
"Si pak Roy tidak menyembunyikan uangnya di bank! Jika dugaanku benar, uang 20 miliar itu berada di dalam rumahnya," Daniel tersenyum ke arah Alice dengan percaya diri, tentu pernyataan itu membuat Alice terkejut tak terduga.
"Be-Benarkah??!!!"
"Nah, akan ku jelaskan padamu. Katakanlah untuk sementara kau mempunyai 20 miliar. Kau pergi ke bank dan menyetorkannya di dalam safety deposit box milikmu. Sementara itu, lawanmu berusaha mati-matian mencari kesempatan untuk mencurinya, Jadi ia mengawasi rumahmu 24 jam. Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Daniel mencoba untuk memposisikan Alice sebagai pak Roy agar setidaknya ia bisa merasakan apa yang dirasakan Pak Roy.
"Aku akan pergi dari rumah.. Secepat mungkin."
"Mengapa?"
"Yah, tentu saja kan? Sangat mengerikan diamati setiap detik, apapun alasannya. Aku pikir itu perasaan tertekan tak tertahankan. Setidaknya, karena uangnya berada di safety deposit box, tidak akan ada bahaya. Aku ingin menjaga keberanian dan keinginanku untuk bertempur sampai permainan berakhir. "
"Hehe.. Jadi, karena ada di bank, makanya aman... Hmmm.. Bagaimana jika kau tidak menyembunyikannya di bank, melainkan di semak² di suatu tempat?"
"Uwah..!!! Malah akan semakin banyak alasan agar aku tidak tinggal di rumah! Aku harus pergi ke suatu tempat agar aku bisa melihat tempat persembunyiannya setiap waktu!
"Owh.. "
"Maksudku, kamu tidak Akan pernah tahu kalau lawanmu akan menemukannya dan mengambilnya! Atau, kalau orang asing menemukannya secara tidak sengaja dan kabur membawa uangnya, bagaimana!??"
"Jadi, kalau seperti itu.. Tidak kah kau berpikir itu aneh kalau pak Roy mengurung dirinya di rumah?"
"A...!"
"Rumahnya terus menerus diawasi. Dia berada di bawah tekanan psikologis yang sangat besar hanya dengan berada disana. Jadi, mengapa pak Roy bertekad untuk mengurangi dirinya di dalam rumah? Hanya ada 1 jawaban. Karena 20 miliar itu disembunyikan disuatu tempat di rumahnya, ia jadi tidak punya pilihan lain.
"Ah, aku mengerti..! Walaupun dia sering keluar pertamanya, dia bahkan tidak mengintip keluar beberapa hari ini! Dia ketakutan! Dia ketakutan untuk meninggalkan rumahnya tanpa dijaga!"
"Benar juga, meskipun 20 miliar itu tersembunyi di tempat tersembunyi, di setiap sudut rumahnya berada di bawah pengawasan ketat. Jadi, tidak mungkin ia berani keluar..!" Sambung Alice yang kini mulai mengerti maksud Daniel dan apa yang mereka lakukan selama ini.
"Heheh.. Kita akan terus mengawasinya untuk membuat nya semakin tertekan. Dan memasang muka seperti, 'kami tahu kau menyembunyikan uangnya di dalam rumah'."
"Iya!" Aku merasa mendapatkan pencerahan, dan tiba-tiba kemenangan berasa berada di genggamanku dan Daniel..
16 hari tersisa sampai akhir permainan....
Seperti yang diduga, pak Roy bahkan tidak mencoba untuk melangkah kakinya untuk keluar dari rumahnya. Apa tekanan kami berhasil??
Setidaknya dari luar, kelihatan kalau kegelisahan dan kelelahan pak Roy semakin bertambah. Meskipun ia berada di rumahnya, ia semakin jarang bergerak. Saat ini aku bersama dengan Daniel berada di kamar 03, kebetulan Daniel sedang tidak sibuk jadi ia bisa datang lebih awal ke rumah ini, biasanya saat waktu bergantian Daniel terkadang berkata ada urusan yg cukup penting, namun Alice tidak mengetahui hal penting apa yg dimaksud Daniel.
Walaupun begitu, Alice tidak berani bertanya dikarenakan ia malu dan itu privasi, sedikit tidak sopan, cukup tau saja dan diam. Mereka saling berbincang satu sama lain mengenai kemajuan pengamatan mereka dan sekaligus mengawasi pak Roy yg terlihat di celah² gorden.
"Bagaimana?" Tanya Daniel, Alice menjawab namun pandangannya tetap tertuju kearah pak Roy. Daniel sedikit penasaran apakah Alice benar² mengawasi pak Roy setiap detiknya tanpa memperdulikan sekitar. Pertanyaan ini muncul di benak Daniel karena daritadi mereka berbincang, pandangan Alice tetap tertuju ke arah jendela, sepertinya ia tidak ingin melewatkan momen² tertentu.
"Dia tidak bergerak dari titik itu juga hari ini. Dilihat dari posisinya, seharusnya ia berada di tengah² ruangan."
"Sepertinya aku telah menemukan tempatnya.."
"Eh..??" Alice terkejut sekaligus penasaran, ia mengetahui maksud dari 'telah menemukan tempatnya' yang artinya uang yg disembunyikan pak Roy sudah diketahui letak posisinya.
__ADS_1
Saat ini Alice berada di rumah sakit untuk menjenguk Ayahnya, Alice rutin menjenguk ayahnya sebanyak seminggu 2 hari atau 3 hari. Sebelum Alice berangkat ke rumah sakit, Daniel memberikan sebuah kertas yg digulung dan diikat menggunakan tali rafia di tengah².
Alice merasa bingung sekaligus penasaran apa isi dari kertas itu, Daniel menyuruh Alice untuk membukanya ketika ia sudah berada di rumah sakit, alasannya karena saat ini di luar sedang ada angin yang begitu kencang, takutnya kertas itu terbang begitu saja. Alice pun mengerti, ia berpamitan dengan Daniel untuk pergi.
Ketika sampai, Alice melakukan semua halnya seperti biasa dengan ayahnya dan itu normal, seperti menyapa, bertanya tentang kondisinya masing dll. Ketika semua hal yg biasa dilakukan sudah selesai, Alice duduk di kursi berada di samping ayahnya, jaraknya cukup lumayan jauh.
Alice membuka tasnya dan mengeluarkan kertas yg diberikan Daniel dan siap untuk membukanya. Dan ternyata itu sebuah denah rumah pak Roy, ternyata ini dibuat sendiri oleh Daniel. Ini belum tentu 100% benar karena ini hanya berdasarkan perkiraan Daniel.
Rumah pak Roy terdapat 2 lantai yang dimana ada 4 kamar, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Dilantai dua hanya ada 2 kamar saja. Kamar utama berada di lantai 1 yg dimana tempat pak Roy berada. Dibelakangnya ada dapur dan dibelakangnya lagi ada sebuah toilet. Di sebelah kanan ada sebuah lorong yang menghubungkan tiga ruangan ini dan tempat menuju lantai 2. Diujung lorong ada sebuah kamar, yang mungkin saja itu sudah dijadikan sebagai gudang.
Melihat denah rumah pak Roy yang dibuat Daniel membuat Alice mulai cemas. karena rumah yang lumayan besar, itu akan sulit untuk menemukan letak uang yang disembunyikan.
"[Hmm mari kita lihat, uangnya disembunyikan di suatu tempat di dalam sini. Tapi, benar juga.. Bisa saja semua uangnya tidak berada satu tempat. Setidaknya dia punya 5 tempat untuk membagi-bagi uangnya. Dan kalau ia membagi masing-masing 4 miliar setiap ruangan itu akan semakin sulit.]" Tanpa sadar Alice menghela nafas panjang, tentu itu membuat ayahnya notice akan hal itu, ia pun bertanya dengan suara yg begitu berat.
"Alice, kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Dengan senyuman yang hangat dan tatapan sayunya. Alice terkejut karena tiba-tiba ayahnya bicara kepadanya. Karena panik Alice menjawab sedikit terbata-bata.
"Ti-tidak kok yah.. Tidak Ada apa-apa
"Uhuk!! Ah.. Kirain ada apa.."
"Sini yah, ayah butuh minum.."
Pokoknya apapun yang terjadi, aku harus memenangkan permainan ini. Demi ayah juga.. .
10 hari tersisa sampai akhir permainan...
Pak Roy sedang duduk bersandar tak berdaya, disekeliling matanya sudah berwarna hitam layaknya mata panda.. Jika dikatakan seperti, sudah dipastikan pak Roy belum tidur selama beberapa hari. Cara pak Roy agar tetap terjaga adalah dengan merokok, selama beberapa hari terakhir ia telah merokok dengan jumlah yg tidak wajar.. Kini kamarnya penuh dengan bungkusan rokok dengan berbagai merek yg telah kosong.
"Heh, itu tidak akan membantu walaupun itu sedikit. Lihatlah, betapa letihnya ia. Dia belum tidur selama 3 hari.. Sudah pasti dia berpikir kita akan beraksi ketika malam hari, karena saat itu dia akan tidur, padahal pada kenyataannya kita tidak melakukan itu.
"Be-Benar.."
"Hehehe, bagaimana kalau kita bersenang-senang sedikit?" Daniel tersenyum licik, sepertinya ia akan punya rencana yang tidak bisa di tebak oleh Alice, Alice melihat sekilas Daniel dengan wajah yang sangat mengerikan, pertama kalinya ia melihat ekspresi itu. Saat Daniel menatap Alice, Ia buru" Memalingkan wajahnya ke arah lain..
POV : pak Roy..
Ketika pak Roy setengah sadar, ia tiba-tiba mencium bau asap. Merasa ada yang janggal, rasa kantuknya pun tiba-tiba menghilang. Ia terus mencium bau itu untuk mencari sumber asap berasal darimana dan perlahan ditelusuri, ternyata bau asap itu berasal dari dapur.
Baru saja tahu akan hal itu, tiba-tiba terdengar suara seperti sedang terbakar atau membakar sesuatu yg terdengar dari dapur. Pak Roy terkejut sekaligus panik, ia sedikit menjauhi pintu menuju dapur dan dinding dibelakangnya karena dinding itu bersebelahan dengan dapur.
Sontak pak Roy pun berdiri.
"[Apa ini???!! Kebakaran??!!]" Wajah pak Roy mulai terlihat panik disertai dengan munculnya keringat² membasahi sebagian tubuhnya.
"[Darimana asalnya??! Dari kompor??! Tapi beberapa hari ini gua gak pake tuh kompor! Apa berasal dari kamar mandi??! Sial..!! Gua gk tau sama sekali!!]" Karena asap putih mulai banyak masuk dan menyelimuti kamar pak Roy, ia membuka jendela kamarnya agar asapnya bisa keluar.
Karena kondisi yang semakin gawat dan terasa aneh, ia bergegas menelpon rekannya berharap agar pak Roy bisa dibantu.
"Halo? Ah... Pak Rudi?"
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi bisakah kau segera datang kesini?" Pinta Pak Roy dengan nada bicara terburu² dan dari tadi ia terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya.
"Hah?? Memang ada apa? Kok tiba² sih?" Tanya penasaran Rudi.
"Entah bagaimana ada asap di rumahku, karena itu bantu aku untuk menemukan apinya."
"Sepertinya keadaan sedang genting sekali, apalagi keliatannya lu maksa gua buat dateng, kan lu tadi bilang apa?? Api kan? Yaudah kalo gitu telpon pemadam kebakaran aja. " Yang dikatakan pak Rudi benar, kenapa Pak Roy tidak langsung menelpon pemadam kebakaran atau setidaknya mengecek sendiri itu asap berasal darimana. Ada yang aneh...
"Apa? Menelpon pemadam kebakaran? Yah.. Kau, tidak membantu sama sekali.." Saat pak Roy memutus panggilan sedikit terdengar sekilas pak Rudi tertawa, itu membuat pak Roy marah namun dia tidak bisa berbuat banyak, karena apa yg dikatakan nya ada benernya juga.
"Pak Rudi Benar. Kalau ada kebakaran, kau seharusnya menelpon pemadam kebakaran, atau mencoba memadamkannya sendiri." Celetuk Daniel tiba-tiba saja sudah berada di jendela yang dibuka bersama Alice disampingnya, tentu pak Roy terkejut dengan kehadiran mereka apalagi mereka sampai mengetahui isi pembicaraan di telpon tadi, pasti mereka sudah lama menguping atau berada di sekitar rumah pak Roy.
"Yah... Suara yang kau dengar tadi berasal dari ini. Dan kami memaksa api untuk masuk dari ventilasi luar." Daniel menepuk pelan speaker Bluetooth yang berada ditangannya dengan senyum liciknya.
"Tapi, aku harus bilang, walaupun kau benar-benar percaya ada api, Tindakanmu mengherankan.."
"....!!" Pak Roy terdiam sejenak.
"Kau bahkan tidak mencoba untuk mencari asal apinya, dan kau tidak memanggil pemadam kebakaran, melainkan temanmu pak Rudi. Dan yang kau katakan hanya 'bantu aku menemukan apinya'? Seakan-akan selain nyawamu terancam, kau tidak berniat untuk keluar dari ruangan ini. Hehehe.... Kau menyembunyikan uang 20 miliar itu di ruangan ini, bukan?"
"!!!!??" Pak Roy terkejut bukan main bagaikan disambar petir di siang bolong, bagaimana dia bisa mengetahui nya dengan hanya hal seperti itu??
"A-Apa yang kau..."
"Aku sudah tau uang itu ada di rumahmu sedari dulu. Masalahnya adalah dimana. Kalau kau menyembunyikan uangnya di ruangan yang berbeda, kau akan langsung berlari ke tempat itu untuk memastikan uang itu tidak terbakar." Daniel menatap tajam pak Roy dengan senyum yang terlihat sangat licik, Alice tidak menyangka bahwa Daniel juga memikirkan hal yang sama dengannya, Alice menyangka bahwa Pak Roy akan membagikan uangnya ke beberapa tempat, namun ternyata ia salah.. Pernyataan Daniel sangat Masuk akal.
"Kau benar. Seperti yang kau katakan.. 20 miliar itu ada disini."
"Wah... Wah... Kau mengaku begitu cepat."
"Gahahaha.... Dan kenapa kau berpikir aku akan mengaku? Hehehe... Itu karena walaupun kau tahu dimana uang itu berada, kau tidak akan bisa mengambilnya!!" Tiba² saja nada bicara pak Roy meninggi, ia memperlihatkan sisi sifat buruknya dengan wajah yang mengerikan, seakan-akan sudah pasti dia akan menang..
"Lihat ini!!" Pak Roy menggeser salah satu pintu lemari yang ada dibelakangnya, dan isinya cukup mengejutkan Alice karena di dalam lemari itu ada sebuah brankas.
"Hahahahah! Berkat tipuan kecilmu, kau sudah menemukannya. Uangnya ada didalam ini. Ini mungkin model lama tapi sangat kokoh. Untuk mencungkilnya sampai terbuka kau harus membuka kuncinya dulu. Dan bahkan kalo kau mencoba untuk memindahkannya, dia tidak akan bergerak sedikitpun. Singkatnya..... Kau hanya bisa sampai sini!" Mendengar hal itu semua Alice mematung tidak berdaya.
"GYAHAHAHA!!! Aku yakin kau senang karena telah berhasil menemukan dimana uangnya, tapi INILAH AKHIRNYA! KAU KALAH!"
"Tidak....!! Tidak...!! Setelah sejauh ini....???" Lututku lemas tak berdaya, aku terjatuh meratapi nasib.. Air mataku tidak bisa ditahan lagi, apa benar ini akhir bagiku??
"Karena kau sudah mengerti, hentikan penguntitan bodohmu ini! Dan pergi dari sini!!! Pikirkan cara untuk mengumpulkan 10 miliar yang akan Jadi hutangmu!!!! GYAHAHAHA!!" Teriak pak Roy kepada Daniel Dan Alice, tawanya sangat menggambarkan tokoh antagonis.. Pak Roy menunjuk mereka untuk pergi, namun Daniel masih tetap disana, tidak terpengaruh oleh perkataannya.
"Hehe.. Jadi kau pikir kau sudah menang pak Roy?" Dengan tenang Daniel menanggapi dan mencoba untuk membalikkan keadaan sekaligus untuk Alice tidak terpengaruh oleh perkataan nya.
"??!!" Pak Roy terdiam sejenak penasaran dengan rencana selanjutnya oleh mereka, karena menurut nya strategi ini sudah ampuh dan tidak akan gagal.
"Sebuah brankas?? Lalu?? Dengan menunjukkan pada kami benda sebesar itu, kau pikir kami akan menyerah dan kau bisa tidur nyenyak di malam hari?? Hehehe... Naif sekali.. Dengarkan aku, bagiku mengambil 20 miliar dari brankas itu ada permainan anak kecil.
"!!!"
__ADS_1
"?!!"
Bersambung....