Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 5


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama untuk rumah sakit mengeluarkan seluruh hasil medical check up yang Elma lakukan. Dan seperti yang sudah Jenny duga. Semua hasil pemeriksaan kesehatan Elma menunjukkan hasil yang positif, gadis itu terbukti sehat, layak dan cocok untuk menjadi seorang ibu pengganti. Kabar yang melegakan, tapi juga menyedihkan bagi Jenny sendiri. Miris.


“Setelah ini, kita hanya perlu melakukan upaya IVF atau pembuahan di luar tubuh. Kamu akan mendapat kabar selanjutnya setelah proses itu berhasil, ini akan sedikit melelahkan dan menguras energi kamu, Elma. Kakak harap kamu tidak stres dan tetap menjaga kesehatanmu. Semuanya akan terasa sulit kalau kamu merasa menanggungnya sendiri, tapi apa yang perlu kamu ingat, ada Kakak di sini, jadi kalau ada apa pun yang mengganggumu, katakan saja dan ceritakan pada Kakak untuk setidaknya bisa meringankan beban itu, mengerti?”


Jenny jelas terlihat cemas bukan main, kendati gadis di hadapannya tersenyum lembut dan mengangguk mengerti. “Aku harap semuanya cepat berhasil, karena operasi Ibu bisa langsung dilakukan begitu aku dinyatakan hamil, kan?”


Dokter di hadapannya menelan ludah pahit. Ini yang membuat Jenny bimbang. Wanita itu juga mengharapkan hal yang sama, berharap semuanya berjalan lancar agar Tante Arini bisa segera melakukan transplantasinya, tapi di sisi lain rasa bersalah karena telah menjadikan Elma sebagai seorang ibu di usianya yang belia—apalagi ini bukan sepenuhnya kehendak gadis itu, membuat dirinya gamang dan tak henti mengutuk diri sendiri.


Usai melihat hasil pemeriksaan, Elma bergegas menuju taman rumah sakit, tempat di mana ibunya tengah mencari udara segar sembari menunggu kedatangannya.


“Putri Ibu akhir-akhir ini sepertinya banyak sekali berpikir,” tegur Arini membuyarkan lamunan Elma yang sudah termenung di sampingnya sesampainya gadis itu di taman.


“Perasaan Ibu saja.” Elma tersenyum untuk menenangkan ibunya.


“Maafkan Ibu, Nak ... Ibu benar-benar minta maaf. Kejadian ini tidak beda jauh dengan apa yang terjadi setahun lalu, Ibu yang selalu merepotkanmu dan mengacaukan semuanya.”


“Ibu...”


“Kamu seharusnya sudah berada di universitas, bergaul dengan teman-temanmu dan menikmati masa remajamu dengan mereka. Merangkai masa depan seperti yang kamu inginkan, jatuh cinta, dan bermain sepuasnya. Bukan malah berada di sini dengan ibumu yang sakit-sakitan.”

__ADS_1


“Ibu,” tegur Elma. Gadis itu benar-benar tidak ingin mendengarnya.


Tetapi Arini ingin menyampaikan rasa bersalahnya, menyampaikan permintaan maafnya, dan apa yang dipikirkannya meski dengan cara yang paling tidak Elma sukai sekali pun, itu kenapa dirinya tetap bicara, itu kenapa Arini ingin mengeluarkan semuanya.


“Andai Ibu tidak divonis mengidap penyakit ini setahun lalu ... kamu pasti sudah menikmati hasil belajarmu, mendapatkan beasiswa di universitas terbaik yang kamu impikan dan belajar di sana, bukan malah mengundurkan diri dan merawat Ibu. Menggantikan Ibu mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.”


“Ibu, aku mohon jangan bahas itu lagi. Semuanya sudah berlalu dan memang ini yang harus aku jalani. Aku tidak pernah merasa menyesal sedikit pun dengan keputusan yang kuambil, baik dulu atau pun sekarang.”


Arini menatap sedih putrinya. Gadis yang dipaksa kuat oleh kerasnya hidup itu tidak diperkenankan bermanja barang sebentar. Padahal, untuk gadis seusianya pasti banyak hal yang ingin dia lakukan, banyak hal yang ingin Elma kembangkan dari dirinya sendiri.


“Tapi, Elma. Bahkan kali ini kamu juga harus mengalah untuk Ibu, mengalah untuk masa depanmu. Ibu tak apa, Nak ... Ibu tak apa kalau memang usaha kita pada penyakit ini berhenti sampai di sini, Ibu tak apa kalau—”


“Memang bukan sekarang, tapi nanti ... dan aku hanya ingin Ibu tetap percaya padaku.” Tarikan napas yang Elma ambil terlalu tergesa, hingga terlihat seperti dirinya yang sedang menahan diri untuk tidak menangis. “Tolong percaya padaku.”


Yang Elma butuhkan saat ini adalah keteguhan hati. Kepercayaan dan dukungan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar. Elma tidak akan peduli apa kata orang, bagaimana orang memandangnya, atau merendahkannya dengan cara yang paling kejam. Elma sama sekali tidak ingin peduli dengan semua itu, karena yang ia butuhkan hanya bagaimana Ibu percaya padanya, bagaimana Ibu mendukungnya, dan bagaimana Ibu mendoakan seluruh impiannya.


Kristal bening yang mengalir dari mata senja itu mengartikan bahwa dirinya mengerti, mengerti apa maksud yang putrinya ingin katakan dan sampaikan. Dan itu membuat Arini semakin merasa bersalah bukan main, kali ini dengan alasan berbeda, yaitu alasan karena sempat tidak mempercayai putri semata wayangnya.


“Maafkan Ibu ... sekali lagi maafkan Ibu karena sempat meragukanmu.” Isak wanita setengah baya itu sambil menggenggam erat kedua tangan putrinya.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Liam mematung sesaat setelah menerima panggilan di siang bolong yang berbunyi, “Selamat, kamu akan segera menjadi ayah, Liam.”


Gerakan membuka kotak makan siang yang dilakukannya sambil menerima telepon barusan jelas terhenti karena berita yang disampaikan Jenny dari seberang sana.


“A-apa katamu?”


Desahan lelah terdengar dari seberang telepon. “Aku bilang kamu akan jadi seorang ayah! Segera,” ulang Jenny, “Dengan catatan, kalau semuanya berjalan lancar,” tambah wanita itu.


Liam meletakkan tutup kotak makan siangnya kembali ke tempat semula, mengurungkan niatnya menyantap isi di dalam kotak makan itu untuk sejenak. “Sebentar, jadi maksudmu—”


“Iya Liam bodoh, calon ibu dari anakmu sudah positif hamil. Bagian mana dari perkataanku yang tidak kamu mengerti, sih?” keluh Jenny di seberang sambungan. Wanita itu terdengar ketus sekali hari ini. Tidak, Jenny kan memang selalu seperti itu, tapi entah kenapa rasanya hari ini terdengar lebih garang dari biasanya.


“Bukan, bukan ... tentu saja aku mengerti maksudmu, jelas. Tapi bukankah prosesnya baru kurang dari dua bulan? Kamu bilang proses ini bisa jadi membutuhkan waktu yang cukup lama.”


Ya, Jenny memang mengatakan hal itu pada Liam dan Elma. Sekadar berjaga-jaga agar keduanya tidak menanti dan mengharapkan prosesnya terjadi dalam sekejap mata. Tapi dengan hasil yang mereka dapatkan ini, entah Jenny bisa mengatakan bahwa semesta berkonspirasi atas hal ini atau tidak.


“Kalau kalian bermasalah, jelas itu akan memakan waktu lama, bersyukurlah baik kamu ataupun calon ibu bayi dalam keadaan yang benar-benar baik, jadi—”


“Jadi aku akan segera menjadi seorang ayah?”

__ADS_1


📽To be continue🎞


__ADS_2