
Gadis yang selama sembilan belas tahun dirawatnya kini berdiri dengan kepala menunduk, menggigit bibirnya kuat untuk tidak meledak dengan cara yang sama. Gadis itu tengah menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata menyakitkan meski nyatanya egonya menginginkan hal itu. Dan jeda itu dimanfaatkan Brian yang sejak tadi diam untuk menjernihkan keadaan yang sudah diperkeruhnya tanpa sengaja.
Ibu Arini, biar saya jelaskan. Ini benar-benar tidak seperti yang Ibu fikirkan.
“Maaf karena sudah membuat Ibu kecewa. Maaf karena Elma tidak bisa menjadi anak kebanggan seperti yang Ibu inginkan. Maafkan Elma, Bu ... Sungguh Elma minta maaf untuk ini.” Air mata Elma sudah turut mengalir. Permintaan maafnya jelas bukan hanya sebatas omongan belaka, dirinya benar-benar menyesal untuk itu, karena Elma tahu sebesar apa harapan Ibu padanya. “Tapi apa yang Elma lakukan semuanya untuk Ibu, karena Elma nggak ingin kehilangan Ibu...”
Ruangan 3x4 meter itu kini lengang. Semuanya diam setelah baik Elma maupun Brian bergantian berusaha untuk menjelaskan. Ibu dalam diamnya mendengarkan, menahan diri untuk tidak lagi menghakimi sebelum mendengarkan semuanya. Dan perasaannya setelah mendengar semua penjelasan itu? Hatinya hancur, sangat hancur hingga rasanya tidak bisa berkata-kata lagi.
Ibu menangis dalam diamnya, merasa menjadi orang paling berdosa karena sudah menjadikan Elma terjebak dalam posisi yang sulit seperti ini. Dirinya menyesal sudah menyalahkan Elma di awal ketika mendengar berita ini tadi, sebab kalaupun ada yang harus disalahkan dalam hal ini, tentu dirinya, Arini-lah yang harusnya menanggung semua kesusahan yang Elma alami saat ini.
“Kita pindah seperti yang Pak Brian bilang. Bukan hanya untuk sembilan bulan ke depan, tapi untuk seterusnya, kita tidak akan tinggal di tempat ini lagi,” ucap Ibu bangkit dari duduknya, menutupi kesedihan yang menderanya saat ini.
Elma tidak mampu menghentikan ibunya lagi. Ibu sudah mau mendengar penjelasannya dibantu Brian saja dia sudah bersyukur bukan main. Maka saat Ibu pergi dan mengunci dirinya di kamar, Elma hanya diam di sana bersama Brian yang juga melakukan hal yang sama.
“Maafkan saya, El. Saya yang membuat situasi kalian menjadi rumit seperti ini, saya tidak tahu kalau kamu belum memberitahu ibumu.”
Kedua tangan Elma yang melingkar di gelas teh hangat buatan Ibu untuk meredakan mualnya tadi—mengerat. Indra perasanya sudah tidak merasakan kehangatan itu lagi memang, tapi mengingat Ibu yang membuatkannya meski dalam perasaan yang kacau, entah mengapa berhasil membuat hatinya merasakan kehangatan sang ibu.
“Cepat atau lambat Ibu pasti akan tahu. Bahkan, meski awalnya aku berniat untuk menyembunyikan ini dari Ibu selama sembilan bulan dan pergi pun, Ibu akan tetap tahu,” gumam Elma menundukkan wajahnya semakin dalam.
***
Air yang baru masuk ke tenggorokan Jenny hampir saja keluar lagi karena kata-kata yang baru saja Brian sampaikan. “Tante Arini, tahu?”
Brian menjawab dengan anggukkan. “Aku benar-benar tidak tahu kalau Elma belum memberitahu ibunya, Jen. Sungguh.”
“Salahku juga tidak memberitahumu kalau masalah ini pelik untuk keluarga Elma,” ringis Jenny dengan raut sesalnya. “Lalu, bagaimana? Apa Tante Arini marah?”
Meletakkan cangkir kopi yang disuguhkan Jenny di ruang kerja wanita itu setelah dia sesap, Brian membalas tatapan wanita itu ragu. “Marah, mungkin ... Tapi lebih pada dirinya sendiri.” Di akhir kalimatnya, Brian memaksakan bibirnya untuk tersenyum. “Dan akhirnya mereka setuju untuk pindah dari sana.”
Jenny mengembuskan napas gusar. Bagaimanapun ini ada hubungan dengan dirinya dan entah bagaimana Jenny juga merasa harus meminta maaf pada Tante Arini.
__ADS_1
“Liam tahu soal ini?” benak Jenny tiba-tiba dihampiri sosok pria itu.
Gelengan samar Brian berikan, “Orang satu itu tidak ingin mencampuri urusan ibu dari anaknya, yang dia pikirkan hanya untuk kebaikan anaknya yang akan lahir. Pernah sekali Liam terlihat begitu penasaran, tapi sebelum dia melangkah terlalu jauh tentu saja aku hentikan.”
“Apa ini termasuk tugas kamu sebagai pengacara keluarga itu?”
“Semua akan rumit kalau perjanjian hitam di atas putih ini melibatkan hati, Jen. Apalagi hati yang tidak akan bisa Liam berikan pada Elma. Pihak yang akan paling dirugikan tentu saja Elma, aku hanya merasa harus mencegahnya sebelum semua itu terjadi.”
Terdiam lama, Jenny menyetujuinya dalam hati.
“Apartemen itu memang tadinya hanya akan dipakai selama masa kehamilan Elma, tapi begitu ibunya bilang akan pindah selamanya dari sana, aku langsung menawarkan apartemen itu untuk mereka tinggali secara permanen, aku rasa Liam juga tidak akan keberatan.” Menjeda kalimatnya, Brian mengangkat bahu. “Tapi baik ibunya mau pun Elma, menolak usulan itu mentah-mentah. Mereka bilang, mereka tidak ingin keberadaan mereka diketahui keluarga Liam setelah semua ini berakhir.”
“Maksudmu mereka ingin pergi entah ke mana setelah anak itu lahir?” dahi Jenny berkerut khawatir.
“Itu syarat yang diajukan Bu Arini untuk menerima penawaran Liam tinggal di salah satu apartemen miliknya selama Elma hamil. Tapi setelah urusan mereka selesai, Bu Arini tidak ingin mengenal atau berurusan dengan keluarga Tanubrata lagi.”
Dan kalimat itu serupa palu yang sudah diketuk, dengan keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat.
***
Jenny bilang, hal itu ada hubungannya dengan usia kehamilan maupun usia Elma yang masih terlalu muda untuk mengandung, itu kenapa semua yang berada di sekitar mereka bersikap siaga untuk apa pun yang berhubungan dengan Elma.
Bulan-bulan awal Brian bahkan harus direpotkan dengan urusan perkara “ngidam” yang kata Liam harus selalu dituruti demi anaknya agar tidak beliur setelah lahir. Mau tak mau, kapan pun dan di mana pun Brian berada, saat Elma tiba-tiba meneleponnya dan mengabari bahwa dirinya ingin dan membutuhkan sesuatu, Brian langsung hadir untuk memenuhinya.
Persetan dengan perjanjiannya dengan Liam, kini Brian jelas menyesali semua itu. Bayaran lima kali lipat dari gajinya jelas tidak sepadan, pikir Brian.
“Kan Kakak sendiri yang bilang kalau aku butuh apa-apa tinggal hubungi. Aku kan nggak mungkin minta Ibu untuk cari kue putu pagi-pagi begini, kasihan Ibu kalau harus keliling mencari.”
Brian mendengus, setelah beberapa bulan mengenal dan hampir setiap hari bertemu dengan Elma, pria itu benar-benar sudah mengenal watak gadis itu. Bahkan, Brian kini benar-benar menganggapnya seperti adik sendiri—iya, adik yang kurang ajar karena benar-benar memanfaatkan kebaikan kakaknya.
“Kamu kasihan sama Ibu tapi nggak kasihan sama aku, begitu? Tega sekali. Untung aku bisa menemukan makanan yang kamu mau itu karena informasi dari penyidik di kantorku.”
__ADS_1
Elma tertawa terbahak di depannya. Terlihat ceria sekali, bahagia. “Hanya untuk kue putu saja pakai informasi dari penyidik segala? Berlebihan.” Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala. Tawanya terlihat kepayahan karena perutnya yang sudah membesar, beberapa kali Brian juga melihat Elma meringis sambil mengusap-usap perutnya.
“Jangan tertawa seperti itu, ah. Aku takut. Kamu kelihatan kesakitan kalau lagi tertawa.”
“Anak itu mana mau dengar, Bri. Sudah Tante bilang jangan terus merepotkan kamu saja dia tidak peduli.” Ibu Arini datang dari arah dapur, membawakan segelas teh yang masih mengepul dan menyajikannya di hadapan Brian. Pria itu berterima kasih, sebelum kembali bersungut tanpa suara ke arah wanita di sampingnya.
“Lho, kan Kak Brian sendiri yang bilang kalau aku ingin sesuatu dan butuh apa pun langsung hubungi dia. Aku hanya menuruti apa katanya kok,” sungut Elma tidak mau dipojokkan.
Ibu yang mengambil duduk di sofa lain menyipit mendengar pembelaan itu dari putrinya. “Kamu selalu mengambil alasan yang sama kalau sudah menyangkut hal ini,” cibir Ibu.
“Tapi aku kan benar...” balas Elma tidak mau kalah.
“Kalau soal itu sih, Brian tidak keberatan, Tante, karena memang saya sendiri yang mengatakannya. Tapi Brian hanya meminta Elma tahu waktunya sedikit, dan sedikit menghargai apa yang sudah saya usahakan. Ingat beberapa hari lalu saya membawa manisan yang Elma inginkan di pagi buta? Saat saya datang katanya dia sudah tidak menginginkannya lagi, itu kan benar-benar menyebalkan.”
“Memangnya salahku kalau bayinya memang sudah tidak mau?”
“Ya harusnya kamu membujuk bayimu agar tetap mau. Lagi pula dari yang aku dengar, kalau sudah hamil sebesar ini sudah tidak ada tuh yang namanya ngidam, jadi seharusnya kamu berhenti untuk minta yang aneh-aneh sama aku, kan? Apa jangan-jangan kamu memang sengaja ngerjain aku?”
Elma menegakkan posisi duduknya yang semula bersandar, tertawa sarkas dengan wajah dibuat terpasang menyebalkan di depan Brian. “Oh, oh ... lihat siapa yang bicara? Jadi kakak pamrih? Ya sudah, tinggal tidak usah dilakukan. Biar saja anak ini berliur seperti keinginan Om-nya. Aku sih tidak peduli karena jelas Om-nya ini yang akan kena marah oleh papanya.” Elma menaikkan dagu congkak, membuat Brian bungkam namun dengan gesture gemasnya.
Ibu tertawa mendengar perdebatan kedua orang itu. Usia mereka memang terpaut lumayan jauh, tapi tingkah mereka benar-benar seperti kakak-adik yang kalau bertengkar tak ada yang mau mengalah. Melihatnya, Ibu jadi geleng-geleng kepala sendiri.
“Sudah, sudah. Jangan bertengkar lagi. Lebih baik kita sarapan sebelum sup-nya dingin. Kamu juga, Brian, bukannya kamu harus cepat-cepat ke kantor? Jadi ayo sarapan dulu.”
Hanya beberapa bulan memang, hanya dalam beberapa bulan kehadiran Brian yang mengisi waktu mereka yang seolah terisolasi di balik dinding megahnya apartemen itu jadi berwarna dibuatnya. Ibu yang semula asing dan banyak menghindar akan kehadiran pria itu pun perlahan menerima, hingga akhirnya mereka kini terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Mereka menikmati, mereka menjalani semuanya dengan lepas, karena mereka tahu, waktu yang mereka jalani saat ini adalah semu.
Kebahagiaan yang kapan saja bisa hilang dan harus mereka relakan begitu pemilik atas semua kebahagiaan itu mengambilnya dari tangan mereka kapan pun orang itu inginkan. Ya, semuanya berawal dan berakhir dengan adanya bayi itu. Bayi yang kini masih ada dalam kandungan Elma, bayi yang akan lahir hanya dalam hitungan beberapa minggu lagi. Bayi yang sudah Elma dan ibunya sayangi, namun juga harus mereka relakan.
📽To be continue🎞
__ADS_1