
"Teman pemainmu baru saja mengajukan pertanyaan : "apa kau seorang wanita?"." Ucap Sang Dealer mengulang kembali pertanyaan agar tidak ada alasan untuk para pemain tidak mendengar, atau kurang jelas. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.
"Setelah pertanyaan diajukan, setiap pemain akan diberikan dua buah kertas suara. Yang satu berisi nomor peserta dan kata 'ya'. Satu lagi berisi nomor peserta dan kata 'tidak'. Jika anda memilih ya, masukkanlah pada kotak yang sesuai yang bertuliskan vote. Tolong diingat, jika kedua kertas dimasukkan, anda akan didiskualifikasi."
"Ke-kenapa kita tidak bisa menulis jawabannya sendiri?" Tanya wanita itu yang telah mengajukan pertanyaan.
"Untuk mencegah suara yang tidak sah. Pemain bisa saja menulis sesuati selain Ya atau Tidak atau bahkan menulis nama orang di kertas suara. Dari sini, anda akan punya waktu 6 jam untuk membuat keputusan. Dengan kata lain, anda punya 6 jam untuk menempatkan suara anda."
"E-eh 6 jam???"
"??"
"6 jam untuk memberikan suara? Kenapa?"
"Bukan kah itu terlalu lama?"
Para peserta mulai berbisik-bisik satu sama lain karena diberikan waktu begitu lama, padahal permainan ini terlihat begitu sederhana.
"Tentu jika ada yang mau menaruh suaranya secepat mungkin, juga tidak apa-apa. Dan jika ada yang ingin menggunakan seluruh 6 jam dan menaruh suaranya sebelum waktunya habis juga masih di terima. Jika seorang pemain tidak menaruh suaranya dalam waktu yang telah ditentukan, ia akan kalah tanpa syarat. Mohon di ingat. Karena ini hanya latihan, kami hanya akan memberikan waktu selama 10 menit. Dan..... Mulai!"
Waktupun mulai berjalan mundur, beberapa pemain ada yang saling berbincang, berbisik, serta sibuk dengan diri sendiri. Sepertinya ada beberapa pemain yang akan menolak untuk diajak bicara. Alice mengedarkan pandangannya.
"[Umm.. Jika aku di hitung, disini ada 6 wanita. Baiklah! Kamilah minoritas! Tapi, yang anehnya adalah kenapa butuh waktu 6 jam untuk memutuskan hal yang begitu sederhana?]"
Hal itu pasti juga terpikirkan oleh para pemain, pasti ada maksud kenapa diberikan waktu yang begitu lama. Beberapa menit kemudian, waktu tersisa 1 menit, para pemain segera memasukkan kertas suara ke kotak vote yang sudah disiapkan.
Ting!!!!
"Waktu habis! Sekarang kami akan menghitung suaranya. No. 5 ya, No. 11 tidak, No. 19 ya." Sementara sang Dealer sedang menghitung suara demi suara. Aku sedikit cemas, begitu juga pada pemain. Walaupun ini baru latihan.
Hasilnya sangat mengagetkan...
Yes : berjumlah 15 suara
No : berjumlah 7 suara
"Hasilnya adalah 15 banding 7, tidak... Dengan kata lain, mereka yang memilih "Aku seorang pria" Telah menjadi minoritas... Tapi, kenapa? Kenapa pria yang menjadi minoritas? Maksudku, bukankah hanya ada 6 wanita seluruhnya??!" Merasa bingung, Alice pun memutuskan untuk bertanya salah satu pria yang ada di dekatnya.
"Hei, kau.. Memilih sebagai pria, kan?"
__ADS_1
"Aku... Menjawab sebagai wanita."
"Eh..?"
"Karena sudah jelas lebih banyak laki-laki disini, jadi kupikir aku bisa menang kalau aku berbohong." Alice terkejut mendengar pernyataan itu, jadi bisa dibilang permainan ini tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan dengan benar ataupun jujur.
"Ho ho ho.. Begitulah permainannya. Inti sebenarnya adalah memilih sesuatu yang kemungkinan besar akan menjadi minoritas. Apakah itu menjawab pertanyaan dengan benar atau tidak, tidak relevan. Ini adalah Deception Game! Singkatnya, pertanyaan hanyalah bagian dari permainan ini. Yang terpenting dari permainan ini adalah bagaimana agar anda bisa menjadi minoritas atau dengan kata lain, bagaimana anda menipu sesama pemain agar bisa menjadi mayoritas. Mengikuti minoritas adalah strategi dan menyelidiki jalan pikiran masing-masing. Untuk itu, anda diberi waktu 6 jam setelah setiap pertanyaan diajukan untuk mengisi suara anda."
Para pemain saling melirik satu sama lain, entahlah maksud dari lirikan itu. Tapi, yang pasti Alice sudah mulai cukup mengerti dengan permainan ini.
"Minority game merupakan permainan yang sulit. Jika anda bisa membaca pikiran lawan, dan strategi anda cukup sempurna, 21 banding 1. Mungkin saja terjadi hanya dalam satu babak. Izinkan saya untuk memberikan satu nasihat terakhir. Kunci untuk mengontrol permainan ini bukanlah faktor keberuntungan.. Tapi waktu. Meski terlihat tidak penting, jumlah waktu yang diberikan bagaimana anda menggunakannya adalah segalanya dalam permainan ini. Saya jamin, pemain yang menggunakan waktunya sebaik mungkin akan memenangkan permainan ini! Kunci mengontrol permainan ini bukanlah keberuntungan."
.
.
.
.
"Jadi, kita akan mengakhiri latihan kita disini." Dealer menundukkan kepalanya dan sepertinya akan pergi, sebelum itu terjadi, Alice mengangkat tangannya dan mengajukan pertanyaan selagi sempat.
"Apa itu berarti kita akan berada disini sepanjang hari?" Hal itu terpikirkan oleh Alice karena ia harus menjenguk ayahnya yang ada di rumah sakit. Takut nya jika ia tidak menjenguk ayahnya dalam beberapa hari ke depan, ayahnya akan khawatir sekaligus merasa bingung.
"(Bagaimana kita bisa keluar?)"
"Karena besok permainannya dimulai, setiap orang telah diberikan 100 juta. Dengan kata lain, permainannya sudah dimulai. Jika siapapun berani untuk keluar dari permainan ini... Mereka akan langsung di diskualifikasi dan dipaksa untuk menanggung hutang yang sangat besar!"
Setelah mengatakan hal itu, Sang dealer mengundurkan diri dari hadapan kami dan keluar melalui pintu yang berlambang bertopeng. Setelah itu, datang seorang pria bertopeng lainnya dari balik pintu. Kami dipandu ke kamar kami satu per satu. Pada akhirnya, tak ada seorangpun yang akan pergi...
"Ini adalah kamar anda, nona Alice." Pria bertopeng itu membukakan pintu untuk Alice, dan tampak lah seisi ruangan kamar itu yang terlihat sangat mewah dan cukup luas. Alice terperangah sejenak. Perlahan menginjakkan kakinya masuk ke dalam sambil mengedarkan pandangannya.
"Luar biasa!" Satu kata pujian pertama untuk kamar ini dari Alice, bahkan kamar ini lebih luas dibandingkan kamar apartement Alice.
"Saya akan datang untuk memanggil anda 1 jam sebelum permainan dimulai. Selamat malam." Pria itu menutup pintunya setelah ia berbicara. Padahal Alice belum sempat menjawabnya. Karena merasa belum mengantuk dan keadaan perut yang sudah kenyang, Alice memutuskan untuk duduk di sofa sambil terus memerhatikan sekitar.
"Jadi besok adalah permainan yang sebenarnya.. Lalu, apa yang harus kulakukan?" Alice termenung sejenak memikirkan sesuatu, kebingungan dan kekhawatiran mulai merasuki pikirannya.
"(Aku tidak boleh kalah! Aku harus memikirkan suatu rencana.... Tapi, apakah ada cara untuk menang di permainan Minority Rule?)" Batin Alice, pupil matanya berkeliaran kesana kemari memikirkan sesuatu, Alice mencoba mengingat kembali perkataan sang Dealer untuk memenangkan permainan ini.
__ADS_1
Kunci untuk mengontrol permainan ini bukanlah keberuntungan. Tapi, siapa yang dapat mengontrol waktu.
"(Wa-waktu...?? Tapi... Bagaimana aku harus menggunakan waktu luangku?)" Batin Alice, sejujurnya ia masih bingung tentang maksud dari mengontrol waktu. Walaupun sudah diberi petunjuk, namun entah mengapa itu sedikit tidak membantu.
Aku akan mempunyai waktu 6 jam untuk memberikan pilihanku. Mungkin aku bisa melihat-lihat dan mengetahui jawaban peserta lain?
"Itu pekerjaan yang sulit. Lagipula, bagaimana caranya untuk mengetahui apa pilihan orang lain? Maksudku, semua orang disini memenangkan babak pertama dari Deception Game. Aku tidak yakin ada yang akan mengatakan yang sebenarnya. Aku pasti akan dibohongi lagi..."
Sangat mustahil para pemain akan mengatakan hal yang sebenarnya tentang jawaban suara mereka. Itu pasti awal bagi mereka untuk membohongi para pemain satu sama lain jika memang terjadi saling memberitahukan jawaban mereka. Tapi, sepertinya itu tidak akan terjadi, karena pemain pasti akan lebih berhati-hati.
"Ahh.....!! Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan??! Apakah aku tidak bisa melakukan apa-apa?!" Tak berselang lama dari itu, tiba-tiba saja Alice mempunyai ide terbesit dipikirannya.
Atau mungkin aku bisa melihat pilihannya dengan berdiri dekat kotak suara?
Terdengar ide ini cukup bodoh dan naif, namun entah mengapa Alice mendapatkan ide tersebut. Walaupun begitu Alice berusaha memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika ia menjalankan ide tersebut.
"..... Hmmm.... Apakah itu bisa dilakukan?" Alice mengelus dagunya ragu akan hal itu.
"Jika kartu suaranya dilipat menjadi empat bagian.. Yah... Tidak peduli bagaimana kau mencobanya, tidak mungkin bisa melihat apa isinya!" Karena rencana itu tidak berguna dan akan sia-sia, Alice perlahan mulai frustasi, namun ia mencoba sekali lagi untuk memikirkan rencana lain.
"Ngh.... Tidak!! Pasti ada caranya! Cara untuk menggunakan waktuku....!" Alice memberontak dan menutupi wajahnya seolah ia tidak Terima dengan pikirannya yang mulai frustasi seakan ia tidak memiliki rencana untuk menang.
"Ahh!! Itu dia!"
Membuat mayoritas! Seperti dalam politik, kumpulkan orang-orang dan buat mayoritas!
"Eh, tunggu...." Alice memegang keningnya seolah ia lupa akan sesuatu. Karena dikejar waktu ia menjadi panik dan berpikir dengan tidak tenang.
"Jika aku membuat mayoritas, aku tidak bisa menang. Ini adalah permainan minoritas! Ah.. Aku lupa akan hal itu.. Tidak ada cara untuk menang tanpa berada dalam minoritas! Ahhh! Aku tidak tahu!! Apa yang harus kulakukan?! Apakah ada cara untuk menang?! Aku, aku akan kalah?? Tidak! Tidak! Tidak! Tolong aku! Seseorang tolong aku!! Da-Daniel selamatkan aku!!" Berpikiran yang buruk, aku mulai menangis histeris. Aku pun pergi keluar berniat untuk menemui Daniel.
Aku tak punya orang lain untuk berpaling kecuali dia. Aku berkeliling di dalam hotel untuk mencarinya, tapi aku tidak tahu dimana kamarnya, jika ada nama atau nomor peserta di setiap pintu kamar, itu akan sangat membantu sekali. Namun, itu tidak ada. Aku terus mencari di setiap ruangan dan menyusuri lorong yang begitu panjang.
Sampai aku tiba di lobby. Disana, aku menemukan banyak orang berkumpul. Mereka sepertinya menderita karena cemas, dan mungkin berkeliling sampai akhirnya tiba disini seperti aku. Aku mengedarkan pandanganku berusaha mencari sosok Daniel. Setelah cukup lama mencari, akhirnya aku menemukannya di sudut ruangan. Ia tengah berdiri bersenderan dengan dinding.
"Itu dia! Daniel! " Aku teriak dan melambaikan tangan kepadanya berharap ia melihat kehadirannya. Daniel menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Tolong aku.. Aku... Aku..."
"Apa.. Tidak bisa tidur?"
__ADS_1
"Aku... Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.. Tapi.. Aku tidak bisa menemukan sebuah rencana untuk menang.." Tangisan Alice membuatnya sedikit menjadi pusat perhatian, namun tidak berlangsung lama. Alice terus menyeka air matanya.
"Hah... Jika kau mau menang, pertama-tama kau harus berhenti menangis! Kembali tenang.. Lalu kenalilah musuhmu..!" Ujar Daniel tanpa melihat Alice yang ada di sampingnya.