Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 14


__ADS_3

Bocah laki-laki berusia lima tahun itu meringsek di kursinya. Membenarkan posisi duduk yang tidak tenang dengan tangan yang memegang ponsel dan menempelkannya di telinga, beberapa kali dirinya menoleh ke belakang, menatap barisan mobil yang melaju di belakang mereka yang saling berkejaran.


Dirinya kini tengah berada dalam mobil yang dikendari oleh salah satu sopir kepercayaan keluarganya. Menjemputnya pulang dari taman kanak-kanak tempatnya menghabiskan sebagian waktu. “Tapi beneran, Yah.. Mereka ngikutin mobilku! Ini bahaya, Ayah harus telepon polisi dan tangkap mereka sekarang juga. Kei nggak mau diculik lagi!” teriak bocah lima tahun itu.


Untuk ukuran anak seusianya, cara bicara Kei—memang bisa dibilang tidak terdengar dan terkesan anak-anak, tapi jelas itu terjadi karena lingkungan yang ditinggalinya seolah menuntutnya bersikap demikian.


“Keita, jangan berlebihan! Nggak ada yang mau culik kamu. Mobil-mobil di belakang itu hanya mobil biasa yang punya kepentingan dan urusan mereka masing-masing. Sama seperti Pak Imran yang saat ini nyetir untuk bawa kamu pulang ke rumah.”


“Tapi, Yah—”


“Ayah nggak mau denger omong kosong kamu lagi, ini waktunya Ayah kerja. Jangan ganggu Ayah dengan hal-hal konyol hanya untuk menarik perhatian Ayah, mengerti? Kamu baik-baik saja, Kei. Sekarang loudspeaker ponsel kamu, biar Pak Imran bisa dengar Ayah bicara.”


Gerutuan dari bibir mungil itu tidak terdengar, karena anak laki-laki itu memang melakukannya tanpa suara. Meski begitu dia tetap melakukan apa yang diperintahkan sang ayah, memasang mode pengeras suara pada ponsel di tangannya agar Pak Imran bisa mendengar apa yang ayahnya sampaikan.


Telepon ditutup begitu sang ayah selesai memberikannya pesan untuk hati-hati di jalan dan jangan lupa makan siang. Diakhri dengan peringatan bahwa jangan menimbulkan masalah macam-macam selama ayahnya tidak ada. Bocah laki-laki itu hanya cemberut, mengiakan meski enggan.


“Ayah akan mengunjungimu setelah urusan Ayah selesai nanti. Ayah mencintaimu.” Ucapan itu masih terngiang di telinganya meski sambungan telepon sudah ditutup lima menit lalu.


Keita menyandarkan kepalanya di kaca mobil, tidak lagi tertarik dengan mobil-mobil yang berkejaran di belakang mereka. Tepat seperti dugaan ayahnya, bocah itu memang sedang mencari perhatian, dan itu juga yang sudah dibaca oleh sopirnya sejak sang tuan muda menyambungkan teleponnya pada tuan besar.

__ADS_1


“Aden mau mampir beli sesuatu dulu? Atau mau Pak Imran pesankan sama Bibi di rumah untuk buat makanan yang Aden suka?” tawar Pak Imran melirik anak bos besarnya dari kaca spion. Mendapati tuan mudanya merengut seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat. Meski garis yang menghubungkan keduanya hanyalah sebuah tugas dan pekerjaan, lelaki tua itu tidak bisa melihat bocah laki-laki yang selalu bersamanya itu sedih karena misi meminta perhatian sang ayah gagal. Keita jelas bukan anak yang nakal, dia hanya kurang perhatian.


“Den Kei?” suara sang sopir lagi, mencoba menarik perhatiannya.


“Aku nggak mau apa-apa, mau pulang aja.”


Dan Pak Imran hanya bisa menarik napas panjang, tersenyum sedih melirik kaca spionnya sekali lagi, memastikan tuan mudanya baik-baik saja di belakang sana. “Baik, Den.” Tutup Pak Imran mengakhiri percakapan selama perjalanan siang itu.


Sementara di lain tempat, di mana sang ayah baru saja mengakhiri panggilan putra kesayangannya, di sanalah Liam berada. Menatap ponsel dengan wallpaper potret sang putra yang sudah seminggu lebih tidak dijumpainya, mengusapnya pelan dengan senyum tipis yang terukir di sudut bibir.


Liam meletakkan ponselnya di meja yang dia lewati ketika memasuki lebih jauh kamar tempatnya singgah di salah satu hotel milik keluarganya. Pria itu baru saja menghadiri pertemuan, dan bertemu banyak perempuan hingga harus berjabatan tangan dan mereka membuat Liam merasa dia harus membersihkan diri secepatnya. Rasanya risi, ketika pikirannya dipenuhi jejak-jejak sentuhan wanita-wanita itu di tubuhnya.


“A-apa yang baru saja kita lihat?” tanya Pak Amar pada rekan-rekannya dan Elma yang juga masih terpekur di depan layar yang menampilkan rekaman CCTV secara real time.


“Pak Amar, ayo ikut saya! Dan bapak yang lain tolong telepon polisi karena ini sudah masuk dalam kategori kasus penculikan!” ujar Elma lantas menarik Pak Amar untuk berdiri dari posisinya.


Bersama dengan sebagian petugas keamanan yang lain, Elma bergegas untuk menuju kamar yang didatangi dua tamu mencurigakan itu—ah tidak, mereka jelas bukan tamu, tamu tidak akan masuk melalui lift kargo dengan cara tidak wajar macam itu.


Tiba di depan kamar yang mereka tuju, yakni President Suit 2012, Elma mengeluarkan kartu yang sebelumnya dia ambil di bagian reservasi. Wanita itu tanpa ragu langsung membukanya, bersama yang lain memasuki kamar paling mewah yang tersedia di hotel itu.

__ADS_1


Hal pertama yang menyambut mereka adalah keheningan. Ruangan itu terlihat terlalu sepi untuk ukuran kamar yang sudah dihuni dua orang tadi. Tapi Elma tidak ingin terkecoh, karena penculikan jelas salah satu kasus yang pasti sudah diperhitungkan pelaku, maka situasi ini jelas juga menjadi bagian dari rencananya.


Mereka memasuki kamar itu lebih dalam, menyusuri setiap sudut ruangan untuk menemukan hal-hal yang mungkin bisa menunjukkan bukti dari tindak kriminal yang mereka saksikan, bagaimanapun setelah ini mereka pasti akan menjadi saksi mata, jadi ada baiknya mempersiapkan semuanya.


Langkah Elma terhenti ketika mereka memasuki ruangan yang merupakan bagian utama dari kamar mewah itu, di mana terdapat ranjang besar dan mewah yang telah diisi oleh seseorang—itu wanita berpakaian perawat yang Elma lihat tadi!


“Pak Amar!” tunjuk Elma pada sosok yang terbaring di ranjang, untuk sekilas sosok itu mungkin tidak akan terlihat, karena baik bedcover maupun pakaian yang dikenakan wanita itu sama-sama putih hingga menyamarkan pandangan. Elma saja baru menyadarinya saat berjalan lebih dekat dengan ranjang yang dia maksud.


Berapa di antara mereka lantas menghampiri ranjang. Memeriksa wanita yang rupanya terjaga dan melepaskan lakban yang menutupi mulut wanita itu, dan tali yang mengikat tangannya.


“Kalian apa-apaan sih? Kenapa kalian bisa di sini?” seru wanita itu menggertak tak terduga. Sama sekali tidak bersikap seperti orang yang sedang diculik.


Belum sempat Elma dan petugas keamanan lain mencerna situasi yang diterima mereka dari perawat itu, keributan lain datang dari arah pintu masuk, terlihat beberapa orang berseragam menghampiri mereka dengan langkah tegas dan raut wajah tajam—itu polisi yang sebelumnya Elma minta untuk datang.


Elma baru akan menjelaskan situasinya, ketika semua mata yang berada di sana lagi-lagi diambil alih oleh sesosok yang hadir dari arah lain. Sosok pria muncul dari lorong yang mengarah ke kamar mandi, dan keadaan pria itu membuat Elma refleks segera memalingkan pandangannya dari objek yang kini menjadi sasaran semua mata.


Kenapa? Karena pria itu dengan santainya melangkah hanya dengan menggunakan selembar handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


“Apa-apaan kalian? Kenapa kalian bisa masuk ke kamar ini seenaknya?” seru pria itu dengan dahi berkerut dan tatapan tajam yang dilemparnya ke semua arah.

__ADS_1


📽To be continue🎞


__ADS_2