Perjuangan Wanita

Perjuangan Wanita
Episode 7


__ADS_3

Trimester pertama kehamilan jelas menjadi masa paling sulit yang harus Elma alami, karena selain harus mengontrol toleransinya pada bau-bauan yang ada di sekitarnya, pada makanan yang di makannya, gadis itu juga harus berusaha menutupinya dari orang-orang sekitar terutama sang Ibu.


Padahal, jadwal operasi transplantasi ibunya sudah berada di depan mata, dan itu berarti Elma harus selalu berada di samping Ibu dan mendampinginya bahkan hingga nanti masuk pada tahap pemulihan. Waktu yang tidak sebentar, dan Elma harus menahan semua itu.


“Kamu bisa minum obat dan vitamin ini untuk mengurangi mualmu. Sedikit membantu, tapi tidak bisa menghilangkan keseluruhannya.” Jenny menyodorkan bungkusan obat dari meja kerjanya, tepat saat Elma mengunjungi ruangannya dan mengeluhkan tentang mual yang amat sangat akhir-akhir ini. “Tapi kalau kamu memang tidak bisa menoleransi bau desinfektan dan semacamnya, ada baiknya kamu jauhi ruang perawatan untuk beberapa waktu El. Kakak yang akan sering menengok Tante Arini sebagai gantinya, kamu tidak perlu khawatir.”


Rasanya Elma ingin sekali mengiakan hal itu. Ini pertama kali dalam hidupnya dia tidak mampu menoleransi sesuatu, padahal sejak kecil Elma sudah biasa untuk menahan rasa sakit atau semacamnya.


Elma tumbuh sebagai gadis yang tidak manja dan mudah rewel, tapi kali ini dirinya benar-benar merasa bahwa keteguhan yang selama ini diperlihatkannya percuma, karena hormon kehamilan ini jelas mengalahkan usahanya untuk tetap menjadi Elma yang sama selama belasan tahun belakangan.


“Tapi besok adalah jadwal Ibu operasi, aku bahkan sudah izin untuk tidak masuk kerja karena ingin bersama Ibu seharian. Tapi bau-bauan di sini memang benar-benar membuatku mual dan tidak bisa menahannya, Ibu bisa khawatir kalau melihatku ke toilet dan muntah terus.” Entah sudah berapa banyak Elma mengeluarkan kata ‘tapi’ dalam setiap kalimatnya sejak tadi, karena memang sebimbang itulah dirinya.


“Itu artinya kamu harus tahu kapan kamu bisa bertahan dan kapan kamu tidak bisa menahannya. Di saat seperti ini kamu yang lebih tahu apa yang kamu rasakan, Elma. Jadi jangan memaksakan diri, ibumu akan baik-baik saja dalam penanganan Dokter Dina, tidak perlu khawatir.”


Pada akhirnya Elma hanya mengangguk kaku. Meski entah bagaimana realisasinya saat dia berhadapan dengan situasi nanti, yang jelas Elma harus mulai mencari alasan, berjaga-jaga jika Ibu mulai bertanya-tanya.


“Ngomong-ngomong, tadi kamu bilang kamu masih bekerja?” tanya Jenny setelah ingat perkataan Elma sebelumnya, gadis itu mengangguk.


“Mereka memberikanmu empat kali lipat dari yang kamu butuhkan, Elma. Semua biaya rumah sakit bahkan sudah kamu lunasi dengan estimasi biaya perawatan setelah tahap operasi, apa sebaiknya kamu tidak berhenti saja?” tatap Jenny khawatir.


Raut wajah Elma tiba-tiba berubah sendu, gamang dan cemas di saat bersamaan. “Entahlah, Kak Jen. Aku hanya merasa aku tidak ingin kehilangan diriku begitu saja dengan semua peristiwa ini. Aku tetap ingin menjadi Elma yang tahu caranya berusaha keras, karena perubahan besar itu seringkali menakutkan, itu kenapa sebisa mungkin aku masih berusaha mempertahankan apa yang aku kenali dari diriku.” Kedua bahu Elma mengedik acuh. “Tapi sekali lagi, aku tidak tahu ke depannya ... jadi biarkan aku menjalani seperti ini dulu.”


Jenny menarik napas berat, lalu mengangguk mengerti. “Pokoknya kalau sudah merasa tidak sanggup cepat-cepat berhenti, ya? Bekerja dalam keadaan hamil jelas bukan hal yang mudah.”


Elma tersenyum, mengangguk mengerti.


***


Pertarungan yang berat, antara keinginannya untuk tetap berada di depan ruang operasi dengan keinginannya pergi dari sana karena rasa mual dan pusing yang terus menyerang. Elma sudah beberapa kali keluar-masuk toilet yang terletak tak jauh dari tempat itu, hanya untuk menuntaskan rasa mualnya yang menjadi, tapi bukannya merasa lebih baik, dengan penciumannya yang semakin sensitif Elma justru merasa semakin buruk.

__ADS_1


Gadis itu kembali berdiri, hendak melangkah menuju toilet lagi sebelum semua terasa berkunang dan sesuatu yang berat menghantamnya secara virtual. Tubuhnya seketika kehilangan tenaga, ling-lung hingga tak tahu harus ke mana berpijak, ketika semuanya mulai terasa gelap, Elma merasa seseorang menopangnya sebelum jatuh membentur lantai.


“Hei, kamu sudah siuman?” sapaan itulah yang pertama kali Elma dengar saat berusaha memindai sekitarnya. Kepalanya masih sakit, tapi tidak seberat sebelumnya ... Sebelumnya? Tunggu!


“Ibu? Bagaimana dengan Ibu?” Tubuh itu tiba-tiba bangkit dalam posisi terduduk, membuat kepalanya terasa diserang mendadak oleh sesuatu yang keras.


“Pelan-pelan, El. Kamu baru saja siuman.” Jenny menghampiri dengan raut khawatir, memeriksa apa ada sesuatu yang salah dengan gadis itu.


“Ibu, Kak. Operasi ibu—” masih dengan mata terpejam karena memproses rasa sakitnya yang belum reda, fokus Elma tertuju pada satu topik yang tidak akan membuatnya tenang kalau belum mendapat jawaban pasti.


Tanpa sepengetahuan Elma, Jenny tersenyum tipis. Kembali ke meja nakas di sampingnya kemudian meracik teh hangat untuk Elma.


“Ibumu baik, sangat baik, El. Operasinya berjalan lancar, dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan saat ini.”


Perlahan mata Elma terbuka, mencari kebenaran itu dari wajah sosok dokter di sampingnya. Dan senyuman yang Jenny berikan saat menoleh padanya membuat semua beban berat yang semula dia pikul kini terangkat seluruhnya. “Kakak benar, kan? Tidak bohong?”


“Apa wajahku terlihat seperti sedang berbohong? Dengan senyum semanis ini?”


“Tante Arini bahkan sudah siuman, sempat menanyakanmu tadi. Tapi aku langsung memberikan alasan kalau kamu ada urusan penting hingga harus pergi dulu, tenang... aku bilang pada Tante kalau kamu bersamanya sepanjang operasi berlangsung.” Jenny mengangkat bahu acuh. “Aku tidak sepenuhnya berbohong, kan? Kamu toh masih berada di rumah sakit yang sama.”


Elma tersenyum dan hendak menanggapi dengan kalimat terima kasihnya ketika tiba-tiba pintu ruang rawat yang dihuninya terbuka karena kedatangan seseorang.


“Oh, kamu sudah kembali,” sapa Jenny menyambut.


“Pak Brian?”


“Eiits, tidak-tidak... Jangan panggil aku Bapak! Bukankah kita sudah sepakat soal ini tempo hari, Elma? Panggilan itu tua sekali, dan jelas tidak keren. Panggil aku Kakak seperti kamu memanggil Jenny, oke? Itu terdengar lebih baik.” Belum apa-apa pria itu sudah mengoceh panjang lebar seperti biasa.


Anggukkan yang dia terima dari Elma membuat Brian tersenyum puas. Lantas dengan dua kantong belanja yang sejak masuk ruangan tadi berada di tangannya, pria itu melangkah menghampiri Elma, meletakkan semua kantong belanjaan itu di atas ranjang, membuat Elma melemparnya dengan tatapan tanya.

__ADS_1


“Hei, setidaknya kamu harus menjelaskan dulu kenapa kamu bisa ada di sini. Jangan membuatnya bingung, apalagi dengan kelakuan bodohmu itu.” Jenny komentar setelah melihat ekspresi Elma yang tidak tertolong. “Ah, biar aku saja yang jelaskan. Kalau kamu diminta bicara, pasti ujung-ujungnya ngawur. Jadi Elma, kenapa orang bodoh ini bisa di sini tentu karena dia yang menemukanmu pingsan di depan ruang operasi tadi, dan dia juga yang akhirnya membawamu ke ruangan perawatan lalu memanggilku sebagai dokter penanggungjawabmu.”


Singkat dan padat, jadi Elma bisa membayangkan kurang lebih bagaimana situasinya. Seseorang yang menopangnya saat hampir tersungkur ke lantai itu Brian?


“Dan, euh...” Jenny ingin melanjutkan, tapi seolah meminta persetujuan dulu pada yang bersangkutan. Brian memberi isyarat pada Jenny, bahwa dia yang akan mengatakan sisanya.


“Mungkin juga kamu bertanya-tanya kenapa aku bisa ada di sini, padahal aku jelas tidak sakit atau berniat menjenguk seseorang. Tidak, aku bukan orang yang akan melakukan itu karena aku tidak punya kenalan yang harus kuperlakukan seperti itu di negara ini—aduh!”


Lengan atas Brian dipukul Jenny karena seperti kekhawatirannya, pria itu mulai meracau di luar jalur. “Kamu malah membuatnya bingung karena tidak langsung cerita ke intinya!” omel Jenny.


Brian mengangkat tangan, mengangguk mengerti dan coba membujuk Jenny agar bersabar dan kembali memberinya kesempatan untuk melanjutkan perkataannya. Pria itu kembali memusatkan matanya pada Elma.


“Jadi intinya Elma, ayah dari bayimu itu memaksaku untuk memastikan bahwa kamu dan bayinya baik-baik saja, salah satunya dengan cara mengikutimu dan memantau apa saja yang kamu lakukan. Tidak—jangan dipotong dulu, oke?” Brian mengangkat tangannya, kali ini pada Elma yang terlihat akan menyela.


“Aku bukan stalker, mengerti? Jangan berprasangka aku mau melakukan hal sememalukan itu. Kamu bisa menganggap aku bodyguard-mu dari jarak jauh, yah kira-kira begitulah kurang lebihnya.”


Kernyit di kening Elma tetap menunjukkan keberatan. “Tapi intinya Kakak mengikuti tanpa sepengetahuan dan izinku. Lalu apa bedanya dengan penguntit? Itu terdengar sama buruknya.”


“Itu mengapa aku mengatakannya sekarang. Karena mulai saat ini aku akan mengawasimu terang-terangan, apalagi setelah kamu pingsan tadi. Makanmu juga tidak teratur dan tidak banyak karena mual yang kamu rasakan, kan? Dan itulah alasanku membelikanmu semua ini.” Brian menunjukan kantung belanjaan yang masih bergeming di atas ranjang Elma.


“Menurut seseorang yang aku kenal dan tahu banyak soal kehamilan, semual apa pun, ibu hamil tetap harus makan. Tak apa meski sedikit, tapi buatlah sesering mungkin, karena ibu hamil tetap perlu asupan. Malah asupannya harus dua kali lebih banyak, karena ibu hamil kan bukan hanya makan untuk dirinya sendiri melainkan untuk janin yang ada dalam kandungannya.”


Tanpa sepengetahuan Brian, Jenny yang mendengarkan di belakangnya terkejut dengan usaha pria itu untuk mencari tahu tentang ibu hamil. Sedikit merasa tersentuh meski Jenny masih berusaha menyangkalnya dengan sebuah cibiran tanpa suara.


“Ayah dari bayi itu adalah salah satu pewaris kerajaan bisnis terbesar, yang mana bayi itu juga nantinya akan menjadi pewaris sama seperti ayahnya. Jadi, jangan heran kalau dia ingin yang terbaik untuk anaknya. Kamu hanya perlu patuh dan mengikuti apa yang dokter sarankan, mengerti?”


“Termasuk menempatkan aku di kamar VVIP ini?” tanya Elma tiba-tiba, mengedarkan pandangannya pada ruangan mewah yang menjadi tempatnya istirahat saat ini.


Brian mengangguk tanpa ragu. “Termasuk tempat ini dan fasilitas istimewa yang akan segera kamu terima. Oh jangan lupa, pengunduran dirimu di tempat kerja juga menjadi salah satu yang termasuk di dalamnya.”

__ADS_1


Elma tahu, hidupnya tidak akan menjadi sama lagi setelah hari ini. Meski mungkin, itu hanya berlangsung sementara.


📽To be continue🎞


__ADS_2