Permainan Menipu

Permainan Menipu
Sebuah Strategi


__ADS_3

"Pertama, dalam satu tim ini, kita membutuhkan 8 orang. Singkatnya kita hanya perlu enam orang lagi selain kau dan aku. Semua perlu memilih sesuai rencana."


"Rencana??"


"Ronde pertama dimulai dengan 22 orang, bukan? Saat itu, tim kita akan melakukan ini, empat orang akan memilih Ya, empat yang lain memilih Tidak."


"Jadi maksudmu, kita berpecah menjadi dua grup beranggotakan empat orang dan masing-masing tetap berada pada pilihan grup?"


"Tapi kita tidak tahu bagaimana empat belas orang lainnya akan memilih.... Hmmm, anggap saja skenarionya begini.. Dengan keempatbelasan pemain yang lain akan menjadi 7:7, dan mereka akan diharuskan mengulang ronde itu. Jadi, batasan paling mungkin adalah untuk membagi pilihannya menjadi 6:8."


Singkatnya:


Kelompok Daniel beranggotakan 4 orang akan memilih Ya. Kelompok Alice beranggotakan 4 orang akan memilih Tidak. Sedangkan, semisal pemain yang lain 6 orang akan memilih Ya, sisa pemain yang lainnya akan memilih Tidak yang berjumlah 8. Maka, kelompok Daniel akan maju ke babak selanjutnya, begitu juga dengan pemain lain yg telah menjadi minoritas. Maka, total pemain akan menjadi 10 orang.


Note : 'Pemain lain' disini digambarkan sebagai pemain yang bukan team Daniel dan Alice.


"Dari sepuluh orang yang menang, empat akan menjadi tim "Baru" Kita. Lalu, sekali lagi tim kita akan membagi pilihannya 2 Ya - 2 Tidak. Sadarkah kau apa yang akan terjadi kalau pilihannya dekat?" *Daniel


"Karena ada 6 pemain lain yang tersisa, maka menjadi 2 banding 4." *Alice.


"Babak selanjutnya, empat pemain tersisa, 2 diantaranya tim kita, dan tentu saja tim kita akan membagi pilihannya 1 Ya, 1 Tidak. Lalu apa yang terjadi?" *Daniel.


"Umm.. Karena tim kita memilih seperti itu, kalau mereka memilih 1:1 rondenya akan diulang, jadi yang tersisa hanya 0:2 .... Eh...?? Ah..! Kita akan menang!! Seseorang dari tim kita akan bertahan bagaimanapun caranya!!" Alice membelalakan matanya karena terkejut bahwa ada strategi untuk memenangkan permainan ini.


"Walaupun simulasi kecil kita mengasumsikan kasus terdekat, kalau pilihannya lebih tersebar, maka kita akan menang lebih cepat. Bagaimanapun kasusnya, tim kita pasti akan menang."


Singkatnya:


Jikalau pemain lain memilih Ya totalnya ada 5,


Sedangkan sisanya memilih Tidak totalnya ada 9. Maka, tim Daniel akan lebih cepat memenangkan permainan. Strategi ini jika tidak ada masalah atau kendala. Hanya akan terdapat seri atau menang, jadi tidak akan kalah. Namun...


"Dari 2,1 miliar, setengahnya akan terpakai oleh sang pemenang kalau dia mengumumkan keputusan untuk keluar. Yang tersisa adalah 1,05 miliar. Karena tujuh anggota tim kita yang kalah masing-masing akan mendapat hutang sebesar 100 juta, 1,05 miliar dikurang 700 juta tersisa total 350 juta. Kita akan membaginya rata diantara kita. Berapa jadinya?"


Tanya Daniel sedikit tersenyum dengan menopang dagunya di telapak tangannya menatap lurus ke wajah Alice. Alice buru-buru mengambil hpnya untuk menghitung di kalkulator.


"43 juta 750 ribu per orang!! Masing-masing lebih dari 40 juta! Kita semua bisa keluar!! Menakjubkan!! Kamu luar biasa!! Ini akan berhasil! Daniel, kamu yang terhebat!" Alice menjentikan jarinya lalu berdiri dan melompat² kecil senang seperti anak kecil. Ia berjalan cepat ke arah Daniel dan memegang tangannya dan mau memeluknya, untungnya hal itu ditahan oleh Daniel, menurut Daniel masih terlalu cepat untuk merasa senang.

__ADS_1


"Hei-hei tenang sedikit.." Daniel sedikit kesusahan dan canggung dengan Alice yang saat ini merasa senang tak terkendali. Beberapa saat kemudian, situasi kembali tenang.


"Kita masih belum lepas dari kekhawatiran." Daniel mengelus dagunya perlahan, wajahnya terlihat khawatir akan sesuatu. Alice memiringkan kepalanya keheranan.


"Mengapa?"


"Pikirkan mengapa aku disini.."


"Oh itu!! Maksudmu orang yang telah mencuri 100 juta dan menyelinap?" Alice menutup mulutnya terkejut karena ia baru menyadari hal itu.


"Bingo. Mari panggil dia "X" Untuk sementara. "X" Memperhatikan Kita dari kerumunan. Dia tentunya bukan orang yang termasuk di sini. Mulanya, dia menipu seseorang tanpa pikir panjang dan mencuri uang mereka. Jelas, seseorang yang sangat kejam dan berani. Dan lebih parahnya, secara praktek dia memegang cek kosong berisikan 100 juta. Kalau pemain di sini kalah, mereka akan mendapatkan hutang 100 juta. Tapi tidak demikian untuk x. Kalau dia kalah, dia hanya akan membayarnya. Dia tidak memiliki resiko. Yang membuatnya satu-satunya orang disini yang tidak takut kalah. Rencanaku berdasar pada fakta kalau tidak hanya semua akan memegang perkataannya dan memilih dengan benar, tapi juga pemenangnya akan membagi uangnya dengan tim. Jadi singkatnya, tidak boleh ada pengkhianat di tim kita. Karena itu kita harus menghindari memasukkan "X" Dalam tim kita."


"Jadi... Dia seperti apa??"


"Well.. Gadis yang kutemui mengatakan semua terjadi begitu cepat, dia tidak bisa mengingat dengan baik. Kecuali satu hal, "dia seorang pemuda" Katanya."


"Itu saja??"


Daniel mengangguk pelan, hanya itu satu-satunya petunjuk siapa sebenarnya si "X".


"Ada pria bermuka lurus yang mengacuhkanku ketika aku mencoba untuk berbicara dengannya, bernomor 12. Lalu kebalikannya, ada yang banyak bicara, bernomor 2. Seorang pegawai yang bekerja di bagian penjualan.. Bernomor 5, ia memakai kacamata persegi panjang dan ia cukup muda juga. Nomor 9 mengatakan padaku dia bahkan belum berumur 20 tahun. Nomor 13 sepertinya sangat dewasa. Dia masih mahasiswa dan bermata sedikit sipit. Nomor 1 mengatakan beberapa tahun yang lalu dia pergi ke stadion bola. Nomor 6... Dia mempunyai badan yang kekar, tinggi dan tidak mempunyai rambut. Aku takut mendekat, tapi kupikir dia mungkin cukup muda. Oh ya, dan nomor 8 dia masih sangat muda, sekitar masih SMA. Nomor 11 orang yang sangat ramah yaitu si Riordan, Tapi mungkin saja berarti dia "X". Oh ya, juga ada pria yang mencurigakan itu. Nomor 15, pria dengan kacamata hitam," Jelas Alice, ia mencoba mengingat dan mendeskripsikan karakteristik para pemain yang ia ajak bicara.


"Ahhh!! Ini mustahil! Kita tidak dapat mengetahui siapa dia dengan informasi sesedikit ini!" Alice pasrah, ia bersandar di sofa sambil memegang keningnya, sesekali ia mengetuk² kecil keningnya itu berusaha berpikir keras.


"Tunggu...! Tidak, kita dapat melakukannya! Menjauh dari pria muda!" Tiba-tiba saja Alice berkata cukup kencang sambil bangkit dari duduknya, Daniel terkejut dengan perubahan perilaku Alice yang begitu cepat.


"Daniel! Ayo bentuk tim! Tim yang tidak akan menyertakan dia bagaimanapun caranya!"


"Apa maksudmu?!"


"Ingat latihan hari ini? Itulah saat aku menyadarinya! Dari 22 pemain, hanya ada 5 wanita selain aku!"


"5 wanita, hmmm.. Kalaupun kita menyertakan mereka semua, kita masih kekurangan 1 orang."


"Bukan masalah! Kita sertakan no 4, sang manager! Tidak mungkin gadis itu salah mengenalinya sebagai seorang pemuda! Benar kan? Jadi itu 8! Tim kita lengkap!"


"Yah... Kurasa begitu...."

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan pergi ke lobby untuk mencari anggota kita! Menurutku mereka semua seharusnya masih ada disana!" Alice berkata dengan sangat semangat sambil berjalan keluar kamar, bahkan Daniel yang ingin mengatakan sesuatu pun tidak sempat.


"Tunggu!" Namun terlambat, Alice tidak mendengarnya dan sudah keluar dari kamar, langkah kakinya yg sepertinya berlari terdengar di telinga Daniel yang perlahan mulai menjauh.


Satu Jam Kemudian...


Tok! Tok! Tok!


"(Pasti dia!)" Gumam Daniel sambil menatap ke arah pintu, ia mendengar beberapa langkah kaki yang ada di depan pintu. "Masuk Saja.. Tidak dikunci.." Daniel teriak dari dalam, benar saja, tak lama kemudian Alice membuka pintu dan terlihat beberapa orang yang juga ikut masuk.


"Daniel! Aku membawa mereka!"


Nomer 3 - Aiko Akemi seorang pekerja malam.


Nomer 10 - Akane Hanoko bekerja dalam beberapa pekerjaan paruh waktu.


Nomer 18 - Hosoe Jyun pegawai perusahaan.


Nomer 14 - Ichika Hanae memasuki sekolah kejurusan.


Nomer 7 - Makihara Yukino sebagai ibu rumah tangga.


Nomer 4 - Dipa Cahyadi manajer pabrik.


"Se-serius? Kau benar-benar mendapatkan mereka semua..." Daniel terkejut tak percaya bahwa Alice mampu membawa mereka kesini, padahal sebelumnya Daniel belum memberitahu kepada Alice bagaimana caranya agar mereka mau ke kesini tanpa alasan yang jelas.


"Gadis ini terus berkata, "kalau kau tidak datang, aku akan mati!" Dengan berlinang air mata, berlutut di depanku." Ucap Aiko sedikit risih sekaligus merasa aneh kepada Alice.


"Mati?? Menangis.... Berlutut??" Daniel melirik perlahan ke Alice yang ada disampingnya yang tengah merasa malu.


"Yahh... Ini bukan waktunya untuk memikirkan penampilan!" Sanggah Alice mencoba mengganti topic agar ia tidak dibicarakan lagi.


"Yah, kau benar.. Kita tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi." Ucap Daniel setuju. Alice menghela nafas lega.


"Baiklah! Dengarkan semuanya! Kita akan latihan!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2