Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 22


__ADS_3

Tubuh Elma kembali dalam posisi siap, sama seperti saat dirinya berhadapan dengan tamu atau Zian tadi pagi. Wanita itu memposisikan dirinya sesopan mungkin di hadapan pria yang masih duduk di tempatnya tanpa banyak bergerak. Hanya matanya yang seolah mengekori setiap gerakan yang Elma buat sejak masuk ruangan itu, dan tatapan itu jelas adalah jenis tatapan mengintimidasi.


Mengangkat kepalanya sedikit, Elma melirik Zian yang balas menatapnya lalu menaikkan kedua alis. Pria itu malah menambahkan sebuah isyarat yang seolah mempersilakan Elma untuk bicara tanpa terganggu dengan keberadaannya. Anggaplah dirinya hanya pemanis.


Wanita itu berdeham pelan, kali ini membungkuk 90 derajat sambil memejamkan matanya erat-erat. “Saya minta maaf! Maaf atas kejadian kemarin dan maaf atas kesalahpahaman yang telah saya timbulkan. Saya tidak bermaksud untuk bertindak kurang ajar pada Anda, saya hanya berusaha untuk menjaga nama baik hotel ini karena saya sangat mencintai pekerjaan saya dan tempat ini.”


Hening panjang, dan Elma masih setia dalam posisinya. Zian tersenyum tipis, sementara ujung alis Liam terangkat sedikit seolah menunjukkan bahwa dirinya tidak nyaman dengan kalimat yang baru saja di dengarnya. “Kamu itu mau bener-bener minta maaf atau hanya berbasa-basi? Kalimatmu itu seolah tidak menunjukkan penyesalan sama sekali.”


Mata Elma terbuka, perlahan kembali berdiri tegak dengan posisi siap. Postur tubuh wanita itu sempurna, terlihat elegan dan anggun dibalut seragam kebanggaan karyawan hotel mereka. Zian mengulum bibir dengan pikirannya sendiri, kembali berusaha fokus dengan obrolan kedua orang itu.


“Sa-saya benar-benar minta maaf ... dan saya menyesal, jadi tolong jangan pecat saya Pak Liam.”


Smirk meremehkan itu kemudian muncul di ujung bibir Liam, paham benar kenapa wanita itu dengan berani meminta menghadapnya saat ini. “Jadi kamu meminta maaf karena keputusan management untuk memecatmu? Bukan karena benar-benar merasa menyesal?”


“Eh?”


“Kamu tidak akan merasa perlu repot-repot untuk menemui saya kalau keputusan memecatmu itu tidak keluar, kan? Dari perkataanmu saja sudah terkesan kamu itu tidak merasa bersalah sama sekali.”


“Sa-saya merasa bersalah, kok! Itu kenapa saya di sini, kan?”

__ADS_1


Senyum separuh itu kembali muncul di celah wajah dingin Liam, “Oh ya? Kalau begitu saya terima maafmu, tapi jangan berharap keputusan memecat itu bisa diubah begitu saja. Saya akan tetap meminta Departemen HRD untuk mengakhiri kontrak kerja.”


Kali ini Elma tanpa sadar sudah bergerak dari posisi tetapnya sejak tadi, wanita yang semula berdiri tak jauh dari pintu itu kini berjalan hingga dirinya berhadapan dengan Liam. Raut wajahnya benar-benar terlihat serius, dicampur tegang, juga tegas di saat bersamaan. Meski kini Elma dalam posisi membelakangi Zian, tapi pria itu sempat melihat ekspresi wajahnya saat berjalan mendekati Liam tadi. Dan menurutnya raut wajah Elma itu menarik.


“Tidak—maksud saya jangan! Saya mohon pada Anda untuk tidak memecat saya, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.”


“Memang kamu pikir saya peduli?”


“Pak Liam—”


“Dengar,” potong Liam. “Apa manager-mu tidak menjelaskan padamu kesalahan apa saja yang sudah kamu perbuat? Apa perlu saya mengulangnya lagi agar kamu paham?”


Tidak dia pungkiri, sebagian hatinya tetap menganggap bahwa kejadian kemarin tidak sepenuhnya dia yang salah. Bagaimanapun keputusan memanggil polisi dan melakukan tindakan cepat itu semata-mata untuk menjaga nama baik hotel.


Sebab, kalau kejadian sesungguhnya memang seperti yang Elma asumsikan, reputasi hotel tempatnya bekerja itu pasti sudah rusak. Penculikan di President Suit Room? Itu artinya hotel ini memfasilitasi dan menganggap orang-orang yang bisa menyewa kamar-kamar mahal seperti itu layak dan bisa melakukan apa pun seenak mereka, kan? Meski itu melanggar hukum? Yang benar saja!


“Zian, jadi kamu memintaku ke sini hanya untuk meladeninya? Apa kamu meremehkan waktuku yang berharga, hah?” Liam melongok Zian yang masih asyik menyimak. Pria itu berdiri setelah mendapati sepupunya hanya mengangkat bahu tak acuh dengan senyum terkulum. Liam mendelik tidak suka. “Buang-buang waktu saja,” gumam Liam melangkah hendak pergi dari sana.


Tanpa Liam sangka, Elma mengikutinya dari belakang, wanita itu terlihat menggerakkan bibirnya meski terkesan bingung ingin bicara apa. Berusaha menarik atensi Liam agar pria itu mengurungkan niatnya untuk pergi.

__ADS_1


“Tunggu, Pak. Pak Liam... Pak Liam tunggu!” gemas karena panggilannya tidak digubris, antara sadar dan tidak Elma menarik lengan pria itu, lumayan bertenaga bahkan hingga membuat Liam membalikkan tubuh kembali menghadapnya.


Mata Liam mengarah pada lengannya yang dicengkeram Elma erat. Elma mengikuti arah pandang itu. Bukannya melepaskan, tatapannya malah kembali ke mata Liam yang semakin merengut tidak suka. “Kamu berani sentuh saya?”


Saat itulah Elma baru tersadar maksud tatapan tajam Liam padanya, cepat-cepat ia melepaskan tangannya dari siku Liam, “Maaf, saya tidak bermaksud. Habis Bapak tidak dengar panggilan saya.”


“Tidak dengar kamu bilang? Kamu pikir saya tuli? Saya dengar tapi memilih untuk tidak mau mendengarkan! Kenapa? Karena kamu itu hanya membuang-buang waktu saya!”


“Tapi saya meminta waktu Bapak untuk memperjuangkan kelangsungan hidup saya dan keluarga saya!”


Akhirnya emosi Elma terpancing. Pria ini pikir hanya dirinya yang merasa waktunya terbuang? Dia pikir hanya dirinya yang paling sibuk dan punya kepentingan? Elma paling tidak suka orang yang suka meremehkan orang lain, apalagi yang menganggap waktunya berharga sementara orang lain tidak. Dan peduli setan jika kini dia benar-benar akan kehilangan pekerjaannya, toh melawan atau diam hasilnya akan sama saja, maka yang Elma pilih jelas mundur dengan melawan. Setidaknya dirinya bisa lebih merasa terhormat meski harus pergi dari sana.


“Kamu—”


“Bapak pikir di dunia ini hanya hidup Bapak yang penting lantas yang lain tidak? Bapak pikir hanya waktu Bapak yang terbuang sementara saya tidak? Saya di sini untuk memperjuangkan hak saya. Hak membela diri karena saya memang merasa tidak sepenuhnya bersalah. Seceroboh apa pun dan selalai apa pun saya kemarin, satu-satunya alasan saya melakukannya adalah untuk nama baik hotel ini. Masa bodoh dengan latar belakang kenapa hal itu bisa terjadi, tapi di saat seperti itu kalau saya tidak peduli dengan nama baik hotel ini dan orang lain yang memergokinya. Mungkin saat ini kabar miring tentang kejadian kemarin sudah beredar luas di sosial media! Lalu apa Bapak pikir itu tidak akan merusak citra baik hotel Bapak?” seru Elma lantang dan panjang lebar.


Entah maksud ucapannya yang menggebu itu bisa dimengerti atau tidak, mampu dipahami atau tidak dengan sosok arogan yang kini menjulang di hadapannya. Elma hanya ingin menyampaikan apa yang ada di kepalanya, Elma hanya ingin hal yang mengganjal di hatinya terlepaskan kalau memang dirinya harus pergi dari sana.


“Kamu berani berteriak pada saya?” Ekspresi wajah Liam mengeras. Agaknya pria itu bukan hanya merasa dongkol lagi, tapi sudah benar-benar marah. Bukannya merasa situasi yang dilihatnya darurat, Zian yang sejak tadi duduk di mejanya justru kini berdiri tegak—bukan untuk melerai, tapi karena apa yang dilihatnya terasa semakin menarik.

__ADS_1


📽To be continue🎞


__ADS_2