Permainan Menipu

Permainan Menipu
Mode Serius..


__ADS_3

Beberapa Reporter sedang bersembunyi di balik semak-semak. Sepertinya mereka menunggu seseorang untuk keluar dari sebuah pintu besar yg ada dihadapan mereka.


"Hampir waktunya.... Dia keluar... " Ucap salah satu reporter yg terlihat sudah tidak sabar dan menantikannya. Tentu mendengar hal itu reporter lain juga bersemangat. Namun, setelah ditunggu² sekitar kurang lebih 15 menit 'Tailor Daniel' belum keluar juga.


"Hehhh.... Dimana dia? Kok blum keluar? Jadwal dia keluar sekarang kan?" Tanya salah satu reporter dengan posisi tangan berkacak pinggang mulai frustasi.


"Jelas. Masa kita salah informasi."


Tak berselang lama dari itu, pintu gerbang pun terbuka secara perlahan. Dengan cepat para reporter itu menyiapkan camera untuk direkam maupun difoto.


"Itu dia!!" Celetuk salah satu reporter.


Seorang narapidana keluar dari balik gerbang itu, dengan membawa duffle bag yg pastinya berisi pakaian, para reporter itu mendekat ke arahnya. Namun, saat sudah dekat itu bukanlah orang yg dimaksud para reporter.. Beda orang..


"Eh.. Sepertinya kita salah orang.."


"Yeah.. Itu narapidana yg lain, jadi bukan Daniel.." Para reporter itu membiarkan si narapidana itu pergi semakin menjauh dan tak terlihat lagi.. Mereka tak menyadari bahwa dibelakang mereka sudah ada polisi.


"Hei, para reporter sekalian, bisakah kalian pergi?" Celetuk salah satu polisi yang memakai kacamata hitam.


"Maaf pak, tapi... Dimana Daniel Tailor?"


"Betul tuh, bukankah hari ini dia keluar?"


"Daniel? Bukankah dia barusan pergi?"


"Hah? Bukan, tadi itu orang lain..."


"Bukankah Daniel seorang ahli dalam penyamaran?" Pernyataan si polisi itu membuat para reporter terkejut sekaligus marah karena mereka secara tidak langsung ditipu.


"Sialan, dia menipu kita!!"


"Baru aja keluar sudah berani nipu dia!"


"Kejar dia! Kita masih bisa mengejarnya!"


Para reporter berlari ke arah narapidana itu pergi, si polisi tersenyum licik dan ia Kembali masuk ke dalam pos, disana ia bertemu dengan seorang polisi yg sedikit gemuk sedang menyeruput kopi. Si polisi melepas semua yg ia pakai dan menaruhnya didekat polisi yg sedang asyik minum kopi. Ternyata dia adalah Daniel yg menyamar menjadi polisi untuk mengelabui para reporter.


"Jhahhaa.. Kerja bagus.. Rencana yg sempurna.. " Celetuk polisi gemuk, Daniel tidak meresponnya dan memilih untuk berganti pakaian dengan segera mungkin. Singkatnya setelah berganti baju.


"Ambil jalan setapak ini, kau akan bertemu jalan raya dan tidak akan bertemu siapapun.."


"Apa benar?"


"Tentu.."


"Terima kasih..."


.


Tap! Tap! Tap!


Seorang wanita berlari dengan cepat menyusuri jalan didepannya, pandangannya berkeliaran kesana kemari mencari tahu posisi dia ada dimana dan ia berada dimana.. Alice tersesat..


"Ah.. Jalannya yg mana??! Kenapa harus tersesat???! Lalu, penjaranya dimana??!" Karena terlalu sibuk memerhatikan sekitar tanpa sengaja ia menabrak seseorang ketika tikungan, alhasil mereka terjatuh. Alice meringis kesakitan karena di bagian kakinya terdapat luka lecet akibat sepatunya.


"Aww...!" Walaupun kesakitan, Tapi Alice tetap berusaha berdiri untuk menanyakan kondisi atau menawarkan bantuan kepada orang yg ia tabrak..


"Maaf!! Apa kamu terluka? Aku bantu kamu berdiri.." Alice menyodorkan tangannya kepada orang itu, namun tidak diterima. Ternyata laki-laki itu berdiri sendiri dan tidak menjawab perkataan Alice.


Note: "[.... ]" Berbicara dalam hati..


"[Eh, bukankah dia Daniel??]" Tanpa pikir panjang aku memanggil namanya, Orang itu menoleh sudah pasti itu namanya. Daniel menoleh keheranan mengapa wanita ini bisa mengetahui namanya.


"Kau salah orang.." Dengan santai Daniel menjawab lalu pergi meninggalkan Alice, tentu Alice tidak tinggal diam, Alice mengejar dan menghalangi Daniel dari depan.


"Eh... Tunggu!!"


"??!!"


"Tolong Daniel! Selamatkan aku!!"


"Apa?"


Aku sudah menetapkan hatiku untuk mempercayainya, sang penipu jenius, dengan takdirku. . Ya.. Pada saat inilah, aku mengambil langkah pertamaku dalam permainan menipu yg dikenal Deception Game.



Daniel berhenti hanya untuk sekedar menyalakan rokoknya yg terdapat di saku dibagian celananya, tanpa berlama-lama ia kembali meninggalkan Alice begitu saja. tentu saja Alice tidak membiarkan Daniel pergi begitu saja.


"Tung.. Tunggu sebentar!"


"..."


"Tolong.. Jangan tinggalkan aku! Kau harus menolongku! kumohon!" aku berkata sambil menangis, air mataku sudah tidak bisa dikontrol lagi.


"Aku tahu kalau kau mempunyai masalah, tapi memberitahuku masalahmu takkan menyelesaikan apapun, hubungi polisi atau carilah pengacara." Daniel menjawab tanpa melihat ke arah Alice.


"Aku Tidak Bisa Melakukannya! Ini Adalah sesuatu Yang Harus kulakukan Sendiri!"


"....." Daniel menghiraukan alice dan terus berjalan, sebenarnya jika ada seseorang meminta tolong namun kita menghiraukannya, maka orang itu akan terus meminta tolong dan dia akan bercerita dengan jujur apa yg sebenarnya terjadi pada dirinya.


"Aku tahu semua tentang dirimu, tiga tahun yang lalu kau menipu suatu perusahaan yang besar sampai bangkrut... aku butuh kejeniusanmu untuk merebut kembali 10 miliar itu!" aku mengatakan dengan jujur tidak kurang dan tidak melebih-lebihkan.


"...."


sontak dengan cepat Daniel berhenti lalu balik badan dan wajahnya melihat ke arah wajah Alice dengan cukup dekat, karena berlangsung sangat cepat itu membuat Alice terkejut dengan reaksi si Daniel.


"kau tahu apa yang kau katakan?" Daniel bertanya dengan suara sedikit berat dan tatapan matanya sangat tajam ke mata Alice.


"Aku seorang kriminal yang baru saja keluar dari penjara, tapi kau malah menyuruhku untuk merebut kembali uang 10 miliarmu yang hilang.. kalau aku mencuri uang itu lagi, berarti aku pencuri. kau menyuruhku untuk melakukan kejahatan lain." Ujar Daniel.


"Ti-Tidak Maksudku.."


belum selesai berbicara, Daniel langsung pergi meninggalkan Alice, Alice yg blum selesai berbicara pun mengikuti Daniel secara diam² dan tidak terasa Alice sudah mengikuti Daniel sampai ke jalan raya. Niat Alice sebenarnya ingin meminta tolong dengan Daniel, namun saat mendengar respon Daniel yg tidak mau, itu membuatku memutuskan agar Daniel setidaknya mau mendengarkan ceritaku.


Sudah cukup lama Alice mengikuti Daniel dan Daniel juga sudah mengetahui bahwa si Alice mengikuti dirinya dari tadi. Daniel yg merasa terganggu pun akhirnya menoleh kebelakang.


"Sampai kapan kau akan mengikutiku?"


"Sampai kau mau mendengar ceritaku, Daniel. Kumohon! Aku tak akan menyuruhmu untuk mencurinya, setidaknya dengarkan ceritaku."


"Baiklah kalau hanya itu, aku akan mendengarkannya." kata Daniel sambil membenarkan posisi tasnya yg berada di pundaknya.


"Benarkah?!!!" Aku terkejut sekaligus senang karena Daniel mau mendengar cerita dariku.


"Tapi aku harus menaruh tas ini dulu ke tempatku, kau tunggu disitu saja." Daniel menunjuk tempat tunggu yg dimaksud, persis di depan ruko yg tutup.


"Jangan kemana-mana, oke?"


"Oke!!" Aku menjawab dengan sangat antusias.Akhirnya kami pun berpisah karena kesepakatan kami.


"Heh.. akhirnya aku menyingkirkannya.." Batin Daniel merasa lega.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian..


Satu Jam kemudian.. Daniel blum datang..


Dua jam kemudian.. Daniel blum datang..


Lima jam kemudian.. Daniel blum datang juga..


"Daniel benar-benar lama sekali.. ah benar juga, dia baru dibebaskan begitu dia sampai di rumah dia pasti langsung tidur karena kecapekan...iya, benar pasti begitu." Batin Alice mencoba untuk tetap positif thinking.


disisi lain..


Daniel sudah sampai dirumah ia langsung bersih² dan beristirahat, rencananya saat selesai istirahat sejenak ia akan pergi ke tempat Alice untuk mengecek dan memastikan apakah Alice masih ada di tempat itu atau tidak..


singkat cerita, Daniel langsung meluncur ke tempat tujuan dan betapa kagetnya melihat wanita (Alice) itu masih berada disitu dengan waktu yg sangat lama.


"!!"


"masih disana.. ayolah, sudah 12 jam! Kau blum sadar juga? itu bohong!" Kata Daniel dalam hati, namun ia tetap tidak mau memunculkan dirinya, Daniel masih mau mengawasi si wanita (Alice) itu sampai kapan dia bertahan menunggu disitu.


14 jam kemudian, 18 jam kemudian, 22 jam kemudian, 26 jam kemudian.. Alice Masih menunggu.. hari pun mulai menunjukkan malam.


Namun, bukan hanya Daniel saja yg memantau Alice, melainkan juga ada 2 preman yg juga memantau Alice, disekira waktu sudah malam dan jalan sepi preman itu pun beraksi.


"Oi, cewek.. Mau bermain dengan kami?" tanya salah satu preman, dari pertanyaan saja sangat mencurigakan sekali, Alice menjadi takut dan berwaspada.


"Ma-maaf.. Tapi aku sedang menunggu seseorang..." jawab Alice dengan terbata² tubuhnya bergemeteran dan mengeluarkan keringat yg semakin banyak.


"Yeah, kami tahu. kau berdiri disini terus dari kemarin." preman itu membalas jawaban Alice sambil berjalan mendekat, Alice telah dipojoki dan dikepung oleh 2 preman itu.


"Tapi, sebenarnya kau menunggu seseorang untuk mengajakmu, kan?" preman itu telah memegang lengan Alice, reflek Alice berteriak nama Daniel.


"STOP! Daniel!!"


tak butuh waktu yang lama Daniel sudah berada di belakang para preman itu, ia langsung menarik baju bagian belakang yg membuat mereka sedikit tertarik kebelakang.


"Sepertinya aku membuat menunggu jadi mau ikut denganku?" tanya Daniel dengan tenang, preman itu langsung pergi paksa meninggalkan Daniel dan Alice.


"Iya!!" jawab Alice dengan semangatnya.


Mereka pun pergi kerumah Daniel, sesampainya dirumahnya Daniel menyediakan dan memberikan makanan kepada Alice, karena dari kemarin dia blum makan sedikit pun.


"Nyam..nyam..krauk²"


"Wow, kau lapar sekali ya."


"Ah, aku blum makan apapun sejak aku menunggumu."


"hhh knp? kau bisa mati"


"Karena, kau bilang aku tidak boleh kemana²"


"Dasar bodoh. Biasanya, orang-orang akan sadar setelah dua atau tiga jam kalau dia telah ditipu."


"Hah? Maksudmu?" Alice tidak mengerti apa yg dimaksud oleh Daniel.


"Karena kau terlalu jujur sehingga kau mudah dibodohi!" Daniel sedikit meninggikan suaranya.


"Apakah jujur sebegitu buruknya?"


"..." Daniel melihat Alice dengan tajam, berselang beberapa menit mereka hanya diam saja, Dan akhirnya Daniel membuka pembicaraan.


"Ceritakanlah tentang uangmu itu."


"Iya!!"


"Deception Game? Hei ini tidak masuk akal." Daniel memegang kartu Deception game dan membaca isinya.


"Tapi... Aku tidak berbohong!"


"Jadi? Apa yang akan kau lakukan? memenangkan permainan ini atau mundur dari permainan ini?"


"Aku ingin mundur! jika aku setidaknya bisa mengambil kembali uang 10 miliarku!"


"mudah saja bilang pada gurumu untuk mengembalikan uangmu.."


"Tapi..."


"Takut? Tenang saja aku akan ikut"


Mendengar hal itu aku sangat senang, setidaknya ada Daniel yg menemaniku untuk membujuk guru untuk mengembalikan uangnya.


"Terima kasih!!!"


"Tapi, setelah masalah ini selesai, tolong berhenti mengikutiku."


Malam ini juga mereka pergi menuju ke rumah pak guru.


Tok! Tok! Tok!


"Ya, sebentar.."


Ceklek!


begitu pintu dibuka, Pak Rok terkejut dengan kedatangan Alice, ia lebih terkejut dengan kehadiran Alice dibandingkan dengan Daniel, biasanya Alice akan memberi kabar jika Alice akan datang kerumahnya.


"?!"


berselang beberapa detik Pak Roy bertatapan sejenak dengan Alice, pak Roy yg wajahnya tegang pun cepat² mengganti raut wajahnya menjadi tenang dan seperti tidak terjadi apa².


"O-Oh, Alice!"


"Hah, dan dia siapa?" tanya Pak Roy penasaran. Namun, Alice tidak menjawab, ia langsung berbicara ke intinya saja.


"Pak? Bisakah anda mengembalikan itu padaku? Uang 10 miliarku." dengan wajah memelas aku memohon kpd Pak guru.


"Eh?! kenapa tiba-tiba?"Pak Roy kaget dengan pertanyaan si Alice, gk ada angin, gk ada hujan tiba² saja ia ingin mengembalikan uangnya.


"Kau ingin sekarang? Tapi, uang mu berada dibank.."


"Kalau begitu antarkan aku ke bank itu.."


"Tapi, sepertinya tidak mungkin, sekarang sudah jam 7 lebih." kata Pak Roy


"Dengar, bank tidak buka sepanjang hari. Senin sampai Jumat buka jam 09.00-17.00, dan kita hanya bisa membuka brankasnya di jam kerja. belum lagi, masalah keamanannya. kau harus ditemani oleh staf bank untuk mengakses brankas itu, mengerti.....? haha, sepertinya menyimpan sesuatu agar aman juga ada kelemahannya. Aku tak yakin, tapi sebaiknya biarkan uang itu disana sampai permainan berakh----" belum selesai pak Roy berbicara Alice memotong pembicaraan pak Roy.


"Pak, Aku... mendengarmu, waktu anda berbicara dengan seseorang ditelpon. Tentang menipu seorang murid yang melibatkan 10 miliar."


"Umm.. Aku tak mengerti dengan ucapanmu, mari kita lanjutkan bisnis kita" Pak Roy mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Uang 10 miliar anak ini mau kau kembalikan? atau tidak?" tanya Daniel yg sedikit memojokkan Pak Roy..


"[Tunggu, bagaimana dia bisa tahu bawah gua telah mengambil uang si anak polos ini? dan knp ia sangat begitu yakin untuk mengatakannya padahal blum ada bukti yg kuat? masa hanya mendengar pernyataan dari gadis bahwa ia telah kehilangan uang dan telah diambil oleh gurunya sendiri langsung percaya]" batin Roy, ia sesaat hanya diam dan tidak langsung menjawab. Namun, karena terus didesak oleh Daniel membuat pak Roy tidak bisa begitu lama untuk berpikir jernih

__ADS_1


"Kalau kau tidak mengembalikannya besok, akan kami laporkan ke polisi.." Daniel sengaja untuk mengancam pak Roy agar ia mau mengembalikan uang 10 miliar itu. Namun, sebenarnya tujuan Daniel bukanlah itu.


"Tu--Tunggu dulu!!" Pak Roy mencoba menahan tubuh Daniel yg hendak mau pergi dari hadapan pak Roy begitu juga dengan Alice..


"Mengapa harus lapor polisi? Bukankah ini hanya sekedar permainan? Bukankah ada peraturan yg mengatakan tidak peduli jika uangnya diambil atau hilang, itu tidak akan dianggap sebagai suatu tindakan kriminal!" mendengar hal itu Daniel pun sedikit tersenyum dan tertawa kecil


"hehehe... jadi, kau mengakuinya ini 'cuma sekedar permainan'... ?"


"Apa yang kau lakukan terpaku pada kenyataan kalau ini hanyalah sekedar permainan. dengan kata lain, kau menipunya sebesar 10 miliar." mendengar itu Roy terdiam dan tidak bisa menjawab apa², dia sudah kehabisan akal untuk mengelabui daniel dan Alice.


"Hahaha..... Hahahaha!!! YA,ITU BENAR! AKU MENIPUMU! LALU?! " Akhirnya Pak Roy mengakuinya jika dia telah mencuri uang Alice dengan memasang wajah yg mengerikan dan seperti psikopat, bermuka dua..


"Pak..." ucapan Alice sangat lirih, ia sangat tidak bisa menyangka bahwa pak Roy melakukan perbuatan semacam ini..


"Tapi, kau tidak bisa menyalakanku, toh ini hanyalah sekedar permainan. Kalau aku tak mengambil uangmu, dialah yang akan mengambil uang milikku." pak Roy menunjuk ke arah Alice berarti


"Aku tak mungkin melakukan itu! " Alice mengelak dan membantah perkataan dari pak Roy.


"Hm.. aku meragukannya.. manusia tak bisa dipercaya." Pak Roy menatap Alice dengan sinisnya..


"Di sekolah tempatku bekerja, aku bertugas untuk mengurus karyawisata. Sekolah itu ingin bekerjasama dengan biro pariwisata tertentu. ketika aku ditugaskan, aku menerima uang jaminan yang sedikit. Dan suatu hari, biro pariwisata bodoh itu bilang mereka tak bisa membayar uang jaminannya. Lalu aku bilang 'lebih baik aku menyewa biro lain.' kau tau apa yang dikatakan si brengsek itu? Tahun berikutnya, dikolom pendidikan mereka menulis cerita tentang aku menuntut uang jaminan ke mereka. kemudian, beberapa guru yg tak akrab denganku mengambil kesempatan ini dan bilang bilang kepada orang² kalau cerita itu benar! Tak lama kemudian aku dipecat." Pak Roy bercerita tentang masa lalu nya kepada orang lain dengan mudahnya, terlihat ketika bercerita ia masih memendamkan amarah kepada guru² yg membencinya.


"Astaga.. jadi anda sudah tak mengajar lagi?" Alice jadi merasa kasihan dengan pak Roy.


"Bukan cuma itu! Istriku dan anakku menganggapku sebagai beban ketika aku dipecat. lalu dia bilang 'aku ingin bercerai suami yg tidak bisa mencari nafkah tidak pantas disebut sebagai kepala keluarga.' YAH.. BEGITULAH MANUSIA! KAU HANYA MEMBODOHI DIRIMU SENDIRI JIKA KAU PERCAYA DENGAN ORANG LAIN!"


"Tapi, aku terus berjuang, aku hanya mempunyai uang untuk membeli makanan. kemudian, deception game ini muncul. Aku selamat! 'Aku berpikir tuhan memang benar-benar ada!' Itulah mengapa aku harus menang meski harus merugikanmu!"


"Tidak! Kumohon! Tolong aku, pak! Aku tahu kau anda sedang menderita, tapi aku juga mempunyai masalah! Ayah ku menderita kanker stadium akhir!"


"Satu-satunya permohonanku, agar ayah bisa menikmati sisa hidupnya dengan bahagia, tapi kalau aku harus berhutang 10 miliar.. Aku... Aku.." Tubuhku bergemetar, aku tidak bisa menahan air mataku


"Masa Bodo! aku tak kenal ayahmu! dan aku tak peduli pada siapapun!" Pak Roy menjulurkan lidah nya seakan ia sedang ngeledek Alice.


"Aku tak percaya.. pak Roy.. dulu kau adalah guru yang baik.."


Tiba² pak Roy mendekati Alice dengan jarak kurang lebih hanya 1 langkah diantara mereka dan pak Roy berkata..


"Kau tahu? aku cuma berpura-pura, inilah diriku yg sebenarnya, selalu memikirkan diri sendiri. kalian sudah mengerti? Enyahlah! Daripada kau kemari hanya mengeluh, lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya untuk membayar hutangmu! lagipula kau ini mahasiswi, dengan tubuhmu mungkin kau bisa melakukan sesuatu, Gyahahahah!" Pak Roy berbalik badan dan masuk kembali kerumahnya dengan membanting pintu dengan tidak santainya. Walaupun pak Roy sudah berada didalam, namun tertawa jahatnya masih terdengar diluar.


Akhirnya, Alice dan Daniel pergi meninggalkan rumah pak Roy. Dalam perjalanan menuju stasiun untuk pulang, suasana sangat canggung tidak ada yg mengobrol diantara mereka berdua yg terdengar hanyalah tangisan Alice yang tak berhenti semenjak dari rumah pak Roy.


singkat cerita..


mereka sudah berada di stasiun dan kondisinya tetap sama Alice masih menangis sesegukan matanya membekak akibat menangis terus. Daniel tidak melakukan apapun terhadap Alice, ia hanya memperhatikan Alice terkadang dari samping maupun dari belakang. Beruntungnya kondisi stasiun sedang sepi jadi tidak menjadi pusat perhatian orang-orang. kereta pun datang, kami naik dan duduk dengan jarak kursi diantara kita kosong. Alice terus mengelap air mata dan ingusnya yg terus keluar dengan sapu tangan yg ia bawa.


"Wow.. tak disangka ternyata dia dulunya seorang guru. Yah, uang bisa mengubah seseorang. Aku sudah sering bertemu dengan orang seperti itu. Berhentilah menangis, karena itu tak akan mengubah apapun."


"Ta-Tapi.. Aku jadi punya hutang gara-gara guru yang paling aku percayai, 10 miliar.. 10 miliar itu terlalu banyak.."


"Kalo kau berpikir bahwa kau harus membayar hutangmu....." belum selesai bicara Alice langsung memotongnya.


"Jangan mencoba untuk menghiburku sudah ketahuan siapa yang pasti memenangkan permainan ini uang itu sudah aman karena berada di brankas. Tidak peduli cara apapun, tidak mungkin bisa mengambilnya kembali." dari perkataannya menunjukkan bahwa Alice sudah menyerah dan berputus asa untuk mendapatkan kembali uang itu, Alice menundukkan wajahnya ke lantai kereta dengan perasaan campur aduk.


"Kau salah." dengan tenang Daniel membantahnya, Daniel memenjamkan matanya dan terus berbicara tanpa peduli dengan tatapan Alice ke arahnya.


"?!"


"Kau benar, berpikir kalau kotak brankas adalah kotak yg pertahanannya tak bisa tembus, tapi.. dia telah membuat kesalahan fatal. Ironis sekali si Roy itu malah membuat celah dari perkataannya sendiri dan ditambah lagi aku cukup mengerti dia orang seperti apa."


"A-Aku tak mengerti.... ada celah?" (Alice)


"Itu mustahil bagi orang asing untuk mengambil isi dari kotak itu. Karena, ketika kotaknya dibuka, orang bank akan mendampingimu, seperti yang dia bilang." (Alice)


"Benar. Jadi, untuk memastikan keamanannya, seorang pendamping dari bank akan menemanimu ketika kau membukanya. Dengan kata lain, kotak itu tidak bisa dibuka jika tidak ada pendampingnya." Daniel sedikit melirik Alice yg ada disamping kirinya, dilihat sekilas Alice sepertinya masih blum mengerti apa yg dimaksud Daniel, kebingungan terlukis diwajahnya.


"??"


"hei? jawab pertanyaan ku."


"ah, iya² ada apa?"


"hhh... sepertinya saat aku berbicara tadi kau melamun dan aku bertanya padamu tapi kau malah balik nanya, baiklah pertanyaanku tadi. kapan permainan ini berakhir?" Daniel hanya menghela nafas panjang. ia tidak mempermasalahkan hal itu. karena, dia mempunyai masalah yg berat membuat nya tanpa sadar melamun sampai lupa waktu.


Merasa tidak enak dengan gugupnya Alice mengambil hp di tasnya untuk mengecek tanggal berakhirnya permainan kali ini.


"um, tinggal 23 hari lagi. Jadi, permainanya berakhir pada minggu, 24 juni. eh.... eh....!!!" mengetahui bahwa permainan berakhir di hari minggu Alice membelalakan matanya terkejut dan sekaligus mengerti maksud dari perkataan Daniel sebelumnya.


"hehe, kau sudah mengerti? permainan ini berakhir dihari minggu. dihari itu, dia tidak bisa membuka brangkasnya." Sekilas Daniel tersenyum kecil, menatap Alice dengan penuh arti.


"Jadi, artinya dia harus mengambil uang itu sebelum jam 5 dihari jum'at! Dua hari sebelum deadline, uangnya akan berada diluar brankas!" Alice mengatakan dengan semangat seakan dia mendapat secercah harapan untuk mendapatkan uangnya kembali.


"Yeah, terlalu cepat untuk menyerah."


"Hore!!!"


"Tapi.. hanya karena uang itu sudah tidak ada dibank, bukan berarti mengambilnya akan mudah, kan?"


"hehhh..... tenang saja aku punya rencana yang sempurna." Daniel mencoba meyakinkan Alice agar ia tidak perlu khawatir lagi.


"Eh??! Benar kah?! Ah berarti kau akan membantuku?!!"


"pelankan suaramu hei!"


"ups, maaf aku terkejut bahwa kau akan membantuku, lagipula kereta ini sangat sepi dan digerbong ini hanya kita berdua saja, jadi tidak masalah kan.." Alice menggembungkan pipi.


"hahh... iya aku akan membantumu. Kalau ada hubungannya dengan kriminal aku tak akan membantumu. Tapi si Roy mengakui kalau ini hanyalah sebuah permainan. kalau hanya permainan, dan jika kau siap untuk mengambil 10 miliar milik si Roy.... maka aku akan membantumu."


"Aku siap."


"Sepakat kalau begitu."


"Tapi bayaranku sangat mahal. aku ingin minta bagianku. Jadi kalau kita dapat 10 miliar, aku akan mengambil 5 miliar. Mengerti?"


Dengan nada dingin Daniel meminta bagian dari uang 10 miliar itu. Namun, bagi Alice itu tidak masalah selama uangnya kembali ke dirinya maka ia tidak perlu membayar hutang ke DGT.


"TERIMA KASIH BANYAK! MOHON BANTUANNYA!" Lagi² tanpa sadar Alice meninggikan suaranya dan sedikit membungkukkan badannya ke Daniel.


Jelas Daniel tidak senang akan hal itu.


"sudah kubilang! jangan berteriak bodoh!"


***


Keesokan Harinya...


Alice pergi menuju rumah pak Roy dengan sedikit tergesa-gesa akhirnya ia sampai di depan rumahnya, berniat melangkahkan kakinya masuk ke halamannya tiba² pintu depan terbuka dan terlihat sosok pak Roy yg sepertinya baru bangun tidur. Sontak kalian saling bertatapan dalam diam beberapa saat, pak Roy mengerutkan alisnya tidak percaya dengan apa yg ia lihat didepannya. keheningan beberapa saat pun hilang ketika Alice mulai berbicara.


"Pak, aku datang untuk menyatakan perang."


"!??"


"Aku akan bermain dengan sungguh-sungguh dan 20 miliarmu aku akan mengambil semuanya!!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2