
“Jangan ganggu kami. Ayahmu itu sudah tidak mengakuimu, Bodoh !
Pergi dari rumah kami. Dan untuk kesekian kalinya saluran intercom ditutup. Elma tahu wajahnya pasti muncul di layar intercom di dalam sana, karena intercom itu jelas dilengkapi dengan kamera.
Gadis itu berakhir di rumah sang ayah yang telah mencampakan dirinya dan sang ibu demi bersama dengan keluarga kaya yang dikunjunginya ini.
Tapi meski sudah diteriaki, dimaki, diusir dan diancam akan dilaporkan polisi karena mengganggu ketertiban umum, toh Elma tidak beranjak dari sana. Gadis itu pada akhirnya tetap berdiri bergeming, berharap bahwa ayahnya sendiri yang menemuinya.
Kalau memang dirinya begitu tidak diinginkan dan tidak dianggap, Elma ingin mengonfirmasinya sekali ini saja, sekaligus mendapatkan jawaban seperti apa dirinya dan Ibu di mata sang ayah.
Elma tidak punya pilihan, di tengah kekalutannya hanya sosok ayah yang diingat dan diharapkannya dapat membantu. Dia tidak punya kerabat, pun orang yang bisa diandalkan untuk membantunya dalam urusan finansial. Meski besar kemungkinan untuknya ditolak seperti ini, entah kenapa langkah kaki tetap membawanya ke tempat ini.
Langit yang sudah berubah gelap tidak mengendurkan tekad Elma. Bahkan saat kilat dan guntur mulai terdengar, gadis itu tetap berada di sana. Rintik hujan mulai jatuh saat sebuah lampu mobil menyorotnya dari kejauhan, perlahan mendekat. Mobil itu berhenti, satu karena jalan masuknya Elma halangi, dua karena gerbang rumah itu memang masih tertutup rapat.
“Mau apa kamu ke sini?” adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut pria di hadapannya begitu turun dari mobil.
Rahang Elma mengeras, menatap tajam pria yang sudah tidak ingin lagi dipanggilnya ‘Ayah’—meski nama pria itu jelas masih menjadi bagian dalam namanya hingga detik ini.
“Setelah belasan tahun tidak bertemu, itu yang Anda katakan pertama kali?”
“Jangan buang-buang waktu!"
Katakan saja apa yang kamu mau?
__ADS_1
Kalau kamu ke sini untuk merusak dan membuat keluarga saya ribut karena ini sebaiknya cepat pergi dari sini.
Menggertakan gigi penuh amarah, Elma mengatasinya dengan dengusan yang keluar untuk meredakan emosi. Kalau memang pria itu memintanya untuk mengatakan apa maksud kedatangannya tanpa basa-basi, baiklah, karena memang itu yang Elma inginkan.
“Pinjamkan saya uang. Lima ratus juta.”
Bola mata gelap milik pria di hadapannya membesar, “Kamu gila? Untuk apa kamu butuh uang sebanyak itu, hah? Tahu diri saja kalau kalian tidak mampu! Jangan mengikuti gaya hidup macam-macam!”
Gila? Kalau bisa rasanya Elma ingin sekali mengatakan bahwa lawan bicaranya inilah yang gila! Apa orang itu pikir Elma akan mengemis meminta uang sebanyak itu hanya karena ingin mengikuti gaya hidup orang-orang? Kesimpulan bodoh dari mana yang dia ambil?!
“Saya benar-benar butuh.” Sekali lagi Elma meminta, masih berusaha meski harus merendahkan dirinya di depan orang itu. Sudah Elma katakan, bukan? Dia akan berusaha meski harus menggunakan cara apa pun untuk kesembuhan ibunya.
“Kamu kira, dengan kamu datang ke sini dan mengganggu keluarga saya, saya akan memberimu uang, begitu? Kami tidak bisa diperas dengan cara macam ini. Kalau kamu butuh uang, kerja keras! Jangan jadi pengemis memalukan macam—”
“Pergi dari sini.”
Tapi bukan kalimat menyenangkan yang kemudian Elma dengar, melainkan sama seperti sebelum-sebelumnya, dirinya benar-benar diusir dari sana, kali ini oleh ayahnya sendiri.
Pria itu, tanpa merasa perlu menanggapi ocehan putrinya, dengan santai melenggang kembali menaiki mobil, membunyikan klakson sekencang mungkin hingga pelayan rumah itu datang dan membukakan pintu gerbang. Sang Tuan Rumah memberikan isyarat pada pelayannya untuk menyeret gadis itu agar tidak menghalangi jalan, yang dipatuhi pelayan rumah itu dengan meraih lengan Elma dan menarik tubuhnya pelan agar menyingkir dari sana.
Hujan semakin deras, dan Elma masih mematung dalam bisu. Saat ini, tak ada lagi yang dapat gadis itu pikirkan selain melangkah menuju apartemen Jenny. Mencari puing-puing solusi dari permasalahannya yang terlihat seperti buntu.
Petir dan kilat menyambar, gemuruh derasnya hujan menambah kelam suasana malam itu. Jenny yang tinggal sendirian di flat miliknya beberapa kali terkaget. Aktifitasnya yang sedang bersantai melepas penat di depan tv beberapa kali terganggu karena suara gemuruh di luar sana.
__ADS_1
Jenny memasang telinganya baik-baik ketika seseorang terdengar mengetuk pintu flatnya beberapa kali. Di tengah hujan deras begini, dengan suara guntur yang kerap menyambar, suara ketukan itu terdengar samar hingga Jenny harus memastikannya beberapa kali.
Wanita itu masih belum beranjak, memastikan sekali lagi itu bukan hanya suara lain yang diciptakan guntur di luar sana yang masih terdengar bergemuruh hebat. Tak lama suara itu terdengar lagi, kali ini disela dengan bel yang memang terdengar untuk unit flatnya.
Jenny berjalan cepat menuju pintu saat orang di luar sana terdengar mulai tidak sabar dan menggedor pintu semakin keras. Begitu menggapai gagang pintu dan membuka kuncinya, apa yang kemudian Jenny lihat berhasil membuat wanita itu terkejut bukan main.
Itu Elma—dalam keadaan basah kuyup dan tetesan air yang bergerak turun dari setiap bagian tubuhnya. Penampilan gadis itu benar-benar sudah tidak karuan, membuat Jenny dengan cepat menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam flatnya.
“Kamu tunggu di sini, Kakak ambilkan handuk dan baju ganti dulu.”
Tapi belum genap Jenny melangkahkan kakinya, gerakannya dihentikan oleh tangan dingin Elma yang menggenggam pergelangannya erat. Bisa Jenny rasakan bahwa tubuh gadis itu menggigil kedinginan, tanda bahwa gadis itu sudah berada cukup lama di bawah guyuran hujan—meski Jenny tidak bisa memastikan selama apa.
“Tubuh kamu kedinginan, Elma. Biar Kakak ambilkan handuk dan nyalakan penghangat ruangan dulu supaya kamu—”
“Akan aku lakukan.”
Kalimatnya yang dipotong Elma tentu membuat Jenny bingung. Apalagi Jenny tidak tahu topik macam apa yang tiba-tiba masuk dalam percakapan mereka di saat seperti ini.
“Maksud kamu apa, El?”
Kepala Elma yang semula tertunduk kini terangkat perlahan, memperlihatkan sosoknya lebih jelas dan itu semakin membuat Jenny khawatir. Gadis itu sudah pasti berada terlalu lama dalam guyuran hujan, karena wajahnya sudah pucat dan bibirnya yang membiru.
“A-aku akan melakukannya, Kak. Menjadi ibu pengganti atau apa pun itu. Aku akan melakukannya...”
__ADS_1
📽To be continue🎞