Permainan Menipu

Permainan Menipu
Si 'X' melakukan sesuatu??


__ADS_3

Setelah permainan dimulai, para karyawan menutup pintu dari tempat pertemuan. Semua orang tidak diperbolehkan untuk keluar ruangan. Ponsel dan semua barang elektronik telah disita. "Berikan ponsel anda, sementara selama permainan, ponsel anda kami sita." Ucap para karyawan dengan perkataan yang sama setiap meminta kepada semua pemain.


Segala macam makanan dan minuman telah disediakan untuk kami. Jadi, tidak ada masalah jika pemain kelaparan atau kehausan di tengah permainan berlangsung. Satu-satunya masalah adalah ketika pemain ingin pergi ke kamar mandi..


Tentu saja boleh pergi, tapi pemain harus izin dan akan ditemani oleh karyawan DGT setiap waktu. Pengawasan selama game berlangsung benar-benar luar biasa. Bagaimana tidak, pemain akan sangat kesulitan jika ia ingin melakukan 'sesuatu' ditambah lagi, hampir semua pemain berpikir seakan permainan ini tidak ada celah untuk menang dengan cara tertentu.


Permainan telah dimulai dan pertanyaan telah diajukan, peserta no.1 dibolehkan untuk turun dari panggung. Sementara saat ini Alice berjalan perlahan ditengah ruangan sambil mengedarkan pandangan untuk mengawasi setiap pemain yang ada di dekatnya. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Aiko yang menepuk dan berbisik dari belakangnya.


"Alice.."


"Eh..?" Alice menoleh ke belakang dengan respon yang sedikit terkejut. Sebelum melanjutkan bicaranya, Aiko sedikit melirik ke arah sudut ruangan yang ada dikiri mereka. Lalu kembali berkata.


"Semakin lama aku semakin takut. Meski kupikir rencana kita itu sempurna, mungkin saja X punya rencana yang lebih hebat." Kata Aiko khawatir akan hal itu, sambil menatap ke sudut ruangan yang ternyata ada peserta no.15 yang tengah bersandar di dinding. Alice mencoba menelusuri arah kemana pandangan Aiko tertuju, dan ternyata itu si peserta no.15 yang dianggap X.


"Mu-mustahil.." Alice mencoba untuk tidak percaya dan yakin bahwa strategi mereka tidak terkalahkan. Namun, tetap saja dia merasa ada yang janggal.


"Aku yakin dialah nomor 15 itu.. Eumm.. Maksudku, aku takut kalau nomor 15 itu bisa mengalahkan kita semua."


"(Tidak...! Aku tidak bisa percaya kalau ditengah aturan permainan seketat ini, masih ada yang punya rencana lebih baik dari kami!)" Batin Alice khawatir sekaligus merinding. Entah mengapa sekarang aku lebih fokus mengawasi peserta no.15 dibandingkan yang lain, karena secara tidak langsung ia mengancam kemenangan tim kita.


Karena perkataan Aiko tadi, aku tidak akan membiarkan si X lepas dari pengawasanku. Mungkin saja selama aku mengawasi ini aku mendapatkan suatu informasi yang cukup penting. Namun, hal yang paling aneh dan membosankan adalah ketika sepanjang permainan ia tidak melakukan sesuatu yang begitu spesifik. Masih dalam batas wajar.


Yang dia lakukan hanya bersandar di dinding, seperti hari sebelumnya. Untuk anggota lain dari tim kami, mereka melakukan apa yang kita sepakati kemarin dan mencoba untuk berbicara kepada banyak orang di luar tim kami.


Terutama Aiko, mungkin karena pekerjaannya. Meski ini kali pertama baginya untuk berinteraksi dengan peserta lainnya, percakapannya lancar tanpa ada rasa takut. Sedangkan, ketua tim kami, Daniel.. Duduk di sudut dan memperhatikan peserta lainnya lagi? Hah... Seperti biasa.


Bagaimanapun juga, ruangan ini sangat tenang. Tidak seperti kita sedang bertarung agar tidak mempunyai hutang besar lagi. Namun...


"Tiga menit lagi!" Seru sang Dealer untuk memperingati pemain bahwa babak pertama akan segera berakhir.


Sontak seisi ruangan menjadi riuh, buru² para peserta ingin memasukkan kertas suara mereka. Namun, karena mereka terlalu rusuh dan saling dorong mendorong. Sang dealer memutuskan para pemain untuk berbaris. Tapi, tetap saja di barisan paling belakang mereka tetap dorong-dorongan akibat tidak sabarnya.


Itu bisa terjadi karena jika tidak segera memasukkan kerta suara mereka dalam waktu yang sudah ditentukan, maka mereka akan dinyatakan kalah dan didiskualifikasi. Alice yang berada di tengah barisan pun kena imbasnya juga.


"Jangan dorong-dorong! Kubilang hentikan!"


"Hei diam dong!! Jangan dorong-dorong!!" Peserta yang berada di barisan depan merasa kesal kepada pemain yang daritadi terus dorong-dorongan.

__ADS_1


"Alice! Sekarang waktunya untuk berhati-hati! Nomor 15 mungkin akan mengambil keuntungan dari perkelahian ini untuk melakukan suatu trik!" Seru Aiko berbisik dari samping Alice, mendengar hal itu Alice pun mengangguk.


"Ok.."


Setelah selesai menaruh suara, Alice pun berjalan minggir menjauhi dari kotak vote. Alice mencari-cari peserta no.15 dan ternyata ia dekat dengan Daniel di barisan paling belakang. Setelah gilirannya, nomor 15 memasukkan kertas suaranya, tapi sepertinya tidak melakukan sesuatu yang 'spesial'.


Tersisa satu detik... Dan...


Tet!!!!!


"Babak pertama telah selesai!"


Semua peserta terdiam sejenak, bahkan sampai ada yang menahan nafasnya karena saking tegangnya. "Sekarang kami akan menghitung suaranya!" Mendengar hal itu, para pemain mulai berbicara dan kini situasinya sedikit berisik dari sebelumnya.


Tanpa menunggu lama, suaranya langsung dihitung. Kami menempatkan suara sesuai dengan apa yang telah kami tentukan kemarin.


Yang akan Memilih "Ya" Ada:


-Alice


-pak Dipa


-Aiko


Yang akan memilih "Tidak" Ada:


-Ichika


-Yukino


-Akane


-Hosoe Jyun


Ya! , Ya! , Ya! , Tidak! , Ya! , Tidak!


Setiap dealer menyebutkan suara dan menempelkannya di papan tulis aku tetap saja deg-degan. Namun, tanpa kusadari para pemain terlihat begitu tenang dan biasa saja, menyaksikan sang Dealer menghitung suara.

__ADS_1


"Penghitungan selesai!"


"10 Ya! Dan 12 Tidak! Ya adalah minoritas!"


"Aku menang!" Peserta no.1 terkejut dan menganga tak percaya bahwa ia menang di babak pertama. Seruan itu terus ditemukan kepada pemain yang memilih Ya.


"Maka, mereka yang memilih Tidak dipersilahkan untuk keluar. Silahkan keluar sekarang." Ketika Sang dealer selesai berkata, para karyawan langsung menuntun para pemain yang kalah untuk keluar dari ruangan ini.


Untuk babak pertama, Ya menjadi minoritas dengan perbedaan yang cukup tipis.


"Aku, masih bertahan.." Begitu juga dengan Alice, ia membelalakan matanya terkejut sekaligus lega.


Anggota kami yang tersisa adalah : Alice, Daniel, Aiko, pak Dipa.


"Kami hanya sampai disini, selanjutnya kami serahkan padamu." Ucap Akane lirih kepada Alice di tengah kerumunan, walaupun sedikit terdengar namun tatapan mereka membantu Alice untuk mengerti keseluruhan apa maksud mereka. Raut wajah mereka bercampur aduk jadi satu antara sedih dan khawatir. Alice menjawabnya hanya dengan anggukan.


Disisi lain, Daniel yang tengah bersandar di dinding mengamati semua orang, kini pandangnya tertuju ke arah para pemain yang sedang berjalan keluar dari ruangan. Ia merasakan hal aneh dan janggal dari para pemain yang kalah selain timnya.


"Ada sesuatu yang salah disini." Daniel mengernyitkan keningnya merasa aneh dan janggal, ia meneliti setiap pemain yang akan keluar dari ruangan. Keanehannya adalah ketika mereka berjalan keluar, mereka tidak menunjukkan reaksi kekecewaan, kesedihan ataupun kemarahan. Mereka bersikap datar saja, sebaliknya, diantara wajah pemain ada beberapa pemain yang sedikit tersenyum kecil.


Padahal mereka kalah, namun kenapa mereka bersikap biasa saja?


Pertanyaan itu muncul di benak Daniel, itu merupakan keanehan yang cukup janggal menurutnya.


"(Hm.. Apa Alice menyadarinya? Sepertinya tidak, ia sekarang benar-benar lebih fokus terhadap peserta nomor 15.)" Batin Daniel sambil mengelus dagunya. Kini pemain yang kalah sepenuhnya sudah keluar dari ruangan ini.


"Alice! lihat papan itu!" Aiko yang berada tidak jauh dari Alice pun meminta Alice untuk segera melihat ke papan di depan mereka.


"Sudah kuduga---." Belum selesai bicara, Alice memotongnya dengan panik. Karena melihat wajah Aiko yang menganga tak percaya.


"Apa?!"


Di sana, Di antara orang-orang yang memilih Ya, kertas suara nomor 15...tertempel di sana. Yang menang selain tim kami ada, peserta no.1, peserta no.6, peserta no.9, peserta no.11, peserta no.12 dan yang terakhir peserta no. 15.


"Daniel, gawat! Lihat di sana! Nomor 15...masih berada di game ini!" Alice menunjuk kearah pemain no 15 dengan ekspresi panik. "Ja-jadi... Dia pasti..!" Sebelum melanjutkannya, Alice terdiam sejenak. Daniel bangkit dari duduknya dan berkata.. .


bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2