bola mata Zian melebar, terkejut karena mereka langsung berada di inti pembicaraan. “Eh? Kenapa Kei berpikir begitu?” Sebenarnya Zian sudah bisa menebak apa jawabannya karena bukan kali ini saja bocah itu bertanya hal yang sama.
“Sudah seminggu Ayah tidak pulang ke sini, bahkan saat Kei hubungi alasannya selalu saja sibuk. Itu berarti Ayah memang tidak peduli lagi sama Kei, kan? Dan itu berarti juga Ayah sudah tidak sayang Kei lagi!”
Zian menelan saliva, dirinya bukan orang yang mahir membujuk anak-anak yang sedang ngambek atau sedih. Kalau semuanya bisa diselesaikan dengan uang dan mencari kesenangan di luar sana, tentu Zian sudah melakukannya. Sayangnya, keponakannya itu masih terlalu dan amat sangat kecil untuk Zian ajak bersenang-senang dengan caranya.
Putra dari sepupunya itu mendelik, seolah menunjukkan bahwa kalimat itu bukan jawaban yang dia inginkan. Lagi pula, di rumah ini siapa yang tidak tahu kalau Liam Tanubrata itu selalu sibuk dan mencoba untuk selalu menyibukkan diri.
“Eum... maksud Om, Ayah mungkin sibuk untuk membereskan seluruh pekerjaannya, agar dia bisa mengambil cuti panjang dan mengajak Kei jalan-jalan lagi seperti waktu itu. Kalau tempo hari Kei diajak keliling eropa di musim dingin, mungkin kali ini Ayah ingin mengajak Kei mengunjungi Maldives?”
Sial, masa bodoh jika setelah ini Liam akan memarahinya karena menjanjikan sesuatu yang bahkan entah ada di benak pria itu atau tidak. Salah sendiri membuat putranya ini kesepian dan merasa tidak disayang. Biarkan Liam yang bertanggungjawab dan mengurus sisa rengekkan putranya nanti.
“Benarkah, Om?” tanya Kei dengan ekspresi yang berubah seratus delapan puluh derajat, wajah menggemaskan itu kini sudah kembali semringah, terlihat bahagia dengan kabar bohong yang disampaikan sang Om padanya.
__ADS_1
“Ya—mungkin,” tambah Zian, mengecilkan suaranya diakhir agar bocah di hadapannya itu tidak mendengar gumamnya.
Dan sekali lagi, masa bodoh dengan kebohongannya itu. Lagi pula, Liam selalu bisa membuat kebohongan yang diciptakannya itu nyata jika sudah menyangkut putra kesayangannya.
“Iya, makanya Kei jangan bersedih lagi. Biarkan Ayah bersenang—ah, maksud Om kerja keras dulu untuk hari ini. Dan Kei main sama Om saja, ya? Hmm... kalau kita makan es krim bagaimana?” tawar Zian dengan wajah semringah, mengecup pipi tembam keponakannya berkali-kali sebelum dihentikan oleh getar dan suara ponsel yang menginterupsi kegiatannya.
“Sebentar ya, Sayang.” Zian memberikan isyarat pada pengasuh Kei yang masih berada di sana untuk mengambil bocah itu dari pangkuannya. Merogoh saku celana untuk mengambil ponsel yang tersimpan di sana dan segera mengangkat panggilan dari Rudi—sekretaris Liam yang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba menghubunginya.
“Iya, Rud? Ada apa? Tumben sekali, tidak biasanya kamu menghubungiku lebih dulu seperti ini,” senyum Zian terbit, merasa lucu dengan pikirannya sendiri yang tiba-tiba merasa istimewa karena sudah dihubungi oleh sekretaris tanpa ekspresi itu.
Tapi semua itu berlangsung sesaat karena apa yang didengar Zian setelahnya sukses membuat pria itu dalam kurang dari sedetik berdiri dari duduk santainya.
“Polisi katamu?!” serunya, sesaat lupa bahwa keponakannya masih ada di sana.
Zian berdeham, menghampiri Kei yang masih berada di dalam gendongan pengasuhnya. Pria itu mengecup pipi tembam keponakannya sekilas, mengelus rambut hitam legam bocah itu sebelum berujar. “Sayang, maafkan Om kali ini. Kita makan es krimnya lain kali saja ya? Om janji akan belikan apa pun yang Kei inginkan nanti, tapi kali ini Om harus pergi, karena ada persoalan penting yang menyangkut hidup dan mati.” Sekali lagi pria itu mengecup wajah keponakannya, kali ini di dahi.
“Om mencintaimu,” ujarnya sebelum benar-benar berlalu.
Ponsel yang semula Zian abaikan untuk sejenak kembali dia tempelkan di telinga. Berbisik sekecil mungkin dengan langkah cepat agar suaranya tidak lagi terdengar oleh orang yang ada di dekat sana. “Liam di kantor polisi katamu? Bagaimana bisa?” seru pria itu heran.
__ADS_1
📽To be continue🎞