
"Ti-Tidak.. " Alice menggelengkan kepalanya kecewa dengan nada memelan.
".... "
"Apakah cukup hanya dengan mengamati saja?" Tanya Alice khawatir, ia menunduk tidak yakin. Daniel mengerti apa yg dirasakan Alice, ia mencoba meyakinkan Alice bahwa apa yg dilakukan saat ini merupakan bagian dari rencana pertama.
"Pasti!"
"[Aku penasaran dengan hal itu]"
Keesokan Harinya....
Sekitar jam 5 pagi Daniel sedang melakukan sesuatu didalam mobil, ia memakai baju putih dengan logo tengkorak dibelakangnya, celana panjang, topi dan kacamata hitam. Daniel akan melakukan penyamaran sekaligus ingin mengikuti pak Roy yg akan pergi keluar untuk membeli makanan. Perkiraan Daniel pak Roy akan pergi sekitar jam 05.00.
Daniel bisa memperkirakan hal itu semua karena setiap pagi sebelum matahari terbit, beberapa lampu di ruangan dari rumah pak Roy selalu dinyalakan seperti di kamar, dapur bahkan toilet. Daniel pernah melihat pak Roy keluar rumah untuk sekedar buang sampah atau mengambil surat di kotak pos. Namun, yang membuat aneh kenapa ia lakukan hanya pagi hari saja?
Beberapa menit kemudian, pak Roy keluar dari pagar rumahnya, ia celingak-celinguk seperti mau nyebrang. Menurut Daniel dia sedang waspada. Daniel berkamuflase dengan segerombolan orang yg sedang mengobrol. Dengan ritme langkah yg cepat pak Roy pergi ke arah barat menuju jalan raya. Melihat hal itu Daniel segera mengikuti dari belakang dengan jarak cukup jauh.
Selama mengikuti, pak Roy terlihat gelisah dan kurang nyaman seakan ia berada di lingkungan yg asing. Selain itu, terkadang dia mengedarkan pandangannya terutama ke arah belakang yg membuat Daniel terkejut dan dengan cepat 'berkamuflase' dengan orang sekitarnya. Beruntungnya saat itu kondisi jalan cukup ramai dengan pejalan kaki, sehingga dengan mudah ia membuntuti pak Roy. Karena dengan kondisi jalan yg ramai membuatnya sulit untuk mengetahui siapa yg membuntuti nya.
Singkatnya, ternyata dia mampir ke sebuah toko serba ada. Tokonya cukup besar apalagi dengan pembeli yg ramai dengan kondisi ini dimanfaatkan oleh Daniel, ia ikut masuk ke dalam toko. Daniel tidak membeli barang apapun karena kondisi yg ramai dan itu membuat tidak mencurigakan.
Secara keseluruhan yg dibeli pak Roy adalah kebutuhan pokok, kesimpulan Daniel pak Roy tidak akan keluar rumah selama beberapa minggu kedepan. Kemungkinan besar ia sudah menyiapkan rencana sesuatu untuk mempertahankan uang 20 miliar.
Ketika pak Roy sudah pergi dari Toserba dan pulang kerumahnya Daniel memunculkan diri dan memanggil pak Roy dengan panggilan seperti Alice. Tentu hal itu membuat pak Roy terkejut sekaligus heran. Tanpa berlama² Daniel langsung mengatakan tujuannya, To The Point.
"Kau..?"
"Hehehe kenapa? Aku datang kesini untuk mengatakan Padamu kalau aku berpartisipasi dalam Game Deception sebagai tangan kanan Alice Dan aku pasti akan mengambil 20 miliar milikmu. Aku benar-benar menantikan permainan ini, " Ucap Daniel.
"Hah... Haha.."
"Hmph! kau akan mencurinya nya?"
"Aku bisa mengatakan hal itu karena aku mempunyai rencana yg sangat bagus. " Daniel tersenyum licik membuat pak Roy bergidik ngeri, dengan terburu-buru pak Roy berlari masuk ke dalam rumahnya.
Brak!!
(Heheheheh)
ditengah hari, pak Roy mondar-mandir gelisah di kamarnya. Sesekali ia mengintip dari balik tirai jendela untuk mengecek keadaan diluar. Selama mengintip hal pertama yg ia curigai adalah mobil yg dari kemarin² sudah ada dan tidak pernah pergi. Pak Roy segera menelpon polisi.
"Halo, apakah ini polisi?"
"Iya benar, ada yg bisa saya bantu? "
"Ada orang yg mencurigakan yg selalu berkeliaran di sekitar rumahku!"
Tak lama pak Roy menelpon, mobil polisi pun mulai datang yang terlihat dari kejauhan membuat Alice panik seketika, dengan cepat Alice menyalakan dan mengendarai mobil untuk menjauhi rumah pak Roy. Tak disengaja Alice bertemu dengan Daniel yg sedang berjalan sambil minum sebuah kaleng soda, Sepertinya ia akan pergi ke lapangan dekat dengan rumah pak Roy.
"Eh....??? "
"Daniel!! " Dengan mengerem mendadak diiringi klakson membuat kucing yg sedang tidur kebangun dari tidurnya.
"Ta-tadi ada polisi! Mereka mengejar aku! " Dengan napas yg tersenggal-senggal Alice mencoba menceritakan semua kejadian yg ia alami.
"Apa kamu yakin mereka mengejarmu?" Tanya Daniel sesekali meneguk minumannya.
"A-Aku tidak yakin, tapi entah mengapa aku punya firasat mereka datang untuk mengejarku! " Jelas Alice, wajahnya menunjukkan kekhawatiran beda dengan Daniel yg terlihat santai saja atau tidak panik.
"Okeh, kalau memang mere-"
"Daniel! Sebaiknya ngobrolnya nanti saja! Aku takut mereka masih mengejar kita! Cepat masuk!" Alice membukakan pintu, Daniel menghela napas panjang seolah ia sedang mengalami masalah yg besar ( bagi Daniel ini bukanlah masalah besar.) Daniel menghampiri Alice, ia berkata lirih...
"(Sebaiknya turun dan berlari saja, percuma saja jika naik mobil karena kau membawa mobilmu di jalan yg buntu..)" Usul Daniel kepada Alice. Alice menurutinya dan turun dari mobil, mereka berlari kearah depan atas arahan dari Daniel dan tak berselang lama mereka menemukan sebuah lapangan yg ukurannya kurang lebih 16 × 8 Meter.
"Hah.... Hah..... Hahh..... " Alice terengah-engah karena berlari dengan ritme yg cepat. Daniel menyuruh Alice untuk beristirahat dan bersembunyi di balik sebuah pohon yg besar di sudut pojok lapangan.
Daniel memberikan sebuah air mineral yg ada di kantong plastik yg daritadi sudah ia bawa untuk Alice, ia menerima lalu meminumnya dengan perlahan. Daniel juga ikut duduk bersenderan di pohon bersama Alice.
"Daniel.... Makasih ya.. " Alice menoleh ke samping dengan senyumannya. Entahlah, Daniel merasa aneh dengan senyuman Alice saat ini. Ia memberikan botolnya kepada Daniel namun tentu Daniel menolaknya dengan berasalan itu memang untuk Alice.
"Makasih... "
"Hhh.. Lagipula aneh sekali kita bersembunyi seperti ini.. Kan kita bersalah.. " Daniel berbicara dengan tatapan kosong ke depan seolah ia sedang berbicara sendiri. Namun, Alice meresponnya.
"Ah.. Soal itu memang aku tidak tau pasti, namun yg jelas saat itu aku panik.. "
"Ya aku mengerti.. Tapi yg jelas jika kau tidak punya masalah dengan orang lain atau melanggar beberapa aturan yg berlaku, kamu tidak perlu takut dengan polisi.. "
__ADS_1
"Ya aku tau soal itu, tapi aku kan panik.. Kmu tau panik, kan?"
"Sepertinya bukan begitu, kamu merasa salah dan takut karena telah melakukan sesuatu yg kamu anggap itu tidak benar, jadi dengan tiba² ada keberadaan polisi kamu menganggap bahwa mereka mengejarmu... Jadi bisa disimpulkan.. "
"Aku mengerti, Seperti nya begitu... " Sela Alice, ia bangkit dari duduknya lalu mengajak Daniel untuk kembali ke mobil, mendengar hal itu Daniel pun ikut bangkit. Sebelum sampai ke mobil Daniel memberikan sebuah kunci kepada Alice yg dan ternyata itu kunci rumah.
"Ini kunci apa Daniel?" Tanya Alice penasaran, Daniel memberitahunya ketika berada di dalam mobil.. Kini Alice pun juga berada di dalam mobil.
"Itu kunci rumah.. Aku menyewa rumah kosong disebrang 'rumahnya' selama sebulan dengan perjanjian kita harus membersihkannya.." Daniel menyalakan mobil dan bersiap untuk pergi. Alice tidak percaya, bukankah perjanjian itu terlalu mudah. Walaupun merasa ada yg janggal Alice tidak bertanya lebih lanjut.
"Mulai besok kita bisa mengamati dia tanpa khawatir dikejar polisi."
"Baik."
Mereka pun mulai berjalan, perlahan mobil mereka keluar dari jalan buntu yg cukup sempit yg hanya dapat dilewati oleh satu mobil, Daniel berhati² takutnya ia menabrak sesuatu di sampingnya.
"Hebat sekali kamu bisa melewati jalan yg super sempit ini dengan kecepatan yg tidak wajar. Jika tidak pelan² mobil ini akan lecet akibat gesekan antar tembok, pohon ataupun tiang listrik. " Daniel memuji Alice sekaligus menggodanya, Alice tersipu malu bahwasannya ia hanya beruntung saja. Terlihat sekarang ia berkata secara terbata².
Selama perjalanan mereka tidak berbicara sedikitpun, keheningan mulai menyelimuti mereka. Padahal jaraknya tidak begitu jauh,
Tapi entah mengapa rasanya sangat lama sampai rumah yg dimaksud Daniel, apa ini efek dari kecanggungan?
"[Hhh... Aku harap kita cepat sampai]" Harapan Alice pun terkabul, mereka akhirnya sampai..
.
.
.
Penilaian pertama dari Alice untuk rumah ini sangat kotor dan mungkin ada beberapa ruangan yg harus renovasi seperti kayu yg mulai rapuh, atap bocor dll. Bahkan saat Alice menginjaki anak tangga itu rusak dan alhasil berlubang.
"Waa!!"
Teriakan Alice membuat Daniel lari masuk rumah lewat pintu belakang, kebetulan saat itu ia berada di taman kecil di belakang rumah.
"Ada apa??" Tanya Daniel yg sedikit khawatir.
"Ah, ini..... Anak tangga ini rusak ketika aku menginjaknya.. Hahh... Rumah ini terlihat sangat rapuh.. " Alice mendesah, perlahan ia turun dan menghampiri Daniel yg tidak jauh dari tangga. Daniel mengelus dagu dan matanya memerhatikan sekitarnya. Alice entah mengapa mengikuti apa yg dilakukan Daniel.
"Hmmm, memang benar, tapi ini sebanding dengan perjanjiannya. Pemilik rumah ini akan merenovasi sekitar 2 bulan lagi, nah tugas kita sekarang hanya sebatas membersihkan kotoran yg bisa dibersihkan.. Itu permintaan si pemilik untuk kita bisa menempati rumah ini.."
"Tenang, kita hanya menggunakan lantai 2 untuk misi kita, terlebih lagi lantai 2 menurut si pemilik tidak mengalami kerusakan, dan aku sudah mengeceknya. Jadi, tak perlu khawatir.. " Daniel mengajak Alice untuk naik ke lantai 2, Alice mengikuti dari belakang.
"Daniel.. Kamu benar-benar orang yang baik.." Alice tersenyum lembut, ia melanjutkan "kamu membuat jadwal yg membuatku bisa menjenguk ayahku dengan berjaga di siang hari, dan sekarang kamu mendapatkan tempat tinggal... Jadi, apa yg mengubah keputusanmu untuk membantuku, Daniel?" Alice bertanya heran sekaligus penasaran motif sebenarnya Daniel membantunya sampai sejauh ini.. Sebelum menjawab, mereka sudah sampai ke sebuah ruangan tanpa pintu, seperti nya ini kamar orang dewasa. Dilantai 2 ini hanya berisi 3 ruangan yg seperti ini khusus untuk kamar.
2 ruangan lainnya dikunci oleh pemilik karena berasalan ada beberapa barang yg blum dikeluarkan dari kamar tersebut yg alhasil mereka sampai ke ruangan 3, terakhir.
"Tunggu disini." Perintah Daniel untuk menunggu di luar ruangan, sedangkan Daniel masuk untuk mengecek keadaan kamar. Setelah dikira aman, Alice diizinkan masuk.
"Kamar nya cukup luas jika hanya untuk satu orang.. Mungkin ini bisa ditempati untuk 2 orang." Alice memperhatikan ruangan cukup detail, sampai² ia bisa mengetahui ada lubang kecil yg sedikit mencurigakan. Daniel berkesimpulan bahwa itu hanya lubang yg dibuat oleh serangga untuk membuat rumah atau hal lainnya.
"Ha.... Buku² ini aku keluarkan saja." Dipojok ruangan Daniel sedang menumpuk satu persatu buku yg terlihat berdebu dan kotor. Bukunya ada yg tebal dan ada yg tipis. Alice menghampiri Daniel untuk menawarkan bantuannya.
"Daniel.. Buku apa itu? Apa perlu bantuan??" Tanya Alice sekaligus matanya curi² pandang melihat judul buku yg ditumpuk Daniel. Sontak Daniel menutup judul dengan tangan kirinya lalu berbalik badan dengan posisi tangan masih sama.
"Yah, aku perlu bantuanmu.. Tolong sapu ruangan ini, sapunya ada di sebelah kiri setelah keluar dari kamar.. Tidak jauh dari situ. "
"Hmm... Oke.."
Kini, mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing, untuk hari ini mereka akan membersihkan kamar ini saja karena 100% ruangan yg mereka gunakan hanyalah ini, sisanya tidak digunakan. Menjelang sore, matahari mulai terbenam,langit memancarkan warna orange sebagian masuk ke beberapa ruangan.
Indah sekali!
"Akhirnya kamar ini bersih juga.. Layak untuk kita tempati." Guman Alice tersenyum. Matanya berbinar dengan perasaan yang puas, semua peralatan kebersihan ia letakkan di pojok ruangan. Ia duduk dan perlahan tiduran di tengah ruangan dengan keadaan lelah, ia menghela nafas berkali².
Setelah beristirahat menenangkan diri, tanpa sadar Alice tertidur. Matanya kelap-kelip berusaha untuk bangun. Saat nyawa setengah sadar, matanya tertuju ke arah luar jendela yg kini sudah gelap. Melihat itu Alice langsung sepenuhnya sadar, ia mengecek jam di hpnya dan menunjukkan pukul 19:54.
Hah??
Walaupun sedikit tidak percaya namun Alice menghiraukan hal itu dan bangkit dari tidurnya untuk mencari keberadaan Daniel. Namun, anehnya lampu di ruangan ini menyala padahal sebelumnya tadi siang Daniel sudah mengetes kalau lampu ini mati. Keanehan terus berlanjut ketika Alice keluar kamar berniat untuk turun, ia menyadari bahwa ruangan 02 pintunya sedikit terbuka, jadi ada celah. Padahal tadi siang sudah dicoba untuk dibuka tapi terkunci.
Alice pikir bahwa pemilik rumah ini datang untuk mengambil sesuatu di ruangan 02, karena yg punya kuncinya hanya dia. Tapi, Alice menyadari sesuatu saat ia berjalan semakin dekat dengan ruangan 02 melihat sosok hitam yg kurang jelas di celah pintu.
Ia tidak bisa mendeskripsikannya secara pasti karena kondisi ruangan 02 sangat gelap, jadi kurang jelas. Alice terdiam sejenak, berpikir harus apa yg dia lakukan selanjutnya.. Apa menghampiri ruangan 02 atau lari menuju kebawah?
Alice juga takut sosok itu bermaksud untuk berbuat jahat kepadanya, Alice tidak ada jalan lain karena akses untuk keluar dari kamar 03 ke pintu utama itu harus melewati kamar 02 dan 01.
__ADS_1
note : ilustrasi kurang lebih seperti itu..
Alice terlalu takut untuk memastikan siapa yg ada di dalam ruangan 02. Semakin lama suasana semakin tidak enak. Apalagi dengan kondisi lorong dengan lampu yg remang menambah ketegangan dan kengerian.
Alice dapat ide, ia menyenter ke arah pintu 02 menggunakan lampu hpnya, entah mengapa daritadi tidak terpikirkan oleh Alice saking panik. Setelah disorot oleh cahaya lampu, ternyata siluet sosok itu berupa jacket yg berwarna hitam yg digantung.
Hah... Bikin takut saja, aku ditakuti oleh pikiranku sendiri..
Merasa tidak ada apa² lagi, Alice pun kembali berjalan menuju kebawah, selama perjalanan Alice tidka mematikan lampu di hpnya karena kondisi rumah yg cukup gelap dan beberapa ruangan yg tidak ada lampu.
Satu persatu anak tangga diinjak oleh Alice dan menimbulkan suara decitan yg mengganggu ditelinga Alice dan membuat suasana menjadi terkesan horror. Alice mempercepat langkahnyaa dan kini ia sampai di pintu depan.
Ketika ingin keluar tpi pintu tidak bisa dibuka.
"Apa???!! Kok gk bisa dibuka??!!" Aku panik, aku terus mencoba membuka gagang pintu tapi tidak bisa juga. Apa mungkin selama Daniel pergi pintu dikunci? Tapi seingatku dia hanya berniat untuk pergi ke toilet padahal dirumah ini ada sebuah toilet walaupun kotor.
Aku menarik nafas panjang melalui hidung dan menghembuskan perlahan dari mulut agar aku sedikit tenang, Alice beranjak pergi dari pintu depan menuju pintu belakang. Namun, baru beberapa langkah Alice mendengar pintu terbuka dan sumbernya berasal dari belakangnya, itu pasti suara pintu depan!
Alice membalikkan badannya perlahan layaknya adegan slow motion, sepenuhnya mata Alice melihat sosok manusia berdiri di ambang pintu. Yaitu Daniel..
"Fiuh, akhirnya sampai juga.. " Daniel menghela nafas lega sambil menutup pintu, tidak lupa ia mengunci pintunya. Jacket yg dipakai Daniel sedikit basah dan tangannya membawa sekantong plastik putih, dilihat sekilas Daniel membawa makanan. Tak berselang lama rintik hujan mulai terdengar, Alice menawarkan bantuan untuk membawa plastik yg dibawa Daniel.
"Aku bantu.. "
"Makasih.. " Daniel memberikannya tanpa melihat Alice, Alice akan membawanya ke kamar atas karena tidak memungkinkan untuk diletakkan di dapur kotor dan atap yg bocor. Alice menunggu dengan setia sampai Daniel selesai membuka sepatunya yg basah.
Daniel bangkit dari duduknya, "Maaf.." Dia menatap Alice yg kini ada dihadapannya, ia melanjutkan.
"Karena telah meninggalkan mu sendiri dirumah yg gelap dan asing bagimu. Tenang, sebagai gantinya aku membawa mu makanan, katakan sesuatu selama aku meninggalkan mu." Daniel berkata lirih walaupun begitu tetap terdengar di telinga Alice karena kondisi rumah yg kosong membuat suara menjadi bergema. Daniel menunduk, ia merasa itu tidak sebanding dengan ditinggalkan Alice sendirian. Namun, anehnya Alice tidak marah dan memaafkan Daniel.
"Aku maafkan kok, hah.. Sebaiknya kamu lepas jacketmu yg basah.. Takut nanti sakit.. " Alice tersenyum, layaknya ibu menasihati anak yg nakal karena tetap mau mandi hujan padahal kondisi yg sedang flu.
Daniel heran sekaligus hatinya tersentuh dengan kebaikan Alice yg tidak dapat diprediksi, karena berdasarkan pengalaman dan ilmu yg ia pelajari bahwa seseorang jika berada di posisi Alice pasti mereka akan marah dan mengumpat beberapa kata 'mutiara'.
Tanpa sadar Daniel sedaritadi melamun, Alice yg merasa canggung dan dicuekin pun mengguncangkan tubuh Daniel.
"Ah, iya.. "
"Hmmm.. " Alice pergi duluan, sepertinya ngambek, Daniel mengikuti dari belakang. Kini Alice tidak merasakan ketakutan lagi karena ada Daniel. Selama berjalan diiringi suara deritan dan rintikan suara hujan yg makin lama semakin deras, karena suasana canggung Alice akan membuka pembicaraan ketika mereka sudah sampai di kamar 03.
Ketika sampai dikamar Alice duduk ditengah ruangan dan mengeluarkan satu persatu makanan dari dalam plastik, sedangkan Daniel membuka jaketnya di sudut ruangan dan menggantungnya di paku yg kebetulan ada di dekatnya, beruntung hanya jaketnya saja basah tidak sampai ke bajunya.
Setelah selesai, Daniel menghampiri dan duduk di hadapan tidak jauh dengan Alice. Semua makanan yg Daniel beli adalah makanan cepat saji, menurutnya agar tidak merepotkan jadi tinggal makan saja.
"Nih.. "Alice memberikan semacam kotak makanan kepada Daniel.
"Iya, selamat makan.. "
"Oh ya.. "
"Hmm?? "
"Buku yang kamu rapikan itu kamu apakan? Atau ditaruh dimana? Kamu tau, aku ingin membaca. Terkadang saat mengamati aku sangat bosan jadi bisa sambil baca buku.. "
Alice berbicara ketika makanan yg ada dimulutnya habis begitu juga dengan Daniel, ia menjawab.
"Hah.. Yang ada nanti kamu lebih fokus kebuku dibandingkan mengawasi rumahnya.." Daniel menatap sepele ke Alice.
"Tapi kan aku bisa membaca ketika diluar jam shift.. " Sanggah Alice, Daniel terdiam sejenak memikirkan harus menjawab apa, kalian terus makan hingga makanan itu habis dan kalian pun kekenyangan.
"Tapi bukunya sudah tidak ada.. "
"Maksudmu?"
"Sudah berganti kepemilikan. "
"Jadi, maksudmu bukunya dijual? Tapi kenapa?" Alice memasang wajah memelas tak percaya padahal ia sudah berharap bisa membaca buku diwaktu luangnya.
"Klo aku tidak menjual bukunya maka makanan ini tidak, lagipula aku tidak punya uang.." Daniel menatap makanan yg sudah dirapikan oleh Alice dan dimasukkan ke plastik putih yg tadi. Alice baru mengerti dan sebenarnya tidak ingin membahas buku tadi lagi tapi Daniel menyambung perkataannya.
"Lagi pula beberapa buku dan majalah itu tidak cocok bagimu.." Walaupun Daniel berkata sangat pelan layaknya bergumam, namun Alice masih dapat mendengar dengan jelas.
"Tidak cocok? Bagaimana?" Alice mengerutkan keningnya, Alice merasa dirinya tidak layak membaca buku yg dimaksud Daniel. Karena Alice menyadari apa yg Daniel katakan, ia melanjutkan..
"Buku itu menceritakan hubungan percintaan tingkat lanjut.. Dan kau kelihatannya masih terlalu dini untuk mengetahui hal itu, tau?" Dengan tatapan menggoda Alice, Daniel menopang dagunya menggunakan kedua telapak tangan nya, posisinya saat itu tengkurap.
"Masih terlalu dini katamu? Aku sudah mahasiswi, bukankah itu sudah cukup umur? Memangnya kamu pikir aku anak kecil?"
"Maba, ya....... Habisnya kamu terlihat seperti Anak SMA, itu terlihat dari penampilanmu, mungkin... Dan anehnya bahkan seorang anak SMA lebih brutal dibanding dengan pernyataan ku tadi.. Ini Aneh.."
__ADS_1
Bersambung....