Permainan Menipu

Permainan Menipu
Mengintimidasi sang lawan


__ADS_3

"Maba, ya....... Habisnya kamu terlihat seperti Anak SMA, itu terlihat dari penampilanmu, mungkin... Dan anehnya bahkan seorang anak SMA lebih brutal dibanding dengan pernyataan ku tadi.. Ini Aneh.." Walaupun Daniel berbicara terdengar tidak serius, namun ekspresi Daniel sebaliknya. Alice terdiam termenung sejenak, aku masih belum mengerti maksudnya apa..


"Oke katakanlah itu hanyalah bualan semata---"


"Memangnya kau tau maksud dari 'hubungan percintaan tingkat lanjut'?" Sela Daniel sebelum Alice selesai berbicara, Alice menggembungkan pipinya tidak suka, Daniel tau arti akan respon itu dan menunggu jawaban Alice.


"Hubungan percintaan dua lawan jenis, itu sudah pasti. Dan.... Tingkat lanjut yg kamu maksud... Apa seperti berpegangan tangan atau memeluk satu sama lain? Atau kiss? " Alice sedikit memelankan perkataan di akhir kalimat karena itu membuatnya malu dan tidak pantas saja menurutnya.


"Haha.. Tidak menyangka kamu benar-benar Mengatakan hal itu dengan benar dan jujur, kupikir kamu hanyalah seorang kutu buku yg menghabiskan waktumu untuk membaca." Daniel tertawa paksa terkesan garing, Daniel tersenyum Aneh kearah Alice membuatnya bingung sekaligus merinding.


"Tapi, ini berbeda.. Ini bisa dibilang hubungan suam istri yg sudah menikah, tapi bisa dilakukan oleh pasangan yg belum menikah. Ngerti kan maksudku?" Daniel menjelaskan sambil menutup matanya, ia menyandarkan tubuhnya yg sudah lelah ke tembok yg ada dibelakangnya.


"Dan buku ini sebagian besar yg baca adalah orang-orang mesum dan itu tidak baik untuk kesehatan otakmu.. " Kata Daniel tersenyum kecil ke arah Alice dari tadi terdiam sejenak.


"Oh begitu ya.." Alice menundukkan kepala tersenyum malu, menggaruk kepala bagian belakang yg tiba² terasa gatal. Melihat respon Alice seperti itu Daniel kembali tersenyum kecil.


.


.


.


Keheningan sejenak menyelimuti seisi ruangan. Jam menunjukkan pukul 20:57. Biasanya Alice tidur sekitar jam 9 atau set 10 malam. tapi karena tadi Alice sudah tidur, ia tidak merasakan ngantuk. Sebaliknya, Daniel terlihat mulai terlelap tapi masih tetap terjaga, kadang matanya menutup dan terbuka dengan waktu yg cukup lama sekedar untuk memastikan sekitarnya.


"Kamu ngantuk? Sebaiknya tidak usah dipaksakan--"


"Ini jam shift ku, karena itu kau boleh tidur atau pulang kerumah.. "


"Eumm.." Alice merasa tidak enak dengan Daniel, karena ia sudah bekerja membersihkan rumah ditambah lagi ia harus begadang untuk mengamati pergerakan pak Roy, itu sangat melelahkan.. Apalagi tadi siang Alice tidak mengamati sama sekali.


"Ya-ya-ya aku tahu." Daniel bangkit dari duduknya untuk mengambil minuman soda yg ada di dekat plastik putih. "Tapi kita sudah melakukan perjanjian dan kita sepakat akan hal itu, jadi tidak bisa diganggu gugat." Daniel meminum secara perlahan. perjanjian yg dimaksud Daniel adalah tentang perjanjian jam shift untuk mengamati pak Roy yg berada dirumahnya.


"Tapi aku kan ingin membantu, kamu pasti kelelahan karena belum istirahat.. " Alice menunduk memasang wajah cemas.. Daniel berhenti minum, menghela nafas panjang..


"Cobalah sesekali untuk tidak peduli dan merasa tidak enak dengan orang lain, itu hanya akan membebankan dirimuu dan melanggar beberapa aturan yg berlaku.... "


"Seburuk itukah.. "


"Aku tidak mengatakan hal itu buruk atau tidak benar, melainkan kau harus melihat situasi dan kondisi baik dirimu maupun orang lain, jangan memaksakan diri. Hah.. Sebaiknya tidak usah dilanjutkan.. " Daniel berdecak, ia kesal dan tidak suka dengan sifat Alice yg terlalu baik dan dapat dimanfaatkan kebaikannya kapanpun dan dimanapun.


"Maaf aku tadi berkata lancang seolah-olah apa yg kamu lakukan itu buruk bagaikan penjahat, aku tidak bermaksud apapun, hanya saja didunia ini tidak semua orang akan membalas kebaikanmu.. " Sambung Daniel memelankan nada suaranya yg sempat tadi meninggi, ia reflek ikut menunduk seperti yg dilakukan Alice, kini Alice menatap balik.


"Ya aku mengerti maksudmu.. Makasih.. " Alice kembali mengeluarkan senyuman khasnya, Daniel merasa ciri khas dari Alice adalah senyuman dan kebaikannya. Namun, tak berselang lama ekspresi Alice berubah menjadi waspada sekaligus gelisah.


Note : "( .... )" Itu artinya mereka berbicara secara berbisik².


"(Daniel... Daniel... Coba kesini sebentar..)" Pinta Alice, karena suara Alice yg pelan ditambah lagi kondisi diluar hujan membuat Daniel tidak sepenuhnya mendengar perkataan Alice.


Knp dia berbisik sih, udah kaya merencanakan sesuatu di area musuh saja..


"(Ihh gak denger..)" Merasa Sebal, Alice mau tidak mau menghampiri Daniel, namun baru mau berdiri mereka mendengar suara lantai yg diinjak diarah lorong tepat di tangga.


Ngik! Ngek!


Kebetulan lantai rumah ini terbuat dari kayu, jadi wajar jika berjalan menimbulkan suara. Tapi, kenapa terdengar suara orang melangkah bukankah hanya mereka saja di rumah ini? Mendengar hal itu, Alice buru² lari kearah Daniel yg memposisikan dirinya dibelakangnya.


"Oi, knp kau berlari? Rumah ini kaget sampai bergetar tau gak?" Canda Daniel untuk mencairkan suasana, Ia tahu penyebab Alice berlari ketakutan layaknya anak kecil dan dia mendengarnya.


"(Ih Daniel! Masih sempat²nya kamu bercanda, memangnya kamu gk dengar tadi suara apa?)"


"Ya, dengarlah..suaranya keras begitu masa gk dengar, kau pikir aku mulai tuli?" Daniel kembali bercanda, Alice mencubit pinggang Daniel karena dari tadi bercanda tidak tau waktu, dan lagi sekarang entah mengapa rasanya menjadi terkesan horor.


"Aww!" Tubuh Daniel sedikit menjauhi Alice agar tangannya bisa terlepas dengan sendirinya. Mengetahui Daniel menjauhinya, Alice menarik lengannya untuk mendekat kembali kearah Alice. Karena mendadak ditarik, Daniel kehilangan keseimbangan untungnya reflek ia berpegangan dengan kaki meja. Walaupun sedikit kurang efisien, namun tidak ada hal lain untuk dipegang.


"Hah..! Untung gak jatuh..." Daniel menghela nafas lega sambil membenarkan posisi tubuhnya yg sedikit oleng. Alice tersenyum gak enak, Daniel membalasnya dengan mata sepele. Namun, tak lama Alice kembali berbisik..


"(Daniel, tadi suara langkah kaki??)"


"(Hah... Itu hanya benturan antara tetesan hujan ke lantai, jadi menimbulkan suara seperti itu..)"

__ADS_1


"(Ta-tapi bukankah tadi terlalu keras bunyinya? A-Aku tidak yakin soal itu..)"


"(Dari kita makan juga sudah terdengar suara kaya gitu, walaupun bunyinya tidak sekeras tadi.)"


"(Oh ya?? Kok aku tidak mendengarnya seperti yg kamu katakan..??)"


"(Hmm, oh ya...? Sepertinya kamu menikmati makanmu sampai tidak mendengar hal disekitar..)" Daniel tersenyum masam. Alice merasa malu tapi sisi lain ia juga tidak yakin dengan perkataan Daniel, namun berangsur-angsur ia juga mempercayainya.


"(Benar juga ya..)" Alice tersenyum lega, tanpa disadari Alice, Daniel tersenyum kecut. Namun, tidak mengapa yg terpenting ia tidak ketakutan lagi oleh pikirannya. Padahal kenyataanya tidak begitu, Daniel juga merasa rumah ini sedikit aneh...


Lihatlah.. Dia tersenyum lega dengan hal yg blum pasti.. Dia mudah dibodohi..


"Oh ya.. Aku lupa menjawab pertanyaan mu di saat siang hari.. Kau ingat?"


"Hmm.. Oh ya aku baru ingat..."


"Alasan aku mau membantumu itu semua untuk uang."


"Hanya itu??"


"Hah.... Kita dalam masa resesi dan kalaupun aku mencoba untuk bekerja hampir tidak akan ada yang mau memperkerjakan mantan napi.. Kalau kita mendapatkan 20 miliar dalam permainan ini aku akan mengambil 5 miliar. Bukankah ini pekerjaan yg terbaik?? Mendapatkan 5 miliar dalam waktu kurang dari sebulan." Kata Daniel sambil meminum soda yg ada ditangannya.


Note: Resesi adalah kondisi dimana ketika GDP (Produk Domestik Bruto) menurun sebanyak dua kali atau lebih dalam satu tahun. Resesi biasanya menyebabkan penurunan harga (deflasi) atau kenaikan harga (inflasi).


"Sudah kuduga, jadi memang uang, ya.." Alice bergumam, hatinya merasa kecewa. Tapi, apa yg dikatakan Daniel ada benarnya juga, jadi Alice tidak boleh egois.


"[Tapi, itu kalau kita bisa mendapatkan uangnya kembali. Ya ampun, dari manakah kepercayaan dirinya itu datang..??]"


"Hmm.. Daniel... Apa kamu menyadari sesuatu saat kita lewat lorong tadi??" Tanya Alice mencoba untuk memastikan apakah Daniel menyadari bahwa pintu ruangan 02 sedikit terbuka.


"Hmm.. Itu tidak terlalu spesifik, hanya beberapa tetesan air yg masuk dan menggenang di lantai.. Ada apa?" Kini Alice mendekat dan berbisik di telinga Daniel.


"(Pintu ruangan 02 terbuka!)" Baru saja mengatakan hal itu, Daniel mengerutkan keningnya lalu berdiri dan pergi keluar, sepertinya ia pergi ke ruangan 02. Mengetahui hal itu, Alice mengikuti dari belakang. Saat keluar Alice melihat Daniel memasukkan tangannya ke dalam ruangan 02, seperti ingin mengambil sesuatu.


"Daniel apa yg kamu lakukan..?"


"Ah, maaf.. Seperti kamu mengatakan hal itu karena kamu takut akan hal ini.." Daniel menunjukkan sesuatu yg ia ambil dari ruangan 02 dari tangannya, itu berupa sapu tangan kecil yg berwarna hijau. Alice tidak mengerti apa maksud dari Daniel menunjukkannya sebuah sapu tangan. Melihat raut wajah yg kebingungan Daniel menjelaskan apa yg sebenarnya terjadi.


"Lalu apa hubungannya dengan sapu tangan yg kamu pegang?"


"Ini punya si ibu itu, saat ia masuk juga aku melihat dia membawa ini dari kedua tangan nya."


"Be-begitu ya.. Mungkin si ibu lupa dengan sapu tangannya.." Alice meraih sapu tangan itu dari tangan Daniel, perlahan ia mengelusnya.


"....”


" Ruangan ini tidak akan terang, karena ruangan ini berada tepat di atas dapur. Dan saat aku menengadahkan kepalaku keatas, Ruangan ini ditutupi oleh gorden, jadi cahaya tidak akan masuk.


"Begitu.. Ya..... Aku mengerti.."


"Sebaiknya kita kembali, disini terlalu dingin..."


"I-iya..." Walaupun begitu, Alice masih saja merasa adanya kejanggalan dengan rumah ini, ia ingin bertanya lebih lanjut, tapi Alice mengurungkan niatnya tersebut karena merasa tidak sepenuhnya 100% Daniel mengetahui rumah ini apalagi ia akan bertugas mengawasi, maka dari itu Alice tidak ingin mengganggunya.


.


.


.


.


Singkat cerita..


1 minggu pun berlalu, kami melakukan semua tugas dengan baik. Tapi, sejujurnya Alice masih bingung apa gunanya mengawasi pak Roy selama 24 jam, terlihat aneh dan buang² waktu saja. Apalagi jika selama satu hari itu kita tidak mendapatkan informasi apapun, yeah aku dan Daniel sudah mengalaminya dan itu tidak sekali maupun dua kali, tapi sering.. Dan kupikir aku telah membuang dan menyia-nyiakan waktuku yg berharga.. Aku tidak tahu sama sekali apa yg ku lakukan selama ini..


Menurutku, kita hanya membuat sedikit kemajuan, aku berangsur-angsur mulai cemas... Apa dengan hanya mengawasinya kita bisa mendapatkan uangnya kembali? Aku membantahnya, maka dari itu saat setelah selesai dan bergantian mengawasi aku akan bertanya kepada Daniel, untuk memastikan kebenaran yg jelas tentang rencana Daniel.


"Kerja bagus.. Sekarang giliran ku, Apakah kau menemukan sesuatu?" Celetuk Daniel dari arah samping Alice, yang membuatnya sedikit terkejut.

__ADS_1


"Tidak, tidak sama sekali."


"Apa kau yakin?"


"Iya.. saat kita mulai, dia pergi ke sebuah bar, tempat bermain, supermarket, dan sebagainya. Tapi, beberapa hari terakhir saat kita menempati rumah ini, dia belum keluar rumah sama sekali. Dia hanya diam dikamarnya."


"Hmmm, begitu.. Jadi itu yang terjadi... Hah tidak apa² Sekarang giliranku, kau boleh istirahat atau menjenguk ayahmu..." Ucap Daniel seraya berjalan menuju kursi yg tidak jauh darinya, Alice memberhentikan Daniel dengan menyebut namanya..


"Daniel, maaf.."


"Hmm?" Daniel hanya berdehem tetap berjalan menuju kursi dan ia pun duduk


"Bisakah kau menjelaskan kepadaku kenapa kita melakukan ini?"


"......?" Daniel berputar² dikursi layaknya seorang anak kecil yg senang mendapatkan uang jajan lebih. Alice meneruskan..


"Daniel, kamu bilang kamu punya rencana. Yang kita lakukan setiap hari hanya mengamati rumahnya saja. Jujur saja, aku tidak mengerti arti apa yang kita lakukan.." Alice menundukkan kepalanya pasrah, saat akhir kalimat Daniel berhenti berputar, ia terdiam sejenak untuk memahami dan melihat ke arah Alice.


Jika tidak diberi tahu, yang ada hanya pintu menuju keputusasaan. Sebaiknya aku beritahu spesifiknya apa yg kita lakukan.


"Hmmm, tidak berarti??" Daniel bangun dari kursinya, ia berdiri dihadapan Alice yg masih menunduk. Daniel mengambil nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan, seperti nya Daniel akan berkata cukup panjang.


Salah satu cara yang sering digunakan oleh seorang penipu adalah untuk menempatkan seseorang dalam kondisi pikiran yg tidak normal, aku yakin kau telah mendengar ini. Ada sebuah penipuan bisnis yang menjual handphone kepada orang tua dengan harga yang mahal. Dalam penipuan ini, mereka mengumpulkan banyak orang di satu ruangan. Dan menempatkan pembeli di kerumunan, mereka membuat semacam hipnotis masal. Jika kau berpikir baik-baik, itu hanyalah sebuah HP yang terlalu mahal. Tapi, karena terpengaruh oleh suasana promosi, kau menjadi percaya kalau itu adalah harga yang didiskon. Itu adalah alasan yang sama untuk penipuan lewat telepon, ketika orang yang menerima telepon mendengar suara orang yang mereka cintai dalam kesakitan, mereka akan jatuh panik. Setelah terperangkap mereka akan melakukan apa yang disuruh dan uang mereka akan diambil. Tidak peduli seberapa tenang dan hati-hatinya orang itu, ketika dia ditempatkan dalam kondisi pikiran yang tidak normal, mereka akan menjadi sangat lemah. Sederhananya begitu, yang sedang kita lakukan sekarang adalah untuk menempatkan Achmad Roy ke dalam kondisi pikiran yang tak normal."


"!!"


"Coba kau pikir dari sudut pandang nya, kau mengatakan kepadanya kalau kau akan memenangkan permainan ini, aku mengatakan kalau aku punya rencana untuk mengambil 20 miliar darinya. Dan tanpa mengetahui rencana ini, dia diamati 24 jam. Jadi? Seperti yang kau tanya 'bagaimana caranya kita mencuri 20 miliar hanya dengan melakukan ini?'. Dia juga memikirkan pertanyaan yang sama. Lihat-lihat."


Mata Daniel tertuju ke arah jendela ruangan pak Roy yang berada di bawah, disana ia melihat pak Roy sedang gelisah akan sesuatu. Alice pun juga ikut melihatnya dari balik gorden jendala, ia mengintip dan disana ada pak Roy yang tengah duduk bersila dengan wajah yang gelisah penuh keringat.


Pov : pak Roy


Ada apa dengan mereka???


Aku akan memenangkan permainan ini. . .


Tapi, bagaimana cara mereka mencuri 20 miliar ini..?


Mereka tidak akan bisa! Tidak mungkin mereka bisa! Rencanaku sudah sangat sempurna.


Pov : pak Roy (End)


Walaupun begitu, ternyata pak Roy menyadari bahwa ia sedang dimata-matai oleh seseorang, reflek ia menoleh ke jendela dan melihat keluar, dengan terburu² Alice menutup gordennya agar tidak diketahui oleh pak Roy.


"Bagaimana kelihatannya?" Daniel tersenyum sinis sambil menegakkan minuman soda ke mulut nya dan tenggorokannya terasa mulai kering akibat menjelaskan panjang lebar. Alice sesekali lagi mengintip untuk memastikan, dan hasilnya sama. Pak Roy tetap masih gelisah akan sesuatu. Apa yang dikatakan Daniel ada benarnya.


"Dia merasa cemas akan kesimpulan pikirannya sendiri. Dia jelas telah kehilangan akal sehatnya, hehehe.. " Ucap Daniel, entah mengapa apa yang dikatakan Daniel sangat masuk akal.


"Hanya dengan mengamati selama 24 jam! Itu saja yang diperlukan, Roy berada dalam tekanan mental yang kuat." Sambung Daniel, Alice menunduk sedang berpikir apa yang ingin ia katakan.


"Yeah, aku mengerti kenapa kamu bilang dia tertekan."


"Sekarang, dia berada dalam kondisi dimana dia akan mudah untuk ditipu."


"Tapi..... BAGAIMANA CARAMU UNTUK MENIPUNYA?! DAN BAGAIMANA KAMU AKAN MENCURI 20 MILIAR??!! BUKANKAH UANGNYA BERADA DI DALAM BRANGKAS!! WALAUPUN KITA BISA MENIPUNYA, KITA TIDAK MUNGKIN MENIPU BANK! DAN APA YANG HARUS KITA LAKUKAN DALAM DUA HARI TERAKHIR??! KITA BAHKAN BELUM MENGETAHUI LETAK BANK ITU!" Tanpa sadar aku meninggikan suara ku, aku mulai frustasi jika hanya inilah rencana Daniel, Daniel tersenyum kecil. Itu senyuman yang aneh.


"Bank, kamu bilang??"


"Eh... Kenapa memangnya?"


"Dia tidak menyembunyikan nya di Bank." Dengan santai Daniel berkata seperti itu, Alice terkejut bukan main seperti petir di siang bolong. Bagaimana ia mengetahuinya dan apa itu bisa dibuktikan secara nyata? Benak Alice kembali terus memunculkan pertanyaan² yang rumit.


"Pengamatan selama 24 jam ini tidak sia-sia. Sebagai buktinya, itu telah membuka rahasia Achmad Roy, jika dugaanku tepat. . . 20 miliar berada di rumahnya.


"?!!!" Aku terkejut membelalakan mata tak percaya. Daniel tersenyum dengan penuh percaya diri dan keyakinannya.


...****************...


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2