Permainan Menipu

Permainan Menipu
penipu di antara peserta!


__ADS_3

A-Apa kau benar-benar akan membayar hadiah kita dengan penuh?? Ini semua hanyalah penipuan! Aku yakin diantara kerumunan ini ada beberapa orang dari DGT ! Dan kau telah mengaturnya sedemikian rupa, dan apapun yang terjadi mereka pasti menang! Tidak mungkin orang seperti kami bisa menang! Benar?!" Teriak salah satu pria tidak terima yang berpenampilan layaknya preman dengan rambut bergaya punk.


"Ho ho ho.. Penipuan, kau bilang? Bagaimana mungkin? Jika ini "Majority Rule" Rencana seperti itu bisa berhasil. Memang kita bisa menempatkan banyak orang untuk menjadi mayoritas. Tapi, permainan ini adalah minoritas. Dan, tidak mungkin kami bisa mengontrolnya." Semua pertanyaan dijawab dengan mudah oleh sang dealer, para pemain kini terdiam sejenak dan tidak bisa mengelak lagi. Beberapa pemain saling bertukar pandangan dan berbisik tentang sesuatu. Sepertinya mereka ingin mengajukan pertanyaan dan mencari celah dari game ini.


"Apa yang kau kejar? Apa tujuannu untuk mengadakan permainan ini?" Daniel bertanya dengan nada dan raut wajah yang datar. Sang dealer menoleh dan merespon pertanyaan Daniel.


"Ho ho ho... Sederhana saja. Kami berharap untuk memberikan Takhta kepada "Raja Penipu" Sejati. Hanya itu. Untuk menipu dibutuhkan bakat. Sebagai bukti dari fakta itu, di dunia ini ada orang yang mau menawarkan uang dengan jumlah besar karena mereka Menginginkan "Penipuan jenius" Atau "Pembohong jenius". Dan Terima kasih kepada mereka yang membantu keuangannya sehingga kami bisa mengadakan permainan ini. Kami menyesal karena tidak bisa membuka identitas orang-orang itu pada anda sekalian. Tapi, dalam hal apapun, kami, DGT, tidak akan pernah berbuat tidak jujur. Karena kita tidak bisa mengambil apa-apa dari itu. Jika anda masih meragukan kami, lalu bagaimana dengan ini? Jika, dalam permainan, DGT ketahuan berbohong... Siapapun yang menguaknya akan dihadiahi 100 miliar. Kami berjanji. Hmm.. Saya yakin masih banyak hal yang ingin anda tanyakan. Namun, karena permainan yang sebenarnya akan dimulai besok, kami akan mengadakan latihan malam ini. Saya akan menjawab semua pertanyaan dengan senang hati ketika kita selesai. Tapi, Saya yakin semua orang disini kelaparan. Silahkan, jangan sungkan."


Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh di belakang kami, sontak kami pun menoleh ke belakang dan terkejut mendapati 2 seorang pelayan yang sedang membawa hidangan yang sangat banyak di atas meja. Kami pun reflek minggir dan memberikan jalan kepada si pelayan. Makanan itu sekarang berjejeran di depan kami.


Hanya melihatnya saja, kau tahu kalau hidangan ini dibuat dari bahan-bagan yang mahal. Tapi, tidak seorangpun yang menyicipnya. Tidak jika mayoritas orang yang berada di ruangan ini akan 100 juta. Bagaimana kau punya nafsu makan setelah mendengar hal itu? Satu-satunya orang yang berani menyicipinya adalah.... Daniel dan orang yang berada disudut ruangan dengan papan nama bernomor #15. Pria berkacamata dengan panjang rambut pas di alisnya.


"Hei, kau tidak makan?" Tanya Daniel secara tiba-tiba ke Alice yang dari tadi terdiam saja dengan tatapan yang kosong. Daniel sudah dari tadi duduk dan dengan santai menyantap makanan yang ada di mejanya. Merasa terpanggil, Alice pun menghampiri Daniel dan duduk di sebelahnya.


"Kau lapar kan? Makan saja."


"Makanlah selagi kau bisa. Ini akan menjadi pertarungan yang sengit." Daniel terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya secara perlahan, sampai makanan itu mulai sedikit. Alice termenung sejenak memikirkan sesuatu.


"Oh ya, Daniel, mengapa kamu bisa ada disini?! Kamu bahkan tak terkualifikasi untuk bisa masuk ke babak ini!" Alice tak sengaja berkata dengan suara yang keras, Daniel dengan cepat meletakan jari telunjuk nya di tengah-tengah bibir, mengisyaratkan untuk diam atau mengatakan dengan pelan.


"Shhh.....! Sebaliknya, akulah yang seharusnya bertanya padamu kenapa kau ada disini? Bukankah kita sudah sepakat kalau kau akan mengabaikan DGT?" Tanya Daniel keheranan, ditambah lagi di hari sebelumnya Alice mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Apa dia mencoba untuk membohongi Daniel karena alasan tertentu..?


"Yah... Aku.."


"Aku datang untuk menghentikanmu, untuk menjagamu agar kau tak terjun lebih jauh dalam permainan ini. Tapi aku terlambat. Ketika aku datang, kau sudah menjejakkan kakimu di mansion ini. Seperti yang kau bilang, aku tak punya izin untuk masuk ke dalam. Ketika aku sedang berjalan-jalan di sekitar mansion untuk mencari jalan masuk, aku bertemu seorang wanita yang sedang menangis......"


"Ada apa??" Tanya Daniel penasaran, perlahan mendekati wanita itu. Wanita itu tidak menyadari kedatangan Daniel, wajahnya ditutupi oleh kedua telapak tangannya yg membuat Daniel tidak mengetahui wajah wanita itu.


"Ap-apa yang harus kulakukan??" Wanita ini terus menangis. Semakin lama semakin kencang, Daniel mencoba menenangkannya tapi itu hal yang percuma. Setelah berpikir sejenak, Daniel Mencoba menebak kalau wanita itu adalah peserta dari DGT.

__ADS_1


"Mungkinkah kamu peserta Deception Game??" Tanya Daniel memastikan, ia sedikit membukukan tubuhnya agar lebih dekat ke wanita itu. Merasa benar wanita itu akhirnya melirik ke arah Daniel, namun tangisannya tidak berhenti. Beberapa kali ia menyeka air matanya.


"Be-benar.."


.


.


.


"Tampaknya dia bisa mendapatkan 10 miliar dalam babak pertama, aku tak begitu tahu detilnya, tapi, dia telah berbuat sesuatu yang membuat hatinya tidak tentram. Dan dia berencana mengembalikan uang itu kemari agar dia bisa keluar. Dengan rencana itu, ia bercakap dengan pegawai yang ia pertama temui, yaitu seorang pria. Dan memberikannya cek 10 miliar supaya dia bisa keluar. Itulah yang dia kira."


"Perkiraan nya??" Alice seperti nya masih tampak bingung.


"Dia tak bisa keluar, karena orang yang ia berikan cek adalah seorang penipu. Dia adalah salah satu peserta dalam permainan ini!"


"!!" Alice membelalakan matanya tak percaya akan hal itu, jika itu benar terjadi, maka kita dalam masalah yg cukup besar.


"Ja-jadi tak ada pilihan lain baginya selain meneruskan permainan?"


"Yup. Jadi pada dasarnya, aku bisa berkompetisi sebagai wakilnya. Jadi, jika aku menang ataupun kalah, semua atas nama dia. Untukng saja pegawai DGT menerima pergantian. Selama kau menunjukkan kartu undangannya. Lihat papan nama ku." Daniel menunjuk dan memperlihatkan papan nama di dadanya ke Alice. Alice baru menyadari bahwa papan nama itu bukanlah nama Daniel.


"tertulis bernama Putri!"


"Jadi dalam upaya untuk menghentikanmu, aku terjebak dalam permainan ini juga."


"Maaf.." Alice menundukkan kepalanya merasa bersalah, karena bisa dikatakan ia telah melanggar kesepakatan mereka berdua.


"Karena sudah sejauh ini.. Kita akan menang. Mengerti? Setelah kita menang, kau akan keluar dari permainan ini." Daniel Dengan datar namun cukup percaya diri mengatakannya. Hal itu membuat Alice sedikit lega.

__ADS_1


Aku sangat senang dan.. Melebihi apapun. Aku sangat lega.


Beberapa saat kemudian. Daniel pun selesai makan, karena terus didesak oleh Daniel akhirnya Alice pun ikut makan. Dan perlahan para peserta juga mulai menyantap beberapa hidangan, sudah dipastikan mereka pasti lapar.


Beberapa menit kemudian. Datang seorang pria bertopeng yang mengarahkan mereka untuk pergi ke sebuah ruangan.


"Dan sekarang, Tuan-Tuan dan Nyonya-nyonya, kita akan memulai latihannya. Silahkan pindah ke ruangan terdekat diujung sana." Pria bertopeng itu mengarah dan menunjuk pintu ke salah satu ruangan. Para peserta pun mau tidak mau harus mengikuti instruksi mereka.


Ketika mereka sampai, para peserta dikejutkan dengan ruangan persegi panjang yang begitu besar dan luas. Di depan ruangan ini terdapat sebuah papan tulis besar yang dipisahkan menjadi dua bagian oleh sebuah garis. Di sebelah kanannya terdapat tulisan yes dan di kiri bertuliskan no. Tak jauh dari papan tulis, di depannya terdapat meja yang diatasnya ada sebuah kotak persegi yang bertuliskan 'vote'. Meja ini sudah dilengkapi sebuah timer di depannya.


"Kita memainkannya disini?" Tanya salah satu peserta sambil mengedarkan pandangannya. Saat semuanya sudah masuk dan berkumpul. Mereka di perintahkan untuk lebih mendekat ke arah meja, karena ruangan ini begitu luas.


"Izinkan saya untuk mengingatkan anda tentang peraturannya. Pertama-tama,akan dipilih seseorang secara acak untuk mengajukan pertanyaan. Saya sebagai dealer, akan mengambil nya secara acak." Sang dealer merogoh salah satu kotak untuk mengambil sesuatu yang ada didalamnya tanpa dilihat, saat terasa sudah diambil, Dealer menunjukkan kepada para peserta dan menyebutkannya. Ternyata itu sebuah bola yang sudah ada nomernya.


"Nomer 18, anda akan menemukan sebuah nomor di papan nama anda. Pemain bernomor 18 lah yang akan mengajukan pertanyaan." Sontak masing-masing mengecek papan nama mereka untuk memastikan nomor mereka.


"Nah, kemarilah. Ajukanlah pertanyaan pada kami sambil berdiri di atas panggung ini."


"Se-Seperti apa?" Tanya wanita itu gugup, ternyata dia pemilik dari nomor 18, kelihatannya dia sudah dewasa.


"Terserah anda, misalnya, apakah SDF* konstitusional atau inkonstitusional? Tapi, ada persyaratannya. Pertanyaan hanya bisa berisi pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan "Ya" Atau "Tidak". Sekarang, giliran anda."


"Eh??" Terlihat wanita itu seperti masih ragu dan takut ia melakukan kesalahan dan itu akan ada konsekuensinya, namun hal itu dibantah oleh sang Dealer.


"Ini hanya latihan. Cobalah sesuka anda. Tenang saja."


"Ba-Baiklah.." Wanita itu sedikit mengatur nafasnya.


"Apa kau seorang wanita?"

__ADS_1



Bersambung!!!!


__ADS_2