Permainan Menipu

Permainan Menipu
Game 2


__ADS_3

Petunjuk Deception Game, Ronde kedua.


...----------------...


"Deception gamenya... Be-belum berakhir..?" Tangan ku gemetaran tak percaya, Daniel yang berada di belakang Alice pun mengambil kartu itu yang ada di tangan Alice, karena sudah membaca sisi depan kartu, Daniel pun membalikan kartu tersebut.


Selamat atas kemenanganmu di ronde pertama DECEPTION GAME!


Ronde kedua dari DECEPTION GAME akan dimulai ditempat dan waktu yang tertera di samping.


Harap datang tepat waktu, karena permainan akan berlangsung lama, harap pemain mempersiapkan baju ganti.


Di samping kartu itu, terdapat sebuah map kecil yang menunjukkan suatu tempat. Dan disana terdapat bintik merah yg sepertinya itu adalah tempat permainan ronde kedua berlangsung. Daniel kini tidak membacanya dalam hati agar Alice dapat mendengar semuanya isi di kartu tersebut.


"Anda juga dapat memilih untuk keluar di titik ini. Kalau kau membayar setengah kemenanganmu dari ronde pertama, kau dapat menarik diri dari semua ronde yang akan datang. Dalam kasusmu, itu akan menjadi 5 miliar." Kata Daniel berdasarkan tulisan di kartu itu.


"5 miliar..?? Itu mustahil...."


"Harap datang tepat pada waktunya. Pemain yang tidak hadir pada waktu dan tempat yang ditentukan akan dianggap absen dari permainan. Jika seorang pemain absen, mereka harus membayar semua yang dihadiahkan di ronde pertama. Dalam kasusmu, itu akan menjadi 10 miliar." sambung Daniel, mendengar hal itu Alice bergidik ngeri dan ketakutan.


Jikalau uang itu tidak diberikan kepada pak Roy, pastinya Alice akan memberikan uang 5 miliar itu ke pihak DGT. Namun, hal itu tidak diduga oleh mereka berdua kalau permainan ini tetap berlanjut. Namun, hal itu percuma, nasi sudah menjadi bubur.


"Kalau masih ada uangnya, maka kita akan membagi menjadi 2,5 miliar sama rata. karena, pada ronde pertama aku bukanlah pemain yang terpilih dari DGT. Aku hanyalah kaki tanganmu atau katakanlah aku bersedia membantumu."


"Yeah.. It-itu benar.."


"Abaikan saja. Secara hukum, ini hanyalah omong kosong. Jangan terlibat lebih jauh.."


"Tapi.."


"Kalau kau masih khawatirkan tentang ini.." Daniel mengambil sobekan kertas kecil dan pulpen yang ada di kantong celananya, ia menuliskan sesuatu. Sebelum Alice bertanya, Daniel memberikan kartu DGT yg tadi ia baca dan sobekan kertas kecil yang ia tulis.


"Ini nomerku.. Setidaknya aku akan mendengarkan apa yang ingin kau katakan." Kata Daniel, setelah itu ia berjalan turun melewati tangga dan pergi meninggalkan Alice berdiri sendiri disana yang masih terdiam.. Bahkan saat membaca kartu itu, Alice lupa untuk memberikan uang sejumlah 5 juta untuk Daniel sebagai tanda terimakasih karena telah menolongnya.


"(Daniel...)" Gumam Alice sambil melihat punggung Daniel yang perlahan menjauh dan tak terlihat lagi.


.


.


.


Beberapa hari kemudian..


Aku sudah mencoba memutuskan untuk mengabaikan kartu itu seperti yang Daniel katakan. Namun, aku tidak bisa menghindari kegelisahan ini.


Aku tidak pernah menginginkan ini... Meskipun begitu, aku ternyata memenangkan ronde pertama Deception Game. Berhenti di titik ini dalam permainan? Aku, aku tak yakin perusahaan akan menerimanya. Apa mereka akan benar-benar meminta 10 miliar? Maksudku, aku bahkan tidak bisa membayar 5 miliar.


Aku menjalani hari² ku dengan penuh kegelisahan, bahkan aku bekerja pun kurang konsentrasi, pendapatku semakin kuat ketika kakak seniorku di tempat bekerja mengatakan hal ya sama.


Alice, kamu baik² saja? Akhir² ini kamu kurang berkonsentrasi.. Apa kamu ada masalah yg begitu berat?? Kamu bisa minta tolong ke aku kok, jika mau.. :)


Aku membalas dengan senyumanku yang terlihat memaksa, seakan tidak terjadi apa-apa.


Ah, enggak kok kak, aku cuma kecapekan sama kurang tidur aja..


Begitu.. Alasan yang masuk akal... Kalau memang kamu membutuhkan bantuan, aku siap membantu kok..


Iya kak, makasih..


Aku cukup dekat dengan kakak seniorku semenjak bekerja sebulan yang lalu, terkadang ia membantuku ketika aku kesulitan dan setelah itu ia mengajariku. Aku ingin bercerita dengannya, tapi aku butuh waktu dan timing yang tepat.


Walaupun ia menawarkan bantuan, tapi itu tidak menjamin dia akan membantuku setelah aku menceritakan dan meminta bantuan tentang hal yang kualami saat ini. Yah, tapi setidaknya ia mau mendengarkan cerita ku ini dengan penuh kepercayaan dan tidak menganggap bahwa hal itu sebuah kebohongan.


Aku bimbang, aku ingin mengatakan sesuatu ke Daniel melalui telepon sekaligus meminta bantuan dengannya atau tidak.. Saat menelpon Daniel, beberapa detik kemudian aku mematikan panggilan itu. Dan itu aku melakukannya sampai 2 kali, karena kebimbangan hatiku. Selama aku melakukannya, Daniel tidak mengangkat telpon, mungkin ia sedang sibuk.


Tidak... Aku tidak bisa... Aku tidak bisa membebani Daniel lagi. Walaupun ia telah bekerja bersamaku selama sebulan penuh. Aku tidak dapat memberikan apapun sebagai gantinya. Aku tidak boleh merepotkan dia lagi. Tidak peduli alasannya.


Ting Tong!


Tiba-tiba saja ada suara bel yang dipencet, seseorang? Tamu? Aku tidak memesan paket apapun hari ini.. Karena hal itu, Alice segera berjalan dan membuka pintu, dicelah-celah pintu Alice bertanya dan mengintip.


"Siapa??"


"Selamat siang!"


"Kau... Pengacara waktu itu!"


"Ah.. Yah.. Aku kebetulan lewat.. Aku benar-benar ingin minta maaf. Bagaimana mengatakannya yah... Hmm.. Aku khawatir konsultasiku tidak bisa membantumu." Rayn menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal itu, tentu ia merasa tidak enak. Alice dengan mudahnya memaafkan pengacara itu yg terlihat sudah berumur 40 tahun lebih. Karena itu, aku mempersilahkan si pengacara untuk masuk.


Karna ada pengacara itu, Alice berpikir sejenak apakah ia akan menceritakan kejadian Deception Game ronde 1 kepadanya atau tidak, namun setelah dipikirkan, Alice akan menceritakan kepadanya walaupun tidak mendetail, tapi pada intinya Alice akan mengatakan bahwa ia meminta bantuan Daniel dan ia memenangkan ronde pertama berkat bantuan Daniel.


"Apa?!! Kau benar-benar meminta bantuan kepada Daniel??!" Tentu hal itu membuat Rayn terkejut tak percaya. Alice meyakini bahwa hal itu benar dan bukanlah sebuah kebohongan kepada Rayn.


"Iya.."


"Tapi aku hanya bercanda.. Aku tidak percaya kau benar-benar meminta bantuan kepada mantan narapidana."


"Tapi... Daniel telah menyelamatkanku. Kalau bukan karenanya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku sekarang."


"Apakah kantor Deception Game itu mengirim sesuatu padamu?" Tanya Rayn penasaran.

__ADS_1


"Hanya ini." Alice mengambil kartu Deception Game yang ada di kasurnya dan memberikan kepada pak Rayn, Rayn menerima kartu sebanyak 3 dan perlahan ia membaca satu persatu isi setiap kartu. Raut wajahnya kini menggambarkan kengerian dan ketakutan setiap ia membaca teks di kartu itu.


"(Mengerikan)" Gumam Rayn, walaupun begitu Alice masih dapat mendengar nya.


"Uh... Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rayn sembari menaruh kartu di lantai. Alice menghela nafas panjang.


"Daniel mengatakan untuk mengabaikannya saja. Karena secara hukum tidak ada alasan untuk mengikuti... "


"Tapi, kau pasti khawatir.. Tentu saja Daniel cukup benar, tapi... Hanya duduk disini dan menunggu pasti menekanmu, kan?"


"Iya.."


"Dan kau tahu, hanya karena ada hukum bukan berarti kau akan aman. Kriminal, akan selalu mencari celah untuk keluar dari hukum dan membuat kejahatan baru. Sejujurnya, bahkan aku tidak tahu apa yang direncanakan kantor Deception game berikutnya."


"Be-benarkah?? "


"Ya.."


"Aku heran sampai kapan aku akan hidup dalam kecemasan ini?" Alice menghela nafas panjang, lelah dan frustasi sudah menyelimuti dirinya.


"Kalau begitu, bagaimana kamu kau pergi dan mengancam mereka?"


"Apa??"


"Pergilah ke tempat permainan akan berlangsung dan katakan dengan jelas kepada orang-orang itu : "berhenti menggangguku! Aku tidak pernah ingin berpartisipasi dalam permainan ini. Jangan libatkan aku lagi! Kalau kalian tidak berhenti, aku akan melaporkannya ke polisi!" Yang penting adalah membuat jelas kalau kau terganggu dengan tindakan mereka. Penipuan semacam itu menganggap target mereka lemah. Kalau kau menunjukkan pada mereka kau kuat, mereka pasti akan meninggalkanmu! Kalau mereka masih meminta uang setelahnya, maka datang dan bicarakan padaku! Karena dengan begitu aku Pasti membantu!" ujar pak Rayn dengan senyum lebar penuh percaya diri.


"Baiklah.. Aku mengerti.."


Mendengar usulan dan saran dari pak Rayn, aku sedikit mendapatkan secercah harapan untuk menghilangkan kegelisahanku, Alice tersenyum kecil kepada pak Rayn. Hal itu membuat Pak Rayn salah tingkah..


"Oh iya!! Maaf Pak! Aku belum menyediakan apapun un---"


"Ah aku sudah mengambil terlalu banyak waktumu. Aku harus pergi bertemu dengan klien." Pak Rayn memotong perkataan Alice sembari bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Sepertinya ia sedang terburu-buru. Alice pun ikut bangkit dan berjalan di belakang beliau sampai di depan pintu.


"Ah, bagaimana dengan biaya konsultasimu?"


"Jangan pikirkan soal itu! Ini untuk mengganti yang waktu itu." Pak Rayn menolak sekaligus ia merasa tidak enak dengan Alice.


"Bagaimanapun, pastikan kau tunjukkan pada mereka siapa yang berkuasa. Semoga berhasil." Membuka knop pintu dan menutupnya kembali. Alice berharap ucapan terimakasihnya terdengar oleh pak Rayn. Beliau pergi begitu cepat, sepertinya memang sedang sibuk.


"(Syukurlah! Aku dapat bertemu dengan pengacara yang begitu baik!)" Batin Alice


senang, ia tersenyum sesekali bersenandung.


Aku merasa jauh lebih baik. Benar juga... Yang harus kulakukan adalah mengatakan tidak kepada mereka dengan...


Kring...! Kring..!


Tiba-tiba saja hp yang ada di kasurnya berbunyi, Alice segera mengecek hpnya dan ternyata itu telepon dari Daniel. Ia pun mengangkatnya.


"Iya, ada apa Daniel?"


"Maaf, tadi tidak mengangkat panggilanmu. Jadi, ada apa menelpon?"


"Aku sedikit gugup, jadi aku ingin berbincang denganmu tentang masalah itu. Tapi aku sudah tidak apa-apa sekarang. Aku baik-baik saja!"


"Begitu ya.." Daniel merasa senang ketika Alice tidak merasa khawatir dan gelisah lagi. Tanpa diketahui Alice, Daniel tersenyum kecil. Yah, walaupun sekilas dibenak Daniel sedikit ragu apakah ia benar baik-baik saja? Namun, karena Alice adalah tipe orang yang sangat jujur, jadi tidak mungkin ia berbohong.


"Hallo? Daniel?"


"Ah iya?! Maaf aku tadi melamun, hehe.. "


"Ah.."


"Oh ya, ada yang mau dibicarakan lagi? Maksudku, jika tidak ada aku akan menutup telpon. Soalnya ada urusan yg harus dikerjakan. Aku menelpon hanya untuk menanyakan itu."


"Begitu ya, hmmm... Tidak ada.."


"Ok"


Daniel mengakhiri panggilan duluan, akhirnya Alice bisa sedikit tenang, hanya saja ia tinggal mempersiapkan diri untuk mengatakan hal itu kepada pihak DGT. Aku sudah memutuskan kalau aku tidak akan bergantung pada Daniel lagi. Dengan situasi ini harus diselesaikan olehku.


Hari ronde kedua Deception Game pun tiba. Sebelumnya, Alice tidak tahu letak tempat permainan ronde kedua berlangsung. Sebenarnya ia bisa bertanya kepada Daniel, tetapi Alice mengurungkan niatnya, karena itu bisa saja termasuk merepotkan Daniel sekaligus itu akan membuat Daniel mengetahui bahwa dirinya akan datang ke tempat ronde kedua berlangsung.


Setelah dicermati dengan detail. Alice menemukan jawabannya, bahwa titik merah kecil itulah tempat permainan ronde kedua berlangsung. Alice begitu yakin, karena semua tanda panah kecil di setiap jalan semuanya menuju ke arah titik merah. Walaupun tidak sampai ke titik merah, tapi setidaknya ia tahu tempatnya. seperti tempat itu tidak dapat dilewati oleh kendaraan darat.


Karena jarak yang cukup jauh, Alice menggunakan transportasi umum yaitu kereta. Beruntungnya lokasi itu dekat dengan stasiun, maka dari itu ia menggunakan kereta.


POV : Daniel


Tap! Tap! Tap!


Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga dengan ritme cukup cepat. Ternyata itu Daniel. Sesampainya di depan kamar Alice, Daniel pun menekan belnya. Setelah ditunggu beberapa saat, Alice tidak kunjung jawab atau membukakan pintunya. Daniel menekan sekali lagi belnya dan hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban..


Ting! Tong!


Ting! Tong!


Tidak mungkin ia masih tertidur, jikalau begitu, harusnya ia terbangun karena berisiknya suara ini.


Hal itu semakin diperkuat ketika Daniel sudah berada disana selama 5 menit dan sudah menekan bela berkali-kali.

__ADS_1


"Tidak ada disini... Jangan bilang... Dia benar-benar kesana??" Tebakan yang begitu tajam, Daniel berlari pergi meninggalkan apartemen Alice. Tentu ia akan menyusul Alice ke tempat permainan ronde kedua berlangsung. Untungnya ia sempat melihat titik merah itu berada, yang membuatnya tahu lokasi permainan berlangsung ada dimana.


Pov : Daniel End..


Saat keluar dari stasiun, Alice harus berjalan sejauh 1 km ke arah selatan. Singkatnya ia pun hampir sampai ke titik tujuan, setelah beberapa kali bertanya kepada orang disekitar untuk memastikan. Alice pun menaiki tangga yang cukup tinggi dan panjang berlika-liku. Saat di anak tangga terakhir, Alice melihat sebuah rumah besar dengan gaya barat kuno.


"Disini? Ini tempat dimana ronde kedua akan berlangsung?" Alice cukup penasaran sekaligus kagum dengan rumah yang begitu besar dan terkesan mewah. Namun, jika tidak ada orang yang menempati, rumah inilah yang pertama yang akan dihindari oleh Alice karena menyeramkan.


Alice berjalan perlahan mengelilingi rumah tersebut untuk mencari jalan masuk, sesekali pandangannya tidak terputus kepada rumah dan luas halaman tersebut. Rumah ini dibangun dengan cara memanjang kebelakang. Karena, rumah ini sangat besar dan memiliki 3 lantai, membuat rumah itu semakin panjang.


Alice pun masuk melalui pagar yang tidak dikunci, kondisi pagar menurutnya cukup baik-baik saja, namun tidak dengan suaranya yang bikin nyaring dan ngilu di telinga Alice. Karena, suara yang bikin ia tidak kuat, Alice menggeser pagar itu secukupnya saja.


Yah, dengan celah ini harusnya cukuplah ya..


Saat sudah masuk, Alice berniat untuk menutupnya kembali. Namun, hal itu dicegah oleh seorang pria yang ada di belakangnya.


"Biar saya saja yang menutupnya, nona. Anda masuk saja sekarang." Ucap pria itu tegas, Saat Alice menoleh kebelakang ternyata ia memakai topeng dan menggunakan pakaian yang sangat rapi layaknya seorang pekerja kantoran. kedatangannya membuat Alice takut sekaligus penasaran. Walaupun begitu, seperti ia merupakan utusan dari kantor Deception Game.


"Anda harus menuju ke pintu besar itu." Sambung pria itu setelah cukup dekat dengan Alice sambil menunjuk ke arah pintu yang cukup besar tanpa memberhentikan kakinya dan terus berjalan menuju pagar.


"Ah, begitu... Terima kasih..." Alice tersenyum karena ia merasa terbantu. Pria itu tidak merespon dengan ucapan Alice. Walaupun terkesan aneh bagi Alice, tapi sekarang ia tidak mau memikirkan hal itu lebih lanjut.


Alice kembali berjalan, namun baru beberapa langkah Alice dipanggil dengan namanya dari samping kirinya, Dan itu suara pria. Tentu, Alice melirik ke sampingnya dan melihat seorang pria bertopeng sama seperti sebelumnya, namun kali ini dia sedikit pendek dan gemuk. Alice merasa aneh dengan kemunculan pria itu, karena sebelum berjalan ia melihat sekeliling dan tidak mendapati seseorang sama sekali.


"[Dari mana kedatangan pria ini?]" Batin Alice penasaran.


"Selamat datang pada ronde kedua Deception Game! Mari, lewat sini."


"Ah, aku.... Uh..." Pria itu sudah berjalan perlahan meninggalkan Alice yang masih terdiam disana. Alice pun menyusulnya dengan berlari kecil, dan kini ia berada di samping pria itu. Alice berkata sedikit kencang.


"Tolong jangan libatkan aku disini lagi! Berhenti menggangguku! Kalau kau tidak membiarkanku sendiri, aku akan menuntut! Aku akan melaporkan kalian ke polisi! Aku bahkan sudah mempunyai pengacara!!" Alice berkata cukup kencang membuat ia kelelahan sejenak, pria itu tidak langsung merespon apa yang dikatakan Alice, ia menunggu sejenak.


"Haa.... Haa... Haa..."


"Apa sudah selesai berbicaranya, nona?"


"..."


"Hehehehe... Kau memiliki pengacara yang mau mengambil kasus ini?"


"Yaa! Itu benar!"


"Hehehe... Itu sebuah masalah, siapa orang yang mengatakan kepadamu omong kosong seperti itu? Mungkinkah orang itu adalah pengacara tertentu yang mirip denganku?" Ternyata saat pria itu membuka topeng, ia adalah pengacara yang ditemui Alice sebelumnya yaitu pak Rayn. Rayn tersenyum licik dengan alis yang terangkat satu, seakan ia puas telah membohongi dan menipu Alice.


"???!!!"


"Pak pengacara! Kenapa anda disini??!!" Alice membelalakan matanya tak percaya bahwa si pengacara itu ada disini.


Hahahhaha... Kau mudah dibohongi seperti biasa. Aku bahkan bukan pengacara. Aku pegawai perusahaan Deception Game!" Pak Ryan tersenyum lebar memperlihatkan giginya dengan mata yang seolah-olah meremehkan Alice. Pernyataan itu bagaikan tersambar petir disiang bolong. Alice terkejut bukan main.


"Tidak! Itu bohong! Tapi... Aku aku mencari kantor pengacara jtu sendiri...!" Alice membantahnya seolah ia tidak terima dengan kenyataan itu.


"Dan bagaimana caranya kau mencarinya?"


"Bagaimana katamu? ...... Uh, di daftar buku telpon. Karena hanya seminggu sebelumnya aku mendapat buku telepon baru, maka..."


"Hehehehe.. Buku telepon itu dikirim oleh perusahaan kami!!"


"?!!"


"Restoran, butik, toko perhiasan, atau bahkan bioskop... Untuk mencari itu semua, biasanya kau akan memakai buku telepon, kan? Heheheh.... kami membiarkanmu mencarinya. Kami memanfaatkan kebiasaan kecil itu, kau tahu... Kalau kau pulang ke rumah, lihatlah baik-baik ada trik pada buku telepon itu. Dalam bagian tentang pengacara dan konsultan hukum, ada sekitar 50 nomor yang kami siapkan yang tertulis di halaman-halaman itu.


Jadi tidak peduli siapa yang kau telepon, kau tetap akan tersambung ke tempatku. Aku bukan pengacara atau konsultan hukum! Aku hanya "pengiring" Yang tugasnya memastikan kau mengikuti permainan!" Pak Roy mengakhiri perkataan dengan tertawa meremehkan. Alice mematung tidak bergerak, tidak percaya bahwa orang yang ia anggap baik sebelumnya ternyata orang jahat.


Aku terkejut sekali lagi, aku telah dibohongi oleh orang yang kuanggap baik. Tanpa sadar aku meremas bajuku karena merasa aku bodoh. Aku menangis mengetahui kenyataan ini, Air mata yang sudah tidak dapat ditahan lagi.


"Hiks... Hiks..... Uwahh..!!


"Hehehe... Apa yang harus ditangisi? Kau telah diberikan kesempatan menakjubkan untuk memperoleh keuntungan besar! Hehehe..." Pak Rayn menyeringai. Pada akhirnya tidak ada gunanya menangis, Alice tetap masuk ke rumah itu yang 'diantarkan' oleh pak Rayn dibelakangnya.


Sepanjang Alice masuk, ia menyusuri koridor yang panjang, dikanan dan dikirinya terdapat beberapa foto, lukisan, cermin besar dan masih banyak lagi. Layaknya seperti rumah orang kaya pada umumnya. Dikoridor itu juga terdapat pintu dikanan maupun dikiri Alice, entahlah itu ruangan apa saja.


Aku diberikan papan nama yang ada namaku dan sebuah nomer, aku mendapatkan nomer 19.


"Apa ini?"


"Ada semacam perhiasan yang tertempel, harap pakai itu setiap saat."


Setelah itu.... Aku dibawa ke ruang perjamuan yang besar.


"Ini tempatnya." Pria bertopeng mempersilahkan Alice masuk, sedangkan pak Rayn menghilan entah kemana semenjak ia menerima papan nama.


Di dalam itu terdapat banyak orang-orang yang sedang berdiri. Kedatanganmu membuat pusat perhatian mereka tertuju padamu, ada yang menatapnya sini, tajam dan biasa saja. Ada grup yang beranggotakan 20 orang di dalamnya.


"Se-semua orang disini... Mereka semua adalah pemenang ronde pertama?" Tanya Alice dengan pandangan tidak melihat ke arah pria bertopeng yang ada disampingnya.


"Itu benar..." Setelah itu Alice masuk, pintu ditutup. Tatapan mereka membuat Alice merasa aneh dan tidak nyaman. Namun, tak berselang lama dari itu, ada suara pria begitu kencang yang mampu didengar semua orang di ruangan ini. Karena hal itu, pusat perhatian mereka terganggu dan kini menoleh ke arah sumber suara.


bersambung........


Terima kasih telah membaca karya ini.

__ADS_1


mohon maaf jika uploadnya agak lama, karena sekarang sudah masuk sekolah, jadi akan upload seperti pada pengumuman sebelumnya.. diusahakan upload kok ;)


#perlahantapipasti


__ADS_2