Permainan Menipu

Permainan Menipu
Harapan


__ADS_3

"Mu-musuh??"


"Cobalah bicara kepada mereka sebanyak mungkin dan ketahuilah kepribadian mereka, cara pemikirannya serta mengapa mereka disini. Sekarang, lebih dari setengah pemain berada di sini... Aku hitung ada 14 pemain. Semuanya mulai dari sini." Perintah Daniel, Alice pun mengangguk dan menurutinya, perlahan ia pun berjalan mendekat ke arah pemain.


"Baik..."


Walaupun aku tidak begitu mengerti apa yang Daniel katakan, aku mencoba untuk berbicara kepada pemain lain. Semuanya melakukan hal yang berbeda. Beberapa orang sedang berbincang, dan bahkan ada satu orang bersandar di dinding mengamati semua orang, seperti Daniel.


"(O-orang itu, orang yang sama dengan orang yang makan siang tadi! Si kacamata!)"


Ketika aku mencoba untuk berbicara kepada para pemain, beberapa dari mereka menolak. Tapi ada juga orang yang tidak berhenti berbicara. Saat ini aku sedang berbicara dengan seorang pria tua bernama Dipa Cahyadi, umur 58 tahun, manager dari pabrik besi. Disaat beliau menyebut namanya, reflek mataku melihat ke arah papan nama di dadanya, dan benar ia tak berbohong.


"Pabrikku mengalami kemerosotan yang buruk sekali sehingga membuatku harus berhutang. Aku hanya bisa mempertahankannya karena pinjaman. Begitu buruknya sampai aku dan keluargaku mempertimbangkan untuk bunuh diri. Dan pada saat itu, kami menerima undangan Deception Game. Aku langsung berpikir, "Tuhan benar-benar ada!!" Aku mendapatkan 20 juta dari babak pertama dan menggunakannya untuk membayar setengah dari hutangku. Tapi, aku mengetahui tentang babak kedua ini... Dan untuk keluar dari permainan ini, kau harus membayar 10 miliar! A-Aku kaget... Maksudku, aku baru saja memakai semua uangnya untuk membayar hutangku... Tidak mungkin aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang sangat singkat...!"


Ucap beliau merasa sedih ketika mengingat kejadian itu kembali, setiap berbicara hampir seluruh tubuhnya bergemetaran. Alice merasa kasihan dengan beliau, umur yang sudah hampir mencapai 60 harus menanggung beban yang begitu berat.


"Be-begitu ya..."


Alice mengobrol sejenak dengan beliau, sekiranya sudah cukup, Alice pun pamit kepada beliau dan memutuskan untuk berbicara dengan lainnya. Sekiranya mencari seorang pemain yang mau diajak ngobrol, Akhirnya Alice menemukan seorang pria yang berpenampilan preman dengan rambut khas seperti anak punk. Ia bernama Riordan, umur 25 tahun. Bekerja di beberapa pekerjaan paruh waktu.


"Kalau aku, hanya bisa mencuri sekitar 2 juta."


"Tapi, kenapa tidak keluar??"


"Tidak pernah terpikirkan olehku. Tapi, bukankah permainan ini mengerikan? Mendapatkan hutang jika kau kalah!? Sial... Mereka benar-benar mempermainkanku. Maksudku, aku berpikir kalau ini akan seperti di babak pertama. Hmmm.. Apakah kau tahu apa yang terjadi jika kau kalah??"


"Ehh..? Ti-Tidak... Tidak tahu..." Alice menggelengkan kepalanya pelan sambil sedikit menggigit bibir bagian bawahnya karena khawatir.


"Mereka sepertinya bagian dari perusahaan yang berbahaya. Aku yakin mereka akan memaksamu menjadi bangkrut. Bagaimana kalau mereka punya hubungan dengan penjualan manusia di luar negeri? Aku yakin kita tidak akan berada disini.... Mungkin juga kita harus bekerja sebagai budak sepanjang hidup kita. Maksudku, kau muda dan cantik. Jika salah satu dari lingkaran pelacuran mereka mendengar tentangmu, aku yakin mereka akan menggunakanmu untuk mendapatkan harga tinggi."


Menurutku apa yang dikatakan Riordan cukup masuk akal, ini hampir mirip dengan teori dari Daniel di hari sebelumnya. Karena aku tidak berpikir sampai sejauh itu, rasanya ini sangat menyeramkan dan membuatku takut.


"Pe-pelacuran??!"


Singkatnya, setelah berbincang dengan Riordan dan beberapa pemain disana, Alice memutuskan untuk kembali ke Daniel untuk laporan. Daniel melihat Alice dari kejauhan yang sepertinya ia mengarah kesini dengan tampang lesu.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Mayoritas dari pemain memiliki hutang atau dipaksa kemari tanpa mengetahui apapun. Seperti, mereka mempunyai masalah pribadi dan bermain di permainan ini dengan harapan dapat menyelesaikan masalahnya." Jawab Alice dengan tampang masih lesu dan sedih.


"Begitu..."


"Mereka semua mendapatkan jumlah uang yang berbeda dari babak pertama. Seperti pria yang bekerja di pabrik metal itu, dia mendapatkan uang paling banyak. Sisanya hanya mendapatlan beberapa juta saja... Seperti hanya ada beberapa orang seperti kita yang berhasil mendapatkan seluruh uang lawannya."


"Hmm.." Daniel menyilangkan tangannya didada dan memejamkan matanya, seperti ia sedang berpikir sesuatu tentang apa yang dikatakan Alice. Alice pun melanjutkan.


"Oh, dan.. Hampir semuanya berkata hal yang sama, mereka berpikir karena babak pertama mudah, babak kedua seharusnya juga mudah. Mereka semua meremehkan permainan ini. Ada banyak pemain yang menggunakan hadiahnya untuk membayar hutang mereka, sehingga mereka tidak bisa keluar. Mereka semua berkata kalau mereka akan keluar jika mereka mengetahuinya lebih awal. Tidak seorangpun mengira kalau babak selanjutnya melibatkan hutang sebesar 100 juta.. Itu benar-benar mengagetkan."


"Kerja bagus.. Demi mempersiapkan untuk besok, sebaiknya sekarang kita tidur." Ajak Daniel untuk keluar dari lobby dan berjalan menuju ke kamar masing-masing.


"Baik.." Namun, baru saja berjalan beberapa langkah keluar dari lobby, Alice terpikirkan sesuatu. Yaitu perkataan dari Riordan, karena sedang bersama Daniel, Alice pun bertanya apakah itu benar atau tidak.


"Apakah kamu berpikir... Mereka akan menjualku?? Se-Seperti di luar negri.. Menjadikanku sebagai pelacur atau sebagainya.. Dimana aku mungkin tidak bisa melihat ayahku lagi..." Alice berhenti berjalan, matanya berkaca-kaca dan suara serak seakan ia tidak terima bahwa hal itu memang benar. Daniel terdiam melihat Alice terus menyeka air matanya.


"Jika kau kalah, maka apapun bisa terjadi."


"Hiks.. Hiks.."


"Berhenti menangis!! Menangis tidak akan menyelesaikan masalah apapun!! Jangan khawatir.. Kau tidak akan kalah. Karena aku mendapatkan cara untuk memenangkan permainan ini."


"Yap.. Ada sebuah strategi yang pasti menang dalam permainan ini."


Alice berpikir sejenak, apakah ada cara untuk memenangkan permainan dengan pasti tanpa ada kelemahan sedikitpun? Walaupun begitu, ia cukup lega dan senang karena menemukan cara untuk memenangkan permainan ini.


"Jadi bagaimana?!" Saking antusiasnya, tak sengaja aku berkata cukup keras. Reflek aku menutup mulutku..


"Shhh.. Pelankan suaramu. Aku tidak bisa bicara disini. Di kamarku saja." mereka pun berjalan menuju kamarnya Daniel untuk membicarakan rencana dan strategi. Singkatnya, mereka pun sampai di kamar Daniel. Mereka duduk di sofa saling berhadapan satu sama lain.


"Sebagai permulaan, katakan padaku apa arti kemenangan bagimu?"


"Umm.. Bertahan sampai akhir dan mendapatkan 2,1 milyar.... Kan??"


"Tapi kalau tersisa 2 pemain, maka akan dibagi dan kau hanya akan mendapatkan 1 milyar.. Apakah itu berarti kekalahan bagimu?"


"Ti-Tidak, begitu juga bagus!! Maksudku, itu 1 miliar----!"

__ADS_1


"Kalau begitu, akan kupersingkat..Bagaimana kalau kau hanya mendapatkan 40 juta??"


"Yah.. Walaupun sejumlah itu akan lebih dari cukup. Kalau aku bisa mendapatkannya, aku akan senang. Sepertinya aku sudah menyebutkannya tadi, kebanyakan dari pemain yang berkumpul disini bahkan tidak mendapatkan 10 juta dari ronde pertama. Kalau kamu benar-benar memiliki cara untuk mendapatkan 40 juta, dan itu memperbolehkanmu keluar dari permainan ini, menurutku kebanyakan orang akan puas dengan itu. Dalam kasusku kalau aku bisa keluar, aku tidak peduli kalau tidak mendapatkan uang apapun."


"Aku akan bertahan sampai akhir. Dalam rencanaku, rasanya tidak mungkin setiap orang bisa mendapatkan 100 juta. Tapi 40 juta per orang mungkin bisa."


"?!"


"Pastinya, itu sudah cukup untuk keluar dari permainan ini."


"Kamu benar-benar bisa melakukannya??!!"


"Yeah, aku akan membentuk tim!"


"Hmm... Daniel, aku juga memikirkan itu... Tapi, itu mustahil."


"Kenapa?"


"Kalaupun kamu membentuk tim... Kalaupun kamu membentuk mayoritas, permainan ini tentang mayoritas, tidak ada cara untuk menang!"


"Ha ha ha, siapa bilang kita akan membentuk mayoritas?"


"Eh??"


"Dengan tim kita, kita akan membentuk minoritas!"


"Kita akan membentuk minoritas?" Alice belum mengerti maksud dari membentuk tim minoritas.


"Aku tidak mengerti.."


"Sabar.. Aku baru saja mau menjelaskan."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2