
"Sesuatu yang benar-benar salah.."
"Apa itu?" Tanya Alice penasaran. Daniel melirik Alice sejenak lalu kembali berkata.
"Beritahu aku, sesuatu yg benar-benar salah, menurutmu?" Tanya balik Daniel, Alice menggembungkan pipinya kecewa karena tidak diberitahu hal apa yg di maksud Daniel.
"Yah, menurutku hal yang teraneh... Adalah nomor 15 masih disini.." Alice melirik ke arah peserta no 15 yang sedang bersandar di dinding dengan tatapan aneh sekaligus khawatir. Daniel menghela nafas berat lalu memejamkan matanya.
"Begitukah? Babak pertama pemungutan suara ini berakhir dengan perbedaan yang tipis 10 banding 12, kan? Perbedaan hasil babak berikutnya juga sama, 4 banding 6, Maka itu artinya akan sangat mungkin kita menuju ke skenario terburuk." Kata Daniel dengan raut wajah yang serius, sepertinya itu yang saat ini Daniel khawatirkan. Alice sebenarnya tidak sepenuhnya mengerti maksud dari perkataannya, tapi mungkin ini ada hubungannya dengan si 'X'. Apa ia benar-benar melakukan sesuatu?
"Jadi, dengan anda bersepuluh, kita akan menuju ke babak pemungutan suara kedua." Seru sang Dealer yang memecahkan perhatian dan pikiran mereka. Sontak tatapan mereka tertuju ke depan papan yang terdapat sang dealer yang tengah mengambil bola kecil untuk siapa yang akan mengajukan pertanyaan.
"Untuk memulainya, mari pilih pemain yang akan memberikan kita pertanyaan." Ucap Dealer sambil merogoh ke dalam kotak.
"J-Jadi, bagaimana? Apakah kita.. Akan mengganti rencana?" Tanya Alice khawatir sekaligus memastikan. Daniel terdiam sejenak untuk berpikir sesuatu. Suasana di ruangan ini semakin tegang karena pemain yang semakin sedikit.
"Tidak. Kita tetap mengikuti rencana ini." Daniel menjawab Tanpa menatap Alice. "Pemain nomor 11 ! Harap maju kedepan!" Perintah sang Dealer sambil menunjukan bola yang ia dapat ke para pemain bahwa pemain 11 lah yg terpilih.
"Hanya amati dengan teliti semua gerakan dari setiap pemain. Kita mungkin akan menemukan sesuatu."
"Um.. Kalau harus memilih antara "Es" Dan "Api", maka kau akan memilih "Es"." Ucap Riordan yang sempat terlihat gugup, namun ia mampu melakukannya.
"Itulah pertanyaannya, semuanya! "Kalau harus memilih antara Es dan Api, maka kau akan memilih Es." ! " Seru sang Dealer mengulang kembali perkataan dari pemain nomor 11. Ini dilakukan agar pemain tidak berasalan lupa atau tidak tahu pertanyaan apa yg diajukannya.
"Jika anda merasa anda adalah 'Es', maka pilih ya. Namun, jika anda merasa kalau anda adalah 'Api', maka pilih tidak."
Aku kembali mengamati semenjak babak kedua dimulai. Mengamati semua pemain menjadi lebih mudah, karena sekarang hanya ada 10 pemain. Jika seseorang mau melakukan hal yang aneh, dia akan segera ketahuan.
"Hei, kau lama sekali jalannya!"
"Sabar donk, aku tengah mikir."
Beberapa dari mereka sedang bermain bermacam permainan, ada yang duduk dan tertidur, ada yang sedang makan maupun yang berbincang bahkan tak jarang mereka tertawa karena melihat ataupun mendengar sesuatu yang konyol. Melihat itu aku semakin cemas dan khawatir, karena tidak ada hal yang mencurigakan.
"..." Saat lagi melamun mengamati mereka, Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara Aiko yang sedang membawa makanan. "Alice, bukankah makanannya luar biasa?" Celetuk Aiko sambil tersenyum lebar. Ia sesekali mengecap dan mengelap sisi pinggir bibirnya menggunakan tisu yang sudah disediakan oleh karyawan DGT.
"Aku penasaran seberapa banyak lagi mereka akan memberikan makanan kepada kita! Makan Caviar dengan sepuasnya!" Seru Aiko dengan perasaan senang setelah mencicipi makanannya, ia hari ini memakan makanan yang luar biasa enak dan terkenal mahal. Padahal sebelumnya ia tidak pernah mencobanya.
__ADS_1
Note : Caviar adalah telur Ikan sturgeon atau salmon, dan termasuk makanan mewah.
"Aiko!" Karena merasa kebetulan, Alice berjalan mendekat dengan wajah yang masih khawatir. Aiko memiringkan kepalanya bingung.
"Apa kau menyadari sesuatu sejak kita terakhir berbicara?" Tanya Alice, mengharapkan Aiko mendapatkan sesuatu yang cukup penting. Aiko tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak untuk menggali memory² di waktu sebelumnya.
"Daniel berkata kalau dia merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi.. Mungkin.. Nomor 15 benar-benar telah melakukan sesuatu?" Tanya kembali Alice dengan tatapan kosong ke depan.
Dipikiran Alice terdapat kemungkinan² terburuk terjadi dan apa yang sebenarnya dilakukan oleh pemain 15 atau mungkin X, dia sekarang sedang makan dengan tenang seperti biasa.
"Daniel tidak mengatakan kalau pelakunya dia, Kata-katanya membuat orang penasaran, seperti siapapun bisa melakukannya." Sambung Alice membuat keadaan menjadi rumit, mungkin saja si X bukanlah pemain 15. Terlalu banyak kemungkinan yang terjadi dan kurangnya bukti.
"Hmm, siapa ya....?" Aiko mengelus dagunya berpikir. Menebak² tidak akan ada gunanya, karena mereka butuh sesuatu yang pasti dan bukti yang sedikit tapi itu akan membantu.
"Baiklah! Alice, amati dengan teliti pemain nomor 15 selama 6 jam ini, dan aku akan mencoba berbicara dengan yang lainnya untuk menemukan sesuatu."
Aiko membuat keputusan yang bisa dibilang ini tidak jauh berbeda dengan babak pertama. Namun, mungkin ini saja rencana satu²nya yang bisa dilakukan.
"Oke!" Dengan mengangguk cepat Alice mengiyakannya. Mereka pun berpisah, Alice berjalan menjauhi kumpulan beberapa orang untuk mengamatinya dari kejauhan.
Namun, dia tidak melakukan hal yang aneh. Hal yang ia lakukan selalu sama seperti di babak pertama. Ia tertidur di kursi untuk beberapa saat, lalu ketika bangun ia berjalan ke arah meja yang sudah disediakan makanan yang begitu banyak. Setelah selesai makan, ia lanjut lagi berdiri bersandar di salah satu dinding dan mengamati seperti Daniel. Namun, mungkin hal itu belum bisa dibuktikan secara pasti karena ia memakai kacamata.
Pada akhirnya, aku menyia-nyiakan waktu 5 jam.
"Alice, bagaimana?" Aiko tiba-tiba berjalan menghampiri Alice seraya menanyakan hal itu. Alice menunduk kecewa, "tidak ada.."
"Ck, sial.. Aku juga tidak mendapatkan apa-apa." Aiko berdecak kesal sambil menghela nafas kasar. Aiko mengedarkan pandangan untuk melihat sekali lagi situasi saat ini. Karena waktu perlahan semakin sedikit, Aiko teringat akan sesuatu.
"Hei, masih ada sisa 1 jam lagi dan kita belum menentukan apa yang akan kita pilih."
"Kau benar."
"Aiko, menurutmu, kamu akan memilih apa?"
"Hm, aku akan pilih ya. Lagipula aku Es. Kalau kmau?"
"U-uh, aku benar-benar tidak tahu mau memilih apa?" Alice menggelengkan kepalanya tidak enak.
__ADS_1
"Kalau begitu, pilih ya! Dengan begitu, kalau aku menang, kau akan bersamaku! Lebih menenangkan kalau kita yang perempuan selalu bersama!" Seru Aiko dengan senang mengajak Alice untuk memilih ya bersamanya, secara tidak langsung Aiko mendesak Alice.
"Ah..."
"Atau jangan bilang... Kau mau bersama dengan si Daniel itu?" Tanya Aiko dengan nada sedikit menggoda.
"Bu-Bukan... Bu-Bukan Begitu.."
"Hemmmm? Lalu apa? Apakah ada sesuatu diantara kalian berdua?"
"Ah, aku bilang tidak.. Tidak ada apa-apa..!" Aku menolak bahwa aku ada sesuatu dengan Daniel.
Sejujurnya... Sampai saat ini, aku hanya berpikir untuk bekerja dengan Daniel.. Tapi dia berkata..
"Tidak! Akan lebih baik kalau kita mengambil jalan yang berbeda."
"Eh??"
"Lagipula, perempuan itu, Aiko, sepertinya ragu terhadap kita. Kitalah orang pertama yang memikirkan rencana ini. Melihat kita bersama setiap saat akan menyebabkan orang lain meragukan kita. Aku mengerti perasaanmu. Tapi, ini demi tim kita.. Ya??" Daniel sedikit mengusap-usap keningnya, entahlah maksud dri gerakan itu. Alice sedikit murung. Ia kembali ke Aiko yang tengah duduk tidak jauh dari tempatnya.
"Aiko!"
Aiko pun menoleh kebelakang sambil tersenyum kecil.
"Aku berpikir kalau aku akan memilih pilihan yang berbeda dengan Daniel. Dia juga berkata kalau itu lebih baik." Alice terdiam sejenak. Sekali lagi Aiko tersenyum kecil, lalu berkata, "ya, kenapa tidak? Mari kita selalu bersama!"
"Ah, dan.. Dia juga berkata akan lebih baik kalau kita tidak memecah pilihan berdasarkan jenis kelamin."
Mendengar hal itu, Aiko mengerut keningnya heran sekaligus aneh dengan pernyataan itu.
"Hah?"
"X mungkin masih memiliki trik yang belum ia keluarkan. Dan ketika waktu itu datang, Daniel menyarankan kalau ada laki-laki dan perempuan dalam satu tim akan lebih baik. Dengan ide itu, dia berkata kalau kita harus berpisah. Aku dengan pak Dipa memilih tidak, sedangkan kau dengan Daniel memilih ya."
"Oh.." Merasa alasan yang kurang jelas dan aneh, Aiko masih mengerutkan keningnya, namun ia tidak mau memperpanjang hal itu. Toh hasilnya akan sama saja.
Bersambung..
__ADS_1